Oleh Iman Zanatul Haeri*

Wajah petani itu terlihat muram. Aku harap persahabatannya dengan kami tidak hilang. Terlalu lama aku menatap wajahnya, hingga kakakku berteriak.

“Hei, awas! Kau ingin terinjak?” seru kakak.  

Dengan panik, aku melompat menghindari langkah raksasa sang petani. Kakakku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku yang sembrono. Sebagai Semut Semai, raut wajah petani yang muram membuat kami ikut bersedih. Sebab kami bersahabat lebih dari 2000 tahun. Meskipun kami sudah hidup 20.000.000  tahun lebih awal dari kehadiran manusia.

Kakakku memang sekarang mudah melontarkan kata-kata keras. Seringkali ia memaki keadaan. Hal ini terjadi sejak ia mendirikan kelompok Tomcat Pemberontak. Ia selalu mengulang kalimat yang sama;

“Dulu kita sahabat petani. Saat Wereng dan ulat menyerang, petani memanfaatkan keberadaan kita. Tapi kini ia mengirim racun langsung dari langit. Untuk membunuh wereng dan ulat musuhnya, sekaligus kita sahabatnya. Apakah petani adalah sahabat yang patut dipertahankan? Tidak! Kita harus melawan!” katanya tegas.

Semua semut semai bosan dengan kata-katanya, tapi mereka sadar kalau itu ada benarnya. Tomcat kelompok pemberontak dalam Semut Semai. Mereka semut semai pula. Hanya saja mereka berencana memutuskan hubungan dengan petani. Entah bagaimana kakak menyakinkan semut semai lain untuk bergabung dalam kelompok ini. Banyak semut semai muda yang terpengaruh orasinya, tapi aku tidak. Sebab aku masih memiliki kepercayaan pada petani. Sebagaimana cerita Ayah dan Ibu yang mengisahkan kisah persahabatan indah antara para petani dan semut semai.

Sawah tempat hidupku sekarang merupakan tempat baru. Sejak aku dilahirkan, aku hanya tahu kita harus berpindah dari satu sawah ke sawah lain. Kakakku cerita ketika ia lahir, sempat begitu lamanya ia tidak berpindah sawah. Mungkin kenangan indahnya di masa lalu yang membuatnya begitu kecewa di masa kini. Sedangkan aku sudah hidup dalam keadaan seperti ini, terbiasa berpindah dan terbiasa “selalu terusir”.

Suatu ketika di tengah siang nan terik, tanpa peringatan kami dihujani racun dari awan lagi! Keadaan kacau, para serangga berhamburan. Beberapa yang sudah terkena menjadi kebingungan, seperti serangga gila tanpa orientasi. Terbang tanpa pola, menabrakkan diri dan semakin kacau. Kakak kembali menyelamatkanku dari percikan pestisida yang berbentuk bola-bola raksasa, menghunjam tanah dan mengeluarkan  uap yang cepat menyebar, membunuh semua serangga. Sambil menyelamatkan diri ia kembali memaki dan mengulang khotbahnya.

Aku sempat melepaskan pegangannya, dan kembali ke ladang pembunuhan, berharap dapat melihat kedua orang tua kami. Saat aku melihat mereka masih hidup, aku memberi tanda untuk ikut mengungsi atau pergi menjauh. Ibu dan Ayah tersenyum sambil memegang erat dahan padi. Ia memberi isyarat agar kami pergi saja tanpa mereka. Dibarengi senyum getir Ibu yang terhalangi oleh berbagai kekacauan, warna pestisida yang dominan dan pastinya kematian, Ayah berteriak:

“Ingat apa yang pernah kami katakan!”

Kakak tidak menoleh sedikitpun. Ia tanpa ragu meninggalkan mereka begitu saja. Tapi ketika cahaya mengenai separuh wajahnya, ada sesuatu yang berkilau dan memecah. Wajahnya basah.  Ia menangis.

Aku ingat apa yang Ayah-Ibu katakan dahulu. Kata-kata yang mereka ingin aku selalu ingat tentang persahabatan antara petani dan semut semai.

