Setiap kali berbicara soal Realisme Sosialis, terutama di Indonesia, maka dengan mudah kita akan menemukan para pendukung dan penentangnya. Bagi para penentangnya, salah satu argumennya adalah Realisme Sosialis sangat menghambat kreativitas, karena memang — sebagaimana diumumkan sebagai genre resmi seni di Uni Soviet — sastra hanya boleh digunakan untuk kepentingan politik propaganda komunisme, sehingga segala bentuk eksprerimen akan dilarang, bahkan akan dicap sebagai kontra-revolusioner. Sedangkan bagi para pendukungnya, terutama yang mengikuti ‘aturan resmi’ dari Uni Soviet, salah satu yang ditekannya adalah sastra memang harus menjadi ‘bagian dari kenyataan’ dalam pengertian bahwa sastra harus menyampaikan masalah-masalah yang dekat dengan masyarakat, tidak mengawang-awang, tidak penuh ilusi, dan mesti menjadi bagian dari perjuangan politik.

Perdebatan mengenai Realisme Sosialis di Indonesia jarang sekali membahas soal kualitas realisme dari karya-karya Realisme Sosialis itu sendiri. Alih-alih terjadi suatu pembacaan ulang atas karya-karya yang dilabeli Realisme Sosialis, yang terjadi justru penegasan terus-menerus bahwa Realisme Sosialis itu adalah karya-karya yang bercorak sloganistik. Persoalan konflik atasnya hanya soal pihak penentang terang-terangan menolak karya yang sloganistik seperti itu dan pihak pendukung jelas-jelas mengharuskan karya yang seperti itu. Padahal, kalau kita membaca ulang karya-karya yang dilabeli Realisme Sosialis, terutama yang dipublikasikan di Harian Rakjat selama kurun waktu 1950 – 1965, tidak semua cerita pendek di sana yang sesuai dengan pakem yang dipetuahkan di Uni Soviet itu sendiri. Namun, meskipun Realisme Sosialis menolak bentuk eksperimen, namun pada kenyataannya banyak sekali karya-karya Realisme Sosialis di Indonesia yang justru melakukan eksperimen, bahkan sama-sekali tidak seperti yang diwajibkan oleh Uni Soviet.

Cerpen Pesta Rakyat[1] karya Namikakanda adalah contoh cerita pendek yang sesuai dengan pakem Uni Soviet. Cerpen ini berkisah tentang pesta yang dilakukan oleh rakyat dalam ulang tahun PKI yang ke-35. Secara garis besar, cerita ini penuh oleh ‘pesan politik’ seperti, “ini pencerminan kecintaan rakyat pada partainya: PKI..” atau “Hidup PKI,” atau …” tepuk tangan menggetarkan hati dan mendirikan bulu kuduk kaum imperialis dengan pemimpin-pemimpin Masjumi dan PSI juga mungkin tentunya.” Sedangkan, contoh lainnya, Buntut Baginda karya Zubir AA[2] adalah contoh cerpen yang tidak sesuai sama sekali dengan pakem tersebut. Cerita ini berkisah tentang seorang nenek yang mendongeng kepada cucunya perihal raja, penasihat, dan para menterinya. Intinya, cerita ini dengan penuh satire menunjukkan betapa tololnya cara kita menghormati penguasa. ‘Pesan politik’ dalam cerita ini justru disiratkan melalui ‘pesan moral’ dari dongeng yang diceritakan oleh si nenek. Lewat teknik dongeng, ada semacam ‘legitimasi’ yang halus untuk menjaga agar ‘pesan politik’ tidak menjadi ‘slogan’, sehingga dapat kita lihat bagaimana gagasan tersebut tetap sampai kepada pembaca meski tanpa kosakata khas komunis misalnya. Pertanyaannya, apakah dengan begitu artinya karya-karya yang tidak patuh pada pakem itu adalah karya-karya yang tidak Realisme Sosialis?

Kalau kita melihatnya dari Uni Soviet, tentu saja, karya-karya seperti itu tidak Realisme Sosialis sama sekali. Ambisi politik masa itu lebih besar daya legitimasinya untuk menganggap karya-karya yang tidak sesuai pakem itu sebagai kontra-revolusioner. Namun, kalau kita melihatnya dari Jerman, khususnya melalui kacamata George Lukacs, kesimpulannya akan jadi beda.

Berdasarkan pandangan Lukacs, karya-karya sloganistik serupa yang digembar-gemborkan Uni Soviet itu justru yang tidak realis. Pandangan tersebut dapat kita telisik dalam pembedaan yang dilakukan Lukacs mengenai prinsip-prinsip realisme dan naturalisme dalam karya sastra. Mengenai pandangan Lukacs mengenai realisme dalam sastra, Greg Soetomo menuliskan[3] bahwa apa yang tampak, yaitu dalam rupa fenomena, tidak lebih merupakan pantulan dari realitas. Pengetahuan objektif hanya dapat diperoleh lewat titik-pandang yang khusus, bukan dengan cara pandang yang parsial saja terhadap kehidupan sehari-hari.

Pandangan di atas sesungguhnya menyatakan pembedaan antara prinsip realisme dan naturalisme dalam karya sastra. Penekanan pada titik–pandang yang khusus tersebut sesungguhnya menjadi prinsip dasar realisme. Sebab, dalam pembacaan realisme, ada usaha untuk menghindari jebakan pada deskripsi semata, atau pada penyampaian ulang atas suatu fenomena yang terjadi. Justru usaha menyampaikan realitas apa adanya menjadi prinsip naturalisme, bukan realisme. Sebab prinsip-prinsip apa adanya, atau naturalisme dalam karya sastra, hanya berkutat pada fenomena. Itu sebabnya, dalam realisme, terdapat suatu penekanan atas totalitas, yaitu dialektika antara yang umum (fenomena) dan yang spesifik (esensi).

Dengan kerangka pembacaan yang dilakukan oleh Lukacs tersebut, maka dapat kita temukan bahwa karya-karya Realisme Sosialis sebagaimana yang dipakemkan oleh Uni Soviet, seperti dalam contoh cerpen Pesta Rakyat tadi, justru tidak mempunyai kualitas realisme sama sekali. Cerpen tersebut hanya berupa penulisan ulang, atau semacam laporan deskriptif atas suatu acara di kampung-kampung yang dilakukan oleh PKI. Dengan begitu, maka menjadi wajar bila cerpen tersebut tidak menunjukkan suatu pembacaan lebih mendalam atas suatu kondisi objektif  di masyarakat. Atau, tak ada ‘refleksi kesadaran’ di dalam cerita pendek yang penuh slogan komunisme tersebut. Dengan kata lain, dimensi-dimensi propaganda-sloganistis dari pakem Uni Soviet itu sendiri yang membuat karya Realisme Sosialis menjadi jauh dari realisme itu sendiri.

Berbeda misalnya dengan cerita pendek Buntut Baginda tadi. Meskipun tak satupun kosakata komunisme dalam cerita pendek tersebut, namun ada suatu refleksi kesadaran yang dihadirkan dalam kisah-kisahnya, bahkan tanpa terjebak oleh sloganisme. Cerita pendek tersebut secara fenomen menunjukkan suatu kecendrungan masyarakat kita dalam mendongeng sekaligus membuka pintu untuk melihat suatu esensi dari masyarakat yang masih berada antara tradisionalisme dan moderisme. Zubir AA memanfaatkan piranti mendongeng tersebut untuk menunjukkan betapa nilai-nilai feodalisme dalam masyarakat kita sudah tidak relevan lagi dipakai. Dengan cara seperti itu, cerpen tersebut sesungguhnya sudah menjadi realis dalam bentuk dalam pengertian ia tak hanya menulis ulang fenomena, dan menjadi sosialis dalam isi karena ia bertendensi untuk anti-feodalisme.

Akhir kata, dengan menggunakan pandangan Lukacs untuk melihat praktik Realisme Sosialis di Indonesia tersebut, terutama melalui dua cerita pendek tersebut, maka kita dapat keluar dari konflik Realisme Sosialis di Indonesia yang hanya berkutat pada persoalan mendukung dan tidak mendukung sastra yang sloganistik. Artinya, baik para penentang ataupun pendukung sastra sloganistik, sama-sama ‘tidak benar’ dalam memandang Realisme Sosialis. Lewat pandangan Lukacs, Realisme Sosialis justru bisa diselamatkan dari jebakan naturalisme, dan kembali ditekankan prinsip realisme itu sendiri.

catatan kaki

[1] Harian Rakjat, 4 Mei 1955.

[2] Harian Rakjat, 19 Juli 1956.

[3] Soetomo, G. (2003). Krisis Seni, Krisis Kesadaran. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

About the author

Penulis puisi dan prosa. Kini masih belajar Cultural Studies di Universitas Indonesia, Depok.