Dua Kisah Kecil di Kios Buku Bekas

Kania termenung. Dia mencoba membayangkan apa yang Irvin rasakan. Tapi dia tak mampu melanjutkan. Karena dia tahu itu sangat menyakitkan. Diserang oleh dunia dan manusia di dalamnya. Itu sering kali dia rasakan, walau dengan tikaman yang berbeda. Namun yang namanya tikaman, bagaimanapun caranya dan siapa yang melakukannya, akan tetap terasa sama sakitnya.

Menuju Bilik Kakus

Setelah empat puluh lima menit berlalu untuk memperhatikan hasil penggandaan tubuhmu yang cuma diam itu, kau kembali berjalan memenuhi kepentinganmu dan baru akan berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar setelah dua kilometer perjalanan. Lalu kau memasukinya, memperhatikan sekelilingmu, kemudian kembali berjalan melewati lorong remang-remang, dan berhenti di antara banyak bilik kakus.

Tentang Perempuan di Depan Kamar

Aku sendiri tidak pernah berbicara dengan perempuan itu. Kami hanya saling bertukar senyum jika kebetulan berpapasan dan perempuan itu sedang sendirian. Jika aku kebetulan berpapasan dengan perempuan itu ketika ia sedang bersama laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya maka aku akan tersenyum kepada laki-laki itu. Rasanya bukan pilihan bijak jika aku tetap melempar senyum ke arah perempuan itu meskipun laki-laki yang terlihat lebih tua itu bukan benar-benar suaminya.

Cita-cita Julian

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Tetapi sebelum itu, ia akan membikin band, menulis lagu-lagu tentang betapa membosankannya hidup, menjadi terkenal, baru kemudian bunuh diri. Sebab sia-sia saja kau bunuh diri jika dirimu bukan siapa-siapa. Kematianmu mungkin hanya akan menghiasi sedikit halaman di pojok berita kriminal sebuah surat kabar. Esok hari berita kematianmu sudah tidak ada. Seminggu kemudian kau sudah dilupakan semua orang.

Jurig Samak

Baginya, azan subuh hanya penanda bahwa sebentar lagi bumi bakal terang. Lagi pula, tiga manusia sudah lebih dari cukup, bahkan dia dibuat begah karenanya—meski memang dia masih penasaran untuk melahap bocah. Oh bagaimana sang monster yang tak punya otak itu bisa berpikir? Ah ya, manusia pun seringnya berpikir tanpa otak.

Bersama Laika di Luar Angkasa

Sejumlah kawan menyebutnya sudah gila. Tapi ia tidak peduli. Setelah ibunya pergi, hanya mimpi dan khayalan yang terasa nyata baginya. Sesungguhnya, ia berencana untuk terus melanjutkan hidup yang dipenuhi mimpi dan khayalan tersebut. Namun sebuah kejadian mengubah niatnya itu.