“Sepuluh menit lagi, Jimmi!” teriak seorang gadis dari depan pintu ruang ganti.

Dengan malas, aku mengacungkan jempolku padanya. Bersamaan dengan itu, sekelompok penari berkostum berbagai jenis burung berlarian melewati ruanganku menuju ruang ganti mereka, yang letaknya memang berada persis di sebelah ruang gantiku. Seekor gagak, maksudku, seorang gadis berkostum gagak sempat salah memasukiku ruang gantiku. Aku menatapnya dengan kedua alis mata terangkat. Sedikit terkejut karena kedatangannya membuyarkan lamunanku. Dia tersenyum canggung. Kubalas senyuman canggung itu dengan senyuman kecil. Aku tahu senyumanku menyeramkan, senyumanku bahkan lebih menyerupai seringai, tapi kadang senyum yang menjijikkan itu jauh lebih baik daripada tidak tersenyum sama sekali.

Ah, memang aku seharusnya tidak usah tersenyum sama sekali. Benar-benar bodoh aku ini. Untungnya gadis berkostum gagak itu tidak takut dengan senyumanku. Dia hanya membungkuk kecil, lalu dengan malu-malu beringsut pergi keluar dari ruanganku.

Gadis yang baik.

Biasanya orang-orang akan bergidik jijik melihatku tersenyum.

Ah, tidak. Mereka selalu bergidik jijik ketika melihatku.Baik saat aku tersenyum atau tidak.

Lagipula, mungkin saat ini gadis berkostum gagak itu sedang menahan mual dan ketakutan.

Aku tahu itu.

Aku selalu tahu.

Aku kembali menatap cermin, meneruskan kontemplasiku sambil menatap refleksi wajah jelekku di sana. Cermin yang dilengkapi bohlam-bohlam lampu di sisi bingkainya itu biasanya berguna untuk menerangi atau memberi pecahayaan yang lebih mantap saat aktor-aktor tampan dan aktris-aktris cantik itu merias diri. Tapi tidak denganku. Bohlam-bohlam lampu konyol itu justru membuat wajahku yang jelek semakin bertambah jelek. Siapapun yang menempatkan aku di ruang ganti ini pastilah sangat membenciku. Kalau mereka tidak membenciku, pasti mereka sudah memberiku ruang ganti di dekat toilet di ujung lorong sana. Kulihat ruangan itu sangat kotor dan berdebu, dan tidak memiliki cermin sama sekali. Itu ruangan yang tepat untuk orang bertampang aneh sepertiku. Sebagai seorang stand-up comedian,  harus kuakui lelucon bohlam lampu ini sangat lucu. Ah, ya. Mungkin aku harus menambahkannya ke dalam materi lawakan yang akan kubawakan sesaat lagi.

Aku mengambil sebatang rokok dari saku jasku. Dengan pemantik yang kutemukan di atas meja rias, aku menyulutnya, lalu mengisapnya dalam-dalam. Sembari menghembuskan asap nikotin itu ke udara, aku menatap wajahku di cermin. Dari balik selubung asap rokok, kulihat wajah brengsek itu balas menatapku.

Wajah brengsek yang telah hinggap selama berpuluh-puluh tahun.

Wajah brengsek yang membuatku ingin menghancurkan semua cermin dan benda yang bisa memantulkan bayangan. Wajah brengsek yang telah membuat semua anak kecil yang melihatku menangis ketakutan. Wajah brengsek yang telah membuat semua manula mendapatkan serangan jantung mendadak. Wajah brengsek yang telah membuat semua perempuan menjerit histeris. Wajah brengsek yang telah membuat semua pria ingin membunuhku.

Oh, Tuhan. Kenapa kau harus memberikan wajah sialan ini padaku?

“Hei, kenapa kau terus menerus menatap cermin seperti itu?”

Siapa itu yang berbicara? Siapa lagi orang yang berani mengusikku?

Dari refleksi cermin, aku melihat Keanu berdiri di belakangku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, sedangkan sebatang rokok terjepit indah di sela bibir merah mudanya.

Berbeda denganku yang mengenakan setelan jas murahan berwarna ungu dari toko loak terdekat, Keanu mengenakan setelan jas yang mahal. Mungkin buatan Yves Saint Laurent atau Giorgio Armani. Aku tidak terlalu peduli. Malam ini dia terlihat jauh lebih tampan dari malam-malam sebelumnya.Wajahnya yang seperti hasil kombinasi silang antara Alain Delon dan Montgomery Cliff itu tersenyum simpatik padaku.

Bukan.

Itu bukan senyuman simpatik.

Itu senyuman sarkastis.

Aku tahu itu.

Aku selalu tahu.

“Jangan bilang kau bosan dengan wajahmu,” ujar Keanu. Kata-katanya tertelan sorak sorai penonton di panggung, tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Kenapa kau ada di sini? Bukannya nanti kau akan memberikan penghargaan untuk pria tertampan tahun ini? Aku yakin sekali tahun ini pasti kau lagi yang menang. Kau memang hebat. Padahal jarang sekali musisi rock bisa mendapatkan perhargaan pria tertampan. Biasanya ‘kan hanya aktor-aktor film saja,” balasku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Keanu tertawa jumawa. “Hahaha, kau ini bisa saja. Yah, biar kuberi tahu. Penghargaan pria tertampan itu hanya lelucon. Memangnya apa, sih, definisi dari tampan itu? Mengapa semua orang harus terobsesi dengan yang namanya ketampanan fisik? Wajah ini hanyalah selaput yang menutupi siapa diri kita yang sebenarnya. Dasar manusia-manusia bodoh. Ketampanan tidak ada artinya jika kita tidak memiliki kecerdasan intelektual dan kebaikan hati. Terus terang saja, aku malu mendapatkan penghargaan itu tiga kali berturut-turut. Kalau sampai malam ini aku mendapatkannya lagi, aku akan mengembalikannya.”

Sebenarnya aku tidak membenci Keanu. Dari sekian banyak artis, mungkin hanya dia yang kuakui. Selain tampan, dia juga pintar dan baik hati. Mana ada lagi pria tampan yang mau berteman dengan pria buruk rupa sepertiku. Hanya saja dia suka terlalu jujur dalam berbicara. Dia tidak tahu kalau perkataannya itu menyinggungku. Apalagi perasaanku memang sedang tidak enak malam ini. Mungkin demam panggung karena aku harus tampil sesaat lagi.

“Kau masih berpacaran dengan Kinar?” tanyaku.

Keanu tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dia memang cantik. Sangat cantik. Persis seperti Monica Vitti di film L’Eclisse. Tapi dia bodoh, dan jelas-jelas mau berpacaran denganku hanya karena aku tampan dan kaya. Dasar matrealistis. Coba kau dengar, masa dia tidak tahu siapa itu Oscar Wilde? Yang benar saja. Perempuan macam apa itu? Dasar sampah.”

Aku terkekeh, amarahku malam ini sedikit teredam karena kehadiran Keanu. “Kau tidak bisa menilai perempuan bodoh atau pintar hanya karena dia tidak tahu siapa itu Oscar Wilde. Oscar Wilde itu bukan Muhammad, Yesus atau Buddha, Keanu.Tidak semua orang mengetahuinya. Lagipula bukannya semua perempuan itu matrealistis? Sayangnya, tidak semua pria itu kaya raya.”

“Kau berbicara seperti seorang misoginis saja. Jangan diskriminatif. Materialistis menurut kita itu sama dengan realistis menurut mereka. Yah, mungkin kau benar soal Oscar Wilde. Bahkan tidak semua orang tahu siapa itu Muhammad, Yesus atau Buddha. Orang-orang zaman sekarang sudah punya tuhan dan nabinya sendiri. Setiap harinya mereka selalu mempunyai tuhan yang baru untuk disembah dan dipuja. Seperti perempuan zaman sekarang. Hanya pria tampan dan tajir yang mereka puja. Mereka tidak pernah tertarik dengan pria pintar.”

“Hahaha, dasar bajingan. Kau yang misoginis! Ah, kau salah. Para perempuan itu selalu tertarik dengan pria pintar. Hanya saja semua pria pintar itu kebanyakan sombong dan menyebalkan. Terlebih lagi pria pintar yang tajir dan tampan sepertimu.”

Keanu mengangkat kedua bahunya, lalu menepuk bahuku. “Hahaha, bisa saja kau. Sudah, ah. Giliranku tampil sudah tiba. Sampai ketemu lagi.”

Sepeninggal Keanu, aku kembali menatap wajahku di cermin. Semua perasaan bahagia dan tawa riang tadi kembali sirna ketika aku memandangi rupa diriku di cermin. Tidak ada yang berubah. Wajahku tetap jelek seperti biasa. Sialnya, ekpresi wajah tersenyumku masih terpahat di sana. Ekspresi yang membuatku muak. Berhenti tersenyum, brengsek!

Lamat-lamat, kudengar lagu Creep milik Radiohead yang dinyanyikan kembali oleh Karen Souza. Ah, ini lagu favoritku. Lagu yang seolah-olah dibuat Thom Yorke hanya untukku. Siapa  yang memutar lagu ini?

 I’m a creep, I am weirdo. What the hell I am doing here? I don’t belong here…

Rupanya lagu itu terdengar dari ruangan di sebelahku. Ruang ganti para penari latar. Bagai anak-anak kecil yang terhipnotis suara merdu si peniup seruling Hamerun, aku melangkah keluar dari ruang gantiku menuju sumber suara musik yang berada di ruang sebelah. Kunyalakan rokok keduaku. Aku mencoba untuk terlihat sedikit keren dengan rokok itu. Walau aku tahu itu sama sekali tidak akan membantu merubah tampangku. Meski begitu, rokok memang selalu berhasil mengusir kegugupanku dan membuat jiwaku yang tidak stabil ini jauh lebih rileks.

Ruang ganti para penari latar ini kosong melompong. Oh, iya. Ketika Keanu keluar dari ruang gantiku, para penari itu juga bersamaan keluar dari ruang gantinya. Bahkan aku sempat melihat si gadis yang berkostum gagak mengintip kamarku sejenak. Pasti dia ingin memastikan wajahku yang buruk rupa ini sekali lagi untuk nantinya diceritakan pada teman-teman dan keluarganya.

Aku tahu itu.

Aku selalu tahu.

Ah, ternyata suara musik ini berasal dari radio yang ada di ruang ganti para penari. Aku kembali menatap wajahku di cermin untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku berusaha menikmati dan meresapi lagu dan lirik yang dinyanyikan Karen Souza itu. Kutarik nafasku dalam-dalam, kemudian kuhembuskan perlahan. Tubuhku mulai bergerak pelan menikmati irama lagu.

Kini kuletakkan kedua tanganku di atas meja di antara perlengkapan kosmetik milik para penari, lalu kupejamkan mataku. Aku terus menggoyangkan tubuhku mengikuti irama lagu yang syahdu ini. Aku benar-benar seperti terhipnotis! Lagu ini menghipnotis dan membiusku!

Kubuka mataku kembali, lalu kupukul cermin di depanku hingga pecah berserak. Dengan tenang, aku mengambil salah satu keping pecahan kaca, lalu menusukannya ke wajahku. Kemudian kuiris sedikit demi sedikit kulit wajahku. Hebatnya, aku sama sekali tidak merasakan sakit. Sungguh! Aku sendiri tidak percaya.

Aku terus menguliti wajahku. Bibirku, hidungku, dan tak lupa kelopak mataku. Semua kukuliti dengan rapi dan terperinci hingga akhirnya aku menatap wajah yang baru di cermin. Wajah yang berbeda. Wajah yang tidak penuh kepalsuan. Wajah yang tidak dipenuhi kemunafikan. Wajah yang sangat tampan. Wajah yang tidak akan membuat takut orang-orang. Wajah yang selama ini selalu kuidam-idamkan.

I don’t care if it hurts. I want to have control. I want a perfect body…

Kesadaranku mulai menipis. Kedua kakiku sudah tidak sanggup menopang beban tubuhku. Kubiarkan tubuhku tumbang ke lantai dengan tangan dan wajah yang bersimbah darah. Samar-samar, aku mendengar derap langkah kaki yang disertai tawa riang para gadis. Ah, itu pasti penari latar yang sudah kembali dari panggung. Semoga aku tidak membuat mereka terkejut.

Ternyata dugaanku salah. Para gadis itu menjerit bukan main melihat aku terkapar di lantai. Sial, aku sudah tidak bisa merasakan tubuhku. Aku juga tidak bisa berbicara. Penglihatanku pun pulai kabur, tapi aku masih bisa melihat salah satu dari mereka berlari ke luar ruangan. Mungkin dia mencari pertolongan. Padahal aku sudah menolong diriku sendiri dari penderitaanku selama ini. Aku juga bisa melihat si gadis berkostum gagak mendekatiku sementara para gadis penari yang lain hanya bisa berdiri di depan pintu. Wajahnya terlihat sangat sedih.

Akhirnya mataku terpejam juga. Saat ini, aku hanya bisa mengandalkan pendengaranku. Bahkan dalam sepersekian detik sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, pendengaranku berfungsi sangat baik. Sampai-sampai aku bisa mendengar bisik-bisik dari para gadis penari latar yang berdiri di depan pintu itu.

I want a perfect soul. I want you to notice, when I’m not around…

“Itu Jimmi, kan? Ya, Tuhan. Kalau bukan karena setelan jas eksentrik berwarna ungu yang dia kenakan dan postur tubuhnya, wajahnya akan sulit sekali dikenali.” bisik gadis berkostum burung hantu.

“Tidak kusangka. Padahal malam ini dialah yang mendapatkan perhargaan pria tertampan. Jarang sekali ada seorang stand-up comedian yang meraih penghargaan ini. Malah belum pernah terjadi.” ujar seorang gadis berkostum burung merpati.

“Ya, benar-benar tragis dan ironis sekali. Pasti dia sudah sinting. Kalau tidak, mana mungkin dia akan menguliti wajahnya yang tampan bak River Phoenix itu.” tambah gadis berkostum burung gereja.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts