Kokok ayam milik tetangganya memecah telinga Sony yang sedang asyik tertidur begitu lelap. Dilihat kaca jendela kamar yang sudah mulai agak retak, ternyata sudah dihiasi oleh sekumpulan embun. Itu tandanya matahari sudah siap menari dan ia harus segera bersiap untuk bangun. Sony merupakan anak berusia empat belas tahun. Pada usia yang masih cukup belia, seharusnya ketika bangun di pagi hari ia sudah sibuk pontang-panting bersiap untuk mandi serta mengenakan seragam sekolahnya. Tapi sayang hal itu tidak berlaku untuk Sony, sehabis mandi ia dan sang ayah lalu menyiapkan dua buah kotak berisi alat penyemir sepatu.

“Ke mana kita hari ini, Yah?” Tanya Sony kepada sang ayah ketika sehabis sarapan dengan tiga kepal nasi yang diberi garam.

“Hari ini kita ke Jalan Tan Malaka, Nak.”

“Hah, Jalan Tan Malaka? Di ibukota tidak ada Jalan Tan Malaka, Yah,” tutur Sony mengingatkan.

“Oh, iya, Ayah lupa! Maksud Ayah itu kita ke Jalan Soedirman. Maklum, namanya juga lupa. Ya, selupa orang-orang yang melupakan Bapak Bangsa itu, Nak,” jawab sang ayah.

Kepulan asap nan gelap dari Metro Mini menandakan keberangkatan mereka berdua. Ia dan sang ayah duduk di kursi penumpang paling belakang. Ketika sampai di salah satu persimpangan lampu merah, ada seorang bocah yang menaiki Metro Mini yang ditumpangi mereka berdua dengan membawa botol minuman plastik bekas yang terisi oleh beberapa butir beras. Botol yang sedang dipegangnya adalah teman sehari-hari ketika mengamen di dalam angkutan umum maupun Metro Mini yang melintas. Usianya mungkin baru enam tahunan. Pakaiannya begitu lusuh, badannya kurus, kulitnya gelap karena dibakar sinar matahari, serta terlihat masih ada sisa noda ingus yang mengering di pipi kirinya.

Bocah itu lalu menyanyikan sebuah lagu dengan lirikan mata yang meminta-meminta dan mengharapkan uang dari setiap penumpang yang ada. Namun seusai ia bernyanyi, tak ada penumpang yang memberikannya uang. Tak lama, si bocah lalu turun dengan membawa wajah pilu dengan kedua mata masih tetap mencari angkutan umum atau Metro Mini lainnya.

“Lihatlah, Nak. Betapa kejamnya uang itu memperlakukan manusia. Uang itu tak pernah mengenal dengan anak kecil, perempuan, atau orang yang sudah sepuh sekalipun,” ucap sang ayah sembari mengelus-ngelus kepala Sony.

Sony menatap ayahnya dengan tajam, lalu bertanya, “mengapa uang bisa sekejam itu, Yah?”

“Karena semenjak adanya uang, kerakusan manusia semakin hari semakin bertambah, Nak. Tak pernah mengenal ada kata cukup. Bila perlu, nyawa manusia akan ditukarnya,” jawab sang ayah. “Ah, sudahlah, tak perlu kau pikirkan lagi. Yang jelas hari ini kita harus bekerja keras agar mendapatkan uang yang cukup untuk bisa membeli mie ayam yang diidamkan ibu,” tambahnya.

“Siap, Yah.”

Ketika mereka turun di pinggiran Jalan Soedirman, mereka berdua berpencar. Sang ayah ke arah utara dan Sony ke arah selatan. Seperti hari-hari sebelumnya, mereka berdua hanya bersama ketika di pagi hari saja. Setelah itu mereka berdua berpencar dan ketika hari sudah sore, mereka akan pulang masing-masing ke rumah.

Sang ayah mendapati sebuah tempat yang sangat cocok untuk dirinya singgah. Tempatnya berada di pinggir jalan dekat dengan kantor-kantor bertingkat. Ia melihat ada peluang di sana, karena seringkali dilewati oleh orang-orang yang ingin berangkat kerja. Maka ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang cukup sejuk dan rindang, sambil sesekali menawarkan jasa semir sepatunya kepada mereka yang sedang berlalu-lalang.

Dalam waktu cepat, sudah ada lima orang yang datang untuk meminta jasanya. Tampaknya hari itu adalah hari yang sangat beruntung. Pasalnya dua hari yang lalu ia sama sekali tidak mendapatkan satupun pelanggan. Memang jasa semir sepatu ini sudah mulai ditinggalkan oleh orang-orang semenjak banyak pabrik-pabrik semir yang bermunculan. Orang-orang lebih memilih membeli di warung atau supermarket terdekat. Ia tahu, pekerjaan yang sekarang dilakoninya ini cepat atau lambat tak akan diminati lagi oleh orang-orang. Tentu ia harus memutar otak untuk mencari pekerjaan lain lagi. Sebab bila pekerjaan ini terus dilakukannya, keluarganya bisa mati kelaparan. Karena kian hari pendapatannya semakin berkurang. Hal inilah yang selalu dipertimbangkannya akhir-akhir ini ketika hendak tidur di malam hari.

Siang itu ketika matahari berdiri tepat di atas ubun-ubun kepalanya, ada empat orang yang datang menghampiri. Empat orang tersebut merupakan preman daerah sekitar. Kala itu, para preman melihat banyak sekali orang-orang yang berdatangan padanya. Tanpa banyak bicara, mereka pun segera menghampiri.

“Hey, Pak, kulihat dari tadi sudah banyak sekali orang yang berdatangan padamu. Tampaknya kau harus setor uangmu dulu pada kami!” cetus salah satu preman sambil menadahkan tangan ke arahnya.

“Setor katamu?! Asal kau tahu saja, saya mencari uang ini dengan susah payah. Seenaknya saja kau ingin mengambil uang ini. Tidak! Saya tidak mau memberikannya.”

“Sudahlah, saya sekarang sedang malas berdebat. Kami hanya meminta setengah saja dari hasil uangmu. Sisanya silahkan kau bawa pulang,” balas si preman.

Sang ayah lalu bangkit dari tempat duduk, “jangankan setengah hasil dari uang ini, satu koin pun tak akan kuberikan padamu, Cuih!” Ia pun sambil membuang ludah tepat di depan para preman.

Keempat preman yang geram langsung menyerang secara membabi buta. Awalnya sang ayah masih bisa melawan salah satu dari preman. Tapi setelah mereka mengeroyok, ia tidak bisa berbuat banyak. Badannya tersungkur di tepian trotoar, bajunya kotor menyapu debu jalanan, mukanya dipukul puluhan kali. Para pengendara yang sedang melintas dan melihat kejadian itupun akhirnya menepikan kendaraan untuk segera menolong. Belum saja ia ditolong oleh orang-orang yang melintas, salah satu dari preman mengeluarkan pisau belati dari balik saku belakangnya, lalu segera menancapkan ke arah perut sang ayah berkali-kali dan tusukan yang terakhir berakhir di bagian leher.

Jalan Soedirman seketika dibanjiri oleh darah hanya dalam hitungan menit. Darah seorang ayah. Darah seorang pria miskin. Darah orang bernasib buruk. Darah kematian!

***

Sehabis berpencar dengan sang ayah di Jalan Soedirman, Sony terus mencoba mengikuti laju arah angin. Ia berhenti di depan sebuah toko yang masih tutup. Dari sana ia mendapatkan satu orang pelanggan. Tapi setelah pemilik toko datang, ia diusir.

Hari sudah semakin siang, tapi ia terus menyusuri jalan sambil mencoba menawarkan jasanya. Namun tak ada satupun yang ia dapat selain diabaikan. Semua orang sudah terlalu sibuk dengan urusan pribadinya masing-masing. Jadi tak ada waktu untuk memikirkan urusan kemanusiaan. Kini adalah zamannya perlombaan manusia. Bukan lagi zamannya persaudaraan manusia.

Di tengah perjalanannya, ia mendapati sebuah sekolah SMP yang cukup besar. Sony hanya bisa termenung memandang sekolah itu dari luar. Ada perasaan yang ganjil di balik sukmanya setiap kali ia memandang jendela-jendela sekolah. Ia tahu di balik jendela-jendela yang tertutup tirai ada anak-anak seusianya yang mendapatkan pelajaran dan bisa berkumpul bersama teman-teman sekolah. Seandainya Sony memiliki garis tangan yang lain, mungkin pada siang itu ia sekarang berada di dalam ruangan kelas, bukan sedang membawa kotak penyemir sepatu. Tapi semua hanya khayalan semata saja, ia tetap menyadari bahwa kenyataan yang didapati berbeda.

Sesaat setelah memandang nanar ke arah sekolah, ternyata ada salah satu guru yang tak sengaja melihatnya dari balik jendela. Guru itu sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sony. Tak lama, guru perempuan itu lalu keluar dari ruangan kelas dan menghampiri Sony yang sedang kebingungan mencari pelanggan lainnya tersebut.

“Hey, Nak, sedang apa kamu di sini sendirian?” tanya guru perempuan ketika menghampiri Sony di depan sekolah.

Sony pun terkejut dengan suara itu, kini ada seorang guru dihadapannya, “Saya sedang mencari pelanggan lain, Bu, yang ingin menyemir sepatu,” jawabnya.

Sejenak guru memerhatikan perawakan Sony dari atas sampai bawah, “Lho, memangnya kamu tidak pergi ke sekolah?”

“Tidak, Bu, saya sudah tidak sekolah lagi. Terakhir saya sekolah hanya sampai kelas empat SD saja. Karena ketidakcukupan keuangan keluarga saya, akhirnya saya berhenti dari sekolah dan sekarang saya bekerja.”

Sebenarnya Sony merupakan anak yang terkenal pintar ketika di sekolahnya yang dulu. Namun karena keterbatasan biaya, ia berhenti dari sekolah dan kini ia pun harus membantu sang ayah untuk mencari uang tambahan dalam menambal keuangan keluarga.

“Seharusnya kamu tak perlu memikirkan, Nak. Biarkan hal itu adalah urusan orang tuamu. Tugasmu hanyalah bersekolah saja,” Ucap guru memberi saran pada Sony.

“Kalau saya terus melanjutkan sekolah, nanti keluarga saya tidak dapat membeli beras, Bu. Bahkan membeli beras sekarang saja sudah susah, apalagi ditambah dengan membiayai saya sekolah.”

Guru itu merasa miris mendengar keadaan Sony. Ia tahu Sony masih ingin bersekolah, tapi Sony tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan hal tersebut. Sebab pilihannya adalah tidak makan atau sekolah. Sepintar-pintarnya orang bila perutnya tak diisi oleh makanan, maka sel-sel pada otaknya pun akan meleleh.

Karena merasa kasihan dengan Sony, sang guru lalu memberikannya beberapa lembar uang dari saku baju untuk ia bisa membeli makan. Tapi Sony dengan tegas menolaknya. Ia kerap diajarkan oleh sang ayah untuk tidak menerima uang dari orang lain selagi ia tak melakukan hal apapun (bekerja). Bukan karena menolak rezeki, tapi memang sang ayah ingin sekaligus mendidik anaknya tentang bagaimana mencari uang.

“Maaf, Bu, saya harus menolaknya. Kalau Ibu memang ingin memberikan uang secara cuma-cuma, lebih baik disalurkan pada yayasan yatim-piatu saja. Mereka lebih berhak mendapatkannya ketimbang saya,” seru Sony.

“Seharusnya murid-murid Ibu di kelas harus belajar banyak padamu. Kau memang tak bersekolah tapi kau dapatkan sekolah dengan cara yang lain, Nak,” sahut sang guru.

Sony hanya tersenyum kecil. Lalu segera pamit pada sang guru dengan alasan harus melanjutkan kerja kembali. Bagaimanapun ia harus menjalani apa yang dikerjakannya. Bila ia terlena dan lalai, maka tak akan ada makan untuk hari ini.

***

Hari sudah semakin sore. Sony bersiap untuk pulang dengan membawa beberapa lembar uang lecak dan uang koin yang disimpan dalam kotaknya. Ketika sampai di rumah atau yang lebih cocok disebut dengan gubuk reyot, ia segera merebahkan diri di sebuah dipan yang keras.

Belum berapa lama merebahkan diri, ia tersadar dengan kondisi ibunya yang sedang jatuh sakit. Dengan segera ia langsung mengecek sang ibu di kamar sebelah. Setelah dilongok, ternyata ibunya sedang tertidur pulas. Ketika tengah asyik melihat wajah sang ibu, Sony mengingat akan permintaannya pada dua hari yang lalu. Bahwa sang ibu menginginkan sekali makan mie ayam Pak Kumis yang lokasinya tak jauh dari rumah.

Sony anak yang sangat menyayangi ibunya, selagi ada hal yang bisa membuat ibunya senang, tentu akan dilakukan. Lalu ia menunggu kedatangan sang ayah yang telah berjanji hari ini akan membelikan ibu mie ayam Pak Kumis. Setelah maghrib berlalu, sang ayah tak kunjung juga hadir. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke tempat mie ayam Pak Kumis sendirian.

Sesampainya di sana ternyata harga satu porsi mie ayam itu tak cukup dengan uang yang didapatkan Sony hari ini. Demi tuntutan sang ibu terpenuhi, ia memberikan seluruh hasil uang itu pada Pak Kumis dan berjanji besok akan melunasi sisanya. Karena Pak Kumis sudah kenal dengan Sony, maka ia segera memberikan mie ayam pesanannya tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Sony sudah membayangkan tentang betapa bahagia wajah sang ibu bila permintaannya terpenuhi. Saat ia berjalan dengan penuh semangat sambil bernyanyi-nyanyi riang. Ia bertemu dengan tetangganya.

“Heiiii, Sony, dari mana saja kau!!!” pekik tetangganya saat bertemu dengan Sony.

Sony terkaget mendengar suara tetangganya itu memanggil dengan nada tinggi. “Saya baru saja habis beli mie ayam Pak Kumis. Ada apa memangnya?” tanya Sony merasa bingung.

“Sony, ayahmu sudah meninggal dunia karena ditusuk oleh preman di Jalan Soedirman pada siang tadi. Sekarang mayatnya ada di rumah sakit. Tiga jam yang lalu ada polisi yang mencarimu, tapi kau sedang tidak ada di rumah. Maka polisi itu lalu menyampaikannya padaku, untuk segera memberitahukan kabar duka ini padamu,” ucap tetangganya itu.

Tanpa terasa mie ayam yang sedang ia genggam lalu terjatuh, sejatuh air matanya. Pecah di bumi yang murka. Mendengar kabar itu seakan seperti sebuah mimpi. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya tadi. Ia terus menganggap ini hanyalah sebuah mimpi. Ini pasti mimpi. Tentu ia berharap akan secepatnya terbangun dari mimpi buruk ini. Tapi tidak, ini adalah kenyataan yang harus dialaminya.

Ia lalu berlari dengan kencang menuju ke rumah. Tetesan air mata Sony terburai disapu angin di sepanjang jalannya. Ia terus berlari sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya. Lalu segera membuka pintu rumah dan memberitahukan pada ibunya bahwa sang ayah telah tiada. Tapi sang ibu tak merespon. Ibunya hanya diam. Ia pun menghapus linangan air matanya sejenak. Digoyangkan tubuh ibunya itu beberapa saat. Ternyata tubuh itu sudah terbujur kaku. Jantung hatinya seketika sobek. Ia tak percaya bahwa ibunya juga meninggal. Sony pun akhirnya meledakkan tangis sekeras-kerasnya karena tak ada lagi tempat untuk dirinya mengadu. ♦

Pondok Gede, 19 Juli 2017

About the author

Mahasiswa sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts