Suri rela berbagi hati dengan perempuan lain asal orang itu mau rambutnya digundul. Sardono, yang awalnya semringah, mendadak mesem. Lalu meringis.

“Aku bersedia Mas Sar poligami asal perempuan itu menggunduli rambutnya. Bahkan aku rela jatahku lebih sedikit ketimbang dia, entah duit entah nafkah ranjang. Kalau ia tidak mau membotak rambut, aku tidak sudi dimadu. Emoh.”

Telah tiga puluh tahun Sardono memperistri Suri. Pasang surut karier Sardono di suatu dirjen mereka lewati dengan penuh ketabahan. Suri bahkan harus membagi waktu menjadi pedagang perkakas rumah tangga.

Tahun demi tahun, buah dari ketabahan pun mereka petik. Karier Sardono merangkak naik. Kesederhanaan yang mereka jadikan pandu hidup menyokong keluarga ini mengarungi kerasnya Jakarta. Dua orang putera lahir dari rahim Suri di sepuluh tahun pertama usia pernikahan. Mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar dan jatmika.

Kenken, si sulung, langganan beasiswa sejak SMP. Kini telah berkeluarga dan berkarier sebagai insinyur di perusahaan oil’n’gas. Rano, putera kedua, sedang menempuh pendidikan S2 di Jerman, juga berkat beasiswa.

Anak mereka yang ketiga, Risa, lahir di tahun ketigabelas pernikahan. Menjadi satu-satunya anak perempuan di keluarga, kehadirannya menjadi pelengkap kebahagiaan Risa dan Sardono.

Betapa celaka, delapan tahun lalu Risa memutuskan untuk berhenti bicara. Risa menyaksikan sebuah peristiwa yang seharusnya tidak disaksikan seorang bocah. Si bungsu memutuskan untuk menjalani hidup dengan membisu.

Dedaun dan ranting-ranting di pekarangan rumah mereka yang megah itu menggisil, mengisi kekosongan di rumah keluarga yang telah lama tidak berbahagia itu.

***

Suri mengetahui keliaran Sardono: kegemarannya berbagi ranjang. Padahal segala kemauan suaminya ia patuhi. Lelaki asal Ngawi yang dulu menjalani hidup secara ugahari telah terkontaminasi alai-belai ibukota yang profan.

Suri menuruti segala titah Sardono layaknya prajurit Jepang melakukan bushido: Patuh sekaligus bungkam. Tidak ada protes apalagi makian. Suri menjadi martir di keluarga itu, sendirian menahan perih.

Pernah di suatu masa ia memangkas pendek rambutnya. Jakarta kota yang panas. Di sela-sela kesibukan mengurus anak dan berdagang, ia sering merasa gerah. Ia butuh merasa bebas.

“Lihat. Seperti Yuni Shara, kan? Aku tetap cantik, kan, Mas Sar?” kata Suri, “lagipula kalau begini jadi lebih adem.”

“Aku menghamba dirimu dan rambut panjangmu, Suri,” tukas Sardono sambil terbelalak.

Ranjang yang dingin tak bisa membohongi. Sardono terlihat begitu enggan menyentuh Suri. Diam-diam Suri menyesal. Tahu begini takkan kupotong! Suri melenguh kesal dan ranjang pun terasa semakin dingin.

Rambut pendek Suri menjadi alasan bagi Sardono untuk kembali bermain gila. Ia mengunjungi rumah bordil seperti peziarah menemukan mata air. Ia merasa istrinya tak lagi piawai memuaskan berahi. Suri semakin bungkam. Sardono merasa menang. Sardono senang bukan kepalang.

“Kau takkan rela jika aku ceraikan, Suri. Jangan salahkan aku. Kau tak memahami gejolak lelaki. Aku masih mencintaimu, tentu, tenang saja. Sama seperti dulu,” kata Sardono.

Suri hanya mengangguk. Sardono, merasa sedikit bersalah, mengelus dagu sang istri, lalu tidur dengan lelapnya.

Kenken, Rano, dan terutama Risa adalah alasan bagi Suri untuk bertahan. Sekejam apapun perlakuan Sardono, hati Suri kembali bungah hanya dengan melihat polah ketiga buah hatinya. Tahun demi tahun bertumbangan, musim demi musim pun gugur. Seperti induk burung, Suri harus merelakan Kenken dan Rano terbang keluar sarang. Mereka berdua telah tumbuh menjadi laki-laki. Suri hanya berharap agar jejak busuk Sardono tak mereka ikuti.

Praktis Risa menjadi tempat di mana segalanya tercurah. Ia menyisiri rambut si bungsu sebagaimana ibunya menyisiri dirinya dulu, pula membalurinya dengan minyak urang-aring secara telaten.

“Enak ya Buk, kalau dewasa nanti aku seperti Mas Kenken. Kerja di luar negeri, gajinya juga banyak. Eh, tapi seperti Mas Rano juga boleh, deh. Aku senang membaca dan selalu ranking. Lagipula aku nggak bisa jika harus berpisah dengan Ibuk,” celoteh Risa di suatu sore.

“Apapun Risa. Kuizinkan kamu menjadi apapun yang kamu inginkan. Perempuan juga harus berani dan mandiri. Jika kamu lakukan dengan hati yang tulus, semua menjadi mudah dan penuh berkah,” wejang Suri sambil memijit tengkuk Risa. Kala itu si bungsu sedang sakit. Sardono telah seminggu tidak pulang dan kedua puteranya tidak lagi tinggal di rumah. Risa dan Suri saling memiliki di tengah sepi.

Beberapa tahun kemudian, saat Lebaran baru lewat satu minggu, mereka berencana menghabiskan waktu di rumah orangtua Sardono di Ulujami. Ini menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul dan mencurahkan kangen.

Sardono serta merta membatalkan rencana. Ada panggilan mendesak yang datang dari luar kota, katanya. Kehadiran Sardono dibutuhkan dan ia merasa lebih terpanggil untuk menjawab tuntutan kerja.

Bak bisul yang pecah, prahara itu pun terbongkar, setelah selama ini hanya berwujud pertanda. Risa memergoki bapaknya di ranjang, telanjang, berdua dengan perempuan yang tidak ia kenal. Risa kembali karena buku PR-nya tertinggal di rumah. Sardono sedang tidak bertugas di luar kota. Ia hanya kebelet memuaskan berahi. Sambil meraung ia meminta kepada supir keluarga untuk kembali mengantarnya ke Ulujami. Itulah hari di mana Risa bertekad membisu sepanjang hayat.

***

Inilah hari itu. Hari di mana Sardono membawa Sherly, perempuan yang hendak ia madu. Sherly menyanggupi syarat dari Suri untuk menggundul rambutnya. Gadis sembilan belas tahun itu berpikir bahwa toh ia nanti bisa menutupi kepala gundulnya dengan kerudung. Masa depannya sebagai istri muda sang amtenar kaya akan tetap mengada.

“Kau harus ingat bahwa ini merupakan kerelaanmu, Suri. Kau setuju aku berpoligami dengan syarat yang kau berikan ini. Dan kau, Sherly. Kuharap kau menjalin hubungan dengan istri pertamaku sebagaimana hubungan adik dengan kakaknya,” ujar Sardono laksana kepala suku membuka upacara.

Lantas muncul suara dari bibir Suri, “Dik Sherly bisa bertanya soal apa saja kepada saya. Mbak yakin Mas Sar dapat berlaku adil kepada kita berdua. Aku menghargai bahkan mensyukuri keputusan Mas Sar mengangkatmu sebagai istri. Kamu ikhlas, kan?”

“Saya ikhlas, Mbak Suri,” perempuan itu mengulum senyum.

“Kalau begitu kita mulai saja proses ini. Apa yang perlu aku siapkan?” seloroh Sardono.

“Tidak ada yang perlu dipersiapkan. Dik Sherly bisa mulai menggundul rambutnya. Aku tidak akan tertawa,” seloroh Suri.

“Baiklah,” Sherly mengacungkan gunting, mengarahkan ke rambutnya yang panjang dan legam.

Cekress..

“Hi hi hi hi hi. Eh, maaf.”

Cekress.. Sak, sak, sak!

“Hi hi hi hi hi, ini lucu sekali. Eh, maaf.”

“Hi hi hi hi hi, aduh aduh. Hi hi hi hi. Maaf, maaf.” Suri terus ber-hihihi seperti penonton pertunjukan lawak. Sardono melotot, memberi isyarat pada istri tua untuk menghentikannya. Sherly kini memandang Suri penuh amarah. Musnah sudah kata-kata manis yang mereka ungkapkan tadi. Keduanya adalah musuh bagi yang lain. Tidak boleh ada matahari kembar.

Cekress..

Hi hi hi hi. Aduh, aduh.”

Cekress.. Sak, sak, sak!

Ingin rasanya Sardono menggampar mulut Suri. Namun layaknya orang yang mabuk jamur tahi sapi, sekujur tubuhnya terkunci. Ia cuma bisa melotot. Berkata pun tidak bisa. Geligi di mulut seperti kompak membebat rahang Sardono. Keanehan macam apa?!

Tubuh Suri bergoncang sedemikian hebat. Sudah belasan tahun Suri tidak sebebas dan sebahagia ini.

Seiring dengan menipisnya rambut Sherly, tubuh segar Suri pun menciut. Sardono semakin terbelalak dan berharap ini semua hanya mimpi. Kedua tangan Suri mengerut sedemikian ajaib, seperti yang biasa terjadi di film-film fantasi. Dan ia masih terus ber-hihihi. Semakin keras, semakin cepat tubuhnya menciut.

Tangan Sherly makin cekatan memangkas rambut. Ia tertawa terbahak-bahak. Si sundal ini mau mati, mungkin ia dikutuk Tuhan, katanya dalam hati. Cekress, cekress, cekress. Sak, sak sak. Gunting telah menyentuh pori-pori, dan Sherly terus saja menggerakkan benda tajam itu di kepalanya.

Darah muncrat tak keruan, Sherly tetap tak peduli. Jika darah dan derita bisa melenyapkan perempuan sundal ini, maka jadilah. Sardono bisa membawanya ke dokter terbaik untuk menyembuhkan luka di kepala.

Plop! Apa yang tadinya manusia, kini hanya menyisakan rambut dan kedua bola mata. Suri menjelma makhluk aneh, jatuh bertelungkup dengan posisi rambut terbelah dua, lantas berkepak-kepak laksana burung.

Terdengar suara berdebam tiba-tiba. Dari kamarnya di lantai dua, Risa, gadis yang telah delapan tahun mengunci mulut serta merta menjerit kesenangan, “Ibuuuuuk!!!”

Seperti anak kecil berebut layangan, Risa juga memutari ruangan, mengikuti arah sang burung. Kepakan sayap yang juga rambut itu semakin sebat dan tegas, melayang-layang ke seantero sudut.

“Gundul gundul pacul cul, gembeeeleengan. Gundul gundul pacul cul, gembeeeleengan. Gundul gundul pacul cul, gembeeleengan..” gerak dan bibir Risa menimpali kepak sang burung dengan riang.

Setelah kira-kira sepuluh putaran, Suri dan Risa menyongsong pintu depan, menyambut matahari baru. Keduanya telah terbebas dari kerangkeng. ♦

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts