“Sudah jam berapa ini, bang?” Jevandy, pemuda Batak Siantar beraut muka keras itu bertanya pada saya. “Jam enam, Jev,” jawab saya. “Wah masih empat jam lagi, ya?” tandasnya sambil mengusap-usap perut.

Saya menaikkan sebelah alis. Apa maksudnya? Mengapa ia kini begitu perhatian pada waktu?

“Ah, abang ini kayak nggak paham aja. Pakde! Pakdeee!” katanya setengah berteriak dengan rona muka yang seolah minta digampar cangkir kopi.

Laiknya mahasiswa perantau lain, bagi Jevandy urusan makan sama dengan mengatur revolusi. Urusan ini perlu dibicarakan, direncanakan matang-matang, bahkan kalau perlu diadakan sedikit tipu muslihat (baca: berutang pada teman, menumpang makan di rumah kawan, dll). Menahan lapar bisa sama getirnya dengan melela dendam kepada rezim yang tiran dan korup. Urusan ini seperti laku tapa di antara kesibukan dan menipisnya duit kiriman orangtua.

Pakde yang ia maksud adalah warung makan di bilangan Pasar Minggu. Tiada yang spesial dari warung nasi yang khusus buka di malam hari ini. Tak ada pernak-pernik khas perayu pelanggan untuk mampir. Warung Pakde tak memiliki penanda — entah itu selembar kain yang ditulis asal-asalan, atau neonbox sehingga pengunjung tahu menu apa yang jadi andalan.

Memanfaatkan teras sebuah toko yang tentu telah tutup, hanya ada dua meja di warung Pakde. Itu pun pelanggan harus sadar kapan waktunya untuk angkat pantat. Hey, ini bukan restoran berbintang Michelin.

Secara paradoksal, urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana ini bisa menjadi rumit. Saat dibawa ke ruang-ruang sosial yang lebih luas, ritual makan yang mulanya bersifat personal menjadi tindakan kolektif. Maka ‘makan’ menjadi ‘perjamuan’, ‘gala-diner’, atau sederet ritual berjamaah lain yang mutlak penuh dengan nilai, etika, dan peraturan.

Pierre Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste (1979) menguliti persepsi dan preferensi orang-orang Perancis terhadap makanan. Di karya yang sering diacu ilmuwan-ilmuwan sosial ini Bourdieu mengemukakan bahwa kelas pekerja Perancis lebih senang hidangan-hidangan ‘maskulin’. Mereka menghindari ikan karena ikan harus dikudap dengan cara-cara kontradiktif dengan cara makan maskulin. Memamah ikan penuh dengan hambatan: hanya bisa masuk mulut dalam porsi kecil, harus dikunyah perlahan karena banyak tulang. Sangat ‘nggak laki’.

Di lain bagian Bourdieu juga membuat tipologi selera makan orang Perancis antara kelas dominan dan kelas subordinat. Kelas pertama menganggap urusan makan sebagai bagian dari kontestasi makna, sementara kelas pekerja mengonsumsi makanan demi tujuan ritual itu sendiri: membuat perut kenyang, sehingga soal estetika tak dihiraukan. Di sini berlaku dikotomi bentuk vis-à-vis substansi, form over substance.

Anthony Bourdain, seorang pakar kuliner cum selebriti memiliki kata-kata terkenal,

“Konteks dan ingatan memainkan peranan kuat di setiap sajian-sajian ternikmat dalam kehidupan seseorang.”

Perkara makan adalah perkara maha penting. Saking kelewat pentingnya, Anda tidak bisa, misalnya, memaksakan sajian pedas kepada mereka yang tak suka. Urusan makan juga berkaitan dengan selera personal.

Maka bagi Jevandy, saya dan kawan-kawan, hidangan pakde masuk dalam kategori ‘sajian-sajian ternikmat’ yang dikatakan Bourdain: porsi nasi menggunung — Pakde tak seperti bakul biasa yang selalu terikat perkara untung-rugi, ia seumpama nenek terfavorit Anda yang tiada henti menawarkan berbagai makanan; aneka rupa lauk terkhusus dengan kuah sambal berlimpah mulai ayam, ikan kembung dan bandeng, hingga jengkol; beragam sayur dan sambal yang diperkenankan Pakde untuk kita ambil seenak hati; dan terakhir, playlist Pakde yang seolah-olah tahu kapan harus membuat rahang kami makin bergolak saat mengunyah, kapan kami ‘minta’ ditenangkan dengan sederet nada ‘chill out’.

Dan “Rencho” yang didendangkan Nella Kharisma masuk dalam kategori pertama. Lagu yang membuat salah satu bagian tubuh kami bergoyang saat mengunyah-berkeringat oleh sajian Pakde. Alih-alih mengucap ‘huh, hah’ karena dibakar rasa pedas, lagu ini ‘menenteramkan’ kami. Nikmati dulu, kawan, bicaranya nanti saja seusai makan, saya mengimajinasikan keduanya berkata begitu.

Pakde dan Nella Kharisma seolah-olah mengetahui penderitaan kami hari itu. Mereka ‘paham’ kami menahan lapar setengah hari setengah mati karena lebih memilih mengalokasikan uang untuk bercangkir-cangkir kopi dan berbungkus-bungkus rokok. Dan menganggar uang untuk menikmati itu semua murah harganya pula, kawan.

Pakde mematok harga antara sebelas-dua belas ribu, tak peduli lauk yang diambil atau berapa gelas Aqua yang Anda tenggak. Pakde seperti punya formula tersendiri dalam berniaga. Jika playlist yang ia putar juga masuk dalam rencana, maka jadilah. Saya tantang mereka yang bersekolah bisnis untuk menjelaskan moda produksi warung Pakde Pasar Minggu ini.

Tak ayal, anjangsana di ujung malam ini menjadi ritual. Sontak lirik “Rencho” yang nakal menghiasi kedua belah kuping, terutama saat lapar melanda. Dan lapar, sialnya, bisa datang kapan saja. Apalagi buat orang-orang seperti Jevandy yang tidak kenal pola makan teratur. Bersama rasa lapar, Nella Kharisma menghantui kami.

Diawali dengan percik ritmis khas Reggae, suara lembut Nella dengan lirik nakal menggelitik telinga. Simak saja,

Pisanan aku pengen kenalan

Koncone bojone kancaku jan ayu tenan

Kepindo aku dadi gregetan

Pendekatan mugo aku ndang cepet dadian

*

Asline aku eneng sing nduwe

Sewalike jebul dekne yo eneng sing ndue

Ra popo penting podo ngertine

Main mburi njogo ati siji lan sijine

Yang artinya,

Pertama aku ingin kenalan

Temannya pacarnya temenku cantik banget

Kedua aku jadi geregetan

Pendekatan semoga cepat jadian

*

Sebenarnya aku ada yang punya

Sebaliknya dia juga ada yang punya

Gak masalah yang penting sama-sama ngerti

Main belakang jaga hati satu dengan yang lain

Perselingkuhan adalah perkara lintas-kelas. Perselingkuhan seorang pengacara dengan aktris sama nilainya dengan perselingkuhan antara buruh tani dengan bakul jamu. Perselingkuhan bisa grotesk, bisa ‘indah’. Di lagu yang aslinya diciptakan vokalis band Reggae asal Wonosari Sukir Genk ini, perselingkuhan menjadi tema sehari-hari dan bermula dengan cara kelewat sederhana: tahu ‘target’ dari teman.

Saya mengalami sendiri peristiwa yang kemudian memorakporandakan rumah tangga salah satu tentangga. Sang suami adalah sosok sukses, seorang ambtenaar kelurahan dengan karir yang sepertinya terus mengalami grafik menanjak. Tapi toh itu tak mutlak membikin sang istri tidak main gila. Bayangkan, ia selingkuh dengan seorang tukang odong-odong dan di suatu siang kepergok sedang asyik bertukar lendir di ranjang tempat ia biasa memadu kasih bersama suami.

Lalu lagu mengalami puncaknya — apalagi saat nasi dan lauk Pakde telah tersantap setengah — di bagian kedua, yakni saat arsiran musik diartikulasikan para musisi pendukung sebagai ‘djandhut’, atau dangdut jaranan. Perubahan ini terjadi di menit 2:05.

Lagu yang tadinya terdengar remeh, menjadi begitu rancak dengan irama kendang, ketipung, dan tentu saja sahut-menyahut para vokalis latar dengan Nella. ‘Yo maan’, yang dibalas penyanyi latar dengan ‘hak, hak, hak’ atau ‘ow, ow, ow’, ‘heek, aahhh’. Begitu riuh, mengocok perut, dan membikin setiap sendi tubuh semakin ingin bergoyang.

Aih, mbak Nellaaa..!!!

Entah ini fusion, entah apakah ini yang dinamakan ilmuwan sosial sebagai budaya hibrida. Yang jelas, subgenre djandhut berbeda dengan dangdut koplo dan bila Anda hendak serius menggumulinya, “Rencho” bisa jadi pintu pertama.

Djandhut muncul sebagai respon terhadap dangdut koplo yang lebih dulu populer, dan bercikalbakal dari suatu daerah di Nganjuk melalui sepak terjang OM (orkes melayu) Sagita dan biduan terbaiknya Eny Sagita. Dalam irama djandhut, Anda tidak akan menemukan teriakan ‘asolole, joss!’ dari penyanyi latar.

Selain Nella Kharisma dan Eny Sagita, ada juga nama seperti Via Vallen yang sosoknya di video klip “Kimcil Kepolen” tak kalah elegannya dengan Isyana Sarasvati. Meski begitu, biduan-biduan ini tak mengeksklusifkan diri hanya bernyanyi dengan iringan djandhut. Mereka juga kerap bernyanyi dengan iringan koplo. Mereka terkenal dengan lagu-lagu berlirik njawa timuran, tapi juga tak menolak untuk mendendangkan syair-syair dari katalog evergreen Indonesia.

Otomatis sosok Nella Kharisma kami telusuri. Ia lahir di Jombang dan di tengah-tengah kesibukkan mentas juga masih menempuh studi di Universitas Kadiri, Kediri. Wajah ayunya sering ia unggah di laman Instagram-nya. Jangan salah, sebagaimana selebgram lain — saat ini ia telah diikuti sekitar 391 ribu pengguna di Instagram — ia juga kerap unjuk kebolehan bernyanyi, memamerkan kesibukkan, hingga menyapa followers.

Ia adalah bagian dari riuh dan bisingnya internet 3.0 seperti Awkarin. Meski memang, langgam dan artikulasinya saja yang berbeda. Bila Awkarin sering memamerkan sedang berada di tempat-tempat hip serta berkelas di Jakarta, Nella tak malu memberitahu posisi geo-tagging di tempat-tempat yang mungkin Anda pikir ndeso.

Istilah ini, ’ndheso’ atau kampungan, saya pikir merupakan bentuk kesombongan orang kota. Manakah kota manakah desa kini tak lagi penting. Seperti yang diurai sejarawan-antropolog Gerry van Klinken, kota-kota menengah seperti Jombang dan Ternate merupakan simpul penting dalam menjaga keutuhan republik (terkhusus pada era kemerdekaan dan reformasi). Kota menengah adalah tempat yang memerantarai pusat (Jakarta) dengan daerah-daerah kecil di pelosok melalui aktor-aktornya, kelas menengah-birokrat.

Di kota-kota menengah inilah fenomena dangdut koplo dan djandhut tumbuh. Saya menilai ini sebagai respon terhadap dunia hiburan kita yang masih saja Jakarta-sentris. Apalagi ini juga disertai oleh akulturasi budaya sehingga masyarakat lebih mudah menerima, misalnya, “Amung Roso Kangen” milik Eny Sagita ketimbang “Senja Menggila”-nya White Shoes and the Couples Company. Jaranan yang menjadi unsur ‘penyeimbang’ dalam djandhut merupakan kesenian khas Jawa Timur yang dekat dengan nilai-nilai historis kawasan itu.

Akhirnya, diiringi “Nenekku Pahlawanku” dari Wali yang merupakan salah satu nomor ‘chill-out’ playlist Pakde, saya meresapi rasa kenyang plus senang. Pakde dan Nella Kharisma tak hanya berhasil menuntaskan kegusaran kami akibat lapar yang mendera. Sambil melihat geliat para pedagang sayur yang meleseh di Pasar Minggu, saya tetap tak tahu alasan Pakde selalu memutar playlist yang sama. Tak pernah jua ia saya lihat menggumam lirik atau berjoget kecil mengikuti irama yang keluar dari pengeras suara sederhana miliknya. Mungkin playlist yang ia putar berfungsi untuk menjaganya dari kantuk belaka.

Pakde Pasar Minggu dan Nella Kharisma, kepada kalian kami menjura. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. ♦

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.