Pada malam hari, Desa Rimba diguyur oleh hujan lebat. Di dalam salah satu rumah warga tersebut, tampak Arif sedang sibuk melihat ponselnya. Ia mencari kontak Rendi. Beberapa saat setelah menemukannya, ia menekan tombol panggil. Dalam hitungan detik, terdengar nada suara monoton yang berulang kali dari ponselnya,

Tuuuttt…

“Iya, halo, Rif…” jawab Rendi dengan suara agak malas.

“Dari mana saja kau, Ren. Katanya jam sembilan mau datang ke rumah?” tanya Arif sembari memandang jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 21.15.

“Oh, maaf, Rif. Saya ketiduran dari sore.”

“Ah, sudahlah. Ayo cepat kita jaga ronda sekarang. Nanti Pak RW bisa ngamuk kalau melihat kita tidak ada di pos kamling. Langsung bertemu di pos saja, ya?” seru Arif.

“Oke,” jawab Rendi singkat.

Panggilan dimatikan.

Sesaat setelah menelepon Rendi, Arif segera membuka lemarinya. Mengambil jas hujan yang ditaruh di antara tumpukan jaket, ia kenakan, dan segera berangkat menuju ke pos. Baru saja lima langkah beranjak dari rumah, ia lupa membawa senternya. Ia balik lagi. Mengobrak-abrik lemarinya. Setelah menemukan senter dari dalam laci, ia kembali pergi. Baru saja tujuh langkah beranjak dari rumah, ia lupa membawa pentungannya. Kemudian ia balik lagi. Dengan tergesa-gesa ia mencari pentungan di kamarnya. Setelah menemukan pentungan di balik pintu kamar, ia kembali beranjak pergi. Baru saja sepuluh langkah beranjak dari rumah, ia lupa membawa obat nyamuk olesnya. “Alah, kontol. Bodo amat!!!” gerutu Arif sambil berjalan cepat menuju ke pos.

***

Setelah mendapat telepon dari Arif. Rendi langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia sempatkan membuka tirai jendela kamarnya sejenak. Baru ia sadari, ternyata sedang turun hujan lebat. Ia pun segera mengambil jas hujan miliknya yang berada di kolong tempat tidur, dan segera berangkat dengan cepat menuju pos.

Pos kamling yang berada di Desa Rimba itu dibangun oleh warga dari hasil gotong royong. Pos tersebut terbuat dari bambu yang didesain sedemikian rupa, kemudian dicat berwarna kuning — warna partai yang disukai oleh Pak RW. Ketika Rendi sampai tujuan, ia tidak menemukan Arif berada di pos. Sambil menunggu kedatangan Arif, ia pun berinisiatif untuk menyetel televisi yang kebetulan disediakan oleh Pak RW agar para penjaga malam memiliki hiburan.

Televisi dinyalakan. Warna layar berubah menjadi cerah. Tayangan sinetron Tukang Bubur Naik Sepeda terlihat. Dengan bosan Rendi lalu mengganti saluran televisi. Kemudian tayangan itu berganti menjadi Ekspedisi Alam Iblis. Ia menggelengkan kepalanya sejenak. Ia tetap meneruskan mengganti salurannya. Kini tayangan berganti menjadi FTV berjudul Satu atau Dua, Aku Cinta Tiga-tiganya. Tampak wajah Rendi sudah mulai muak melihat televisi. Namun ia masih tetap sabar untuk mencoba mengganti saluran yang lain. Tombol remote terus ditekannya berulang-ulang, tapi tak kunjung ia temukan tayangan yang pas dengan dirinya. Dan tayangan terakhir dari saluran televisi itu adalah Siluman Kera Putih.

“Anjing!” kata Rendi dengan geram. Ia membanting remote televisi yang digenggamnya hingga terbelah menjadi delapan bagian. Ia menjadi kalap. Ia belum puas. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan mencari linggis ke arah belakang pos kamling. Setelah ia menemukannya, tanpa pikir panjang lagi, layar televisi itu langsung ditombaknya berkali-kali. Terus-menerus, sampai pecah berkeping-keping. Bila dilihat dari kejauhan, ia tampak seperti seorang yang sedang kehilangan akal sehatnya.

“Hei, Rendi. Apa-apaan kau ini, apa kau sudah gila!!” teriak Arif yang baru saja datang.

Rendi pun dibuat terkejut, “Aku muak melihat tayangan televisi ini.”

“Ya, kalau kau muak kan tinggal kau matikan saja televisinya.”

“Nah, ini makanya aku matikan televisinya!” jawab Rendi.

Arif bertolak pinggang sambil menggelengkan kepala, “Bukan seperti itu maksudku. Tapi tinggal tekan tombol ‘power’ di remote saja.

“Alah, kontol. Bodo amat!!!”

***

Setelah rasa muak Rendi reda, mereka berdua duduk di pos kamling sambil bercerita santai. Acap kali salah satu dari mereka pernah menceritakan hal yang sama untuk diceritakan, namun mereka tetap saling mendengarkan satu sama lain. Bukan karena mereka berdua adalah pendengar setia, tapi karena saking tidak ada hiburan lagi, oleh sebab itu salah satu dari mereka akan tetap mendengarkan cerita tersebut sampai habis, walau sudah mendengarnya dua puluh lima kali.

Hujan lebat di Desa Rimba akhirnya berhenti. Tinggallah sisa tetesan air yang menetes di ujung genteng pos kamling. Suasana begitu sunyi. Hanya serangga yang berbunyi. Para pasukan kabut pun sudah sibuk berdatangan, mengaburkan pandangan setiap orang, bak mata kita saat bangun di pagi hari: buram. Di ujung gang, terlihat ada seorang pria yang berjalan gontai menuju ke arah pos kamling. Bayangannya terlihat kecil dari kejauhan. Detik-detik pun berlalu. Bayangan itu berubah menjadi besar, terus membesar, dan kian jelas oleh dua pasang mata. Setelah pria itu tiba di depan pos kamling, ia menghampiri Arif dan Rendi yang tengah asyik bercerita.

“Permisi, Mas. Maaf, saya mau numpang duduk di sini, boleh nggak?” tanya pria itu dengan sopan pada Arif dan Rendi.

“Oh, iya. Silakan saja, Mas,” jawab Arif.

“Terima kasih, Mas.”

Mereka bergabung dan saling berkenalan. Diketahui oleh mereka berdua bahwa nama pria tersebut adalah Suhendra. Pakaian Suhendra kala itu terlihat begitu kumal. Aroma badannya pun terasa tidak sedap di hidung. Tapi mereka hanya diam saja. Mereka berdua sama sekali tidak mengenali sosok Suhendra. Wajahnya sangat asing bagi mereka, sebab Suhendra bukan warga Desa Rimba. Kalau ia adalah warga Desa Rimba, mereka berdua pasti sudah hafal dengan wajahnya. Tidak hanya wajah saja, bahkan sampai ke setiap sandal warga, mereka pun hafal.

“Mas, tinggal di mana?” tanya Rendi pada Suhendra.

“Kalau aslinya saya tinggal di kota seberang. Saya seorang perantau, Mas. Ya, beginilah nasib seorang perantau yang gagal. Saya sekarang tidak punya tempat tinggal, Mas,” jawab Suhendra.

Sesaat setelah Suhendra menjawab, Rendi memandang sinis padanya. Ah, pasti orang ini hanya berpura-pura saja sebagai perantau, agar bisa membobol salah satu rumah warga dan bisa merampoknya, tutur Rendi dalam hati.

“Ya, memang beginilah, Mas. Sekarang memang sangat susah untuk mencari kerja yang layak. Apalagi tidak mempunyai ijazah sarjana,” seru Arif membuka obrolan.

“Ah, kata siapa?! Saya saja sudah mempunyai ijazah sarjana tapi malah jaga ronda begini. Ijazah tidak menjamin seseorang untuk bisa mendapat kerja yang layak, kok,” tampik Rendi.

“Nah, itu sebabnya saya benci sekali dengan para pemimpin perusahaan saya ini, Mas. Keuntungan yang mereka dapat jauh lebih banyak. Bahkan para pegawainya terkadang disuruh untuk bekerja lembur, demi keuntungannya bisa bertambah semata. Tapi mereka tak memedulikan tenaga pegawainya itu yang bekerja sepuluh sampai dua belas jam sehari. Mereka pikir manusia sama dengan robot? Tapi saya akui, zaman sekarang sih kalau tidak mempunyai kenalan di perusahaan, memang sangat susah untuk mendapatkan kerja, Mas,” tutur Suhendra.

Kala itu Rendi mengambil rokok dari kantong celana, lalu membakar dan mengisapnya dalam-dalam. Diembuskan asap rokok itu dengan tenang seraya berkata, “Ya, kalau Mas mau benci, jangan sama orangnya, dong. Tapi bencilah sistemnya. Sistem ekonomi kitalah yang membuat mereka melakukan hal yang seperti itu.”

Suhendra hanya diam saja, tak menjawab lagi. Ia memandangi Rendi yang tengah asyik mengepulkan asap rokoknya di malam yang dingin. Asapnya makin lama makin tebal, menyelip di antara kabut. Mungkin Suhendra berpikir betapa nikmatnya merokok pada saat itu.

Keheningan pun merayapi mereka bertiga sesaat.

“Oiya, ngomong-ngomong kenapa kau tadi lama sekali sampai di pos, Rif?” tanya Rendi memecah keheningan mereka.

“Oh, itu, tadi sebenarnya saya sudah buru-buru, tapi senter dan pentungan saya ketinggalan. Jadi saya bolak-balik lagi ke rumah untuk mengambilnya.”

“Lho, ngapain kau bawa senter dan pentungan? Kan kemarin Pak RW sudah menyediakannya di pos. Itu barangnya ada di pojok sana. Makanya saya tidak membawa perlengkapan lagi dari rumah,” seloroh Rendi sambil menunjuk ke arah pojok pos kamling.

Arif menepuk jidatnya dengan kencang, “Alah, kontol. Bodo amat!!!”

***

Seperti malam sebelumnya, mereka berdua saling bergantian saat berjaga malam. Saat Arif bertugas untuk berkeliling ke rumah warga, Rendi akan menunggu di pos kamling, begitu pula sebaliknya. Dan saat itu adalah giliran Arif untuk berkeliling. Jadi, di pos hanya tinggal Rendi dan Suhendra saja.

“Mas, sudah berkeluarga belum?” tanya Suhendra ketika sedang berdua dengan Rendi di pos kamling.

Rendi tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, “Belum, Mas. Kalau saya berkeluarga, nanti anak saya mau makan apa? Gabah? Masak anak saya nggak ada bedanya sama ayam peliharaan, sih.

Mereka berdua tertawa.

“Lah, kalau Mas sendiri memangnya sudah berkeluarga?” Rendi menanyakan balik padanya.

Suhendra terdiam sejenak. Wajahnya seketika berubah menjadi murung, “Dulu saya punya sih, Mas. Tapi sekarang sudah tidak.”

Rendi mengangguk-angguk, mencoba memahami apa yang dimaksudkan oleh ucapan Suhendra. Tak berselang lama, Arif kembali datang dengan membawa beberapa renceng kopi.

“Asyik, malam ini kita bisa ngopi, nih,” ucap Arif dengan senang sambil memamerkan kopi tersebut pada Rendi dan Suhendra.

“Kopi dari mana kau, Rif? Awas ya, jangan sampai itu kopi curian. Kita di sini untuk menjaga keamanan, bukan malah membuat keadaan menjadi tidak aman,” ujar Rendi sedikit ketus.

“Tenang saja, Ren. Tadi saya diberikan kopi ini oleh Pak Haji Hasan saat lewat di depan rumahnya.”

Mereka bertiga pun menyeduh kopi tersebut. Menuangkan air panas di cangkir, mengaduknya secara perlahan, serta menikmatinya bersama-sama. Ah, bukankah menikmati secara bersama-sama itu jauh lebih nikmat ketimbang menikmatinya sendirian?

“Maaf nih, Mas, sebelumnya, saya pengin sekadar nanya saja. Mas nggak membawa baju atau barang-barang lain sewaktu pergi dari rumah?” tanya Arif pada Suhendra sembari menyeruput kopinya yang sudah mulai terasa hangat.

Suhendra tersenyum sebentar, “Oh, saya memang tidak sempat membawa barang lain. Baju juga hanya tinggal yang satu ini saja. Memang baju ini sudah sangat terlihat kumal. Karena sewaktu saya kecelakaan mobil, saya memakai baju ini juga. Jadi mungkin terlihat sangat rusak.”

“Hah, kecelakaan mobil? Memang Mas punya mobil?” sambung Rendi.

Suhendra meminum kopinya sejenak, lalu menjawab, “Iya, dulu saya punya mobil. Sewaktu saya masih kerja di perusahaan minyak.”

“Wah, enak sekali sempat merasakan membawa mobil. Saya saja dari kecil belum pernah tahu bagaimana rasanya membawa mobil, Mas. Ya, tapi untung deh, Mas masih bisa selamat dari kecelakaan mobil,” tutur Arif sambil menatap mata Suhendra.

“Selamat apanya?! Setelah kecelakaan itu mayatku lalu dikubur enam bulan yang lalu.” ♦

Pondok Gede, 17 Agustus 2017

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts