Jakarta, 2017

Jakarta di awal bulan Mei diawali dengan langit gelap. Mendung. Abu-abu. Mentari dari ufuk timur belum bersedia terbit menyinari bumi. Udara dingin bekas hujan semalam masih meneror manusia-manusia hingga mereka enggan beranjak dari ranjangnya masing-masing. Aroma tanah basah tercium di sepanjang jalanan yang becek. Di sebuah masjid, beberapa orang baru saja menunaikan ibadah salat subuhnya. Hebat nian. Di udara seperti ini, kala banyak manusia memilih untuk meringkuk di balik selimutnya, beberapa orang itu masih sempat menghadap Sang Pencipta di rumah-Nya. Seratus meter dari masjid tersebut, mbok-mbok penjual jamu berjalan berduyun-duyun seperti rombongan bebek di tengah sawah. Mulut mereka tak henti-hentinya menembangkan lagu-lagu Jawa. Mereka tampak riang. Tidak peduli dengan beban yang mereka panggul. Keriangan mereka disambut siulan-siulan genit dari tiga pengendara ojek pangkalan yang sedang asyik mengunyah pisang goreng dan menyeruput kopi hitam.

Tidak jauh dari pangkalan ojek, tepatnya di sebuah komplek perumahan yang cukup bonafide, sebuah sedan Toyota Yaris berwarna merah marun keluaran tahun 2010-an terparkir di sebuah rumah besar berwarna putih gading. Seorang pemuda berambut ikal keluar dari sedan itu. Namanya Reza, seorang sopir mobil daring. Sambil menyulut rokok, dia menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Sesekali dia menatap refleksi dirinya di kaca jendela mobil. Pagi ini dia hanya sempat menggosok gigi dan membasahi wajahnya saja. Tidak sempat mandi. Dia tidak mau membuat pelanggan menunggu lama. Lagipula, membasuh tubuhnya di pagi dingin seperti ini malah akan membuatnya ngantuk dan malas untuk bekerja.

Tak lama kemudian seorang gadis keluar dari rumah. Tanpa memerhatikan Reza sedikit pun, gadis itu bergegas beringsut masuk ke dalam mobil. Reza tersenyum kecut. Dia membuang puntung rokoknya ke genangan air di depannya, lalu dengan sigap masuk ke dalam mobil. Aroma parfum mahal menyergap Reza saat dia duduk di kursi kemudi. Reza sudah sering mengendus berbagai macam aroma parfum, dari yang paling mahal sampai yang murahan sekali pun. Tapi aroma parfum gadis ini terasa famililar. Reza sudah seperti mengenal aroma ini bertahun-tahun lamanya.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Parfum perempuan di mana-mana kan sama saja, batin Reza.

“Bandara Soekarno-Hatta kan, mbak?” tanya Reza memastikan.

“Aku ingin mampir di satu tempat dulu,” kata gadis itu pelan.

“Oh? Jadi?”

“Jalan saja. Nanti biar kuberi tahu.”

Reza mengangguk kecil. Mobil miliknya melaju mulus di jalan raya yang belum terlalu padat. Sesekali Reza melirik ke kaca spion, memerhatikan rupa si gadis penumpang. Gadis itu berambut hitam sebahu. Dia mengenakan kaos bergambar putih dengan luaran tanpa lengan berwarna pastel lengkap dengan tas tangan yang Reza taksir bermerek mahal, semahal parfumnya. Semahal pembawaanya yang angkuh. Kaca mata hitam yang menyembunyikan dua buah bola matanya menambahkan kesan keangkuhan dalam dirinya. Kata orang-orang, mata adalah jendela jiwa. Jika benar begitu, maka gadis ini tak ubahnya seperti ruangan yang pengap, dengan jendela yang tertutup tirai hitam. Jiwanya tertutup. Masih tertutup. Karena itulah, dari tadi Reza tidak bisa menebak gelagat atau membaca karakter dari penumpangnya ini.

Sedan Reza melintas di depan sebuah universitas swasta tempat Reza berkuliah jurusan seni rupa lima tahun yang lalu. Tiap dia melintasi kampusnya, Reza selalu terngiang-ngiang percakapan dengan Ayahnya.

“Untuk apa kamu masuk jurusan seni rupa? Mau jadi apa kamu memangnya? Seniman? Pelukis? Jangan bercanda, Reza! Masuk saja jurusan yang pasti-pasti. Seperti akutansi. Atau sastra seperti ibumu biar nanti bisa jadi dosen sekalian. Dengan IPK tiga koma, kamu akan cepat dapat kerja. Dengan cepat dapat kerja, kamu bisa cepat menikah.”

“Saya tetap mau masuk jurusan seni rupa, Pak,” balas Reza pelan.

“Baiklah kalau itu maumu. Ayah akan tetap membiayaimu sampai kamu lulus. Tapi Ayah tidak mau tahu kalau masa depanmu hancur. Kamu urus sendiri hidupmu.”

Reza mengusap pelan wajahnya. Lamunannya yang tadi hinggap ke momen tersebut perlahan luntur. Larut ke dalam kolam memori bersama melodi-melodi “Gravity” dari John Mayer yang terdengar dari pelantam mobilnya.

“Mas, mampir ke kedai kopi di depan, ya,” kata si gadis penumpang tiba-tiba.

“Bukannya pesawat mbak sebentar lagi akan lepas landas?”

“Tidak usah banyak cakap. Tepikan mobilmu,” balas gadis itu datar. “Dan jangan panggil saya “mbak”. Nama saya Alana.”

“Maaf.”

Reza menyalakan lampu sen ke arah kiri, lalu segera memutar kemudi mobilnya. Seorang tukang parkir bertopi hansip bangkit dari kursinya. Kemudian dengan gaya bak bocah pramuka yang sedang berlatih dengan bendera semapur, dia mengarahkan Reza memarkirkan sedannya. Padahal saat itu tempar parkir sedang sepi. Tanpa dibimbing pun Reza bisa memarkirkan mobilnya dengan mudah, tapi si topi hansip tidak mau kehilangan mangsanya.

Mobil menepi. Reza menarik rem tangan, lalu mematikan mesin mobilnya. Dia menunggu si gadis keluar dari mobil. Namun gadis itu enggan beranjak. Dia malah membuang tatapannya ke luar tanpa bergerak sedikit pun.

“Mbak Alana, kita sudah sampai,” ujar Reza.

Gadis itu melengos, dia menatap Reza.

“Kamu mau temani saya di dalam?” tawarnya.

Reza tersenyum kecil. Sebagai pemuda yang cukup tampan, sudah acap kali Reza mendapat tawaran-tawaran seperti itu dari gadis-gadis SMA, ayam kampus, atau tante-tante kesepian. Mulai dari sekadar makan malam, nonton, sampai bermain cinta di atas ranjang hotel berbintang. Tapi semua itu Reza tolak dengan halus. Walau hanya menjadi sopir mobil daring, Reza tetap ingin bekerja secara profesional.

“Mengapa kamu tolak?” tanya Alana geli saat mereka berdua sudah duduk berseberangan di meja. Entah angin apa yang membuat Reza tak sanggup menolak ajakan gadis bernama Alana ini. Sampai saat ini dia masih tak mengerti, dan membiarkan pertanyaan di benaknya itu tercabik-cabik dikunyah waktu.

Biarlah. Toh hanya menemani dia makan. Aku juga mengantuk sekali. Setelah secangkir kopi ini kutandaskan, aku akan pergi, batin Reza.

“Yah, aku hanya tak mau saja,” jawab Reza rikuh.

“Lantas kenapa kali ini kamu tak menolaknya?” kejar Alana.

Reza mengangkat kedua bahunya.

Alana tersenyum kecut. Dia mengurut kedua kelopaknya matanya dengan jari-jari kanannya. Wajahnya yang lelah terlihat jelas setelah dia melepaskan kacamata hitamnya. Kesempatan itu diambil Reza untuk memerhatikan sosok Alana lebih rinci lagi. Dia benar-benar merasa mengenal gadis yang duduk di depannya ini. Dia pun tahu kalau Alana sebenarnya mengenal dirinya, dan itulah alasan dia mengajaknya menepi.

Tapi kenapa dia bungkam? Apa dia ingin aku yang maju duluan?

“Alana. . “

Alana mengangkat wajahnya. Sinar mentari pagi menerangi wajahnya hingga kedua bola matanya yang berwarna cokelat terlihat bersinar. “Ya?”

“Maaf sebelumnya. Tapi apa kamu mengenalku? Maksudku sebelum hari ini. Karena aku merasa pernah melihatmu, tidak, aku bahkan merasa mengenalmu. Tapi aku tidak begitu ingat detailnya.”

“Lalu apa yang kamu ingat?”

Reza mengambil sebatang rokok kretek dari saku kemeja, lalu menyulutnya. “Entahlah. Hanya fragmen-fragmen kecil. Tunggu dulu, kamu benar mengenalku?”

Alana tersenyum misterius. Dia mengangguk.

“Ya, aku mengenalmu. Sangat mengenalmu.”

“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatmu dengan jelas, ya?” Reza mengernyitkan dahi.

“Memori manusia itu terbatas. Secara otomatis memori akan menyeleksi, mana kotak-kotak kenangan yang akan tetap disimpan dan mana kotak-kota berdebu yang sudah harus dibuang.”

Reza menanggapi perkataan Alana dengan mengembuskan asap rokok ke atas. Di balik asap-asap nikotin yang mulai pecah dan berbaur bersama udara, Reza berusaha mencari tahu di mana dia menyimpan kotak kenangan tentang Alana. Sayangnya, dia tidak mampu menemukannya. Mungkin kotak itu telah terbuang. Dia menyesal tidak merawat kotak tentang Alana.

“Jikalau begitu, dapatkah aku memiliki kotak kenangan yang telah terbuang itu?”

Alana menguap, lalu mengusap matanya yang berair. “Apa itu penting? Toh aku di sini sekarang. Kamu bisa menanyakan apa saja yang kamu mau tahu tentangku.”

“Tapi sepertinya kamu tidak berminat untuk mengembuskan semua tentang dirimu padaku. Apa lagi kau akan lepas landas.”

Alana tidak mengindahkan perkataan Reza. Benaknya sudah melayang jauh menembus ruang dan waktu. Yang dia ingat saat ini hanyalah sebuah kamar hotel, tempat dia bercinta dengan kakak iparnya untuk kesepuluh kalinya setahun yang lalu. Sampai sekarang, Alana masih menyimpan kotak-kotak kenangan berisi desah, rintih dan juga sesal tersebut. Kotak-kotak yang sebenarnya ingin dia enyahkan tapi tak bisa. Kotak-kotak, yang sialnya, menuntut Alana untuk memesan tiket pesawat menuju Tokyo, tempat mantan suaminya bekerja sekarang. Kotak-kotak yang memaksanya untuk membawakan sekeranjang bingkisan berisi sepotong permintaan maaf.

Mungkin, kotak berisi sesal tidak akan pernah terbungkus jika suaminya tidak memergoki mereka saat itu. Mungkin juga jumlah persetubuhan mereka akan bertambah. Atau mungkin juga kehidupan rumah tangga Alana tidak retak, dan tidak perlu direkatkan.

Namun, Alana tahu memaafkan adalah pekerjaan yang berat. Hanya manusia setengah dewa yang mampu memaafkan perbuatan laknatnya itu. Dan Alana tahu suaminya hanya manusia tipikal. Manusia awam. Karena alasan itulah, Alana menepi dan memutuskan untuk mendarat lebih awal di sebuah kedai kopi bersama seorang sopir mobil daring yang kebetulan dia kenal.

“Alana? Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat,” desis Reza membuyarkan renungan Alana.

“Aku tidak apa-apa. Hanya. . “

Kata-kata Alana tertelan suara klakson telolet sebuah bus yang tidak jauh melintas dari kedai kopi, hingga Reza tidak bisa mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Alana, dan dia tidak berniat menanyakannya kembali. Begitu juga dengan Alana yang lebih memilih kebungkaman melumat dirinya. Kini keduanya hanya duduk saling berhadapan, bercakap bersama keheningan dengan mata yang tidak saling menatap, tapi malah saling menghindar, sibuk menata kotak-kotak kenangan mereka masing-masing.

***

Suatu pub di daerah Tokyo, 2017

“Sepertinya anda terlalu banyak minum, Nak,” ujar seorang bapak berambut putih kelabu kepada seorang pemuda di sebelahnya. Wajah pemuda itu berwarna merah keunguan seperti jus buah naga. Aroma tubuhnya dipenuhi bau sake yang entah sudah berapa liter dia tenggak. Matanya menyipit karena menahan mabuk. Kekalutan menyelubungi wajahnya. Rambutnya kusut masai. Si pemuda menatap pria yang menegurnya dengan malas.

Pria itu sudah berusia 50 tahun, tapi perawakannya masih cukup tegap. Sorot matanya tajam. Nada bicaranya pun begitu bersahaja. Sosok pria itu mengingatkan si pemuda dengan ayahnya di Jakarta. Sudah satu tahun ini dia tidak menemuinya. Dengan gajinya yang besar, si pemuda sebenarnya bisa kembali ke Jakarta kapanpun dia mau. Tapi sebuah kenangan pahit selalu menghantamnya telak hingga babak belur kala dia mengingat ibukota negara kelahirannya. Si pemuda lebih memilih untuk tidak menemui kedua orang tuanya, dibanding harus dihajar dengan pahitnya kenangan tersebut.

“Hotel. . “ desis si pemuda.

“Hotel apa, Nak?”

Pemuda itu menggeleng. Dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Kemudian dia menangis. Menangis seperti bayi yang baru lahir. Si bapak yang melihat itu hanya bisa menepuk bahu dan mengusap punggung si pemuda sambil berujar.

“Lepaskan, Nak. Lepas landaskan semua yang membebanimu, seberapa pun pahitnya itu.”

Tidak lama kemudian si pemuda itu tertidur. Tidur pertamanya selama beberapa hari ini.

Si bapak tersenyum kecil. Dia menarik tangannya dari punggung si pemuda yang kuyup oleh peluh. Pemuda yang mengingatkannya dengan anak laki-laki semata wayangnya. Bapak itu mengambil rokok kretek dari saku jaketnya, lalu beringsut keluar dari pub.

Rokok kretek itu adalah rokok yang biasa diisap anak lelakinya. Bapak itu sebenarnya sudah berhenti merokok sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Itu adalah janji pada istrinya kalau anak yang lahir adalah laki-laki. Janji itu pun dia tepati saat si anak lahir. Dia benar-benar tidak pernah merokok satu batang pun.

Waktu terbang dengan cepat. Dua puluh lima tahun kemudian, janji tinggallah janji. Bapak itu kembali merokok usai terlibat perdebatan panjang yang mengakibatkan si anak lari dari rumah. Si istri angkat tangan. Dia tidak berusaha menegur kebiasaan merokok suaminya yang kembali. Dia mengerti kalau itu adalah bentuk pelarian suaminya dari kesedihan karena ditinggal “kabur” anak laki-laki satu-satunya. Sejak saat itu, si anak tidak pernah pulang ke rumah. Si bapak pun tidak pernah berusaha mencari si anak. Sampai akhirnya si bapak bertandang ke Tokyo dalam rangka menemani istrinya yang dosen sastra Jepang melakukan riset kebudayaan.

“Pak, ayo kita pulang,” suara lembut sang istri menyadarkan lamunan si bapak.

Si bapak bergeming. Dia bahkan tidak menoleh. Matanya terus tertuju pada batang rokok yang dia pegang. Gamang. Ada kerinduan yang memberontak di tatapan si bapak.

Dahi si istri berkerut. Bingung melihat tingkah si bapak.

“Bapak kenapa?” tanya si istri. Matanya ikut tertumbuk pada objek yang berada di tangan suaminya. “Loh, bukannya rokok bapak itu rokok mentol? Kok yang bapak pegang itu kretek?”

Si bapak menatap istrinya dengan sedih. Pedih.

“Ini rokok Reza, Bu. Bapak ambil dari meja belajar di kamarnya sehari setelah dia pergi dulu,” ujar si bapak sendu.

Si istri menghela napas. Dia mengusap pundak suaminya lembut, selembut usapan si suami kepada pemuda mabuk di pub tadi. Usapan yang mengakibatkan setitik air mata terbit dari mata si bapak.

Tepat di samping pub, terdapat sebuah toko elektronik yang memajang berbagai jenis dan merek televisi terbaru di etalase. Televisi-televisi itu dengan serempak menayangkan sebuah film Indonesia yang sedang memperlihatkan adegan seorang pemuda dan pemudi duduk terdiam di sebuah kedai kopi.

Si bapak melihat adegan itu sekilas, sebelum akhirnya dia menggamit tangan istrinya dan pergi berlalu dari sana. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts