Aku masih ingat pagi itu. Pagi yang panasnya mulai terik, pagi yang embunnya tak lagi merintik, kerontang bagai kompleks pabrik. Aku juga masih ingat pagi itu. Bising anak-anak dalam kelas berlalu lalang, berhamburan berhumbalang, camping compang seperti anak belalang. Aku benar-benar masih ingat pagi itu. Pagi yang dedaunnya mulai gugur, pagi yang biru langitnya mulai luntur, sendu bagai ombak dalam debur.

“Tok…. Tok…. Tok….”

Seorang wanita paruh baya mengetuk dari balik jendela ruang kelas. Sontak aku berdiri dengan tangkas, memandanginya dari balik jendela dengan begitu awas. Rambutnya disanggul rapi dan wajahnya terhias alami. Ia juga mengenakan baju terusan berwarna merah burgundy, sungguh wanita dengan kecantikan paling azali. Wanita itu meminta aku untuk keluar sebentar dengan wajah tersenyum lebar, ramah betul cara bicaranya. Segera aku keluar untuk menyambut panggilannya. Setibanya aku di samping kelas, rupanya ada seorang anak wanita berusia sepuluhan tahun digandengannya, sebaya denganku pada saat itu. Aku tak melihatnya saat tadi di jendela, mungkin karena terhalang dinding kelas. Aku bersitatap sejenak dengannya, wajahnya terlihat begitu takut, keningnya mengkerut, pipinya merah kusut, kepalanya tertunduk ke lantai, pandangannya mematuk, mungkin ia melihatku seperti melihat anak beruk.

Aku tahu anak perempuan ini, hanya saja belum tahu namanya. Aku melihatnya kemarin pagi, tetangga baru yang tinggal di sebelah musala.

“Nuh, titip Kinanti ya, ini hari pertama ia pindah sekolah, jadi masih takut dan malu”

“Iya, Bu”

Aku tak bisa bicara banyak ketika Ibu dari anak perempuan itu menitipkan anaknya padaku di hari pertama sekolah barunya. Mungkin ia tahu kalau kita bertetangga jadi ia dengan sengaja menitipkan anaknya kepadaku.

“Nuh, namaku Nuh” aku menyodorkan sebelah tanganku ke arahnya, tapi pandangannya masih menusuk keramik sekolah, meski kemudian ia tetap menyodorkan tangannya juga ke arahku.

“Kinanti, panggil aku Nanti” ia menatap mataku dan kami beruluk salam kemudian.

Saat itu, pagiku tak lagi terik. Sepertinya angin musim semi semilir berhembus, membelai lembut wajahku yang kepadanya tatapku masih membeku. Saat itu pagiku tak lagi bising. Kejernihan dan ketenangan Gautama lekat menyelimuti sanubariku. Pagi itu musim semi hadir lebih awal. Krisan, Dandellion, Iris hingga Lotus, berebut tempat bermekaran, sesak memenuhi setiap ruang kosong di dalam jalur pernapasan.

Aku masih mengingat pagi itu. Pagi di mana aku untuk kali pertama beradu tatap dengan Kinanti. Pagi di mana pertama kali aku beruluk salam dengan Kinanti. Aku mengingat pagi itu.

*

“Kinantiiii!”

Aku berteriak dengan begitu lantang, persis di depan gerbang, meski sebenarnya ia tak memiliki halaman depan yang cukup lapang. Aku dan Nanti telah lulus dari Sekolah Dasar dan rupanya, kami kembali masuk dalam sekolah yang sama. Tak seperti dulu, di mana lokasi sekolah kami cukup dekat, kini, sekolah kami cukup jauh dari rumah. Kami mesti berjalan kaki selama lima belas menit, lalu dilanjutkan dengan angkutan umum sekitar dua puluh menit, lalu kembali berjalan kaki lagi selama tiga puluh menit, perjalanan yang cukup panjang memang, tapi bukan hal berarti bagiku, karena aku melakukannya tidak sendirian. Ada Nanti yang bersamaku berjalan beriringan.

Tak membutuhkan waktu lama hingga Nanti akhirnya keluar dari dalam rumahnya. Ini akan menjadi rutinitas aku dan dia di hari-hari depannya, setidaknya tiga tahun ke depan hingga kami lulus.

