“Selamat datang, Sri Baginda Raja Salman bin Abdul Azis al-Saud beserta rombongan.” Gegap-gempita tengah mewarnai pemberitaan terkait kedatangan raja Arab Saudi beserta rombongan yang tiba kemarin (1/3) di Jakarta, yang kemudian akan dilanjutkan dengan berlibur di Bali pada tanggal 4 hingga sepekan kedepan. Pemberitaan ini menarik media massa mainstream maupun non-mainstream karena beberapa hal; konon rombongan yang akan melawat ke republik ini berjumlah 1.500 orang — termasuk 10 menteri, dan 25 pangeran; kedatangan rombongan Kerajaan Arab Saudi ini menandai babak baru kunjungan raja Arab setelah 47 tahun silam, “Ini adalah kunjungan yang bersejarah bagi kami,” kata Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.

Kehebohan publik tidak hanya sampai disitu. Dari beberapa waktu terakhir ini baik dari lembaga pemerintahan, kepolisian, otoritas bandara, hingga hotel dipaksa untuk memberikan layanan kelas wahid bagi kedatangan raja Arab Saudi dan rombongan. Hal-hal yang tidak dapat mendapat perhatian luas ketika kunjungan kepala negara lain. Tentu sebagai negara sahabat, Indonesia sudah selayaknya menyambut kedatangan raja Arab Saudi dan rombongan dengan senyum meriah.

Di balik kehebohan pemberitaan yang mengawali kedatangan raja Arab Saudi, berbagai agenda dan kerjasama akan dilaksanakan oleh kedua negara. Menurut Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi mengatakan bahwa terdapat 10 perjanjian yang akan ditandatangani oleh kedua negara, meski ia tidak menjelaskan secara rinci kesepakatan kerjasama apa yang akan ditandatangani.

Ada beberapa catatan menarik untuk mengawal lawatan delegasi Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia kali ini. Kedua negara yang telah menjalin hubungan persahabatan yang cukup lama ini — bahkan pakta ini tercantum secara khusus dalam UU No. 9 tahun 1971 tentang perjanjian persahabatan antara Indonesia dan Arab Saudi — apalagi Indonesia yang memiliki kepentingan haji pada waktu, telah membawa keduanya ke dalam berbagai hubungan kerjasama dalam berbagai bidang. Isu-isu seperti politik, keamanan, ekonomi, kebudayaan, pendidikan bakal menjadi topik dalam pertemuan langka kali ini.

***

Sejarah hubungan kedua negara dapat ditilik dari puluhan tahun silam. Arab Saudi merupakan salah satu negara yang waktu itu mendukung kemerdekaan Indonesia. Secara resmi hubungan keduanya ditandai pada tahun 1948 dengan dibukanya KBRI di Jeddah. Selanjutnya jejak hubungan kedua negara mudah dilacak. Misalnya, institusi besar Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), menjadi saksi hidupnya jalinan kerja sama kedua negara.

Pasang surut hubungan keduanya merupakan ekses yang tak dapat disangkal bahwa keduanya saling membutuhkan. Mekah dan Madinah, yang terus bersolek menjadi kota-kota metropolis dunia, laksana magnet bagi Indonesia. Indonesia selalu membutuhkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk kepentingan ibadah haji mengingat Indonesia negara muslim terbesar, dan tren pertumbuhan jamaah haji dan umroh yang terus bertumbuh.

Bagi Arab Saudi, kunjungan ke Indonesia penting dilihat dari segi ekonomi dan geopolitik. Dari segi ekonomi, Arab Saudi melihat Indonesia sebagai mitra strategis yang sangat menjanjikan, potensi pasar yang besar, kesamaan kultur dan agama, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik, menjadi pertimbangan Arab Saudi untuk mempererat hubungan kerja sama ekonomi dengan Indonesia. Apa lagi untuk mengantisipasi harga minyak dunia yang belum pasti dan cenderung turun. Dari segi geopolitik, Arab Saudi membawa agenda penting terkait dengan posisi negaranya dalam kancah regional dan global. Pembelahan faksi antara kubu Arab Saudi dan Iran mencemaskan Riyadh sehingga mereka berupaya untuk meningkatkan hubungan baik dengan negara di Asia dengan melakukan lawatan ke berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia.

Lantas, apakah lawatan besar-besaran ini menjadi babak baru bagi hubungan kedua negara, dan bagaimana Indonesia harus menyikapi dari kunjungan ini?

***

Merawat kepentingan Indonesia

Terselenggaranya hubungan bilateral tidak terlepas dari tercapainya kesepahaman kedua negara yang melakukan hubungan dengan bergantung kepada kepentingan nasional dalam usaha untuk melaksanakan politik luar negerinya. Indonesia, yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, merupakan mitra strategis bagi Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya. Berdasarkan kesamaan kepentingan dan kebudayaan, Indonesia dibutuhkan negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, pun sebaliknya. Meskipun mengalami pasang surut, hubungan Indoensia-Arab Saudi cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Bagi Indonesia, lawatan Arab Saudi ini menjadi bukti penting bahwa Indonesia memiliki kualitas dan kapabilitas yang diperhitungkan dalam pergumulan internasional.

Dari segi ekonomi, kedua negara memiliki agenda yang prospektif untuk jangka panjang. Rencana pembangunan ekonomi yang dipresentasikan oleh Joko Widodo pada akhir 2015 yang lalu ketika melawat ke Arab Saudi disambut dengan baik oleh Raja Salman dengan rencana investasi bernilai hingga 350 miliar rupiah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik menarik perhatian sejumlah negara untuk berinvestasi, termasuk Arab Saudi. Meskipun sejauh ini nilai ekonomi yang bergulir belum cukup memuaskan, namun lawatan Raja Salman kali ini perlu dimaknai Jakarta untuk “menagih” janji Riyadh.

Sebaliknya, Arab Saudi berkepentingan untuk menggaet jamaah haji asal Indonesia. Arab Saudi sadar betul, bahwa potensi haji Indonesia sangatlah besar, ditambah melihat sumber minyak — pendapatan utama Arab Saudi — tengah kembang-kempis, maka opsi pendapatan dari sektor ibadah haji akan menjadi sumber devisa yang tidak akan pernah putus bagi Arab Saudi. Dengan demikian, kerja sama saling menguntungkan dengan Indonesia menyumbang dari sektor haji, sedangkan Arab Saudi menananamkan megainvestasi di berbagai bidang di Indonesia. Ha; yang dirasa akan mempererat tali kerja sama ekonomi kedua negara.

Begitu juga dengan bidang pariwisata, momen ini perlu digenjot dan dipromosikan sehingga setelah lawatan kenegaraan ini, lebih banyak lagi turis-turis Arab yang masuk ke Indonesia. Potensi turis dari Arab cukuplah besar. Jika saat ini turis-turis mancanegara didominasi oleh Singapura, China, Malaysia, Jepang, dan Australia, maka mulai saat ini pemerintah Indonesia perlu memikirkan kebijakan yang pas untuk menggiring turis Arab masuk ke Indonesia lebih banyak lagi.

Selain potensi ekonomi dan pariwisata, tentu kita tidak bisa abai dengan gejolak politk-keamanan di Timur Tengah. Sebagai negara dengan populasi 250 juta jiwa dan jumlah muslim terbesar di dunia, Indonesia dianggap dan telah memainkan posisi penting dalam menjaga perdamaian dunia. Indonesia, dengan pijakan bebas-aktif dipandang dapat mengadaptasikan nilai-nilai keislaman dan kemodernan sehingga mampu mengaktualisasikan kemoderatan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Poin ini penting bagi Indonesia dalam memainkan peranan dalam kancah global. Kebuntuan politik yang akhir-akhir ini memanas akibat konflik sektarian dan terorisme di Timur Tengah dapat diredam melalui mediasi dan aksi-aksi konstruktif.

Indonesia memiliki posisi geopolitik yang cukup menguntungkan telah menunjukkan persepsi dan gambaran yang positif bagi dunia internasional, khususnya bangsa Arab yang selama ini berkobar akibat kontestasi antara Arab Saudi dan Iran. Tentu akibat dari perseteruan kedua negara ini, kita dapat menarik benang panas ke konflik Suriah dan Yaman — dua negara yang mengalami perang sipil dengan keterlibatan langsung dari Arab Saudi dan Iran. Indonesia dapat berperan sebagai mediator dalam konflik-konflik tersebut, mengingat Indonesia diterima oleh kedua negara. Dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia diharapkan mampu memainkan peran konstruktif dengan konsisten sehingga dapat tercapai perdamaian yang selalu didengungkan.

Lewat itu semua, semoga Indonesia terus berpegang teguh dalam menjaga kepentingan nasionalnya. Dynamic equilibrium! ♦

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi. "Verba volant scripta manent" - Caius Titus