Wajahnya hancur dilumuri darah yang bercucuran dari ujung kepala dan pelipisnya. Ketika kulongok di balik kerumunan orang yang melingkar di depan rumah Pak RT Qizir. Seorang pencuri sepeda motor sudah dihakimi sepuasnya oleh warga. Ia hanya mengenakan celana dalam. Mungkin pakaiannya kala itu dilepas paksa oleh para warga. Dan kulihat ia sedang duduk dengan kepala tertunduk di antara kedua kaki yang ditekuk serta kedua tangan melingkar di kakinya. Sekujur tubuhnya bergetar menggigil, mungkin menahan rasa sakit bercampur malu. Semua orang kini menghujatnya. Bahkan ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk membakar tubuhnya hidup-hidup.

Amarah yang memuncak itu segera teredam oleh kedatangan dua orang polisi yang sebelumnya sudah dihubungi oleh salah satu warga. Lalu salah satu dari polisi itu menginterogasinya.

“Nama kau siapa?” tanya polisi.

“Dahlan, Pak.”

“Benar kau yang mencuri sepeda motor ini?”

“Benar, Pak…” Jawabnya pelan dengan nada lemah.

Tanpa banyak bicara, teman polisi yang satunya lagi memberikan bogem mentah tepat ke arah hidungnya. Dahlan jatuh terguling ke belakang. Hidungnya nyonyor mengucurkan darah seperti air terjun buatan.

“Mampus kau! Itu pelajaran untukmu, bodoh,” cetus polisi itu kesal.

Emosi warga semakin beringas melihat pukulan itu. Mereka semakin berlomba-lomba saling dorong untuk mencari celah diantara kerumunan agar bisa memberikan satu atau bahkan dua tinju lagi untuk si Dahlan. Tapi Pak RT Qizir yang melihat kejadian itu tak tinggal diam. Suaranya lantang terdengar kepada mereka,

“Siapapun yang berani menyentuh tubuhnya lagi, akan berurusan denganku!”

***

Dahlan mempunyai sebuah keluarga kecil yang dikaruniai dua orang anak. Keluarga kecil itu awalnya hidup begitu bahagia. Walaupun hidupnya tak seindah para birokrat, tapi ia cukup menikmati kehidupannya yang penuh dengan kesederhanaan itu. Namun kebahagiaannya itu segera terhenti, ketika lahan sawah sewaan tempatnya bekerja ditumbuhi oleh pabrik-pabrik raksasa. Kebun jagung yang selama ini telah menjadi sumber pencahariannya selama bertahun-tahun itu pun akhirnya dijual oleh sang pemilik tanah kepada pengusaha.

Pabrik-pabrik pun dibangun. Dahlan kehilangan pekerjaannya. Janji-janji palsu yang selalu dilontarkan oleh pengusaha itu ternyata hanya sebuah isapan jempol semata. Awalnya mereka berdalih akan membuat masyarakat setempat menjadi lebih maju dengan mata pencaharian baru, yaitu menjadi seorang buruh pabrik. Tapi setelah pembangunan itu selesai, ternyata masyarakat tidak bisa langsung bekerja di sana. Melainkan harus mengikuti serta memenuhi persyaratan dari perusahaan bila ingin bekerja di pabrik itu; minimal harus lulusan SMA dan maksimal berumur 22 tahun.

Kini Dahlan harus memutar otak untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Di umurnya yang kini sudah mencapai 30 tahun, nampaknya tidak akan mungkin untuk bekerja di perusahaan itu, apalagi pendidikannya hanya tamatan SD. Tapi ia tak menyerah. Dibantu oleh sang istri, ia memutuskan untuk menjual tas sekolah. Kebetulan istrinya itu mempunyai sedikit keahlian menjahit yang dipelajari dari ibunya sewaktu kecil. Merekapun membagi tugas masing-masing. Sang istri yang akan membuat tas, sedangkan Dahlan sendiri, yang akan berkeliling menawari barang dagangannya tersebut kepada orang-orang.

Awalnya, hasil dagangnya itu sangat cukup untuk memberikan sesuap nasi kepada anaknya. Hingga lambat-laun waktu berlalu, pabrik-pabrik semakin menjalar tak kenal kompromi. Satu per satu pabrik kini dibangun, akhirnya banyak perumahan dan area persawahan di desanya kian tergusur.

Alhasil, barang dagangan Dahlan kini sudah tidak banyak diminati lagi oleh orang-orang. Karena pabrik-pabrik itu telah menyediakan produk tas dengan harga miring dan lebih berkualitas yang dijual di toko ataupun pasar. Sementara, tas yang dijual oleh Dahlan merupakan hasil bikinan tangan sang istri. Berbeda dengan tas buatan pabrik, yang sudah menggunakan mesin dan teknologi yang canggih. Bahkan dalam sehari, pabrik itu dapat memroduksi tas dalam jumlah besar. Sehingga persaingan itu pastinya dimenangkan oleh sang pabrik.

Sore itu Dahlan duduk bersandar di bangku depan rumahnya. Mengepulkan asap rokok berkali-kali yang ditarik lalu disemburkannya kembali. Ia sekarang tak menjual lagi tas-tas buatan istrinya itu. Hanya bengong, merokok sambil memandang burung-burung gereja yang berlompat-lompatan di pohon rambutan samping rumahnya. Ia berharap akan ada orang yang melemparkan sekoper uang dari pesawat yang jatuh ke arahnya. Tapi itu tak berlangsung lama, ia pun segera sadar. Sebab, itu hanyalah sebuah mimpi, mimpi untuk orang yang tak mau mengubah keadaannya. Sementara keputusasaan masih juga terpenjara di benaknya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi meminjam uang ke rumah ibunya yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumahnya.

“Tolong aku, Bu. Aku sedang perlu sekali uang untuk makan anakku,” pinta Dahlan memelas ketika bertemu ibunya.

“Nak, uang pensiunan almarhum bapakmu itu tak seberapa, bahkan utang ibu pun di warung sebelah juga sudah banyak,” jawab sang ibu.

Dahlan pun pergi menggendong rasa pilu. Di sepanjang perjalanan pulang, langkahnya terseok-seok tak berarah. Kadang juga Dahlan selalu menendang batu-batu kecil yang terlihat menghalangi jalannya. Entahlah, mungkin hanya kepada batu itu ia bisa melampiaskan kekesalannya. Namun, ketika ia menyusuri jalan pulang, tiba-tiba ia mendengar suara desahan perempuan dari arah belakang poskamling. Suaranya terdengar samar-samar, mungkin ia berpikir hanya halusinasinya saja saat itu. Tapi tetap saja ia semakin penasaran. Sebab kian lama ia tegasi, suara itu tak kunjung hilang dari lubang telinganya. Jelas, ia pun menghampiri dan segera melongoknya.

“Astaga Pak RT…” ucapnya dengan nada spontan melihat Pak RT Qizir sedang asyik bercinta dengan seorang penjual jamu keliling.

Pak RT Qizir pun langsung tergesa-gesa menaikkan celananya. Kaget melihat kehadiran Dahlan sebagai tamu tak diundang. Dengan kondisi rambut yang masih acak-acakan dan ritsleting celana yang belum sempat dinaikkan, Pak RT Qizir langsung menghampiri si Dahlan dengan wajah cemas.

“Dahlan, tolong…aku minta tolong sekali padamu. Jangan beritahukan hal ini kepada istriku dan orang-orang,” pinta Pak RT Qizir sambil berdiri kikuk di hadapannya.

Dahlan berpikir sejenak sambil menggaruk-garukkan kepala belakangnya. Nampaknya ia masih belum percaya tentang apa yang dilihatnya barusan. Tapi dari situlah muncul ide dari kepala Dahlan. Wah, nampaknya aku bisa mendapatkan kesempatan dari kejadian ini, tuturnya dalam hati.

“Baiklah kalau itu yang Pak RT ingini. Tapi sebagai gantinya, Pak RT harus mencarikanku pekerjaan. Kalau tidak, jangan salahkan mulut ini mengucap.”

Pak RT Qizir mengelus-elus dagunya, merasa dilema dengan hal ini. Tapi setelah ia pikirkan masak-masak, ia tidak memiliki jalan lain lagi. Ia menerima permintaan Dahlan.

“Oke, nanti akan aku usahakan. Tapi ingat, jangan beritahukan hal ini kepada siapapun. Kalau kau bisa simpan rahasia ini baik-baik, aku berani jamin akan melindungimu dan tak akan ada satu orangpun yang berani mengganggumu di sini.”

Seminggu berlalu, Dahlan pun dipekerjakan sebagai penjaga warung kopi milik temannya Pak RT Qizir. Memang benar kata orang-orang, dari setiap kejadian pasti akan ada hikmahnya, tutur Dahlan dalam lamunan menunggu para pelanggan datang. Kini ia merasa senang karena anaknya dapat makan kembali. Walaupun bisa makan dari hasil buah perbuatan Pak RT Qizir di balik poskamling. Tapi ia tak malu sedikitpun. Urusan malu menurutnya adalah nomor dua. Kalau sudah berbicara soal perut, pantat monyet pun akan dijilatnya bila harus dilakukan.

Para pelanggan di warung kopinya itu rata-rata adalah buruh. Karena lokasi warung itu tepat berada di seberang pabrik. Jadi banyak sekali para buruh berdatangan ketika jam istirahat tiba. Sekedar hanya untuk bisa meminum secangkir kopi di tempatnya. Kebanyakan dari pelanggannya itu adalah para pendatang. Memang inilah salah satu hal yang tidak bisa dihindari setelah pabrik-pabrik berdiri. Di desanya, kini sudah banyak sekali orang-orang yang tidak ia kenal lagi. Suasana asri dan saling tegur-sapa dari para tetangga pun nampak kian memunah untuk ditemui. Karena kini sudah beragam identitas yang berkumpul menjadi satu. Semua merasa paling jago, paling kuat, paling sempurna. Demi mendapatkan lembaran kertas tipis atau yang mereka sebut sebagai uang.

Dahlan selalu menjadi pendengar setia para pelanggannya. Mendengarkan dengan cermat tentang keluh-kesah para buruh yang setiap harinya tak pernah kunjung selesai. Bahkan seringkali Dahlan secara tak sadar menjadi motivator untuk mereka, kadang pula ia sebagai iblis, yang memberikan saran kepada mereka untuk menggorok leher bosnya saja bila sudah terlalu pusing. Sebenarnya Dahlan pun muak dengan keadaannya seperti ini, tapi ia tak menceritakan tentang kondisi dan perasaan yang dialaminya itu kepada para buruh yang datang ke warungnya. Sesungguhnya Dahlan dan para buruh itu adalah sekumpulan orang yang mempunyai masalah yang sama dan saling menasehati.

Warung kopi tempat ia bekerja itu tak bertahan lama. Hanya beberapa bulan saja semenjak ia bekerja di sana. Kasus yang sama itu kini menimpanya kembali. Para pengusaha kembali membeli lahan warungnya untuk membangun kembali pabrik yang baru. Kadang ia berpikir, apakah ini semua adalah akibat dari kutukan nenek moyang atau inilah yang disebut sebagai azab anak yang durhaka. Ia tak tahu pasti. Yang jelas sekarang kehidupan keluarganya kembali terlantar. Ia harus gigit jari di tanah kelahirannya sendiri. Sementara pengusaha yang kebanyakan orang asing itu, asyik bertolak pinggang melihat sedikit demi sedikit lahan di desa itu dikuasai olehnya. Itulah sebabnya pada waktu siang bolong, ia kalap dan mencuri sepeda motor milik tetangganya untuk dijual. Tapi nasib buruk selalu saja menerpanya bertubi-tubi. Ia pun malah tertangkap basah dan akhirnya digiring oleh warga ke depan rumah Pak RT Qizir untuk di adili sementara.

***

Aku pulang ke rumah sehabis mencari uang receh dari beberapa kendaraan umum yang melintas dengan teman setiaku; gitar. Bermodalkan suara pas-pasan dan percaya diri yang begitu tinggi, kulantunkan lagu-lagu lawas dari Koes Plus, Pance Pondaag, Franky Sahilatua, sebagai pengiring bagi para penumpang agar mereka menikmati perjalanannya. Memang inilah pekerjaan yang sangat kunikmati, walaupun hasil uang yang kudapat tak banyak, tapi dari sekedar hobi inilah aku bisa membantu memenuhi kebutuhan makan di rumahku.

Di usiaku yang masih 16 tahun ini, seharusnya aku masih mengenyam dunia pendidikan. Namun itu tak terjadi denganku, hidupku tidak seperti kebanyakan anak yang lain. Semenjak ayah meninggal dunia, ibuku tak sanggup membiayaiku sekolah lagi. Jadi, sekarang akulah yang harus membantu ibu sedikit demi sedikit untuk menyambung kehidupan kami di hari esok. Apapun sudah kucoba demi menambah perekonomian keluarga, mulai dari bekerja sebagai kuli bangunan, berjualan gula merah di pasar, sampai menipu teman sendiri. Semua itu sudah aku lakoni, tapi aku lebih merasa bahagia bila bernyanyi dengan gitar tuaku ini. Selain bahagia, aku juga bisa mendapatkan hasil uang untuk dibawa pulang setiap harinya.

Tak biasanya ketika kupulang, wajah ibu kelihatan gelisah. Yang pada waktu itu sedang duduk sambil mengupas bawang merah di halaman depan rumah. Tatapannya kulihat begitu kosong. Seperti ada sesuatu yang sedang mengganjal di pikirannya saat itu. Lamunan ibu pun segera terbuyar oleh kehadiranku saat itu. Lalu aku duduk di sana untuk menemaninya, aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi pada ibuku.

Belum sempat aku menanyakan perihal kegelisahan yang nampak di wajahnya, ibuku sudah berbicara terlebih dahulu,

“Nak, ibu bingung dengan abangmu itu.”

“Kenapa memangnya, Bu?” tanyaku.

Ibuku berhenti sejenak mengupas bawang-bawang itu. Matanya langsung menyorot ke arahku, terlihat kini matanya berkaca-kaca menahan kuatnya bendungan nestapa.

“Kemarin abangmu datang ke sini untuk meminjam uang kepadaku. Katanya, ia tidak memiliki uang lagi untuk makan anaknya besok.”

Benar saja dugaanku kala itu. Ternyata ada abangku yang ingin meminjam uang kepada ibu. Namun ibu menjelaskan, bahwa ia tidak bisa membantunya. Sebab keuangan pun sedang sulit. Sebagai seorang ibu tentu tak akan tega melihat anaknya sengsara, walaupun anak itu sudah seperti keledai, yang hanya makan dan tidur saja kegiatannya sewaktu di rumah. Karena ketidaktegaannya itu, ia pun lalu menyuruhku untuk menjual mas kawinnya untuk diberikan kepada abangku.

Aku pun tidak membantahnya. Aku melaksanakan apa yang diperintahkan ibu untuk menjual mas kawinnya itu. Setelah perhiasan itu kujual di toko emas. Aku pun bergegas pergi untuk memberikan uang ini ke rumah abangku. Namun ketika di perjalanan, aku melihat banyak kerumunan orang berkumpul. Setelah kulongok, ternyata abangku sudah dipukuli banyak orang di depan rumah Pak RT Qizir. Abangku habis dihajar warga karena kedapatan mencuri sepeda motor. Sampai akhirnya dua orang polisi datang lalu menginterogasi dan menghajarnya lagi. Untung saja Pak RT Qizir bisa melerai warga yang semakin emosi melihat hal itu. Aku sangat bersimpati pada Pak RT Qizir yang memang sudah sangat terkenal kebaikan serta sifat bijaknya itu di desaku.

Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya bisa diam ketika melihat abangku ingin dibawa oleh kedua polisi itu. Namun ketika abangku hendak ingin dimasukkan ke dalam mobil polisi, dengan wajah berang ia berceloteh di depan para warga.

“Kalian tahu, para pengusaha itulah yang sudah mematikan usaha orang-orang kecil sepertiku. Merekalah yang telah mengutukku untuk mencuri sepeda motor ini. Aku sudah muak melihat pabrik-pabrik itu. Aku sudah muak melihat penindasan tenaga manusia setiap harinya. Aku muak! Semuak aku melihat Pak RT Qizir mengentot penjual jamu di belakang poskamling!” ♦

About the author

Mahasiswa sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts