Bandung, 20 November 2037. 19.30 WIB

“Bagaimana persiapannya?” tanya Anggoro pada Yuri, asisten pribadinya.

“Sudah 90%, Pak Anggoro”

Anggoro melirik jam tangannya, lalu berdecak. Dia memang selalu gelisah kala akan memulai pameran seninya. Namun, pameran seninya kali ini berbeda dari pameran-pameran ia sebelumnya. Ada sesuatu yang spesial untuk dipamerkan pada malam ini, dan Anggoro merasa ini akan menjadi pameran terbaiknya selama sepuluh tahun menjadi seorang seniman.

“Cepat selesaikan sisanya. Pameran akan dimulai dua jam lagi. Aku ingin semuanya beres satu jam sebelum pameran dimulai. Ada kabar dari Lukas?” tanya Anggoro sambil menyulut rokok.

“Barusan beliau mengirim pesan bahwa dirinya berhalangan hadir. Salah satu anggota faksi partai Cakar Macan membuat kekacauan di galeri beliau yang berada di Neo Jakarta. Situasinya sedang chaos. Beliau terpaksa turun tangan untuk menanganinya. Tapi dia memercayakan galeri ini pada Bapak. Beliau yakin galerinya ini akan baik-baik saja walau tanpa dirinya”

“Babi tengik! Padahal dalam kondisi begini aku sangat membutuhkannya. Sejak Bekasi dan Tangerang bergabung ke Jakarta, kekacauan terjadi di mana-mana. Sudah kubilang untuk tidak ikut partai politik apapun, tapi dia malah bergabung masuk partai Sayap Garuda. Dasar gila jabatan” keluh Anggoro.

Anggoro mengusap keringat dingin di dahinya. Dia kembali melirik jam tangannya. Masih ada waktu satu jam lima puluh menit lagi sebelum pameran dimulai. Galeri milik Lukas masih sepi. Hanya ada beberapa android tipe RBT-D3 yang lalu lalang berjalan mengurusi dekorasi, makanan penutup dan kebersihan ruangan. “Bass Blues” dari John Coltrane ribut mengentak-entak dari pelantam-pelantam tak terlihat yang terpasang di sudut-sudut ruangan.

“Bapak baik-baik saja?” tanya Yuri. “Bapak mau minum obatnya sekarang?”

“Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Aku sudah membaik tanpa obat itu sekarang. Aku hanya sedikit gelisah. Aku ingin menenangkan diriku sebentar di ruanganku.” Anggoro membalikkan tubuhnya, “Ah, ya. Pantau terus pemuda itu. Jangan sampai menimbulkan masalah. Jangan sampai dia keluar dari Kamar Merah. Firasatku malam ini tidak begitu baik”

“Baik, Pak” sahut Yuri sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Anggoro menepuk bahu Yuri pelan, kemudian berjalan menuju ruangannya yang terletak di lantai dua galeri.

***

“Mengapa kau selalu membaca buku?”

Pemuda itu mengacuhkan pertanyaan Yuri. Dia masih tenggelam dalam barisan kalimat dari buku yang dibacanya. Yuri tahu kalau pemuda itu mendengarnya mesti lamat-lamat suara hentakan drum dan tiupan saksofon dari pelantam-pelantam di luar sana berbunyi begitu riuh. Yuri masih berdiri tegap, menunggu jawaban atau reaksi si pemuda. Namun pemuda itu tetap tak berubah dari posisi membacanya sedikitpun. Wajahnya masih terpatri menatap halaman buku.

“Mengapa kau selalu membaca buku?” ulang Yuri dengan nada bicara yang sama.

Masih tak ada reaksi.

“Sudah tiga hari ini aku selalu datang untuk menemuimu, tapi kau belum juga mau berbicara padaku. Bahkan kau tidak pernah sedikit pun mengalihkan pandanganmu dari buku-buku itu untuk menatapku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Sungguh. Aku hanya penasaran kenapa kau terus-terusan membaca buku-buku itu. Kau tahu kan kalau buku-buku fisik seperti itu sudah tidak diterbitkan sejak sepuluh tahun yang lalu?”

Tetap tak ada reaksi. Tapi Yuri tak patah arang. Dia tetap memancing si pemuda untuk balas berbicara padanya.

“Kau tahu kan kalau yang Bapak Anggoro lakukan padamu ini legal? Beliau tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum jika kau berpikiran seperti itu. Apa yang beliau lakukan padamu sama seperti pameran-pameran seni pada umumnya. Sama juga dengan peragaan busana yang dilakukan model-model di atas panggung. Iya kan? Dia juga tidak memaksamu. Kau menandatangani kontrak. Kau juga akan mendapatkan upah. Tapi kenapa kau tidak terlihat senang?”

Pemuda itu menutup bukunya. Dia mengusap rambut panjangnya ke belakang, lalu menyulut rokok. Sembari menyulut, dia menatap tajam Yuri yang masih berdiri dengan wajah datar.

“Kau android? Tipe apa? Aku belum pernah melihat robot android berwujud perempuan lagi sejak Sophia di tahun 2017.” tanya pemuda itu. Ini pertama kalinya Yuri mendengar suara si pemuda. Suaranya begitu dalam dan berat.

Yuri tersenyum. Tipis dan dingin “Aku android tipe HMN D-1. Model terbaru. Satu-satunya di Indonesia”

“Ah, model terbaru ya? Pantas kau menyebalkan. Aku lebih suka tipe RBT-D3. Fisik mereka lebih menyerupai perabotan, seperti Daleks dalam film Doctor Who. Tidak mengintimidasi dalam bentuk perempuan muda sepertimu. Mereka lebih penurut dan tak cerewet sepertimu. Kau memang cerdas, tapi sepertinya kecerdasan yang kau punya setara dengan kecerdasan anak sepuluh tahun.” Pemuda itu berdiri dari kursinya. Dengan rokok terselip di bibir, dia meregangkan tubuhnya. “Dulu kalian itu hanya berbentuk ponsel, kau tahu? Kau tahu apa itu ponsel, robot jalang? Siapa yang mendesainmu, heh? Lukas Priambodo? Ya, pasti orang tua pukimak itu. Hmm, wajahmu mirip artis zaman dulu. Audrey Hepburn? Hmm, bukan, bukan. Faye Wong? Ah, bukan. Gal Gadot? Putri Marino? Ah, tidak., tidak, tidak. . .”

Yuri tidak menanggapi racauan Aksara dan kembali bertanya, “Mengapa kau selalu membaca buku?”

Pemuda itu terkekeh sinis. “Memangnya apa pedulimu?”

“Aku hanya ingin tahu” jawab Yuri datar. “Aku hanya ingin tahu”

“Kau ingin tahu? Kau ingin tahu?”

Yuri mengangguk.

“Keluarkan aku dari kotak kaca sialan ini. Setelah itu aku akan memberi tahumu”

Yuri terdiam. Bola matanya mengerjap-ngerjap meneliti ekspresi wajah dan gestur si pemuda. Yuri tahu kalau pemuda ini sedang dalam keadaan tertekan secara emosional. Dia frustasi dan marah. Ada pun nada bersifat ancaman dari lontaran kata-katanya barusan.

“Kau marah”

“Hooo, ternyata kau bisa mendeteksi emosi juga? Apa Lukas menanamkan empati padamu? Ah, ya. Aku belum tahu namamu. Aku Aksara. Siapa namamu? Kau diberi nama, kan?”

“Namaku Yuri”

“Ah, Yuri, Yuri, Yuri. Seperti nama samaran pelacur di Hotel Akasia. Kau tahu hotel itu, kan? Yang ditutup berapa puluh tahun lalu” oceh Aksara.

Yuri tak menggubris ocehan Aksara. Dia berjalan mendekat. Kini dia hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari kotak kaca. Aksara memalingkan tubuhnya ke sudut kotak untuk membuat kopi. “Tolong ganti lagunya”

“Kau mau lagu apa?”

“Kau bisa mendeteksi emosiku, kan? Kau pasti tahu lagu yang tepat untukku sekarang” balas Aksara. Asap rokok terhembus dari kedua lubang hidungnya.

Tak lama, “One Piece” dari Scandal berkumandang dari pelantam-pelantam tak terlihat yang tersebar di sudut-sudut Kamar Merah. Aksara tersenyum kecut mendengarkan lagu itu. Walau begitu, hatinya terasa hangat. Scandal adalah band favorit ibunya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu karena penyakit jantung. Ibunya adalah seorang pelukis beraliran realis, dan dia selalu memutar lagu-lagu dari band negeri sakura itu saat dia melukis di pondok kayu yang dibangun ayah Aksara khusus untuknya bekerja. Aksara senang sekali melihat pemandangan ibunya yang suka ikut menyenandungkan lagu-lagu Scandal sambil menggoreskan kuas ke kanvas. Senyum riang dan senandung merdu ibunya itu selalu menyelamatkan Aksara dari kesedihan dan kesepian akibat selalu diganggu oleh para perundung di kelasnya karena kegemarannya membaca buku.

Selama beberapa detik, Aksara diseret masuk melalui lorong waktu menuju ruang lukis ibunya dua puluh tahun lalu,  beberapa hari sebelum ibunya divonis terkena penyakit jantung dan harus dirawat di rumah sakit. Kini, dengan jelas dia bisa melihat pemandangan ibunya yang sedang melukis dengan riang di hadapannya. Dia masih ingat detail-detail pemandangan tersebut. Rambut ibunya yang diwarnai merah muda, wajah cantiknya yang segar, bibir tipis merah delimanya yang basah, kulit kuning langsatnya yang bercahaya, gerakan luwes tangan kidalnya saat menyapukan kuas, senandung merdunya, mentari pagi yang menyusup masuk ke dalam ruangan melalui kaca-kaca jendela juga kemeja jins longgar yang dikenakan ibunya. Aksara bahkan bisa menghidu aroma sabun mandi ibunya yang tercampur bau cat minyak dan wangi tembakau serta cengkeh dari rokok ibunya. Semua detail-detail kecil itu berlompatan keluar bak kelinci-kelinci mungil dari dalam topi tinggi pesulap.

Baginya, sosok ibunya saat itu adalah lukisan paling indah yang pernah ia lihat. Lanskap bergerak termanis yang menempel erat di sekat-sekat memorinya.

Aksara menitikkan air mata.

Dia tahu kalau semua itu adalah ilusi semata.

Dia tahu kalau pemandangan seperti itu sudah takkan bisa lagi dia saksikan.

***

Aksara adalah manusia analog. Begitu para kolega-koleganya menyebutnya. Dia tidak pernah tertarik dengan barang-barang digital. Dia mendengarkan musik lewat radio dan gramofon. Merokok dengan lintingan kretek yang sekarang harga sebungkusnya bisa mencapai ratusan ribu. Padahal dulu dengan tujuh belas ribu saja, dia sudah bisa mendapatkan sebungkus penuh. Tidak seperti teman-temannya yang lebih menyukai rokok elektronik berbentuk persegi dengan tabung kecil berukuran panjang sekitar satu setengah sentimenter sebagai pengisapnya. Aksara bersabar dengan semua perubahan itu, termasuk ketika kekacauan dan ketimpangan yang berhubungan dengan ekonomi dan geopolitik mulai merebak di tiap penjuru kota. Aksara tetap apatis, dan mengurung diri di dalam rumah dengan membaca dan menulis cerpen di sebuah majalah pria dewasa.

Ketika kolega-kolega kampus seperjuangannya mati satu demi satu dibantai polisi militer karena unjuk rasa dan pemberontakan, Aksara masih juga menutup mata. Sampai akhirnya pemerintah mulai menghentikan penerbitan buku dalam bentuk fisik dengan alasan buku-buku sudah bisa diakses secara digital. Toko-toko buku di mal-mal besar ditutup. Hanya kios-kios buku murah dan toko buku daring yang dikelola pencinta buku macam dia saja yang masih bertahan. Untungnya, pemerintah tidak melarang mereka. Pemerintah masih membebaskan orang-orang untuk menjual atau menerbitkan buku secara independen. Hanya saja dampak dari penutupan toko buku-toko buku itu menambah jumlah pengangguran. Maka dari itu, demonstrasi dan kerusuhan pun ikut mewabah. Aksara masih juga tidak memedulikan itu sampai majalah tempat dia bekerja ikut gulung tikar. Bagai bayi-bayi penyu yang berusaha merangkak masuk ke lautan, Aksara pun terhempas. Tersingkir pelan-pelan. Dan yang menyakitkan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memaki dan merutuk.

Kehilangan pekerjaan yang disenanginya membuat rasa depresi mulai menggebuk-gebuk Aksara hingga akal sehatnya lebam-lebam. Dia menolak bekerja di tempat lain, dan malah menghabiskan hari-harinya di pub-pub murah, tenggelam bersama alkohol dan peluh pelacur-pelacur buruk rupa. Hingga akhirnya dia bertemu Anggoro, si seniman eksentrik yang menawarkan dia bayaran mahal. Pada awalnya, Aksara menolak mentah-mentah, tapi ketika dia mendengar kalau pekerjaan yang ditawarkan Anggoro ada hubungannya dengan seni, buku dan tulis menulis, tiga hal yang paling dicintai Aksara, tanpa basa-basi, Aksara menandatangani kontrak, tanpa peduli seni macam apa yang  sebenarnya dikerjakan oleh Anggoro.

Dan, di sinilah dia sekarang. Terpenjara dalam sebuah kotak kaca berukuran luas 7,43 meter persegi ditemani ratusan buku-buku kumal untuk dijadikan objek pameran. Menurut Anggoro, pemandangan seorang pemuda yang sedang membaca buku fisik itu sudah langka. Kebanyakan dari mereka membaca buku lewat gawai-gawai mutakhir mereka. Malah lebih banyak lagi yang tidak membaca buku sama sekali. Hanya orang-orang dari generasi tua yang masih membaca buku fisik. Maka dari itu, ketika dia melihat Aksara yang sedang membaca buku fisik di sebuah bar jazz, Anggoro langsung terkesima dibuatnya. Itu seni! Batin Anggoro.

“Kenapa kau ingin keluar dari sini? Kita memberimu fasilitas lengkap. Kau tidak kekurangan. Bahkan kotak kaca ini jauh lebih mewah dibanding kamar apartemenmu, kan? Apalagi, Bapak Anggoro akan membayarmu mahal. Kau bisa menggunakan uang itu untuk keperluanmu sekeluarnya kau dari sini. Kau mungkin bisa membangun kios buku seperti para pencinta buku lainnya di luar sana”

Aksara menyesap kopinya. Dia merenung sejenak. Apa yang dikatakan Yuri memang ada benarnya. Hanya saja cara yang dilakukan Anggoro ini tidak benar. Kenapa dia harus menipuku? Kenapa dia tidak mengatakan semuanya dari awal? Kenapa aku harus dikurung? Pertanyaan-pertanyaan itu melintas di kepala Aksara seperti running-text pada baliho-baliho digital di gedung-gedung sana.

Aksara tertawa.

“Kenapa kau tertawa?”

“Kau ini lucu. Wajahmu itu datar tanpa ekspresi seperti mayat, tapi kau sangat cerewet!”

Yuri tersenyum tipis. Lehernya bergerak-gerak kaku. Dua bola mata kacanya menatap Aksara tak berkedip.

“Ternyata kau bisa juga tersenyum”

“Aku memang tidak memiliki emosi, tapi aku dirancang untuk merespon emosi manusia”

“Wow, benarkah? Hebat juga. Karena senyuman itu terlihat sinis sekali, dan aku tidak suka melihatnya”

Yuri menarik senyumannya, lalu menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung. Bersikap siaga. Tampaknya dia tahu jika Aksara akan menjelaskan sesuatu. Dia bersiap untuk itu.

“Yang kau katakan tadi memang benar. Hanya saja aku tidak suka dikurung di tempat ini tanpa pemberitahuan terlebuh dahulu. .”

“Kau salah, Aksara. Semua sudah tertulis di dalam kontrak. Mungkin waktu itu kau tidak menyadarinya karena terlalu mabuk”

Aksara mengusap wajahnya yang ditumbuhi kumis dan jenggot tebal. “Ah, ya. Kau benar. Tapi tetap saja, aku tidak suka dipertontonkan ke khalayak ramai. Aku tahu reputasi Anggoro sebagai seniman gila. Kupikir aku akan terlibat dalam proyek seninya, entah apa, tapi ternyata aku hanya menjadi tontonan orang-orang tolol itu”

“Kenapa kau sebut mereka orang-orang tolol?” tanya Yuri masih dengan sikap siaganya.

“Kau tidak tahu?”

Yuri menggeleng.

“Biar kuberi tahu. . “ Aksara menghembuskan napas panjang. “Hampir sebagian orang-orang yang datang ke galeri seni itu tidak mengerti seni sama sekali. Sudah begitu dari dulu. Mereka semua hanya berlagak agar terlihat seperti pencinta seni dari kaum elit nan intelektual. Benar-benar konyol! Aku tidak sudi menjadi tontonan mereka! Keluarkan aku!”

“Matikan lagu” kata Yuri sambil membalikkan tubuhnya, siap berjalan menuju ke luar dari ruangan serba merah itu. Seketika lagu di kamar berhenti.

“Hei, mau ke mana kau? Tunggu! Keluarkan aku dari sini!”

Yuri menghentikan langkahnya. Dia menatap Aksara dengan tatapan yang senantiasa sedingin es. “Memangnya kalau aku mengeluarkanmu dari sini, apa yang tersisa untukmu di luar sana?”

Aksara terdiam. Dia menyulut rokok keduanya. Dia menatap Yuri penuh tanya. Ada sesuatu yang disembunyikan Yuri. Walau wajahnya datar tanpa ekspresi, Aksara tahu kalau Yuri menyembunyikan sesuatu.

“Apa maksudmu?”

Yuri tak menanggapi pertanyaan Aksara. Dia hanya berdiri diam di tempatnya.

“Hei, jawab pertanyaanku”

Yuri tetap diam, sebelumnya akhirnya dia berkata pelan, “Putar rekamannya”

Dua pasang sinar dari bola mata Yuri menyorot ke arah dinding, membentuk sebuah layar yang menampilkan penampakan aula galeri pameran.

“Itu rekaman seminggu yang lalu?” tanya Aksara setelah melihat tanggal yang tertera di sudut kanan atas layar. Di ruangan kaca tempat Aksara terkurung ada sebuah jam digital di dinding. Selain menampilkan jam dan menit, jam digital tersebut juga dapat menampilkan suhu, cuaca, hari, bulan dan tahun. Jadi, kalau jam digital itu menampilkan waktu yang benar, maka rekaman dari Yuri itu adalah rekaman seminggu yang lalu.

Dua menit awal rekaman itu hanya menampilkan android-android yang berlalu-lalang mengurusi ruangan dan sajian makan malam, tapi sepuluh menit berikutnya, sebuah ledakan yang entah dari mana sumbernya menghancur leburkan aula galeri tersebut dalam waktu singkat. Asap-asap membumbung tinggi menutupi rekaman CCTV, hingga akhirnya rekaman itu mati.

“A-apa yang terjadi? Kenapa seminggu yang lalu aku tidak mendengar suara itu?’

“Ruangan ini kedap suara, Aksara”

“Jelaskan padaku apa yang terjadi!”

“Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Polisi dan penyelidik yang datang memeriksa bilang kalau mungkin ini ada hubungannya dengan partai Cakar Macan dan Sayap Garuda. Bapak Anggoro menjadi korban tunggal dalam ledakan itu. Padahal Bapak Lukas sudah mengingatkan beliau jauh-jauh hari untuk segera membatalkan pameran setelah pameran di Neo Jakarta juga kacau, walau tidak sampai terjadi ledakan seperti ini. Sudah sebulan ini beliau divonis mengidap Alzheimer. Dan dia selalu menolak untuk meminum obatnya”

“Lalu kenapa aku dibiarkan terus berada di sini? Kenapa polisi-polisi itu tidak memeriksa ruangan ini?! Kenapa kau biarkan Anggoro tewas?!”

Yuri tersenyum tenang mendengar rentetan pertanyaan dari Aksara. “Kau tenang saja. Kita berdua sudah tidak berada di Kamar Merah lagi. Kau sudah kupindahkan ke tempat lain sehari setelah kejadian itu’

“Tapi kenapa ruangan ini sama persis dengan Kamar Merah? Di mana aku sebenarnya?”

Yuri tidak menjawab. Dia menghapus percakapannya dengan Aksara di layar komputer meski berkali-kali pesan dari Aksara terus muncul.

Subjek No. 2: Hei, kenapa kau diam saja? Balas pertanyaanku!

Subjek No. 2: Hei, jawab aku! Di mana aku?!

Subjek No. 2: Hei, bangsat! Jawab aku!

Yuri merapikan rambut hitamnya, lalu menyulut rokoknya. Dia mematut dirinya di cermin selama beberapa detik. Dia mengenakan sebuah setelan jas serba hitam, lengkap dengan sepatu pantopel berwarna senada.  Dia tersenyum, tertawa, kadang dia memutar-mutar tubuhnya seperti gadis perempuan yang baru saja diajak kencan oleh pria idamannya. Walau agak lucu juga sebenarnya melihat yang terpantul di cermin bukan sosoknya yang imut dan menggemaskan seperti dulu, melainkan sosok pria berambut panjang sebahu, dengan kumis dan janggut menghias wajahnya.

Sebelum Yuri melenggang pergi, dia kembali mengetikkan sesuatu.

Me: Jadi, mengapa kau selalu membaca buku?

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)