Oleh: Tyo Prakoso*

Minggu, 13 Mei 2018. Saya bangun pagi, mandi dan lekas menuju ke pemakaman yang tidak jauh dari rumah. Saya nyekar ke makam Mbah dan Paklek-Pakdek saya — sebagai ritual yang selalu kami lakukan saban menjelang bulan Ramadan. Saya membaca surat Yassin, tahlil dan doa. Meski yang terakhir dipimpin oleh adik perempuan saya yang memang lulusan pesantren.

Jam menunjukkan pukul 8 kurang beberapa menit. Saya kesiangan. Genta, salah seorang murid saya yang tahun ini lulus sebagai siswa, sudah menunggu. Saya lekas menuju Kampung Sawah, Bekasi, tepatnya ke Gereja Katolik Santo Servatius. Lokasi Gereja Servatius kurang dari 10 KM dari rumah saya.

Saya memacu motor lumayan kencang. Genta memang sudah mengingatkan saya bahwa Gereja Servatius bakal merayakan hajatan. Semalam kami berjanji, jam 8 pagi sudah di lokasi.

“Boleh sebats dulu?” kata saya ketika tiba. Genta sudah nangkring di atas motor-Dilannya.

“Enggak bisa, Pak. Misa sudah mau dimulai…”

Jam menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit.

“Baiklah,” kata saya.

Kami lekas masuk. Genta memilih kursi di bagian depan, agar kami bisa menyimak prosesi misa lebih jelas. Atau lebih tepatnya, saya bisa melihat prosesi yang sudah amat lama saya ingin lihat secara dekat.

Sebagai guru sejarah sejarah paruh waktu, saya berkewajiban mengetahui (sedikit) tentang Katolikisme dan ritual-ritualnya. Sebab sebuah hal mustahil menjelaskan tentang Penjelajahan Samudera Bangsa-Bangsa Eropa ke dunia Timur—juga Perjanjian Zaragosa dan Tordesillas; juga kolonialisme di Nusantara, tanpa memahami doktrin Katolikisme.

Itulah kenapa sejak lama saya ingin menyaksikan misa dari jarak yang dekat. Setidaknya agar saya enggak ngibul-ngibul amat tentang apa yang saya ocehkan di depan kelas, atau saya bisa sedikit menjelaskan bila murid saya bertanya “Apa itu uskup, dan bagaimana perannya saat berlangsung Perang Salib?” atau “Bagaimana fungsi Paroki dalam kehidupan umat Katolik?” atau “Apa, sih, sakramen atau liturgi?” dan pertanyaan-pertanyaan bernas khas generasi milenial.

Jam 8 lewat 45 menit. Prosesi misa berlangsung. Jemaat khidmat. Saya duduk di antara para jemaat Katolik yang khusyuk.

Di tengah prosesi, saat saya sesekali mengambil gambar dan video, saya selintas membaca kabar bahwa di sebuah gereja di Surabaya diteror bom—kebetulan gawai saya terhubung dengan kanal berita online seperti CNN, Tirto dan Kumparan. Saya hanya melihat judul berita tersebut di layar gawai. Saya enggan membacanya. Saya melihat jemaat Katolik di kiri-kanan saya khusyuk beribadah. Mereka melantunkan kidung dan puji-pujian untuk Bapak Allah, Tuhan Yesus dan Perawan Bunda Maria serta Para Rasul lainnya—yang sangat asing di telinga saya.

Di sela-sela kegiatan ibadah dan berdoanya, Genta menjelaskan beberapa ritual dan istilah yang berlangsung saat misa itu kepada saya. Saya teringat Cak Mahfud Ikhwan, yang bilang, “Keberhasilan seorang guru adalah ketika murid yang diajarinya beranjak menjadi guru,” Saya merasa Genta menjadi guru saya saat itu.

Kabar teror di tiga gereja di Surabaya terus mengiang di kepala saya. Itu sangat menganggu saya. Menganggu pengalaman mengikuti misa yang sudah saya nantikan sejak lama. Saya berdoa di antara saudara saya yang beragama Katolik. Mereka berdoa dengan bersimbah sujud. Tampak sangat khusyuk dibimbing Romo di altar. Saya berdoa untuk damai dan keadilan umat di dunia. Tentu dengan tata-cara Islam. Karena saya beragama Islam. Saya mengirim Al-Fatihah, sebagaimana saya lakukan saat tahlil atau sesudah sembahyang.

Saya lahir dari keluarga yang tak terlalu kaku dengan agama. Ayah saya orang Indramayu—darinya saya tumbuh sebagai anak kecil dengan pupujian kepada Kanjeng Nabi dengan bahasa Indramayuan. Ibu saya berasal dari Klaten—juga Mbah saya, yang saya ingat masih menjalankan ritual sesaji dan sejenisnya, sebuah laku Kejawen, meski kemudian Mbah naik Haji di usia sepuhnya dan rajin menjalankan syariat seperti sembahyang lima waktu hingga menjelang wafat 6 tahun yang lalu. Jika ada sanak-famili yang sangat kental tradisi keislamannya, tentu itu dari Almarhum Pakle saya. Ia berasal dari Demak, Kota Santri. Mbah dan Pakle saya itulah yang pagi tadi saya ziarahi.

Saya bahagya. Sekaligus juga sedih. Bahagya karena keinginan saya melihat secara langsung ritual misa—sedih karena pengalaman unik dan berharga itu berbarengan dengan kabar teror di 3 gereja di Surabaya.

Prosesi misa menjelang akhir. Para jemaat mengambil roti hotsi dan maju ke depan. Juga Genta yang duduk di sisi sebelah kiri saya. Saya berdiam di kursi. Saya tidak diperkenankan mengambil roti itu karena saya tidak dibaptis dan bukan beragama Katolik, tentu saja. Karena menganggu sirkulasi jalan jemaat di barisan tempat saya duduk, akhirnya saya berdiri di ujung sisi baris — dengan posisi demikian saya melihat dengan jelas alur para jemaat mengambil roti hotsi dan maju ke altar — untuk kemudian duduk kembali setelah ritual tersebut usai.

Saat itu saya merasakan perasaan saudara saya sebagai seorang minoritas.

“Begini rasanya,” batin saya.

Saya nelangsa. Sekaligus senang. Saya merasakan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Sebagai seorang muslim, bersuku Jawa, dan berkelas sosial menengah, sepanjang usia saya yang genar seperempat abad, saya merasa menjadi mayoritas sepenuhnya.

Saya membayangkan menjadi kawan saya yang beragama Hindu ketika semasa sekolah — yang harus keluar kelas saat jam pelajaran agama tiba, karena tidak ada guru mata pelajaran agama Hindu, apalagi ruangan khusus untuk mata pelajaran tersebut. Atau saya juga membayangkan menjadi seorang murid saya yang penganut kepercayaan, Sunda Wiwitan—harus menjawab soal beragama Hindu atau Islam yang disediakan sekolah karena tidak ada soal ujian untuk pelajaran penganut kepercayaan sementara ia membutuhkan nilai mata pelajaran agama di rapornya.

Bukankah pengalaman menjadi minoritas adalah pengalaman yang minim diterima oleh sebagian besar mayoritas di negeri ini?

Genta usai berdoa. Prosesi misa berakhir. Dilanjutkan dengan perayaan Sedekah Bumi, sebuah perayaan tahunan yang dirayakan Gereja yang sudah berumur lebih dari 200 tahun itu. Ada ritual berbalas pantun dan palang pintu khas Betawi, mengaduk dodol Betawi, pembagian nasi uduk, dan acara musik dan tarian tradisional. Semua diawali dengan restu dan perayaan simbolik Romo Gereja Servatius beserta pemuka agama dan tokoh masyarakat wilayah Kampung Sawah, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Saya malu,” kata saya kepada Genta, saat kami berbincang di lantai dua gereja, persis di hadapan altar dan patung Salib Yesus karya G.M. Sudharta. Salib itu terbuat dari kayu yang tampak kokoh. Sementara sosok Yesus dibuat dengan bahan serupa tembaga yang melilit.

“Saya malu sebagai mayoritas kepada kalian yang minoritas,” lanjut saya.

Saya juga mengabari kepada Genta tentnag kejadian di Gereja di Surabaya. Kami berbincang banyak hal: tentang sejarah, tentang harapan-harapan anak muda dan masa depan negeri ini. Juga tentang religiositas.

Saat kami berbincang, kami melihat dua orang perempuan bercadar masuk ke bagian dalam gereja dan berfoto di altar dengan patung salib Yesus sebagai latarnya. Kami terdiam sejenak melihat kejadian itu. Saya lekas berinisiatif mengambil gambar tersebut. Juga merekamnya. Saya melihat Genta tersenyum. Mungkin bahagya. Juga saya.

“Negeri ini, negeri toleran. Percayalah…. Sejarah sudah menakdirkannya demikian,” kata saya. “Kebodohan dan politiklah yang membuat kacau…”

Genta hanya mengangguk-angguk. Saya tidak tahu apakah ia paham dengan apa yang saya maksud. Yang saya tahu, ia ingin kuliah di Yogya dan hari ini pengalaman yang awuwuwuuu~ untuk saya. Kami pun lantas berdoa agar warga negara Indonesia senantiasa toleran. ♦

* Pembaca dan guru sejarah paruh waktu. Berkicau dan narsis di @cheprakoso (Twitter/IG)

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts