Oleh: Dila Sholeha*

Pada suatu pagi di bumi pertiwi

Kami melihat cuplikan-cuplikan berita, bersit-bersit kabar tentang sebuah Negara. Negara yang katanya berlandaskan Pancasila, tapi jauh dari pemaknaannya.

Pada suatu pagi di bumi pertiwi

Kami menyesap secangkir rasa muak, mual dengan hukum yang harusnya menjadi kiblat, namun terasa menyayat saat kita tak punya uang untuk menyuap.

Pada suatu pagi di bumi pertiwi

Kami mencangkul getir, tersenyum pahit menatap tanah surga yang lapang. Yang kami tatap tak lagi rumput hijau menghujani. Batang-batang tandus kehilangan daun yang semarak. Tanah-tanah kering tak ingin bersentuhan dengan dasar bumi. Sembilu tak kasat mata telah memangkas tumbuhan yang berniat meranggas. Tak ada lagi binatang yang sudi menjamah, air pun malu menetes pada gunung-gemunung permadani.

Pada suatu pagi di bumi pertiwi

Kami menutup hidung, menahan napas, nelangsa menatap debu dan asap yang berebut di antara mega-mega. Ladang dan gambut tercerabut dari tempatnya hidup. Terganti oleh mesin-mesin berbunyi semrawut. Mereka menutup telinga, keparat-keparat berwajah jembut itu terlalu asyik menetak paru-paru bumi, paru-paru kami Alih-alih mendengar rintihan kami, bajingan-bajingan itu membuang muka. bak ajag penuh liur, mereka lebih bernafsu mendengar lenguhan gadis aktivis muda yang hanya bermodalkan gincu merah tebal dan koar-koar belaka.

Pada suatu pagi di bumi pertiwi

Kami tercabut, penghidupan kami mereka renggut. Perut mereka pun makin gendut. Dompet mereka juga makin gendut. Istri juga mereka makin gendut. Gendut, gendut, gendut. Dengan iming-iming kehidupan yang lebih patut, wajah bersahaja gendut penuh janji belaka. Dan akhirnya berakhir di penjara, dengan senyum manis terbingkai terhias jepretan kamera. ♦

* Mahasiswi Administrasi Negara Universitas Nasional angkatan 2015 yg menggemari puisi, baik tentang percintaan, sosial budaya, maupun politik. Dapat dikontak melalui akun line: dilasholeha dan Instagram: dilashl.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts