Mati Bahagia

Rasa senang yang dia lepaskan itu menggambarkan betapa kemenangannya merupakan pencapaian penting dan momen yang bakal dikenang atau bahkan diceritakan ulang ke orang-orang yang berbeda selama tahun-tahun ke depan. Artinya, secara tidak langsung, dia mengakui bahwa saya cukup berharga. Sayalah trofinya. Rasa sakit menggigiti sekujur tubuh, luar biasa, seharusnya saya bisa mati bahagia. Kenapa malaikat tidak mengambil nyawa saya waktu itu?

Prolog Si Pencabut Nyawa

Saya sebenarnya ingin membuat novel remaja ringan cinta-cintaan. Menulis yang begitu kan katanya cepat terkenalnya ya? Tapi ternyata susah menulis cerita yang begitu. Mau menulis tentang kopi, dan para penikmat senja juga saya tidak bisa. Susah. Saya tidak tahu apa-apa soal kopi, senja, remaja dan cinta-cintaan. Padahal sedang digandrungi ya. Ya, sudah saya menulis novel ini berdasarkan pengalaman saya sebagai pembunuh bayaran.

Sisi Lain Panggung Dangdut Ibukota

Dulu, sewaktu pulang menyaksikan pertunjukkan Dangdut Panggung untuk pertama kali, yaitu pertunjukkan dari SK Group, saya membawa serta berlusin-lusin pertanyaan yang mengganjal di dalam kepala, dan semua pertanyaan tersebut saya timpakan kepada adik saya yang sudah cukup lama malang membujur-melintang di dunia malam panggung dangdut Ibukota dan sekitarnya. Dan pertanyaan terbesar saya malam itu adalah; Siapa Ayah Meong?

Apa yang Tidak Terjadi Malam Itu?

Kerusuhan berlangsung hampir dua jam. Setelah itu, sunyi. Sunyi yang tidak hening. Hingga beberapa hari kemudian polisi dan tentara hilir mudik di berbagai sudut kota. Pemerintah dan aparat keamanan tidak memperbolehkan ada kegiatan di luar ruangan yang melibatkan lebih dari lima orang setelah jam tujuh malam. Suasana begitu sunyi. Sirene ambulans sesekali memecahkan sunyi. Sunyi yang menggetarkan jiwa.

Ralin di Tengah Hutan

Aku terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan danau yang cukup luas. Seperti yang aku bilang barusan. Keadaan saat itu sangat gelap. Normalnya, aku tidak dapat melihat apa yang ada di hadapanku. Tapi, aku tahu kalau aku berada di depan danau. Kau tahu? Seperti kejadian di dalam mimpi. Kita hanya tahu begitu saja. Danau tidak seperti laut yang tanpa melihat saja kita sudah tahu kalau itu laut karena suara deburan ombak. Danau bersifat hening. Diam dan dingin seperti kematian. Aneh memang.

Ziarah

Sebenarnya ada lagi makanan khas dari daerah kami ini, lebih tepatnya dari tanah Tapanuli Utara, Dekke Naniura namanya. Uniknya, ikan khas Tapanuli ini bukan digoreng, dipanggang atau direbus, tapi disirami dengan air jeruk asam atau jeruk jungga, sejenis jeruk purut khas Sumatera Utara. Kau heran? Sama, aku juga. Rasanya itu sungguh aduhai sekali, kawan. Menuliskannya saja sudah membuatku meneteskan air liur.