“Nak, petani adalah manusia yang baik. Ia menanam padi, bernyanyi dan menyediakan tempat indah ini bagi kita. Dulu spesies kita tinggal di hutan yang lebih ganas. Namun ketika menusia sudah mengenal cara bercocok tanam dan menciptakan sawah, kita bisa tinggal di tempat yang lebih baik. Percayalah, keadaan akan baik-baik saja nantinya.” 

Kenangan ini buyar dalam lamunan saat seekor kumbang besar tak sengaja menghantamku dengan keras ke tanah.

Aku terkapar tak berkutik. Semuanya hitam.

***

Saat aku terbangun, kulihat kakak sedang berujar padaku.

“Sudah tujuh hari kau tidak bangun. Cobalah melompat sendiri sekarang, aku sudah lelah menggendongmu.” Aku melihat sekeliling, gerombolan semut semai yang tersisa diliputi wajah yang suram.

“Mengapa semua semut semai berwajah seperti itu?” aku mencoba bertanya.

“Jangan sebut nama itu. Kita adalah tomcat sekarang. Kini kita berbahaya bagi siapa pun. Tujuh hari kita tidak menemukan tempat yang baik. Tanpa makanan bahkan tempat beristirahat.”

Kakak menjawab dengan letih. Keadaan semakin tidak menentu di kala beberapa dari kelompok kami keluar dari gerombolan.

Saat itu kami hinggap di mana pun. Memakan apa pun yang bukan makanan kami. Terkadang tumbuh-tumbuhan di sana mengusir kami dengan halus. Atau serangga lokal melakukan protes, atau langsung memberikan kode berperang. Kami terus berpindah hingga akhirnya kami menemukan sebuah bangunan beton dari tanah liat dan rerumputan yang terlihat sedang tergusur pelan namun pasti. Itu adalah lingkungan manusia.

Kakak termenung dari kejauhan. Para tomcat lain berteriak memaki.

“Katamu di sini ada tanah harapan? Mana? Mana? Di sini hanya ada beton dan manusia. Bahkan mereka bukan petani. Aku bisa menciumnya dari sini,” kata seekor tomcat lain.

Aku mencoba membela kakak. Bahwa ia pun sebenarnya tidak tahu semua telah berubah. Aku ingat ia mendengar itu dari serangga petualang. Wereng yang hampir mati menceritakan kisah ini. Kakak akhirnya sadar, di ambang kematian, musuh tetaplah musuh. Tapi wereng itu sepertinya tidak berbohong. Semua sadar bahwa perubahan sawah menjadi beton terlampau cepat daripada informasi yang baru disampaikan sang wereng malang tersebut. Saat kakak akan mengatakan sesuatu, sebuah angin kencang membuyarkan kami.

Dedaunan di sekitar kami hancur berantakan, dahan-dahan dan ranting terpelanting. Sambil menyelamatkan diri, kusempatkan menoleh dan mendapati beberapa manusia sedang berupaya mengusir gerombolan kami dengan peralatan canggih mereka, bahkan sebelum kami benar-benar masuk ke lingkungan mereka. Keterlaluan! Saat aku mendapatkan tempat yang lebih aman, aku melihat kakak sudah tak berdaya. Kematian sudah membayanginya. Dengan isyarat mata, dia memintaku untuk mendekat.

“Mungkin ini obrolan terakhir kita. Tapi kita tetap akan mati sebagai tomcat, adikku sayang. Hahaha. Lihatlah kita! Ribuan tahun menjalin hubungan dengan petani, membantu mereka melawan ulat dan wereng yang merugikannya, bangsa kita sendiri. Kita diusir setiap waktu, terus diusir tanpa keluh! Diusir lagi! Bahkan ketika kita tidak di sawah kita tetap diburu agar mati! Kau lihat televisi?” 

Aku menggelengkan kepala.

“Kita memang serangga predator bagi serangga-serangga yang merugikan petani. Sebab kita memiliki racun. Memang bukan melalui gigitan, namun lendir di kulit kita tidak baik untuk serangga mana pun bahkan kulit manusia bisa melepuh karenanya.  Di televisi kita sudah menjadi bintang, sorotan dan buronan. Aku melihat banyak manusia yang menderita akibat menyentuh kita. Aku melihat mereka menderita. Tiap orang yang terkena, diwawancara dan ditanyai per detail rasa sakitnya. Sedangkan kita mati terus dengan jumlah yang luar biasa tapi kita tidak pernah muncul di televisi sebagai korban yang sama menderitanya. Apakah itu yang dilakukan manusia agar manusia lainnya hanya memberi simpati pada satu pihak dan tetap berperilaku kejam pada pihak lainnya? Kotak cahaya berisi suara dan gambar yang berubah itu sungguh fitnah paling kejam. Terutama untuk kita,” ceritanya sayu.

Sambil bersandar dan membungkuk, kakak melanjutkan ceritanya.

“Setelah itu kebencian merebak pada semua manusia, bahkan yang tidak pernah terkena racun kita. Departemen Kesehatan memberi komentar bahwa kita layak dibasmi dan dimusnahkan. Mereka bekerja sama dengan semua dokter hewan, para akademisi, peneliti, tapi mereka tidak pernah merasa kasihan pada kita. Apakah mereka tidak memiliki rasa hormat atau etika pada spesies yang malang ini?”

Aku terdiam membisu.

“Aku rasa hanya kita berdua yang tersisa sekarang,” katanya lemah.

Sambil memapah tubuhnya yang lemah, aku berusaha menyampaikan pemikiranku. Tidak peduli dengan situasi yang sedang berbahaya seperti ini.

“Tidak berarti petani bersalah. Aku tahu petani tidak punya cara lain. Kini sawah bukan miliknya lagi. Ia bekerja untuk orang lain. Ia bertani bukan  hanya untuk makan, tapi juga untuk menutup utang. Sedikit saja padi berkurang, utangnya semakin menggunung. Bibit, pupuk dan pestisida harus dibeli. Tanpa pestisida, mereka harus bekerja lebih keras. Apa kau tak kasihan melihat mereka? Aku bisa merasakan dalam hatinya mereka ingin bertani hanya untuk hidup selaras. Aku seringkali mendengar gumamnya yang memilukan. Mereka sebenarnya juga terpaksa menggunakan pestisida, Bebannya lebih besar daripada kita, kita mungkin akan mati, tapi petani dituntut untuk menghidupi anaknya dan sekian kebutuhan yang tidak terhingga. Manusia memiliki masalah dengan kebutuhan. Masalahnya kebutuhan mereka tiada batas!” jelasku.

“Bagaimana semut semai bisa berbicara seintelektual ini?” sindir kakak sambil terkekeh.

“Seharusnya lebih mengejutkan bahwa kau tahu apa itu pestisida dan Departemen Kesehatan. Dan yang lebih parah, bagaimana semut semai seperti dapat menonton televisi? Kau ini seperti manusia saja lagaknya. Pakai orasi  sama bikin pemberontakan segala,” balasku jengkel.

“Hahaha! Kau salah! Aku tomcat! Bukan semut semai. Begitulah televisi menyebutku!”

Obrolan kami mendadak terhenti ketika tangan manusia yang begitu besar sekonyong-konyong membolak-balikan tubuh dua tomcat yang kaku beberapa meter dari tempatku bersembunyi. Salah satunya sudah tidak memiliki organ tubuh yang utuh. Sambil mengarahkan sebuah benda besar yang pernah kudengar bernama ponsel pintar, manusia itu berujar:

“Hahaha, mampus lo! Foto ah, biar nanti gue posting ke Instagram! Hahaha.”

***

*Iman Zanatul Haeri, Penggiat literasi. Sangat suka membaca dan menulis. Terutama kajian di bidang sejarah, sosial dan budaya. Sering terlibat dalam kegiatan mural. IG: Zanatul_91

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts