Genre pop Jawa dan dangdut koplo belakangan tengah menuai banyak kesuksesan di tanah air. Sebelum gema “perkempotan duniawi” viral di jagat maya lewat sosok Didi Kempot, ada Via Vallen yang membius jagat musik Indonesia hingga didaulat menjadi pelantun theme song Asian Games 2018. Perempuan Sidoarjo yang merintis karier sebagai penyanyi orkes musik dangdut koplo di Jawa Timur ini mulai popular lewat lagu “Sayang”. Tak hanya pop dan dangdut, ada pula kelompok musik hiphop Jawa yang memiliki jumlah penggemar membludak seperti NDX AKA. Suku Jawa yang merupakan suku mayoritas dan memiliki sebaran di seluruh wilayah Indonesia merupakan pasar yang subur bagi musisi-musisi pelantun lagu berbahasa Jawa.

Setidaknya ada dua hal yang memancing ketertarikan terhadap lagu-lagu berbahasa Jawa. Pertama, identitas budaya yang dibentuk dan melekat lewat lagu. Dan kedua, lirik yang banyak bercerita soal kegalauan dan kesedihan hati akibat gagalnya hubungan percintaan. Maka, primordialisme atau ikatan kesukuan ini lantas ditumbuh suburkan lewat lagu-lagu berbahasa Jawa. Identitas primordial yang hadir lewat kepopuleran genre musik ini lalu direspons oleh anak-anak muda yang sedang dalam tahap pencarian jati diri mereka. Selain menjadi sarana untuk menyalurkan kegalauan, lagu-lagu Jawa memberi sebuah ikatan, ketersambungan dengan sebuah komunitas, dan menjadi penanda identitas anak-anak muda sebagai bagian dari sebuah kelompok.

Di balik popularitas lagu-lagu berbahasa Jawa ini lah sosok Didi Kempot “kembali” menyeruak ke permukaan. Padahal, karya-karya seniman yang telah puluhan tahun berkarier ini banyak dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi dangdut koplo di Indonesia. Bahkan, Gofar Hilman, penyiar radio yang sekarang menjadi influencer di media sosial, tertarik untuk menjadikan Didi Kempot bintang tamu di kanal YouTube-nya.

Didi Kempot sedang menjadi sosok yang dipuja-puja oleh anak-anak muda, khususnya mereka yang punya darah keturunan atau tinggal dalam lingkungan yang bersentuhan dengan kebudayaan Jawa. Kesedihan yang menjadi tema utama karya-karyanya diberi dimensi ruang dan waktu. Latar tempat wisata terkenal yang umumnya merekam kenangan dengan pasangan (Pantai Klayar, Gunung Purbo Wonosari, Pantai Parangtritis) dan lokasi yang identik dengan kesan perpisahan (Terminal, Stasiun, dan Pelabuhan) menjadi ciri khas lain lagu-lagu Didi Kempot. Ia pun mengakui tempat-tempat tersebut menjadi inspirasi dari proses kreatifnya dalam menulis lirik, meski ia sendiri tak mengalaminya. Dimensi waktu dalam lagu-lagu Didi amat terasa sebab dalam banyak liriknya membenturkan kenangan yang indah di masa lalu dengan perasaan sakit yang sedang dialami sekarang.

Saya mengingat betapa saya telah mengakrabi karya-karya Didi Kempot sejak kecil. Tiap siang hari tetangga saya di sebuah Desa di Tegal sering memainkannya lewat kaset VCD bajakan. Karyanya juga terdengar di setiap hajatan pernikahan. Bagi masyarakat Jawa, ia adalah sosok yang memopulerkan genre campur sari sejak era tahun 1980-an. Saya telah menggemari lagu beliau sejak sebelum punya pengalaman merasakan sakit hati lewat lagu “Cintaku Sekonyong-konyong Koder”, hingga kini dibuat mbrebes mili karena lagu “Cidro”, “Banyu Langit”, dan “Suket Teki”.

Kebanyakan penggemar Didi Kempot adalah laki-laki muda yang menamai dirinya sebagai ‘sadboi’, meskipun juga ada sebagian dari kalangan perempuan yang disebut ‘sadgerl’.  Sejujurnya sangat wajar jika jumlah sadboi lebih banyak ketimbang sadgirl. Lirik lagu Didi Kempot lebih banyak bernuansa “laki-laki”; rutin berkisah tentang sosok laki-laki yang disakiti, ditinggal atau dikhianati. Namun, justru disitu lah karya Didi Kempot menjadi menarik bagi kaum lelaki. Rasa frustasi yang terpendam akibat citra maskulin yang ditanamkan ke dalam para laki-laki muda mampu tersalurkan lewat lagu-lagunya.

Julukan sadboi-sadgerl adalah fenomena baru, berkat media sosial. Bisa saja istilah tersebut adalah ‘tempelan’, agar lagu Didi Kempot—lagu berbahasa Jawa—yang umumnya direndahkan sebagai lagu lokal menjadi setara dalam belantika musik kita. Musikalitas umumnya akan dianggap tinggi jika ditempeli dengan standar internasional. Lirik dan musik Didi Kempot mampu menghanyutkan pendengar, mengungkap satu perasaan sekaligus memuarakannya pada satu suasana yang menyenangkan. Menjadi tepat bila lagu-lagunya ia beri slogan, “Patah hati mending dijogedi.”

Dalam kebudayaan yang mengedepankan maskulinitas, secara ideal sosok lelaki dicitrakan kuat, flamboyan, rasional, serta mengedepankan kesuksesan material. Laki-laki harus menutup-nutupi segala bentuk kesedihan akibat urusan asmara, sebab itu bertentangan dengan citra maskulin pada dirinya. Lewat ucapan-ucapan sehari-hari seperti,“Laki-laki kalau sudah sukses secara materi nanti perempuan datang sendiri,” “Laki-laki itu memilih. Perempuan banyak, jangan khawatir hanya karena satu perempuan.” Masalah perasaan buat laki-laki disepelekan dan seolah tidak layak untuk dimiliki. Didi seakan mengajari kita bahwa perasaan sedih dan sakit akibat patah hati adalah hal yang wajar, bahkan sudah semestinya seperti yang ada di awal lirik lagu Cidro.

“Wis samestine ati iki nelongso,

Wong sing tak tresnani mblenjani janji”

(Sudah sewajarnya hati ini sakit,

Orang yang ku cintai mengingkari janji).

Lagu-lagu Didi Kempot menjadi pelampiasan laki-laki muda yang terpenjara oleh beban nilai-nilai maskulinitas bahwa ia adalah makhluk rasional yang harus kuat hatinya. Gelar “Godfather of Broken Heart” yang disematkan kepada Didi Kempot bukanlah berarti bahwa ada pemujaan dari fans terhadap musisi. Istilah itu justru menjadikannya semacam sosok alternatif bagi para laki-laki muda untuk memaknai ulang nilai dan citra maskulin yang dibebankan pada dirinya.

Banyak penelitian yang sudah membuktikan bahaya dari nilai-nilai maskulinitas ini bagi kondisi psikologis laki-laki muda. Michael Flood, seorang peneliti dari Queensland University of Technology menjelaskan melalui risetnya di laman the Conversation. Risetnya tersebut menunjukkan bahwa mereka yang berada dalam “man Box”–di mana nilai maskulinitas dijunjung tinggi–lebih mungkin memiliki kesehatan mental yang buruk dibandingkan laki-laki lain (termasuk merasa tertekan, putus asa atau ingin bunuh diri). Survei lainnya yang dikutip dari penelitian tersebut juga mengatakan pria yang mendukung cita-cita maskulinitas yang dominan lebih mungkin untuk memiliki risiko kesehatan dan terlibat dalam perilaku buruk dibandingkan pria lainnya. Mereka lebih cenderung mempertimbangkan bunuh diri, minum berlebihan, mengambil risiko di tempat kerja dan mengemudi dengan berbahaya.

Dan, inilah mengapa sosok dan lirik-lirik lagu Didi Kempot bisa jadi panutan lelaki muda. Mereka mungkin malu dan kebingungan untuk menceritakan pengalaman dan perasaan sakit hati yang dipendamnya, tetapi dengan menikmati dan menyanyikan lagu Didi Kempot mereka bisa melampiaskan itu semua.  Tidak perlu malu atau merasa lemah karena patah hati. Bersama Lord Didi, kita dapat merayakan patah hati melalui lantunan musik asyik, lalu berjoged dengan riang gembira sambil meneriakkan rasa sakit yang telah terpendam lama. Selamat menikmati Waktu Indonesia Bagian Cidro, kawula muda!♦

About the author

Guru Sejarah dan Penulis di Blog gerakanaksara.blogspot.co.id