Oleh: Ikra Amesta*

Saya butuh tes psikologi. Bukan jenis tes yang diisi dengan cara melingkari angka 1 sampai 5 untuk merespon soal-soal deskriptif seperti, “Apakah Anda takut dengan banyak hal di sekitar Anda?” atau “Seberapa seringkah Anda merasa panik?” dan sebagainya. Alasannya adalah saya tidak bisa menilai diri saya sendiri dengan baik. Saya tidak bisa memastikan dengan akurat bahwa saya berada di skala 2 atau skala 4. Itu terlalu menghakimi sekaligus membatasi. Bahkan seringkali saya merasa sebetulnya semua angka benar, saya adalah kelima-limanya sekaligus, mental saya bergradasi secara periodik dari satu angka ke angka yang lain dan tidak pernah menetap untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya saya butuh tes psikologi yang lebih abstrak. Tes dengan pertanyaan-pertanyaan alegoris, penuh metafora, menjurus semiotik – pokoknya penuh dengan perumpamaan-perumpamaan terselubung. Tidak gamblang, terbungkus oleh situasi-situasi fiktif atau imajinatif yang bisa membuat saya nyaman saat mengisinya karena setidaknya saya tidak perlu merasa seperti dihakimi secara langsung oleh diri sendiri. Misalnya semacam pertanyaan tentang kelinci; Andaikan saya seekor kelinci dan saya harus memilih satu dari 4 lubang yang ingin dimasuki, dan kalau saya memilih lubang nomor 3 yang berdiamater besar namun mengerucut dengan ukuran teramat dalam, maka saya terdiagnosis sebagai orang yang mudah resah – yah, kira-kira semacam itulah. Yang pasti saya tidak mau menilai diri sendiri, mengukurnya dengan angka, menimbang-nimbang dengan sadar siapakah diri saya ini. Saya ingin ada psikolog atau siapapun yang bisa menjelaskan apa yang harus saya lakukan, ingin jadi apa saya ini, apa pekerjaan yang cocok dengan saya karena saat ini saya sedang kebingungan.

Coba saja ada tes yang bisa langsung menentukan garis hidup manusia berdasarkan sorot matanya seperti yang pernah dipraktekkan Karina waktu usia saya belasan dulu. Dialah yang bilang kalau bola mata saya cerah dan sorot mata saya dalam ─ tidak seperti bola mata kakek yang terakhir kali warnanya abu-abu dan buta ─ dan dialah yang bilang, “Kamu melihat apa yang tidak terlihat oleh mata orang-orang. Kamu cocok jadi penulis, jari-jari tanganmu panjang.” Jujur saja saya sangat terkesima karena Karina seolah-olah bisa membaca isi pikiran saya, dan caranya memetakan masa depan saya seperti seorang ahli nujum membuat saya semakin bergairah untuk menulis sebanyak-banyaknya, mengarang apapun yang saya bisa, mencorat-coret kertas, mengkreasikan opini, menciptakan realita-realita baru yang gila sekalipun dengan kekuasaan sepenuhnya dalam genggaman tangan. Saya tersadarkan. Mungkin saat itu jiwa saya tersambar halilintar Dewa dari langit yang membentuk setapak jalan takdir yang cerah, centang-perenang menghampar lurus ke depan, dan hidup saya untuk pertama kalinya punya tujuan.

Padahal, kalau diingat-ingat lagi kisah tersebut sebenarnya aneh. Aneh karena Karina, sosok yang berjasa itu, sebenarnya tidak terlalu “terlihat” sepanjang masa remaja saya. Dia adalah gadis yang biasa-biasa saja, dengan penampilan yang biasa-biasa saja, dan prestasi yang biasa-biasa saja. Tipe murid yang selalu hadir di kelas tapi tidak meninggalkan banyak kesan sehingga fotonya di buku tahunan pun tidak sanggup membangkitkan memori yang berarti di antara teman-teman sekelasnya. Kalau bukan karena kita kebetulan bertemu kemarin, mungkin saya tidak bakal mengingat-ingatnya lagi. Dia mengenali saya yang matanya lebam sementara saya mengenali wajahnya yang biasa-biasa saja.

Selain itu dia pasti setuju kalau pada awalnya setiap orang pasti meniru orang yang lain. Situasi buntu ide memang menyerang tanpa kenal waktu, tetapi saya tidak mau menyerah dengan keadaan. Saya harus tetap menulis, menghasilkan sesuatu, menerbitkan sesuatu. Dua minggu yang lalu saya berkelahi dengan Ferdi, seorang kawan lama yang begitu marah. Tuduhannya: plagiarisme. Saya mengubah paragraf pertama dari tulisannya yang sepanjang 1500 kata dan sedikit memodifikasi judulnya lalu tulisan itu diterbitkan sebagai artikel di surat kabar nasional atas nama saya. Ferdi menemui saya dengan bara api di kedua bola matanya. Saya mungkin mahir dalam memulai suatu perkelahian tapi berani sumpah saya bukan orang yang bisa memenangkannya.

