Darso terkaget-kaget melihat ada seseorang yang duduk di teras rumah sebelah. Ia, yang baru saja pindah tiga hari lalu ke rumah baru ini, mengira rumah yang berada tepat di sampingnya adalah rumah kosong. Sebab, kalau dilihat, rumah itu sama sekali tak terawat. Bahkan, di tembok bagian depan terdapat tulisan “PANTAT BABI,” yang ditulis menggunakan pilok hitam dengan huruf kapital berukuran cukup besar.

Segala teori yang digunakan Darso untuk menganalisis ternyata gugur di hari ketiga.

Pagi itu adalah hari di saat ia terbangun dan hampir loncat dari tempat tidurnya karena kesiangan untuk pergi ke kantor. Awalnya tidak ada yang aneh selain ia bangun kesiangan. Namun, pada saat ia sudah siap untuk berangkat dan ingin menyalakan sepeda motor di halaman rumah, tiba-tiba saja ia tak sengaja menoleh ke arah rumah kosong di samping rumahnya. Karena tembok pembatas dengan rumah tersebut hanya setinggi satu meter, ia dapat melihat dengan jelas rumah kosong tersebut.

Mata Darso terbelalak saat ia melihat di depan rumah kosong ada seorang pria yang tengah duduk dan menggorok lehernya sendiri memakai sebilah parang. Anehnya, setelah beberapa detik ia amati, ternyata tak ada darah yang keluar sama sekali dari tubuh si tetangga.

Pria itu memiliki rambut panjang sebahu, jenggot dan kumis yang tumbuh tak keruan, serta badan yang tinggi berisi. Selain perilakunya yang tak wajar, parasnya yang berminyak dan kusam semakin menambah keangkeran dirinya.

Sebagai seorang tetangga yang baik, Darso sebenarnya tahu sebaiknya saling melakukan tegur sapa dengan penghuni sebelah, apalagi ia adalah tetangga baru. Namun, menyapa tetangga yang sedang menggorok lehernya sendiri di pagi hari adalah keganjilan. Jadi, ia kubur dalam-dalam niatnya tersebut.

Setelah beberapa saat Darso melongok menatap si pria yang tengah menggorok lehernya sendiri, tiba-tiba si pria sadar ada seseorang yang sedang mengamatinya. Darso pun langsung membanting wajah dengan cepat ketika si pria membalas tatapan ke arahnya. Ia pura-pura tak melihat apa yang baru saja ia saksikan. Tak lama, Darso langsung menyalakan sepeda motornya, lalu bergegas pergi dengan heran.

***

Sepulangnya Darso dari kantor, ia masih teringat dengan si tetangga. Apakah benar ia penghuni samping rumahku? Atau, cuma sekedar orang gila yang tak sengaja sedang duduk di depan rumah itu saja? Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul saat ia berada di jalan pulang.

Kalau memang benar pria itu tetangganya, ia akan benar-benar cemas dengan keadaan istrinya di rumah. Bisa saja nanti saat ia pulang kerja, ia akan menemukan istrinya telah tewas berlumuran darah. Mereka baru menikah satu setengah tahun yang lalu. Tentu Darso tak ingin cepat-cepat ditinggal mati oleh sang istri.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya, Darso memutuskan tidak langsung pulang ke rumah. Ia mencari-cari akal agar bisa mendapatkan informasi mengenai si pria sebelah rumah. Tak lama berpikir, ia pun ingat bahwa terdapat sebuah kedai kopi di ujung gang dekat rumahnya. Mungkin di sana aku bisa menggali sedikit informasi mengenai si pria itu, ucapnya dalam hati.

Darso pun sampai di depan kedai. Ia langsung memarkir sepeda motornya, lalu beranjak masuk ke dalam kedai dan memesan secangkir kopi susu.

“Mas, warga baru yang kemarin pindahan, ya?” tanya penjaga kedai sambil memberikan kopi susu pesanan Darso.

Darso tersentak, “Iya. Lah, kok Mas tahu, sih?”

Diam-diam Darso merasa senang karena tidak perlu lagi memberikan pertanyaan basa-basi untuk bisa mendapatkan informasi. Sepertinya si penjaga kedai sudah cukup update mengenai seluk-beluk kampung ini. Buktinya saja ia tahu kalau Darso adalah warga pindahan baru. Tentu ia bisa mengulik mengenai pria itu melalui si penjaga kedai.

“Ya, bagaimana saya enggak tahu. Mas yang tinggal di samping rumahnya Toni Maut kan?” lanjut si penjaga kedai.

“Hah, Toni Maut?! Toni Maut itu yang mana ya, Mas? Maaf sebelumnya, soalnya saya belum terlalu hafal nama warga yang tinggal di sini.”

Kini penjaga kedai yang terkejut, “Lah, memangnya Mas pindahan dari mana?!”

“Kalau saya tadinya tinggal di kota seberang. Karena ada urusan pekerjaan, saya harus pindah ke kota ini, Mas.”

“Oh, pantas saja. Orang-orang yang tinggal di kota ini pasti sudah tak asing mendengar nama Toni Maut.”

Darso menjadi semakin tertarik untuk menggali tentang siapa itu Toni Maut, sekaligus ingin memastikan, apakah pria yang tadi pagi menggorok lehernya sendiri itu pria yang sama dengan yang mereka bicarakan.

“Yang mana, sih, Mas si Toni Maut itu? Saya jadi penasaran.”

“Itu lho, yang rambutnya panjang sebahu. Pokoknya di tembok depan rumahnya ada tulisan “PANTAT BABI,” Mas.”

Benar saja dugaan Darso. Tetangganya itu memang Toni Maut.

“Memangnya kenapa, Mas, si Toni Maut itu? Kok bisa hampir satu kota mengenal dia?” tanya Darso makin penasaran.

Si penjaga kedai mulai menceritakan bahwa Toni Maut adalah orang yang sangat berbahaya. Ia merupakan pembunuh kelas kakap. Sudah tak terhitung berapa banyak jumlah manusia yang telah ia bunuh . Ia bisa membunuh dengan berbagai macam cara dan di tempat manapun yang ia mau. Toni Maut sangat ditakuti siapapun. Tak ada orang yang mau mengajaknya berbicara apalagi bertamu ke rumahnya. Itu sama saja dengan bertamu ke akhirat.

Toni Maut tak pernah ragu membunuh siapapun orang yang tidak ia sukai. Ia tak bertele-tele seperti kebanyakan orang yang berbisik-bisik dari belakang membicarakan keburukan orang lain. Hal yang seperti itu tak berlaku bagi Toni. Bila ia tidak suka terhadap orang lain, ia akan sikat orang itu sampai berkeping-keping.

Bahkan, dulu saat Toni masih sering berkeliaran di luar rumah, sedikitnya dalam sehari ia akan memulangkan lima nyawa manusia untuk dikembalikan lagi ke asalnya. Itulah alasannya mengapa orang-orang menyematkan gelar ‘Maut’ di belakang namanya. Bagi orang-orang, ia seperti duplikat Izrail.

“Tapi, Mas, masa orang-orang tidak ada yang berani melaporkannya ke polisi kalau dia suka membunuh?” tanya Darso di sela-sela perbincangan.

Si penjaga kedai menjawab, “Sudah segala cara, Mas, telah dilakukan orang-orang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya berhenti membunuh.”

Penjaga kedai itu pun kemudian melanjutkan kembali ceritanya.

“Selain sadis dalam membunuh, Toni Maut juga orang yang sakti. Pernah suatu hari ada segerombolan orang yang berniat untuk mengeroyok Toni akibat salah satu temannya telah mati dibunuh olehnya. Sebenarnya hanya karena persoalan sepele. Toni sering membunuh seseorang dengan alasan yang tidak masuk akal. Kadang karena ia tidak suka melihat potongan rambut orang lain. Kadang karena ada orang memakai baju yang tidak ia senangi. Pokoknya, apa pun yang tidak ia senangi pasti akan dibunuhnya.

“Pada kasus yang ini, awalnya si korban tak terima pada saat sedang mengantre membeli mie ayam, Toni yang baru tiba menyerobot dan langsung menyambar mie pesanannya. Si korban yang kesal melihat hal itu langsung memberikan Toni ceramah. Memang sudah dasar bajingan, Toni yang antikritik itu lantas mengeluarkan pisau lipat dari kantong celana, lalu menghujani si korban dengan puluhan tikaman hingga tewas.

“Setelah perkara itu, gerombolan teman-teman korban yang merasa geram, ingin sekali mengeroyok Toni. Mereka semua sudah mempersiapkan senjata tajam demi membalaskan dendam si korban. Tapi nahas, ternyata Toni kebal senjata. Dan sebaliknya, gerombolan teman-teman korban yang berniat mengeroyoki akhirnya malah ikut dipulangkan ke alam kubur oleh Toni.

“Keesokan harinya, personil polisi pun dikerahkan untuk menangkap Toni akibat ulahnya yang keterlaluan. Awalnya, Toni dapat diringkus dengan mudah tanpa melakukan perlawanan. Ia pun kemudian diadili dan dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi, baru saja tiga hari ia menjalani masa hukuman, tiba-tiba ia menghilang dari penjara.

“Di hari berikutnya, tersebar kabar bahwa polisi yang beberapa waktu lalu menangkapnya di rumah serta hakim yang telah mengadilinya tewas tanpa kepala. Usut demi usut ternyata Toni memiliki ilmu menghilang, sehingga ia bisa lolos dengan mudah ketika dimasukkan ke dalam penjara.

“Nama Toni Maut menjadi tersebar ke penjuru kota. Polisi kini tak lagi berani untuk menangkapnya. Karena percuma saja, bila ia dimasukkan ke penjara tentu ia akan memakai ilmu menghilangnya lagi. Sehingga hanya akan membahayakan nyawa polisi yang menangkap dan hakim yang mengadilinya saja. Jadi si Toni dibiarkan bebas berkeliaran.

“Para warga pun merasa resah karena orang seperti Toni ini dibiarkan untuk menghirup udara bebas. Tapi sekarang tak ada lagi tempat bagi mereka mengadu. Polisi sudah angkat tangan bila ada laporan tentang pembunuhan yang dilakukan Toni. Norma sosial, agama, dan hukum tak berlaku bagi Toni.”

“Waduh, pusing kalau begitu!” seru Darso.

“Bukan pusing lagi, Mas. Banyak sekali warga yang pindah ke luar kota akibat ulah Toni ini,” balas si penjaga kedai. “Kabarnya, ketika Ibunya hendak melahirkan Toni, ia bercerita kepada para tetangga bahwa dirinya memimpikan sosok Hitler dan Soeharto. Dalam mimpi, ibunya mengatakan ditampar dengan keras oleh mereka berdua. Sehabis menampar, lalu dengan santai mereka berdua bergandengan tangan sambil berlari-larian seperti anak kecil. Mereka berdua terus berlarian sampai tiba di suatu pertigaan jalan. Setelah itu, mereka pun berbelok ke arah kanan dan menghilang,” tambahnya.

“Mimpi macam apa itu, Mas?!”

“Ya saya juga enggak paham, Mas. Waktu itu ibunya mengira bahwa kelak, anaknya akan jadi pemimpin negara.”

Si penjaga kedai pun melanjutkan ceritanya kembali.

“Bertahun-tahun berlalu, jumlah korban yang dihabisi Toni Maut pun terus membubung. Toni tak pernah diadili ataupun mendapat hukuman yang setimpal. Keadilan tak lagi adil. Semua tunduk di bawah kesaktian Toni. Ia bisa melakukan hal apa pun yang ia kehendaki.

“Kemudian datang suatu hari di mana hati Toni seperti mendapat cambukan yang paling perih dalam hidupnya. Saat itu, Toni ingin pergi ke luar kota. Ia pun menaiki sebuah bus. Tak lama saat Toni tengah asyik duduk bersantai sambil menikmati perjalanan, ada seorang pengamen yang menaiki bus yang ia tumpangi. Pengamen itu tak seperti pengamen lain, yang biasanya menghibur para penumpang lewat nyanyian. Pengamen ini hanya mengeluarkan secarik kertas dari balik jaket jinsnya.  Ia pun membacakan puisi yang berjudul “Pantat Babi.”

“Mendengar puisi yang dibacakan si pengamen, hati Toni seperti disayat-sayat. Ia menangis hampir tiga hari tiga malam tak berhenti karena terus mengingat puisi tersebut.

“Sepulangnya Toni dari luar kota, ia tak lagi berkeliaran ke luar rumah. Sejak saat itu tak ada lagi korban yang berjatuhan hingga sekarang. Ia lebih sering tinggal di dalam rumah untuk menyendiri.

“Dari kabar yang beredar, Toni ingin taubat dan berniat untuk membuang segala kesaktian ilmunya. Tapi sayangnya, guru yang mengajari ilmu tersebut sudah meninggal dunia. Hanya gurunya lah yang mampu membuang segala ilmu yang tersimpan di balik tubuhnya. Jadi sekarang ia seperti merasa frustasi. Ia sering terlihat sedang menggorok lehernya sendiri, berharap suatu hari nanti lehernya itu mengeluarkan darah, dan ia bisa menjadi manusia normal lagi.”

***

Kopi Darso akhirnya tandas. Perbincangan dengan penjaga kedai telah berakhir. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Darso tak pernah mengira akan memiliki tetangga yang mempunyai kisah sesadis itu. Pantas saja rumah barunya ini dijual dengan harga yang sangat murah oleh pemilik lamanya.

Sesampainya di depan rumah, Darso pun menatap kembali ke arah rumah Toni Maut. Toni sudah tak ada lagi di serambi. Kini ia melihat kembali tulisan “PANTAT BABI” di tembok rumah Toni dengan makna yang lain, tak seperti pertama kali saat ia melihatnya. Ternyata puisi itulah yang telah membuat Toni tak lagi membunuh.

Betapa dalamnya kandungan sebuah puisi hingga bisa mengubah jalan hidup seseorang.

Tak lama, Darso pun membuka pintu rumahnya. Ia masuk ke dalam. Di sana ia temukan istrinya sedang santai menonton acara televisi. Darso kemudian duduk di sampingnya dengan lemas dan berkata, “Ma, ayo kemasi barang-barangmu. Sekarang kita akan pindah rumah lagi.” ♦

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts