Damar menghela napas menatap sekumpulan orang yang mulai ramai di sekitarnya. Dua gelas kopi dan beberapa batang rokok telah dia tandaskan. Pemutaran film Casablanca sebentar lagi akan dimulai. Tak peduli langit di atas sana sudah mulai berwarna kelabu, tanda jutaan liter air akan segera tumpah tanpa simpati. Namun Damar masih setia menunggu Mala. Gadis yang baru dikenalnya selama dua minggu lewat Rasyid, rekannya sesama penulis di majalah daring tempatnya bekerja. Sama seperti Damar, gadis itu juga seorang pencinta film. Tapi dia tidak pernah datang ke pemutaran film terbuka dengan konsep misbar seperti ini sebelumnya. Maka dari itu, ini akan menjadi pengalaman pertama untuk Mala.

Setitik air menetes jatuh mengenai lensa kacamata Damar. Pemuda itu menengadah menatap gumulan awan abu-abu di langit. Damar membersihkan kacamatanya dari tetesan air hujan, namun dia tidak sanggup membersihkan kegelisahannya. Apalagi ketika dia melihat bahwa di depan sana film sudah dimulai tepat ketika kamera menyorot papan nama kafe milik Rick yang diperankan Humphrey Bogart. Sebenarnya Damar tidak menyukai Bogart. Dia lebih menyukai James Dean atau Alain Delon, tapi dia memang tidak bisa menampik bahwa Casablanca adalah film drama berlatarkan perang dunia ke-II terbaik yang pernah ada. Akting Ingrid Bergman saat memasang wajah sedih dalam film itu berkali-kali membuat air mata Damar mengembang, dan dia tidak pernah malu mengakuinya..

Damar menatap jam di ponselnya. Sudah hampir satu jam lebih dia menunggu Mala, tapi Mala tak kunjung datang. Damar tidak bodoh. Dia juga sudah meminta nomor ponsel gadis itu, hanya saja Mala tidak mau memberikannya. Karena itulah Damar tidak bisa menghubunginya untuk menanyakan keadaannya. Damar mulai berdecak tak sabar. Jengkel.

“Tunggu aku jam 5 sore. Aku akan datang. Tenang saja. Orang-orang zaman dulu tidak membutuhkan ponsel untuk sekedar janjian di suatu tempat kan?” kata Mala saat itu.

Damar menyetujuinya dengan sedikit terpaksa. Baru kali ini dia menemukan gadis seperti Mala. Pola pikirnya tidak tipikal seperti gadis-gadis masa kini pada umumnya. Mungkin karena itu Damar bisa tertarik dengan Mala. Padahal Damar sangat sinis terhadap perempuan. Menurutnya, perempuan zaman sekarang itu menyebalkan. Yang mereka pentingkan cuma barang-barang bermerek dan penampilan mereka sebagai manekin siber di media sosial. Atau yang lebih buruk lagi adalah mereka-mereka yang sok pintar, angkuh, dan memandang pria sebagai makhluk bejat yang bodoh.

Begitulah yang ada di pikiran Damar saat pertama kali bertemu Mala. Damar menduga bahwa Mala ini adalah gadis macam itu. Ketika Rasyid menceritakan bahwa Mala yang baru berumur dua puluh tahun ini adalah seorang aktivis politik yang idealis, Damar pun makin muak dibuatnya. Gadis semuda ini aktivis? Tahu apa dia tentang dunia? Tahu apa dia tentang politik? Gadis bau kencur modal tampang cantik sepertimu ujung-ujungnya hanya bisa berkoar di media sosial. Aku tahu sekali itu. Kau bakal segera diluluhlantakkan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan lebih tinggi di luar sana, pikir Damar sambil memindai ekpresi dan nada bicara Mala ketika dia asyik berdiskusi dengan Rasyid saat itu.

Damar mendengus. Dugaannya tidak meleset. Mala adalah tipe gadis no.2 yang dibencinya: Angkuh dan merasa dirinya paling pintar. Namun entah kenapa ada sesuatu dalam diri Mala yang membuat Damar penasaran. Entah apa itu. Damar pun belum benar-benar menyadarinya. Hingga akhirnya dia mengingat kembali percakapan-percakapan waktu pertemuan awalnya dengan Mala.

***

“Hmm, mau menonton film bersamaku? Kata temanku sedang ada pemutaran film dengan konsep layar tancap di lapangan bulu tangkis dekat kampus XYZ. Alias misbar, he he. Aku belum pernah merasakan menonton dengan pengalaman seperti itu. Pasti bakal seru sekali, ya. Kata Rasyid kau suka sekali menonton film,” ajak Mala setelah selama beberapa saat mereka terdiam. Matanya berkilat-kilat penuh semangat. Damar mengernyitkan dahi. Dia menatap gadis itu dengan sikap was-was.

“Kenapa melihatku seperti itu? Benar, kok. Aku suka sekali film. Film favoritku itu Casablanca. Aku suka sekali dengan akting Ingrid Bergman di film itu,” ujar Mala berseri-seri.

Mendengar film favoritnya disebut, ekspresi Damar berubah secepat kilat menyambar. Hatinya melunak seketika. Kesinisannya pun musnah. Damar segera membuka hatinya untuk Mala, memberikan ruang dan celah untuk gadis itu singgahi. Damar sering mendengar cerita-cerita tentang orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama begitu saja terhadap seseorang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dia tidak pernah memercayainya dan menganggap itu hal yang konyol dan banal. Namun kali ini dia merasakan sensasi yang hampir mirip dengan mitos tersebut. Dia tertarik setengah mati pada gadis yang dibencinya semenit yang lalu. Malah, mungkin tanpa Damar sadari, dia masih membenci gadis itu. Jesse Eisenberg dalam film Café Society memang benar. Life is a comedy written by a sadistic comedy writer.

 ***

Film sudah berjalan dua puluh menit. Batang hidung Mala belum juga muncul. Damar mencoba mengalihkan kecemasannya dengan memerhatikan muda-mudi yang berlalu-lalang di depannya. Beberapa dari mereka sibuk mencari tempat yang tepat untuk menonton. Ada juga yang malah asyik bercanda mesra dengan kekasihnya tanpa menatap layar sedikit pun. Untungnya, lebih banyak lagi orang-orang yang fokus menonton dan sibuk berdiskusi mengenai film tersebut.

Walau pretensius, tapi setidaknya mereka mengapresiasi film.

Damar mulai merasa mual. Berkali-kali dia bersendawa. Nikotin dan kafein yang dia konsumsi secara terus menerus selama lima belas tahun tanpa lewat sehari pun telah membuat lambungnya melemah. Menurut dokter, dia sudah tidak boleh mengkonsumsi kopi lebih dari satu cangkir. Namun Damar keras kepala. Dia menghiraukan diagnosa dokter dan terus meminum minuman yang kini menjadi objek banyak tulisan para penulis, baik fiksi maupun nonfiksi.

Azan maghrib berkumandang. Film dihentikan selama lima belas menit. Sebagian penonton muslim yang alim bangkit dari kursi, lalu bergegas menuju masjid terdekat. Damar melepas kacamata, kemudian mengusap kedua matanya yang lelah. Kacamata yang Damar pakai itu bukan kacamata minus. Sebagai orang yang sering membaca buku dan menonton film, mata Damar cukup sehat. Namun, insomnia telah membuat kedua bagian bawah matanya menghitam seperti pemadat narkoba. Demi menyiasati bagian matanya sekaligus agar kelihatan lebih seperti penulis, Damar membeli berbagai kacamata yang modelnya biasa dipakai tokoh-tokoh favoritnya. Seperti kacamata yang biasa dipakai Buddy Holly, Morrissey, atau Harry Potter.

Tak lama film kembali dimulai. Damar kembali menyulut rokoknya. Tangan kirinya menggenggam gelas plastik berisi kopi hitam instan yang baru dibelinya dari penjual kopi bersepeda. Di layar kini sedang menayangkan close-up wajah Ingrid Bergman. Bajingan. Michael Curtiz ini tahu benar cara ‘menangkap’ wajah dan ekspresi Ingrid Bergman, pikir Damar. Selama beberapa menit, perhatian Damar tercurah dalam film. Itu pun hanya sebentar. Dia kembali gelisah memikirkan Mala. Damar mulai berpikir kalau jangan-jangan Mala kecelakaan di jalan atau malah lupa dengan janjinya. Dia juga sudah menelepon Rasyid tadi, namun Rasyid pun tidak pernah tahu nomor ponsel Mala. Media sosial Mala di internet seperti Twitter, Facebook atau Instagram pun lama tak aktif. Jemu menampar Damar. Untuk mengalihkannya, dia iseng melihat pamflet daftar film yang tayang di pemutaran film misbar ini. Selain Casablanca, ada juga film Sherlock Jr-nya Buster Keaton. Damar mulai menyesal kenapa dia tidak memilih film Buster Keaton. Setidaknya, dengan kondisi seperti ini, dia masih bisa terhibur menyaksikan adegan-adegan gila Buster Keaton.

Pendar-pendar lampu jalanan mulai menerangi malam. Bising bunyi klakson berlomba-lomba memekakkan telinga. Film sudah mau usai, gelegar petir pun mulai menyalak keras. Berkali-kali Damar merutuk dalam hati, sampai akhirnya dia sadar kalau perbuatannya itu tak akan sanggup memunculkan Mala di hadapannya begitu saja. Rintik hujan akhirnya turun menusuk jalan. Awalnya sedikit, tapi lama kelamaan deras. Para penonton sibuk berlarian menyelamatkan diri ke tempat-tempat beratap. Bubar. Film di layar masih berjalan, dan sedang memasuki bagian akhir film. Sebagian orang-orang sok hippie masih tekun menonton dari tenda yang mereka bangun sejak awal pemutaran film. Pasti mereka sudah memeriksa BMKG, makanya bisa memprediksi dan mempersiapkan sampai sejauh itu.

Damar bangkit dari duduknya, lalu berjalan gontai ke depan layar. Tubuhnya mulai kuyup dibantai hujan. Tapi dia tidak peduli. Damar terus berjalan melawan arus kerumunan orang yang berlari ke arah sebaliknya, hingga akhirnya dia berdiri beberapa meter dari layar itu persis di sebelah tenda “orang-orang hippie”. Tampang dan penampilannya kini kacau bukan main. Bibirnya mulai membiru, rambutnya pun lepek seperti tikus tercebur got. Kuyu. Kulit tangannya juga mulai mengeriput digerogoti cemas, dongkol dan dingin.

Damar mengedarkan pandangannya dengan lesu. Wajahnya getir. Mala, kau di mana, bangsat? Damar mulai mengusap-usap kedua bahunya yang menggigil. Salah satu Orang Hippie itu melihat Damar dan cepat-cepat membujuknya untuk masuk ke dalam tenda. Tidak ada pilihan lain. Dari pada aku kedinginan. Pertemuan dengan Mala boleh saja berakhir buruk, tapi aku tidak ingin kesehatanku yang memburuk karena gadis sial itu.

Baru saja Damar akan mencopot sepatu Converse-nya, tanpa sengaja, mata Damar tertuju pada sesosok gadis berpakaian serba hitam berperawakan seperti Mala. Ah, tidak. Itu memang Mala! Gadis itu berdiri mematung di tengah-tengah kerumunan orang. Tubuh dan wajahnya basah terguyur air hujan. Damar mencoba memanggil, tapi niat itu dia urungkan saat menatap raut wajah Mala yang datar. Mata gadis itu menatap kosong. Hampa. Seolah-olah jiwa gadis itu telah dirampok dalam perjalanan menuju ke tempat pemutaran film. Damar termenung sesaat. Apa benar itu Mala? Atau aku hanya salah lihat saja? Semacam fatamorgana barangkali. Damar menggelengkan kepalanya. Berusaha mengusir suara-suara di kepalanya yang membisikkan pemikiran ganjil padanya.

“Ayo, Mas. Cepat masuk!” ajak Orang Hippie.

Seruan itu menyadarkan Damar dari lamunan singkatnya. Sembari merapikan letak kacamatanya, dia mulai melangkah mendekati sosok Mala yang timbul tenggelam di tengah lautan manusia. Tidak peduli dengan Orang Hippie yang berkaok-kaok memanggilnya untuk segera kembali ke tenda beraroma ganja dan lavender tersebut.

Sosok Mala mulai hilang dari pandangan. Orang-orang yang berlalu-lalang dan berlari lintang-pukang semakin bertambah. Damar memaksakan dirinya untuk merengsek lebih maju lagi menerobos kerumunan orang-orang itu. Dia tidak ingin kehilangan sosok Mala. Tidak untuk saat ini, di tempat seperti ini, di suasana haru biru seperti ini. Dia ingin menghampiri Mala dengan normal, lalu mengajaknya meneduh sambil menanyakan apa sebab musabab dia bisa telat dan kehujanan. Dia tidak ingin sepotong kisah hidupnya berakhir bak salah satu adegan dramatis di film-film, di mana adegan itu diisi dengan tokoh pria dan wanita yang saling menatap di bawah rintik hujan, sebelum akhirnya berciuman mesra sambil diiringi alunan lagu sendu menyayat. Damar tidak ingin adegan seperti itu terjadi di hidupnya. Itu bakal norak sekali, pikirnya.

Adegan seperti itu hanya layak untuk dinikmati sebagai tontonan, bukan malah terjadi di hidupku sendiri.

Damar terus melangkah dengan susah payah hingga akhirnya dia sampai di titik tempat Mala berdiri tadi. Namun alangkah terkejutnya begitu Damar melihat sosok Mala yang masih berdiri mematung. Damar terkesiap. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika. Gadis itu telah mati. Dia sudah tidak bernapas. Tubuhnya pun dingin. Jiwanya sudah tidak bersemayam lagi di sana.

Sadar kalau Mala telah mati, Damar mengembuskan napas panjang. Dia sadar betul kalau Mala ini mati dibunuh. Dan pembunuhnya itu adalah dirinya sendiri.

Mala mati terbunuh penantian dan harapan. Termutilasi arus waktu. Tercacah obsesi.

“Perempuan sundal!” maki Damar sambil melenggang pergi meninggalkan Mala yang masih berdiri kaku. Orang-orang yang tadinya sudah berteduh pun kini mulai merubung mayat Mala. Serempak orang-orang itu mengeluarkan ponsel pintar mereka untuk memotret Mala, lalu mengunggahnya ke Instagram dan Twitter. Ada juga yang membuat vlog dan berswafoto bersama mayat Mala. Bahkan, si Orang Hippie mulai menggesek-gesek pantat Mala dengan penisnya sambil meremas-remas kedua payudara Mala yang padat dan ranum.

Sementara itu, hujan mulai turun semakin deras, semakin deras. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts