Oleh: Ahadul Fauzi Ahmady*

Kau bangun dari kasur busa yang dibungkus seprai kecokelat-cokelatan penuh bercak-entah-apa dengan kekosongan pikiran, reaksi yang datar, juga hilangnya otoritas terhadap tubuh. Seperti kebiasaanmu setelah bangun tidur: kau terhuyung. Kau melompati onggokan isi perutmu yang semalam kau muntahkan saat menuju bilik kakus di sudut belakang kamar kontrakanmu. Kau berjongkok di atas lubang kakus tanpa menggelontorkan apa pun, sembari menatap tembok bergambar kartun perempuan tanpa busana melalui celah pintu yang sengaja kau biarkan terbuka. Lalu dari tempatmu sekarang, kau melihat kelebat seseorang. Kau penasaran, tapi dengan keadaanmu yang demikian, isi kepalamu cuma memutuskan untuk memberi perintah kepada tubuhmu agar tetap bergeming dengan kegiatanmu.

Siaran di televisi sedang ramai memberitakan kisah seorang gadis yang menghilang dari rumahnya sejak dua minggu lalu. Kau tidak ambil pusing. Karena pada dasarnya kau tidak terlalu suka menonton televisi. Kau hanya suka membiarkannya menyala agar suasana kamar yang suram terasa lebih ramai.

Tanpa sepengetahuanmu, seseorang yang kau lihat kelebatnya barusan tengah menjilat ujung kertas papir lalu membakar rokok lintingannya. Ia membalik rokok itu dan meniup bara yang terbakar kurang sempurna. Orang itu adalah kau

Semalam, ketika kau pulas tertidur, tubuhmu atau jiwamu, atau soal-soal lain semacam itu, menggandakan diri menjadi dua, Untuk memudahkan pemahamanmu, mari kita sepakati bahwa kau yang asli cuma kau yang semalam tidur dan sekarang berjongkok di atas lubang kakus. Sedangkan kau yang semalam berdiri di tepi kasur dan sekarang tengah mengisap rokok, adalah kau yang palsu.

Sementara kau tertidur, kau yang palsu kembali menggandakan diri lagi menjadi dua. Lalu, setiap hasil penggandaan tersebut, kembali menggandakan diri. Begitu seterusnya. Mereka mengenakan pakaian berbeda-beda, dan memikul kepentingan yang juga berbeda-beda.

***

Ketika kau sekilas memperhatikan tubuhmu, sambil tetap berjongkok di atas lubang kakus, kau mendapati tulisan nomor “1” tertera di telapak tangan kirimu, seperti tato. Setelah lima sampai tujuh menit kau habiskan tanpa melakukan kegiatan apa pun, kau keluar dari bilik kakus dan berjalan ke mana saja, tanpa tujuan yang jelas, seolah tubuhmu digerakkan oleh sesuatu yang juga tak jelas. Tanpa kau sadari, tujuanmu sesungguhnya adalah mencari bilik kakus yang belum pernah kau datangi sebelumnya. Yang ada di pikiranmu saat ini hanya kakus, kakus dan kakus. Bahkan kau tidak peduli dengan bajumu yang berlumur noda sama dengan noda di bantal dan sepraimu.

Sekeluarmu dari bilik kakus, kau membetulkan ikatan kolor celana, lalu kau bertemu seorang kau yang lain dengan pakaian serba putih tengah mengisap dalam-dalam asap rokok lintingan di sela-sela jemarinya. Kau mendatanginya, kemudian menggerayangi tubuhnya. Ia nyata. Teringat nomor yang kau dapat di bilik tadi, kau menggapai tangan kirinya dan membaliknya. Nomor “24”. Kau sedikit terkejut, tetapi lagi-lagi, dengan isi kepalamu yang demikian tak jelas, kau dapat kembali tenang walau kau agak heran juga. Telapak tangan kirimu bertanda nomor “1”, sedangkan makhluk di hadapanmu, makhluk yang serupa denganmu, memiliki tanda nomor “24” pada tempat yang sama.

Setelah minum air putih dengan tiga belas kali bunyi tegukan, kau berjalan keluar kamar kontrakan dan menjumpai seorang kau yang lain di teras kamar kontrakanmu tengah menjemur pakaian yang kau pikir adalah pakaian dalam wanita. Dua potong kaus oblong, satu celana pendek, enam celana dalam, dan lima kutang. Semuanya kusut. Tampak nomor “93” di telapak tangan kirinya. Namun, lagi-lagi, penemuan itu tak banyak memancing reaksimu. Kau melanjutkan perjalananmu, menyusuri gang di kompleks kontrakan yang kau tinggali, melewati sebuah bangunan tempat peribadatan, dua toko kelontong yang masing-masing memiliki catatan utangmu, dan sebuah lapangan bulu tangkis. Kau terus berjalan sesuai keinginanmu yang cuma mencari bilik kakus itu.

Pada salah satu tempat dalam jangkauan penglihatanmu, ada seorang kau yang lain tengah duduk di bangku batu sambil memandang taman di depannya. Perhatianmu tertuju kepadanya yang cuma duduk memandang kosong sekeliling, seolah tubuh tersebut adalah bagian dari bangku batu itu. Namun, dengan isi kepala yang tak mampu bekerja sebagaimana biasa, sistem emosi yang kacau, plus hanya bisa menuruti tanpa bisa mencegah kegiatan apa yang akan kau lakukan. Kau hanya tertarik untuk melihat kejadian di ujung hidungmu. Bukannya penasaran seperti kebanyakan orang ketika melihat perkara yang tak masuk akal.

Setelah empat puluh lima menit berlalu untuk memperhatikan hasil penggandaan tubuhmu yang cuma diam itu, kau kembali berjalan memenuhi kepentinganmu dan baru akan berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar setelah dua kilometer perjalanan. Lalu kau memasukinya, memperhatikan sekelilingmu, kemudian kembali berjalan melewati lorong remang-remang, dan berhenti di antara banyak bilik kakus.

***

TIGA menit lagi, tanpa sepengetahuanmu, gangguan pikiran yang membuatmu menggemari kegiatan berjongkok di atas lubang kakus dan menyangsikan kejadian apa pun selain itu, akan memuai dan mengakibatkan indikasi berbeda terhadap tubuhmu dan setiap hasil penggandaan tubuhmu.

Tanpa sedikit pun kesempatan mempersiapkan, kau akan tersadar. Ingatanmu kembali. Isi kepalamu mulai dapat digunakan seperti biasa. Dan pada saat itulah, kau menghadapi kerumunan orang di luar bilik kakus yang sebelumnya sama sekali tak kau pedulikan. Ada tiga petugas keamanan, dua belas ibu-ibu, tujuh di antaranya bertubuh lebar, lima anak kecil, dua perempuan, tiga laki-laki. Di samping ibu-ibu tersebut, berdiri dua pemuda berpakaian perlente dengan ekspresi muka seperti orang dungu, empat bapak-bapak yang mungkin suami dari empat di antara dua belas ibu-ibu.

Mereka memandangimu dengan tatapan keheranan. Kerut pada masing-masing keningnya menandakan isi kepala mereka terperas dan menghasilkan pelbagai pertanyaan, yang jika dituliskan mungkin akan terbaca: “Dengan kewarasan umum, seseorang tidak akan berada di salah satu bilik kakus sebuah pusat perbelanjaan, berjongkok tanpa memelorotkan celana kolor, dan membiarkan pintu bilik kakusnya terbuka. Kecuali, hal besar telah terjadi dan mengguncang kejiwaannya, atau kejiwaannya terguncang dan mengakibatkan kejadian besar dalam hidupnya.”

Beberapa saat setelah kau mengatur ulang memori dan menerima apa yang tengah kau hadapi, lima orang anggota kepolisian menyibak orang-orang yang masih menatapmu. Mereka mendatangimu. Dua di antaranya menyeretmu keluar dari bilik kakus. Lalu memasang borgol pada masing-masing pergelangan tanganmu. Tetapi kau tak melihat nomor “1” tertera pada telapak tangan kirimu seperti sebelumnya. Mereka diam saja dan tak terlihat tanda-tanda heran atau semacamnya.

“Saudara Moko, benar?” tanya seorang anggota polisi tak berseragam. Kumisnya yang lebat mengingatkanmu kepada tokoh Ron Burgundy dalam film Anchorman: The Legend of Ron Burgundy. Ditambah postur tubuhnya yang tinggi dan terlihat pejal walau memakai jaket kulit hitam longgar yang dipadukan dengan celana jins biru gelap plus sepatu kulit yang tersemir mengkilap.

Ketika tubuhmu diseret, tanpa perlawanan, terseret pula gambaran ingatan seorang gadis dengan pakaian berlumur darah tengah kau bekap dengan sebuah bantal yang juga berselimutkan darah dan muntah.

***

*Lahir di Banyumas, 12 November 1995. Saat ini bekerja sebagai buruh di Bekasi, Jawa Barat. Waktu luangnya disuntuki dengan membaca, menonton film, dan menulis cerita pendek di blog pribadinya: somnambullshit.wordpress.com.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts