Pekik bel sekolah menjerit luar biasa kencang, membuat pekak telinga siapa pun yang mendengarnya. Patut saja banyak guru yang mulai tuli telinganya ketika dikritik murid, merasa benar sendiri, merasa tidak boleh disalahkan. Pantas Soe Hok Gie mengatakan“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau”

Aku belum juga masuk. Sudah menjadi tradisi bagiku jika hari pertama sekolah di sekolah baru, aku akan menunggu di luar kelas, menunggu semua murid masuk baru kemudian aku masuk dan memilih tempat duduk. Bukan tanpa alasan aku melakukan hal tersebut. Perundungan memberiku pengalaman dan pembelajaran, khususnya untuk mencari tempat duduk

Aku sudah terbiasa memetakan posisi duduk murid sekolah. Posisi paling belakang adalah posisi yang difavoritkan oleh bocah-bocah gemblung. Deret depan digemari anak-anak cerdas atau mereka yang punya keterbatasan pandangan. Tengah agak depan biasanya mereka yang merasa biasa-biasa saja, dan tengah agak belakang biasanya meraka yang tengah meniti karir untuk menjadi bandel. Setiap murid punya preferensinya tersendiri dalam hal memilih posisi kursi, dan kursi tersisa adalah posisi yang tidak diinginkan siapapun, bagi mereka yang bengal maupun mereka yang cerdas, dan itulah singgasanaku.

Nun jauh di sana nampak seorang pria paruh baya dengan kumis tebal menghias wajahnya, sekilas nampak seperti ada seekor lintah gemuk yang baru saja hinggap dan kekenyangan di paha kerbau rawa yang kemudian menclok di atas bibir si pria tersebut. Beberapa pintu kelas dilewati dan semakin dekat, sepertinya dia akan masuk ruang kelasku. Dengan langkah gontai nan malas kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang kelas. Pandangku menyapu seluruh kelas, memeriksa satu demi satu meja dan kursi di dalam kelas, mencari posisi tepat yang harus aku tempati, dan haram jadah betul rasanya, teoriku gugur. Hipotesaku luntur sudah, satu-satunya kursi tersisa adalah kursi di paling belakang, berkumpul dengan bocah-bocah tengik dengan rambut-rambut kusut masai, kemeja-kemeja menguning di hari pertama, kumis dan jenggot tumbuh secara acak dan salah satu dari mereka memiliki jahitan memanjang dari pipi kanan sebelah atas hingga sisi dagu sebelah kanan, dan aku harus duduk di sebelah kirinya. Bangsat!

Pintu berciut, tanda ada yang membukanya dari luar, dan seperti yang kuduga si bapak dengan seekor lintah di atas bibirnya membuat langkah pasti. Sebuah tas dijinjing di tangan kanannya, warnanya mulai terlihat lusuh, sepertinya sudah terlalu sering terkena paparan sinar matahari, beberapa bagian kulit tasnya pun mulai terkelupas, pada beberapa sudut tasnya juga tampak jamur mulai tumbuh subur di situ. Ahhhh, tapi guru mana yang bisa menggantungkan hidupnya dari mengajar. Jangankan membeli tas yang lumayan bagus, sedangkan gizi untuknya dan keluarganya saja jauh dari kata bagus.

“Selamat pagi anak-anak“ sapanya kepada kami semua. Bapak ini nampaknya cukup ramah, hanya kumisnya yang terlampau lebat agak mengganggu pandangan saja. Semakin lama dilihat kini bulu itu malah seperti bulu-bulu halus di sekitar kemaluan. Brengsek betul.

“Saya adalah wali kelas kalian, merangkap sebagai guru bahasa indonesia. Di sini ada yang suka membaca?“ si bapak melontarkan tanya kepada kami, dibarengi dengan gerakan tangannya yang merogoh tasnya sendiri kemudian mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, buku yang nampaknya familiar bagiku. “Coba kamu yang deket jendela, suka baca apa?“ karena tak kunjung ada yang mengacungkan tangan, si bapak menunjuk acak muridnya, murid yang berada di samping jendela saling tatap dan saling tunjuk, “Iyah kamu, nomor dua dari belakang, itu yang dikepang dua rambutnya, suka buku apa?“

Ayat-ayat cinta, Pak. Sama Ketika Cinta Bertasbih, Pak“ jawab si anak berkepang dua.

“Hemmm, depannya coba. Kamu suka baca siapa?“ tampak raut kurang puas dari wajah si bapak.

Tere Liye, Pak, Bernard Batubara sama Boy Chandra juga, Pak“ raut yang semakin tak puas kian tergurat di wajahnya.

“Coba, ada lagi yang suka baca di sini?” tak berputus asa si bapak kembali bertanya.

“Atau bapak absen aja sekalian yah, yang namanya dipanggil tolong tunjuk tangan dan sebutkan buku kesukaan kalian atau penulis kesukaan kalian, bapak ini kan guru bahasa, ya masa anaknya ndak suka baca” dengan logat jawa yang kental dan pekat, si bapak berubah pikiran dan merubah metodenya.

“Abdul Roup”

“Saya, Pak. Ayu Utami bagus, Pak” si bapak mulia sumringah

“Jalaludin Rumi, Pak. Khalil Gibran, Pak. Leila Chudori, Pak. Eka Kurniawan, Pak. Sapardi, Pak” si bapak semakin sumringah saja wajahnya melihat kualitas bacaan muridnya yang ternyata cukup baik buatnya.

“Gery Simanjuntak, Guntur Sulasno, Hampas Abungan, Jaka Sampurna”

Ah, sudah sampai huruf “J” sebentar lagi tiba giliran namaku dipanggil.

Tiba-tiba saja si bapak seperti tersedak biji nangka di lehernya, lidahnya nampaknya kelu, tak sekata pun mampu keluar dari mulutnya. Keadaan seketika hening karena si bapak yang tengah memanggil nama muridnya satu persatu tiba-tiba terdiam. Aku tahu, ini pasti giliran namaku yang dipanggil, namun si bapak tak sanggup menyebutnya. Terlihat dari bangku tempatku duduk si bapak mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya, lalu menarik nafasnya kembali lebih dalam untuk kemudian memanggil namaku;

“KIYAI HAJI ZAINUDDIN MZ!”

Seketika itu juga gelak tawa pecah di seantero kelas, bahkan bising deraunya mengejutkan kelas sebelah kami, wali kelas yang juga tengah perkenalan di ruang kelasnya masing-masing berlarian menuju kelas kami dan bertanya kepada si bapak berkumis tebal itu.

“Diam, diam, tenang anak-anak”

Seketika anak-anak mulai tenang, walau masih dapat kudengar cekikikan beberapa orang menahan tawa. Si bapak kemudian melangkah ke pintu dan meminta maaf kepada beberapa guru yang datang penasaran atau mungkin terganggu dengan apa yang terjadi di kelas kami.

“Coba yang tadi diabsen angkat tangannya dan sebutkan buku favoritnya atau penulis kesukaannya“

Dengan berat hati aku angkat juga tanganku “Pramoedya Ananta Toer, Pak“ buku yang sama yang barusan diambil si bapak dari tas murahannya.

Aku mendengar kikih halus dari mereka yang mencoba menahan kegeliannya mendengar namaku, bahkan mata-mata nyalang yang mencuri pandang ke arahku bisa juga kurasakan, tapi ya sudahlah aku rasa nama adalah bagian dari takdir juga, takdir yang sudah ditentukan orang tua kita. Sama halnya dengan agama, suku, ras, kebangsaan. Siapa yang bisa memilih itu semua sebelum lahir

“Kamu suka Pram, Kyai“ tanya si bapak yang sebetulnya kebingungan harus memanggilku dengan apa.

“Iya, Pak. Saya suka Pram. Panggil saya Zedd saja, Pak“

Si bapak kembali mengabsen semua muridnya.

“Minah Cendrakasih, Nano Sumarno, Oding Suriding, Olif Andrian, Pahrurozih”

Ketika nama Pahrurozih dipanggil, bocah dengan codetan panjang di pipinya mengangkat tangannya. Rupanya namanya Pahrurozih, “Saya , Pak. William Shakespeare, Pak”

Mendengar nama Shakespeare disebut, jantungku berdegup kencang, dadaku memagma, panas sekali rasanya, bahkan jika kalian letakkan telur di dadaku, dia akan menjadi telor ceplok seketika. Aku tatap anak di sebelahku, dengan candu amarah yang terpicu dengan kata Shakespeare, erat-erat kutarik kerah bajunya dengan tangan kiri kemudian mengokang tangan kanan jauh ke belakang dan Bammmmmm, sekepal bogem mentah telak mendarat di mata sebelah kanan Pahrurozih karena kesalahan yang entah dia tidak tahu apa sebenarnya. Saat itu juga aku dibawa ke ruang konseling, dan mendapat hadiah skors selama satu minggu di hari pertama sekolah. Luar biasa.

Pagi itu aku tidak pulang ke rumah. Aku duduk menunggu bubaran sekolah di sebuah warung kelontong kecil persis seratus meter di sebelah sekolah. Posisinya agak menyuruk ke balik pohon beringin tua dan rimbun pohon bamboo. Sungguh sejuk sekali udaranya. Sebungkus kretek yang pagi tadi kucuri dari bapakku, aku ambil dari balik saku berlogo OSIS. Sebatang kuselipkan di bibir, lagi sisanya kukembalikan ke saku baju. Perlahan kusesap, kemudian suara keretek-keretek dari ujung bara rokok mementalkan bara kecil ke mana pun dia mau terpental. Sialnya dia memilih seragam baruku menjadi tempat mendaratnya, alhasil lubang kecil dengan hitam di sisinya menghiasi baju sekolahku di hari pertama.

***

Silir-semilir beringin benar-benar membuai aku yang berada di bawahnya dan membuatku jatuh tertidur. Sebangunnya aku dari buai mimpi barusan, kutanyakan mamang penjaga warung, apakah anak sekolah sudah pulang atau belum.

“Tahhhh…baru beres“ sahut si mamang sembari mengarahkan telunjuknya ke arah pintu gerbang sekolah. Dari kejauhan aku memperhatikan setiap anak yang keluar dari gerbang tersebut. Lima menit, sepuluh menit orang yang kutunggu tak kunjung datang, hingga tiga puluh menit berlalu, seseorang dengan codet di wajahnya dan lebam di matanya keluar dari gerbang, itu si Pahrurozi. Aku hendak menyambanginya dan meminta maaf atas apa yang kulakukan pada matanya sewaktu di kelas pagi tadi. Begitu melihat aku dari kejauhan, keruan saja Pahrurozi mempercepat langkahnya dan berlari ke arahku, seperti adegan film kung fu, Pahrurozi melompat dengan posisi tangan kanan yang telah terkokang jauh ke belakang. Ahhhhhh, aku tau ini akan sakit sekali, tapi biarlah, aku ikhlas. Aku tak menghindari hantaman Jump Long Hook dari tangan kanannya. Bugggg, seperti yang sudah kuduga, sakit sekali rasanya. Aku langsung tersungkur, jatuh mencium tanah.

Perih sekali rasanya, aku coba paksakan tumit untuk mampu menopang berat badanku, perlahan aku berdiri dan kemudian berhadapan dengan Pahrurozi.

“Sekarang kita impas, kau mau lanjutkan, apa kau mau cukupkan dan kita berdamai“ kataku

Pahrurozi nampaknya masih kesal kepadaku, namun nampaknya dia begundal yang cukup cerdas untuk melanjutkan permusuhan.

“Tidak, sebelum kau traktir aku anggur kolesom dan alasan kau menghantam wajahku pagi tadi“

“Permintaanmu terlalu banyak, Bung. Satu botol anggur kolesom saja. Soal penjelasan yang kau pinta, hanya jika kau jelaskan luka di wajahmu dulu“

Pahrurozi menyorongkan tangan kanannya dan berucap “Deal“ dan aku menyambar tangannya yang kemudian membuat kami bersalaman, jabat tangan yang menjadi penanda hubungan kami sekarang menjadi sahabat.

***

Sebagaimana kami berdua telah berikat janji siang tadi untuk kembali berjumpa di sebuah warung dangdut paling kesohor di sepanjang pantai Karang hawu, aku tiba lebih dulu di lokasi yang kami janjikan, di sebuah warung milik Nyai Gandasturi.

Sebuah lagu dari legenda musik sunda Michael Darso, menghentak setiap pengunjung warung Nyai Gandasturi. Tak lama lagu mengalun, Pahrurozi tiba dengan sekantong kacang kulit dan dua puluh tusuk sate daging burung. Ahh, benar-benar teman yang pengertian.

“Anggur Kolesom, Mang. Sabotol” aku memekik memanggil seorang pelayan untuk membawakan kami satu botol anggur besar bergambar pak tua berjenggot.

Gelas pertama kami tenggak habis. Tawa riang mulai menghidupi malam, suara-suara kulit kacang berkeletak dikeluarkan paksa isinya oleh kami berdua riuh terdengar, tusuk demi tusuk daging burung pun mulai kami babat habis, tawa dan bicara tak tentu arah mewarnai obrolan kami yang sudah mabuk.

“Jadi, kenapa kau pukul aku pagi tadi, Zedd?”

“Terlalu pagi, Bung. Ceritakan dulu, ada apa dibalik codetmu itu“ sebelum aku menceritakan kisahku, aku menagih Pahrurozi menceritakan tentang codetnya.

“Alah, tak terlalu penting, Bung. Dulu aku punya kebiasaan buruk. Aku suka sekali memainkan puting susu kerbau betina, mengisap-isapnya, kadang mengelus selangkangannya. Sekali waktu si pemilik kerbau memergoki aku di kandang kerbaunya sedang mengisap puting kerbau betina miliknya, keruan saja aku berlari kocar-kacir. Setibanya di pinggir jalan raya aku melompat ke sebuah mobil yang aku pikir mobik bak terbuka. Ternyata itu mobil boks, awalnya aku mampu bertahan, sialnya hanya butuh sebuah tikungan untuk membuatku terpelanting dan merobek bagian wajah sebelah kanan, dan dihadiahi 27 jahitan akhirnya“

“Bwuuaaahahahaha……“

Sontak aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita gilanya. Aku bahkan tak sanggup menahan air mata geli menetas deras dari kedua mataku, ditambah mabuk yang semakin membuat kami melayang ke angkasa. Saking gelinya perutku sampai sakit, dan terjatuh ke lantai, bangsat sekali anak ini. Goblok betul.

Melihat aku tertawa geli, Pahrurozi ternyata juga ikut terbahak-bahak dan menagih gilirannya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kelas pagi tadi.

Tertawa hingga meringis-ringis membuat kantung kemihku penuh dan sesak dan menuntutku untuk segera berkemih jika tidak ingin tumpah ruah di tempat. Aku undur diri sejenak kepada Pahrurozi untuk sekedar berkemih dan akan segera kembali untuk bercerita.

Aroma tak sedap seketika menghujam dua lubang hidungku ketika memasuki kamar mandi warung Nyai Gandasturi. Pesing, amis, bacin hingga bau air mani berkoalisi untuk menghancurkan pertahanan hidungku. Aku bersegera menumpahkan urin yang sejak tadi telah memenuhi dinding kantung kemihku. Ahhh, serasa dunia milikku sendiri ketika semua telah dikeluarkan.

Belum juga aku menaikkan resleting celana, aku mendengar suara desah yang sangat halus serta suara seperti“Plook plok plok plokkk“ aku yang penasaran mencoba mencari tahu sumber suara dan mendapati sebuah toilet tertutup yang pintunya bergetar berirama, perlahan aku coba intip;

Babi ngepet, bangsat! Ternyata dua orang laki-laki tengah berasyik masyuk di dalam kamar mandi busuk ini. Hancur sudah imajinasi liarku. Dan bersegera kembali ke meja bersama Pahrurozi.

“Lama sekali kau, apa yang kau lakukan di kamar mandi selama itu“ keluh Pahrurozi

Aku enggan menceritakan apa yang aku lihat “Aku buang engkau barusan, Bung. Berak, kau kan tahi“

Kini kami sudah bebas saling olok tak ada lagi yang tersinggung, dan memar kami berdua tidak bertambah tetap di mata kanan saja.

“Hehh, anak tolol. Apa kau benar suka membaca? Shakespeare pula” aku masih tidak percaya orang yang bersyahwat dengan puting kerbau betina ini adalah orang yang menaruh minat pada membaca.

“Hehhhhh, bajingan. Nakal boleh, goblok jangan”

Kutarik panjang napasku, lalu kuhembuskan dalam-dalam. Lagi segelas anggur kolesom kutuang, sembari bersandar ke sandaran kursi, kuperhatikan gelas anggur dan isinya lamat-lamat. Mungkin aku sudah mulai mabuk, gelas kugoyang memutar, anggur berkelocakan di dalamnya. Berlagak seperti seorang sommelier, kuendus syahdu anggur di dalamnya dan kemudian kuminum habis dan mulai bercerita.

“Kau tahu beratnya nama yang kupikul? Orang tuaku berharap aku bisa menjadi da’i sejuta umat KH. Zainuddin MZ suatu saat kelak, kemudian mereka bersepakat menamaiku Kiyai Haji Zainuddin MZ“

Keadaan hening. Mungkin Pahrurozi merasakan kepiluan yang aku rasakan.

“Aku tidak keberatan jika dikatakan bahwa nama adalah doa atau harapan, tapi apa mereka tidak tahu jika harapan adalah sumber segala kekecewaan? Sekarang kau lihat sendiri, aku masih suka mabuk, aku juga suka menzinahi teteh-teteh bantal guling, tapi nama yang melekat ini seperti parasit, ketika sedang berasyik -masyuk dan nama lengkapku dipanggil, imajinasiku buyar. Hancur berantakan“

Deru ombak pantai Karanghawu mengantarkan angin semilir lembut membelai wajah kami berdua. Pahrurozi masih dengan wajah lugu nan polos meski tetap dengan codet panjang di wajahnya dan lebam di matanya, menunjukkan empatinya terhadap apa yang kurasakan.

“Sekali waktu, aku pernah disetubuhi seorang janda kampung sebelah. Ceu Romlah namanya. Sialnya kami digrebeg sekelompok orang yang bermain peran menjadi Tuhan. Ketika kartu identitas kami digeledah, nama dan usiaku diketahui, kemudian di luar dugaan mereka hanya mengarak Ceu Romlah saja dan mengusirnya dari kampung. Mereka pikir mudah jadi janda. Kalau syahwatnya menuntut, dia bisa berbuat apa. Kebetulan saja ada aku di sana dan aku hanya berusaha membantunya saja, apa salah?“

Minuman kami menyisakan dua gelas terakhir, Pahrurozi masih menatapku dengan tatapan nanar dari matanya, melihatku dengan perasaan iba.

“Tapi kadang aku merasa bernasib sedikit lebih baik, aku dengar ada orang tua yang menamai anaknya dengan Pajero Sport, Aril Piterpen, Selamet Hari Natal. Aku tak mampu membayangkan beban yang harus mereka tanggung selama hidupnya. Pasti sangatlah berat, dan bajingannya si Shakespeare mengatakan Apalah Arti Sebuah Nama, bangsat betul orang itu. Apapun alasannya ia mengatakan itu, nama adalah segalanya. Maka ketika aku mendengar nama Shakespeare keluar dari mulutmu, keruan saja aku gusar bukan kepalang. Spiral amarahku kian melengking. Dan sejak itu aku memutuskan untuk merawat baik-baik kebencian dan permusuhanku dengan Shakespeare“

Warung Nyai Gandasturi mulai sepi, beberapa bangku mulai diangkat, lagu dangdut yang terus diputar sejak magrib tadi juga sudah dimatikan. Persahabatan yang baru seumur lalat capung ini terasa seperti sudah berabad-abad lamanya. Mereka melangkahkan kakinya di atas pasir pantai Karanghawu, meninggalkan jejak kakinya di belakang, juga berat masalah yang dipikulnya turut ditinggalkannya pula.

***

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)

Related Posts