Merayakan Sakit Hati lewat Cidro

Di balik popularitas lagu-lagu berbahasa Jawa ini lah sosok Didi Kempot “kembali” menyeruak ke permukaan. Padahal, karya-karya seniman yang telah puluhan tahun berkarier ini banyak dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi dangdut koplo di Indonesia. Bahkan, Gofar Hilman, penyiar radio yang sekarang menjadi influencer di media sosial, tertarik untuk menjadikan Didi Kempot bintang tamu di kanal YouTube-nya.

Nanti

Aku masih mengingat pagi itu. Pagi di mana aku untuk kali pertama beradu tatap dengan Kinanti. Pagi di mana pertama kali aku beruluk salam dengan Kinanti. Aku mengingat pagi itu.

Kelompok Kucing Menari dan Tuan Tersenyum

Tuan Tersenyum berjalan pelan mendekatiku. Telapak tangannya yang panjang terulur ke depan wajahku. Kepalaku terasa pusing. Udara semakin dingin. Samar, kulihat empat manusia berkepala kucing muncul dan menari-nari dari balik punggung Tuan Tersenyum. Dua orang mengenakan jubah putih bergambar burung garuda, sementara yang dua lagi mengenakan jubah merah bergambar banteng. Dari fisik, mereka berempat terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita dengan warna kulit yang berbeda-beda. Kombinasi musik dangdut-psikedelik entah terdengar dari mana, membahana mengisi seluruh ruangan, mengiringi keempat manusia berkepala kucing itu menari atau mungkin lebih tepatnya berjoget? Entahlah. Kesadaranku mulai menipis.

Pilkada Kabupaten Anjing

Tadinya ia tidak mau ambil pusing, tetapi anjing di kabupatennya merupakan bagian penting dari pariwisata. Mereka biasanya menjaga objek-objek wisata agar tidak kecurian. Kabupaten tersebut memiliki situs-situs bersejarah yang bisa dengan mudah didaki oleh mafia cagar budaya. Mereka juga memiliki museum yang kini sudah direstorasi. Belum lagi makam-makam tempat orang berziarah. Semuanya dijaga anjing warga. Saking banyaknya anjing baik di sana, kabupaten Paraban sering disebut sebagai “Kabupaten Anjing”.

Untuk yang Mau Membaca dan Mengerti

Bagi Limba, di zaman yang sekiranya sudah maju ini sudah tidak butuh yang namanya kertas ataupun sejenisnya. Sudah merusak pohon-pohon yang menaungi kita dari sengatan panas, jadi pula sampah di pinggiran ibu kota. Tapi apa dayanya Limba, dia hanya orang apes yang terjebak dalam lika-liku ibu kota, Dan lagi pula siapa yang mau mendengarkan opini seorang petugas fotokopi? Apalagi beropini sudah dilarang dari jauh-jauh hari. Bisa dipenjara, atau yang paling ekstrem dilenyapkan. Walau pemerintah masih menutup-nutupi perihal “pelenyapan” itu.