esai ini diterbitkan pertama kali di SPÄTKAPITALISMUS edisi ketiga (Maret 2016)

“Buku adalah penasihat yang bebas biaya, buku tidak menolak permintaan nasihat, buku adalah permata, buku adalah sahabat yang baik.”

Pentingnya buku bagi masa depan anak bangsa, bukan merupakan kalimat serampangan yang dapat begitu saja diabaikan. Buku – baik buku konvensional maupun buku elektronik – dalam posisinya sebagai sumber ilmu sangat berguna bagi perkembangan dan kemajuan generasi penerus.

Jorge Luis Borges, penulis kenamaan Argentina, pernah mengungkapkan, di antara semua instrumen manusia yang paling penting, tak diragukan lagi adalah buku. Menurutnya, seperti juga mikroskop/teleskop bagi penglihatan, lalu telepon bagi pendengaran/suara, maka buku adalah kepanjangan dari ingatan dan imajinasi.

Saya sepakat dengan pendapat itu. Buku bisa membuat kita melihat jauh sekali ke masa lalu, mengenal sejarah, dan mengenal bangsa kita. Hal itu tentu saja tidak bisa dianggap enteng. Salah satu sastrawan terbaik Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berujar, “tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.”

Dalam dunia pendidikan, tak pelak buku merupakan salah satu unsur yang sangat diperlukan, baik untuk siswa maupun para guru. Buku merupakan hasil kebudayaan yang telah digunakan dari ribuan tahun yang lalu sebagai media yang efektif. Peradaban Mesopotamia merupakan peradaban pertama yang menggunakan aksara paku untuk mencatat ilmu pengetahuan mereka. Lalu disusul peradaban China yang menemukan kertas  yang digunakan hingga sekarang. Buku juga merupakan alat perekam sejarah dan kemajuan sebuah peradaban manusia. Demikianlah seharusnya kita menyadari bahwa tanpa adanya buku, mungkin tidak akan ada peradaban megah yang kita pelajari di bangku sekolah. Bahkan, mungkin tanpa adanya buku kita tidak akan mempelajari karya-karya penemu, filosof, dan para cendekiawan karena karya-karya mereka tidak direkam di dalam media yang dapat menghantarkannya secara turun-temurun.

Alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia lebih unggul dari makhluk lainnya adalah karena manusia mampu menggunakan akal pikirannya untuk dapat mendokumentasikan segala sesuatu yang mereka pelajari di suatu hari untuk dapat digunakan bertahun-tahun, berabad-abad, bahkan ribuan tahun kelak. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai pendidikan.

Dapat kita saksikan bahwa kemajuan teknologi yang diraih oleh negara-negara maju berasal dari kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Sebagai bukti terdapat ratusan penemu yang berasal dari Negara-negara maju seperti AS, Jerman, Perancis, Cina, dan masih banyak lagi. Indonesia sebenarnya juga berpotensi sebagai penghasil penulis-penulis terbaik sepanjang abad, sebut saja Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Sutan Takdir Alisjahbana, Goenawan Mohamad hingga Andrea Hirata. Namun yang kita saksikan saat ini adalah banyak dari kalangan masyarakat yang tidak mengenali mereka karena korelasi terhadap minat membaca terhadap buku. Rendahnya minat membaca masyarakat menjadi salah satu ketakacuhan mereka terhadap penulis-penulis di atas.

Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan membaca. Tidak ada waktu tersisa, kecuali untuk membaca dan bekerja. Terlebih pada era globalisasi ini, dengan arus deras globalisasi telah menciptakan perubahan sosial yang besar dalam tatanan kehidupan.

Bangsa yang memiliki sumberdaya manusia unggul, menghasilkan barang kompetitif dan menerapkan teknologi, tidak mungkin terjadi tanpa adanya budaya membaca untuk menyerap informasi yang salah satunya adalah dengan membaca buku. Kenyataan tersebut membuktikan bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Itulah sebabnya buku disebut sebagai jendela peradaban. Karena dari bukulah peradaban sebuah negara menjadi maju, dan dari buku pula sebuah peradaban tak memberi makna apa-apa ketika buku diabaikan begitu saja.

Dalam hal membaca sebagai awal kemajuan bangsa, mahasiswa di negara industri maju ternyata memiliki rata-rata membaca selama delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari. Buku yang merupakan sarana terpenting suatu bangsa sebagai media untuk menyerap informasi terutama bagi proses pendidikan mulai tingkat TK sampai perguruan tinggi saat ini dinilai kurang menumbuhkembangkan minat untuk membaca.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (Republika Online, 26/05/15).

Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa. Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar, dan belajar identik dengan kegiatan membaca karena akan menambah pengetahuan, cara berpikir dan sikap seseorang. Terdapat beberapa faKtor yang menjadikan rendahnya minat baca seperti yang saya kutip dari berbagai sumber, yaitu: warisan budaya membaca, sIstem pembelajaran di Indonesia, teknologi dan berbagai tempat hiburan, minimnya sarana  untuk memperoleh bacaan, dan sifat malas pada setiap individu.

Budaya malas di kalangan masyarakat  yang sudah diwariskan sejak negeri ini terjajah memberikan dampak besar terhadap rendahnya minat membaca buku. Rendahnya minat baca generasi penerus bangsa saat ini membuat kita terpuruk dan tidak terbiasa untuk menganalisa berbagai masalah negara yang semakin ruwet yang pada akhirnya menghambat pembangunan negara. Budayawan Taufiq Ismail mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia dalam hal membaca. Pak Taufiq menyebutkan, di negara maju siswa SMA diwajibkan menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus. Dicontohkan, di Jerman, Prancis, dan Belanda, para siswa sekolah menengah atas (SMA) diwajibkan untuk menamatkan 22-23 judul buku sebelum mereka lulus sekolah. Sedangkan di Indonesia, kata Taufiq Ismail, sejak tahun 1950 hingga 1997 tak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada para siswanya untuk menamatkan buku bacaan, alias nol buku per tahun.

Selain itu, menurunnya minat baca masyarakat Indonesia juga disebabkan dari kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan diri maupun bangsa. Adanya serbuan media elektronik (televisi dan internet) yang banyak memberikan dampak negatif akibat tayangan-tayangan yang tidak mendidik serta bersifat hedonistis lainnya menjauhkan masyarakat dari budaya membaca.

Kondisi ekonomi pun membuat akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit, untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari saja sudah susah, apalagi beli koran, buku, atau bacaan lainnya. Komitmen pemerintah menyediakan buku dan bahan bacaan yang berkualitas dan murah, perpustakaan umum, juga masih rendah.

Indonesia Membaca

Membaca merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk menambah pengetahuan, wawasan dan informasi. Menurut kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh W. J. S. Poerwadinata membaca ialah melihat tulisan dan mengerti atau melisankan apa yang tertulis. melihat dari arti kegiatan membaca tersebut tentu memiliki banyak manfaat. Ketangguhan membaca diperlukan kebiasaan, kebiasaan dibangun dengan seringnya melatih diri menjadikan buku sebagai kebutuhan pokoknya. Oleh karena itu kegiatan ini perlu didukung dan dibiasakan agar dapat berjalan maksimal.

Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca, seperti memperluas cakrawala ilmu pengetahuan, menambah informasi, menmabah ide atau gagasan baru, serta masih banyak hal lagi yang dapat dipetik dari kegiatan membaca. Jadi jelas pengaruh bacaan sangat besar terhadap peningkatan cara berfikir seseorang. sering kita mendengar pernyataan bahwa apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun mendatang.

Apabila kita lihat ucapan Richard Whitlock yang saya kutip dari Pemaknaan Buku Bagi Masyarakat Pembelajar karya Drs. Purnomo: “Buku adalah penasihat yang bebas biaya, buku tidak menolak permintaan nasihat, buku adalah permata, buku adalah sahabat yang baik”.

Buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk mengubah dunia. Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan manusia. Banyak  manusia-manusia hebat karena mereka adalah orang-orang yang mencintai buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Hatta adalah orang-orang yang sangat mencintai buku. Buku-buku telah mengilhaminya untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Hatta karena wawasan yang luas dari hasil bacaannya.

Bagaimana kita melihat negeri Jepang yang pada perang dunia hancur lebur namun dalam sekejab menjadi raksasa ekonomi dunia? Ternyata rakyat Jepang adalah orang-orang yang gila ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang menjadi negara maju. Yang menarik untuk dicermati dalam hal ini adalah Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang.

Membaca buku merupakan kunci kemajuan peradaban. Dengan ditemukannya aksara sebagai alat komunikasi tulis, kemampuan membaca menjadi sangat penting bagi pembentukan pribadi sekaligus kemajuan suatu bangsa, Buku hendaknya bisa menjadi menu utama, bukan hanya sekadar pengantar tidur. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan komitmen semua pihak; pemerintah, penerbit, dan masyarakat sebagai penikmatnya untuk mengkampanyekan gemar membaca buku. Dalam hal ini pemerintah harus mampu mendorong dan memfasilitasi kebutuhan buku serta bahan bacaan yang berkualitas dan murah bagi masyarakat melalui peningkatan ketersediaan pustaka di perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, perpustakaan keliling, maupun saung baca atau desa buku.

Keberadaan perpustakaan ini akan mendekatkan masyarakat terhadap pusat bacaan yaitu buku. Selain penyedian pengelolaan juga harus diperhatikan. Karena kita tahu bukannya tidak ada perpustakaan-perpustakaan di daerah, namun keberadaannya seperti hidup tidak mati pun tidak. Pengunjungnya sedikit, tempat membacanya tidak nyaman kalah jauh dibandingkan dengan supermarket yang sejuk untuk tempat berbelanja. Perpustakaan kondisinya panas, tempat duduknya juga keras. Pengelolaan yang menarik dan kreatif untuk menarik masyarakat untuk datang sangatlah penting. Kalau perlu dibuat promosi atau selainnya. Jadi disini juga diperlukan tenaga-tenaga pengelola perpustakaan yang kreatif.

Sedangkan bagi penerbit, hendaknya misi pencerahan untuk kemajuan bangsa lebih diutamakan daripada misi keuntungan yang menaikkan harga produknya (buku) sehingga harga buku menjadi mahal atau sulit dijangkau masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Seandainya harga buku bermutu murah maka akses masyarakat terhadap membaca buku-buku bermutu akan semakin mudah.

Saya berharap kedepannya buku dijadikan sebagai “menu utama” dalam aktivitas sehari-hari, sehingga tercipta masyarakat membaca (reading society), masyarakat belajar (learning society) dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang ditandai dengan terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sebagai piranti pembangunan nasional menuju masyarakat bermartabat.

Tulisan ini juga diterbitkan di blog pribadi Said Agung Pangestu di agungsaid.wordpress.com

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi.
“Verba volant scripta manent” – Caius Titus