Kami berjalan bersisian, tapi tak pernah bergandengan tangan, Persis seperti sandal yang berpasangan, selalu bersebelahan tapi tak pernah melangkah bersamaan.

Aku cukup menikmati melakukan perjalanan dengan Angkot. Entah mengapa aku merasa Angkot adalah satu-satunya transportasi paling romantis yang pernah diciptakan umat manusia. Juru mudi akan memaksa kami para penumpang untuk lebih akrab dan intim satu sama lain, jangan sampai ada jarak di antaranya agar bisa terpenuhi konfigurasi tempat duduk empat enam. Di titik itu, aku menyadari bahwa ini adalah puncak romantisme dari sebuah perjalanan, karena hanya di dalam angkot aku dengan banyak orang yang tidak aku kenal bisa duduk berdekatan, terlebih ketika lututku dan lututnya bercumbu dalam peraduan.

Kau tidak akan pernah bisa merasakan nuansa romantis tersebut jika kau menumpang kereta kencana seorang Kaisar Roma. Kau juga tidak akan pernah bisa menuai sensasi perjalanan yang sama jika kau berkendara dengan Rolls Royce milik Sultan Hassanal Bolkiah. Kau hanya bisa menikmati momen spesial itu dari dalam keintiman dan kehangatan sebuah mobil angkutan kota.

“Kiri, Bang!”

Aku mengetuk atap angkot yang dilapisi papan triplek dan mengucap kata sandi penumpang untuk memberitahukan sang kusir agar segera menepikan kendaraannya. Aku dan Nanti turun ketika mobil telah terhenti sempurna. Sang sopir lekas menginjak gasnya dan meninggalkan kami berdua di tepi jalan setelah kami menuruni mobil angkot.

Jarak dari tepi jalan hingga ke sekolah kami memang tak sepelemparan batu. Rute yang kami tempuh cukup jauh, lebih kurang, seperti dari Jakarta ke Vanuatu. Ahhhhh…!!! Berlebihan sekali memang rasanya, tapi sungguh, memang jauh, jarak yang mesti ditempuh. Terlebih jika hujan deras mengguyur, maka di tengah perjalanan kami menuju sekolah akan ada satu titik yang menjadi lokasi favorit genangan air menumpuk di situ. Tak terlalu tinggi, hanya setinggi dada kami lah lebih kurang. Jadi jika ketidakberuntungan tersebut menghampiri, maka kami mesti menjunjung tas dan sepatu kami tinggi-tinggi di atas kepala agar sepatu dan buku-buku kami tidak ikut terendam bersama bagian tubuh kami dari dada ke bawah.

Perjalanan kami memang cukup panjang menuju sekolah, tapi kami tak pernah kehabisan bahan obrolan, selalu saja ada yang menjadi bahan pembicaraan, dari guru geografi kami yang buasnya bukan kepalang, hingga guru komputer kami yang benar-benar merasa menjadi makhluk tuhan paling tampan. Semua kenanganku dengan Nanti sejak kali pertama perjumpaan tumbuh subur dalam ingatan, berlimpah, bagai cendawan di musim hujan.

Tiga tahun berlalu, aku lulus meski dengan deretan nilai yang cukup kuyu, sedang ia berhasil mendapatkan nilai yang cukup padu. Aku melihat namanya tampil di papan pengumuman deret atas. Ia masuk dalam jejeran peringkat sepuluh besar, berbanding terbalik dengan aku yang hanya berhasil menyabet peringkat dua ratus empat puluh lima dari tiga ratus dua puluh siswa.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah, kami terpisah. Aku mengejar sekolah impianku, pun sama hal dengan dirinya. Kami tak lagi bertemu, tak lagi berbincang, hari-hariku sedikit layu, merasa seperti ada yang hilang. Hingga di tahun kedua kami terpisah sekolah, meski masih tetap bertetangga, aku mendengar kabar bahwa ia dan keluarga pergi tanpa kata, pindah tanpa berita, dan meninggalkan semua kenangan aku dan dia dalam sebingkai cerita. Namun aku selalu menulis catatan, tentang hari-hari bersamanya, akan kusimpan rapi di rak-rak kenangan, untuk sesekali kembali aku baca.

*

Mentari masih belia, tapi teriknya seolah ia ada sejengkal di atas kepala. Ingar bingar kendaraan roda empat dan dua centangperenang di jalan raya, asap polutan dan karbon monoksida berasyik masyuk melayang-layang di balik jendela. Sungguh pagi yang jauh dari kata ceria, persis seperti pagi di mana aku dan Kinanti beruluk salam untuk kali pertama.

Kini sudah satu separuh windu berlalu pasca kepindahan Kinanti ke tempatnya yang baru Aku tak pernah mencari tahu tentang keberadaannya, karena aku yakin ia juga tak akan melakukannya. Aku percaya, ia telah hidup dengan bahagia, bahkan mungkin telah menikah dan beranak dua, tapi aku masih menyimpan rapi setiap lembaran tentang dirinya, aku hanya tidak lagi membacanya.

Pagi itu aku membenamkan diriku hingga ke dasar aksa, berlayar jauh dengan gawai berbahan bakar kuota. Gulir, gulir dan terus menggulirkan lini masa sosial media, aku awali hari ini dengan kegiatan yang paling nirmakna.

Induk jariku berhenti menggulung layar, ada gambar dan nama yang begitu aku kenal tampil pada baris “Saran Pertemanan”. Aku membuka profilnya, aku perhatikan setiap foto yang ada dalam album miliknya, aku hanya ingin memastikan bahwa ini adalah benar-benar Kinanti yang pernah aku kenal.

Aku percaya jika setiap gambar memiliki ingatannya masing-masing, tak peduli gambar itu adalah lukisan Pablo Picasso atau milik Salvador Dali, tak peduli gambar itu hanya sekadar swafoto atau hasil jepretan seorang Darwis Triadi. Pasti akan selalu ada ingatan dan kenangan di balik sebuah gambar. Namun, meski aku tak memiliki satupun gambar bersama Kinanti, tapi sejak lama aku telah merampungkan menara ingatan tentang dirinya, tinggi menjulang hingga jauh ke luar angkasa.

Aku perhatikan foto miliknya satu persatu. Wajahnya seindah pualam, kulitnya berwarna madu, rambutnya sehitam gagak, matanya setajam rusa betina. Ia benar-benar memiliki kecantikan ibunya. Aku hanya mampu bersenandika “Oh Tuhan, ia telah dewasa”

Demi Odin dan seluruh kerajaannya, aku yakin betul bahwa ini memang dirinya. Ini Kinanti yang selalu ceria, ini Kinanti yang begitu mudah tertawa, ini Kinanti yang senyumnya mencerahkan semesta.

Tuntas memastikan bahwa ini adalah Kinanti yang aku kenal, aku lekas mengetuk tombol “Ikuti” pada profil miliknya. Lalu aku melihat cerita pratayang lima belas detik miliknya. Keningku kerut-merut, pikiranku silang sengkarut, kusut seperti angin ribut. Ada foto dirinya di atas sebuah pusara, juga sebuah catatan pada foto tersebut, “Empat belas hari sepeninggalan ibunda tercinta”.

Kepalaku seperti ditimpa palu godam, keras ia menghantam. Rupanya hari di mana aku kembali dipertemukan dengan Kinanti lewat jejaring sosial media, bertepatan dengan hari peringatan kepergian wanita paruh baya yang dua puluh tahun lalu menitipkan bungsunya padaku. Wanita yang dua puluh tahun lalu mengenakan baju merah burgundy, wanita yang wajahnya terhias alami, wanita yang aku puji, asbab memiliki kecantikan paling azali, dan telah dua minggu lamanya ia pergi.

Aku ragu, tapi aku ingin mengucapkan duka cita untuknya. Aku ragu, tapi aku  ingin mengatakan sesuatu untuknya. Sungguh hari pertemuan kembali yang amat sangat tidak tepat.

“Nanti, aku turut berduka cita atas kepergian ibumu. Aku mengenalmu, setidaknya pernah mengenalmu, dengan cukup baik, kau wanita kuat yang memiliki ketangguhan, meski kerap diberi cobaan, kau tak pernah terkalahkan”

Sebuah pesan aku labuhkan untuk menanggapi foto tersebut, sekadar ucap duka cita atau bela sungkawa. Mungkin kalimatku tak terlalu bermakna, tapi setidaknya aku ingin ia tahu bahwa aku mampu memahami apa yang ia rasa.

“Terima Kasih, Nuh”

Sebuah ucapan terima kasih darinya untukku ia sampaikan. Ya, memang hanya itu, lalu balasan apalagi yang mesti aku harapkan dari seseorang yang baru saja ditinggal sosok yang paling dicintainya. Terlebih, sudah dua belas tahun lamanya kami terpisah jarak. Ia masih ingat dengan namaku saja itu sudah menjadi sebuah anugerah.

*

Sebulan lebih telah berlalu setelah ucap belasungkawa aku layangkan untuknya. Kiriman terbaru menceritakan tentang kunjungannya ke negeri sakura. Mungkin ia tengah melipur sedu dan juga menghapus lara. Tuhan, aku ingin berjumpa kembali dengannya, apa kau akan mengizinkannya? Doa aku lantunkan dengan lantang dalam diam.

“Nanti, apa kita mungkin akan bertemu kembali?”

Sebuah pesan aku kirimkan di sela-sela liburannya ke Jepang.

“Mungkin”

Ia hanya menjawab dengan sebuah harap, sama seperti nama belakangnya, Nanti, laksana seikat janji bahwa kelak kita akan kembali berjumpa. Meski entah kapan aku pada harap dan janji itu akan tiba.

*

Sore itu pusat perbelanjaan benar-benar menggila. Antrian di seluruh jejeran kasir kian mengular naga, semua barang dipindai satu persatu di depan kasa, sedang aku masih menemani ibuku yang tengah sibuk berkutat dalam pergulatan pikirannya dalam memilih pengharum ruangan berorama lavender atau hutan cemara.

Ibuku memang selalu begitu ketika belanja. Jika ia dihadapkan pada dua pilihan di keranjang belanjanya dan hanya ingin satu buah, ia akan bergumul bersama kedua barang tersebut lalu akan ada pertarungan sengit lagi panjang di dalam kepalanya. Tak jarang aku kerap melihat asap putih mengepul dari atas kepalanya. Sungguh, ketika ia tengah belanja dan dihadapkan dengan dua pilihan, ia akan seperti penjinak bom yang tengah dihadapkan pada dua pilihan kabel biru atau kabel merah, atau mungkin kabel kuning, seolah jika salah memilih barang belanjaan, langit akan runtuh, bumi akan terbelah.

“Bu, Nuh tunggu di depan saja ya. Nuh mau minum kopi dulu”

Sadar bahwa durasi belanja ibuku akan lebih lama dari final pertandingan piala dunia dua ribu sepuluh, aku putuskan untuk mohon diri dan menunggunya di kedai kopi depan pusat perbelanjaan tersebut. Lokasinya masih di dalam pusat perbelanjaan itu, persis dekat pintu keluar, jadi aku tentu akan melihat ibuku jika ia telah menyelesaikan daftar belanjaannya.

Suara mesin kopi menggiling setiap biji kopi memenuhi area pusat perbelanjaan. Ia menggerung seperti rengekan anak kecil yang meminta dibelikan baju berlogo SUPREME. Kedai kopi itu memang terbuka, hanya dipisahkan sekat-sekat kecil di sekitar depan area pusat perbelanjaan.

Kopiku selesai diramu. Ketika aku berbalik dan hendak menuju meja, seorang anak kecil yang baru bisa berjalan keras menubruk kakiku. Ia terjatuh, kopi yang kupegang bergejolak di dalam cangkirnya, beruntung aku mampu menjaga keseimbangan dan tidak tumpah mengguyur si anak tersebut.

“Adek, hati-hati dong larinya. Kasihan tuh Om-nya”

Seorang pria yang aku taksir usianya terpaut dua atau tiga tahun lebih tua dariku mengambil anak tersebut dan kemudian menggendongnya. Ia mengasihani aku karena aku dihantam anak kecil. Hei, Bung, tenang saja. Tak separah itu, aku bergumam.

“Mas, maaf yah. Dia lagi seneng-senengnya lari-larian”

“Oh, nggak apa-apa kok. Adek siapa namanya?”

Aku meletakkan cangkir kopi di meja kasir, lalu merunduk, mensejajarkan wajahku dengan wajah si anak ini, mencoba beramah tamah pada si anak kecil yang baru saja hampir terguyur kopi panas milikku.

“Noah, Om. Maaf yah tadi aku tabrak kaki, Om”

Sejenak aku terhenyak, namanya hampir mirip dengan namaku.

“Pinternya, nggak apa-apa, Om kan kuat. Noah mau es krim? Biar Om beliin”

“Masnya mau kopi juga? Biar sekalian saya pesankan”

Aku menawarkan si anak dan ayahnya es krim dan kopi untuk mereka. Namun ia menolak, karena mesti bergegas menjemput istrinya yang hampir selesai berbelanja, dan mereka mesti segera pulang untuk menghindari kemacetan jalan raya.

“Nah, itu mereka datang”

Aku menilik dari balik bahu pria ini. Seorang wanita dengan anak di gendongannya yang mungkin berusia sepuluh bulan dari belakang pria ini melangkah mendekat. Pria ini kemudian merangkul istrinya dan memperkenalkannya padaku

“Oh iya, saya Miko. Ini istri saya, Kinanti. Dan ini anak kedua kami Eber, adiknya Noah”

Aku perhatikan ia lamat-lamat untuk kali kedua. Setelah kali pertama aku melakukanya melalu profil sosial media milikinya, kini aku kembali memastikan bahwa yang ada di hadapanku ini memang Kinanti yang aku kenal, Kinanti yang dulu tinggal di sebelah musala. Dan ya, dia memang Kinanti, sejenak aku bersitatap dengannya, tatapan yang sama saat kali pertama aku menatap matanya dua puluh tahun lalu.

Aku rasa baik untukku agar tak menyebutkan nama asliku, dan tetap berpura-pura tidak mengenal Kinanti, karena itu yang ia lakukan saat ini, berpura-pura tak mengenal diriku. Aku tidak ingin ada kecanggungan di antara kami.

“Idris, namaku Idris”

Akhirnya aku menggunakan nama Idris ketika Miko menanyakan namaku, rasul yang datang persis sebelum Nuh, namaku.

Kami tak berbincang lama. Mereka segera undur diri. Ia mesti mengangkut seluruh belanjaan dari keranjang belanja ke dalam bagasi mobil mereka. Aku masih menatap mereka dari kejauhan. Rupanya semua sesuai dengan yang sudah aku perhitungkan, Kinanti telah berbahagia dengan rumah tangganya dan dianugerahi dua orang putera.

Ibuku menepuk bahuku. Ia terus menepuk bahuku, menepuk lagi, dan lagi, lalu wajahku, pipiku, ia terus menepuk-nepuk. Aku terbangun dari tidurku, keringat mengucur sebesar buah duku, jantungku cepat terpacu, ia berdegup bertalu-talu. Aku tak tahu, mimpi itu terasa nyata, perasaanku berkecemuk tak keruan, aku seperti merasa senang, mengetahui bahwa Kinanti telah menikah dan berkembang biak, hanya ada di dalam mimpi.

Aku lekas mengambil gawai milikku, dan segera mengirimkan sebuah pesan untuknya.

“Nanti, apa kita sudah tidak mungkin bertemu kembali?”

Tak membutuhkan waktu lama hingga kemudian ia membalas pesanku.

“Aku tak tahu, Nuh. Yang pasti tidak saat ini. Belum saat ini. Mungkin. Nanti. Pada saatnya”

“Nanti, kita telah dipisahkan oleh waktu. Aku berharap waktu bisa juga mempertemukanku kembali denganmu”

Itu pesan terakhirku untuknya. Aku tahu ia telah membacanya, dan ia memang tidak membalasnya, tapi tak mengapa. Tugasku kini hanya mesti menunggu, hingga waktu mempertemukannya kembali denganku.

Sampai nanti, Kinanti.

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)

Related Posts