Kita baku-hantam sampai babak-belur. Kejadiannya di sebuah bar, saya lupa namanya, dan orang-orang tampaknya malas terlibat dengan urusan remeh-temeh kami. Ada yang menghentikan perkelahian tapi tujuannya agar kita melanjutkan aktivitas saling gebuk itu di luar bar. Orang-orang mendorong kita berdua keluar tanpa basa-basi dulu bertanya apa yang terjadi, atau memaksa salah satu dari kita bicara untuk menaksir siapa yang benar dan siapa yang salah, pokoknya kita diusir layaknya dua ekor anjing ke tempat parkiran yang sepi, dan setelah mengambil napas beberapa detik kitapun lanjut baku-hantam lagi selama kurang-lebih 5 menit.

Saya kalah. Wajah saya sangat kacau, kotor oleh darah yang sepertinya muncrat dari pori-pori kulit. Ada memar di sekitar pelipis dan tulang pipi, dua bagian itu memang yang sering kena bogem temanku. Kelopak dan bibir bengkak. Untung saja hidung saya tidak patah, tapi mungkin ada sedikit keretakan karena sampai sekarang rasanya masih ngilu kalau disentuh. Untunglah, berkat wajah yang mengenaskan itu teman saya pun berbaik hati menyudahi perkelahian. Sebagai sentuhan akhir, dia meludahi wajah saya, dan begitu air liurnya mendarat di atas jidat, rasanya seperti kena ciprat larutan asam yang membakar kulit.

Dia sangat puas. Tidak bisa dipungkiri lagi. Dia berteriak penuh kemenangan dan mungkin saja sedikit melakukan gerakan selebrasi ala Rocky, si petinju Hollywood itu. Entah kenapa saya sangat ingin melihatnya berselebrasi, tapi mengangkat kepala dari aspal rasanya perih. Saya ingin melihatnya mengacungkan kedua tangan ke angkasa, atau melompat-lompat kecil seperti anak anjing, atau lari berputar-putar dengan kedua tangan terentang menirukan pesawat terbang. Apapun bentuknya tidak masalah, yang pasti luka dan rasa sakit saya akan terbayar dengan manis. Mungkin ini hanya pikiran konyol, seperti yang seringkali terjadi, tapi saya benar-benar menganggap selebrasi yang dia lakukan setelah menghajar saya sampai bonyok sebagai suatu bentuk pujian. Rasa senang yang dia lepaskan itu menggambarkan betapa kemenangannya merupakan pencapaian penting dan momen yang bakal dikenang atau bahkan diceritakan ulang ke orang-orang yang berbeda selama tahun-tahun ke depan. Artinya, secara tidak langsung, dia mengakui bahwa saya cukup berharga. Sayalah trofinya. Rasa sakit menggigiti sekujur tubuh, luar biasa, seharusnya saya bisa mati bahagia. Kenapa malaikat tidak mengambil nyawa saya waktu itu?

***

“Hidup ini memang keras,” sekarang psikolog saya bicara. Entah kenapa kalimat yang diucapkannya itu terdengar hambar. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya, tidak lebih hanya sebagai refleks dari penampakan saya yang penuh memar sekaligus sebagai respon dari kegelisahan yang saya bawa ke dalam ruangan. Dia seolah-olah mengatakan kalau kebuntuan yang sedang menghinggapi saya ini adalah masalah yang dihadapi oleh 100 orang pasiennya sebelum saya. Kata-katanya tidak bisa dipercaya. Dia pasti menertawakan saya sebagai seorang penulis fiksi yang tiba-tiba jago menganalisis kondisi politik dalam negeri lewat sebuah artikel di koran.

Tapi dengan mengucapkannya, si psikolog juga meremehkan saya yang dikiranya tidak memahami betapa kerasnya hidup ini. Dua tahun sebelum novel pertama saya terbit, saya berpapasan dengan penulis idola saya, Majidi, di pinggir jalan. Saya sudah membabat habis kelima novelnya dan selalu menutup halaman terakhir dengan perasaan tercerahkan. Gaya narasinya sangat mengalir, pemilihan diksinya sangat tepat dan kaya, sehingga cerita sesederhana apapun selalu bisa dieksekusi jadi cerita yang luar biasa. Satu hal yang mungkin belum bisa saya kuasai. Dialah yang membuktikan kepada saya kalau kata-kata bisa membawa manusia ke tempat-tempat yang tidak terjamah, lalu mendudukinya, membangun kota, membangun apa saja yang mereka mau di sana, pokoknya menciptakan kehidupan lain di luar batas-batas dunia nyata. Lewat karya-karyanya Majidi sudah bisa melepaskan diri dari belenggu waktu, dia kekal dalam memori pembacanya.

Tetapi bukannya ongkang-ongkang kaki bak Dewa, Majidi malah mengemis di pinggir jalan. Dia membawa kotak sumbangan untuk melanjutkan hidupnya. Saya langsung mengenali sosoknya yang dekil, dengan rambutnya yang acak-acakan serta kedua matanya yang sayu. Setelah bersalaman dan memeluknya seperti kesetanan saya baru menanyakannya perihal apa yang terjadi. Sudah 10 tahun lebih dia tidak menerbitkan novel dan dia kehilangan hartanya akibat kalah bertaruh, atau mungkin gara-gara biaya pengobatan sakit istrinya yang membludak, atau mungkin bukan begitu, entahlah, saya lupa dengan apa yang menimpa beliau, yang saya ingat adalah nasihatnya yang diucapkan sambil memegang batok kepala saya. Intinya adalah seorang penulis sejati pasti memiliki mata yang mengantuk, bukan mata yang punya cukup tidur.

Setelah itu, saya tidak peduli apakah itu matahari atau bulan yang sedang menggantung di langit, yang jelas saya tidak pernah kehilangan waktu barang semenit pun. Sehari tidur 3-4 jam saja, sisanya adalah menempuh jalur kesunyian yang dingin dan berbatu di depan laptop, sekuat tenaga melawan segala distraksi yang melintas walau terkadang gagal juga, tapi saya tetap memikul konsistensi yang berat itu seorang diri. Di puncak kesadaran saya melihat kewarasan yang kerap kali pergi dan pulang lagi, sebagian mungkin minggat selama-lamanya, teman-teman yang menjauh, deretan kekasih yang hilang, segala bentuk kenormalan yang mengelupasi nilai-nilainya perlahan-lahan. Artinya saya sudah cukup lama mengenal bahwa hidup ini memang keras dan kerja keras merupakan obat penawarnya yang utama. Buahnya adalah saya menerbitkan 3 buah novel yang laku terjual dan diapresiasi bagus oleh para kritikus. Sementara Ferdi masih belum menghasilkan satupun buku, saya bekerja 100 kali lebih keras darinya dan hasilnya dia berada 100 tingkat di bawah saya sekarang.

Saya sangat menikmati waktu-waktu panjang yang telah saya lewati dan sebagai imbalannya cukuplah seorang Karina yang meminta tanda tangan saya di buku saku catatan belanja bulanannya. Setelah sekitar 15 tahun akhirnya kita bertemu lagi kemarin, kita tidak pernah saling berkirim kabar atau menyimpan nomor telepon masing-masing. Tentu saja dia yang menyapa saya duluan. Kedua matanya dibingkai kacamata sekarang, tapi bukan karena itu saya kesulitan mengenalinya melainkan karena dirinya memang orang yang biasa-biasa saja, baik dulu maupun kemarin. Tidak ada yang mencolok dari dirinya, dia adalah bagian dari kerumunan massa yang hanya bakal melengkapi perhitungan statistik. Dia tidak banyak berkomentar tentang wajah saya yang bonyok karena dia pasti sudah mendapatkan cukup informasi dari berita-berita. Yang dia lakukan adalah memuji karya-karya saya dan menyatakan bahwa saya telah menjalani hidup yang bermakna, lalu meminta foto bersama dan sebuah tanda tangan yang sengaja saya bubuhkan hampir memenuhi halaman buku catatatannya.

Bisa jadi itu adalah ukuran tanda tangan terbesar yang pernah saya berikan kepada seseorang. Dorongan emosi yang mengaliri darah saya waktu itu benar-benar nyata: sebuah kebahagiaan yang membuncah. Cara dia menyapa saya begitu murni, menembus perisai muka bonyok saya langsung menuju ke jiwa, ke intinya, ke tempat di mana dirinya merasa terkoneksi dengan saya lewat tulisan. Binar di matanya membangkitkan sel-sel di dalam tubuh saya yang mati, tidak seperti sorot mata memelas Ferdi waktu dia menitipkan artikelnya kepada saya untuk diteruskan ke editor koran yang saya kenal, yang tampak begitu lemah dan tanpa daya hidup secuil pun.

Perbincangan kita singkat. Bahkan tidak sampai 5 menit saja. Sebelum berpisah dia mengutip sebaris kalimat dari novel saya yang kedua. Saya tersenyum tipis, gara-gara otot-otot di sekitar mulut masih terasa sakit, tetapi di lubuk hati saya sepertinya tahu bagaimana rasanya mati bahagia.

***

Mati bahagia bukanlah gagasan yang baru dalam hidup saya. Sepertinya gagasan itu pertama kali muncul waktu saya 9 tahun. Saat itu Kakek saya meninggal gara-gara stroke yang sudah dideritanya selama 5 tahun. Saya menghadiri pemakamannya. Banyak orang yang menangis di sana, beberapa tersedu-sedu, saya juga meneteskan air mata tapi tidak merasa sedih, hanya ikut terbawa suasana. Bagi saya kematian kakek bukan hal yang baru, dia sudah meninggal dari sejak menjadi penderita stroke. Lumpuh, tidak berdaya, dengan mulut yang tidak bisa lagi bicara, dan sekujur tubuhnya yang kaku dan tidak bisa digerakkan sendiri ─ selama itu saya melihatnya sebagai sosok mayat hidup. Saat dia meninggal seseorang berkomentar bahwa akhirnya kakek bisa mati dengan bahagia karena penderitaan hidupnya telah usai. Saat itu saya memang belum begitu paham tentang kematian tapi saya bisa mendalami perkataan orang itu dengan sepenuh hati.

Gagasan itu langsung menyita pikiran saya sepanjang hari. Saya terpaku sendiri, tidak jarang beberapa anggota keluarga menegur saya karena terlihat melamun, dan mereka memakluminya karena mengira saya sedang berkabung padahal saya tidak begitu dekat dengan Kakek. Ungkapan “mati bahagia” terdengar seperti sesuatu yang hebat, membius pikiran saya yang masih polos sehingga saya merasakannya sebagai istilah paling keren sedunia. Kontradiksi yang dibentuk oleh kedua kata itu, antara “mati” dan “bahagia”, seakan membuka jalur perspektif baru di dalam otak saya, membelalakkan mata saya pada kemungkinan yang mengasyikkan bahwa mati tidak melulu peristiwa yang menakutkan atau menyakitkan. Lucunya saya jadi punya bayangan yang baru tentang Kakek. Setiap kali memikirkan beliau, imej yang hadir di dalam kepala adalah Kakek yang menari-nari, berteriak penuh kemenangan dan berselebrasi ala Rocky si petinju Hollywood di atas ring tinju, bukan Kakek yang terbujur kaku dan tidak bernapas.

Bulan Agustus tahun 2002 Ferdi naik ke atas panggung membacakan sebuah cerita pendek bertemakan “Semangat Berkarya” dengan suara lantang. Dia memukau para hadirin termasuk guru Bahasa yang kemudian mendaulatnya sebagai seorang penyair cilik. Medali juara satu dikalungkan ke lehernya, dengan bangga dia menaklukkan kompetisi antar sekolah di kota. Ini terjadi 2 tahun sebelum saya bertemu Karina dan saya masih memakai seragam SMP. Saya menyaksikan sambil berdiri di depan deretan kursi paling belakang saat Ferdi tampil. Semua mata praktis tertuju kepadanya, jadi sepertinya kecil kemungkinan ada sepasang mata yang melihat saya tersenyum lebar, girang, bertepuk tangan paling keras. Saya tidak menonton acaranya sampai selesai, saat pengumuman pemenang disebutkan saya sudah berada ratusan meter dari sekolah. Kedatangan saya hanyalah untuk menonton penampilan Ferdi karena saya yakin pasti Ferdi yang bakal menang. Ceritanya yang bakal menang. Sangat yakin karena cerita itu saya yang buatkan. Ferdi mengancam akan mencolok bola mata saya yang cerah dengan sorot yang tajam kalau saya tidak membuatkannya cerita untuk kompetisi cerita pendek. Saya menurut, badannya jauh lebih besar dari saya, bisa-bisa saya bonyok kalau mengajaknya baku-hantam.

Saya mengarang cerita tentang mendiang kakek yang hidup bahagia dan menjadi pahlawan yang dikerubuti orang-orang, dielu-elukan, dijadikan inspirasi serta sumber kebijaksanaan masyarakat sekampung. Di sana kakek digambarkan segar bugar dan sebagai sosok yang cerdik dalam menghadapi situasi rumit. Saya lupa dengan rincian ceritanya tapi yang jelas semuanya itu bohong. Ferdi berdiri di atas panggung membawakan kisah tentang almarhum kakek saya yang hidup bahagia dengan ekspresi yang berapi-api, lengkap dengan beberapa gerakan pantomim dan akting kelas teater, benar-benar pemandangan yang konyol dan patut diejek. Andai saat itu saya merekamnya dengan kamera video, saya pasti akan menenggelamkan diri di dalam komedinya di saat-saat sedang buntu ide. Tapi sudahlah.

Biar bagaimanapun, kakek yang mati bahagia adalah kisah milik saya selama-lamanya.

***

*Penulis pemula yang sedang berusaha menulis novel tapi selalu terhambat oleh godaan menulis cerpen. Sekarang sedang asyik mendalami bacaan fiksi dalam negeri. Facebook: IkraAmesta

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts