Suara motor meraung-raung, bersanding dengan deru mobil, bus, truk dan tronton. Asap dan debu membubung, membentuk kabut pekat menyesakkan. Matahari memanggang, memerahi siang Tangerang.

Hati Restu terasa pahit. Ia baru saja kehilangan kunci motor dan kini tak bisa segera menuntaskan urusan penting yang telah terlalu lama mengimpit hidup.

Restu biasa meninggalkan motor di tempat penitipan. Setelahnya ia akan melanjutkan perjalanan menggunakan bus. Ia tahu di sekitar sini tidak ada satu pun kios penduplikat kunci. Ia mesti menyewa ojek hingga lima kilometer jauhnya untuk menyewa jasa mereka. Uang di sakunya hanya lima puluh ribu.

Dengan uang itu, ia sebenarnya bisa naik bus ke ibukota. Perkara motor akan ia urus nanti, setelah urusan di sana beres. Restu pernah meninggalkan motornya selama sebulan di tempat penitipan itu. Motornya itu motor rongsok, tidak akan menggoda para pencoleng. Tetapi, ia menepis opsi tersebut karena berencana akan berada lama di Jakarta sehingga mesti mengandalkan si rongsok.

Demi mengusir gundah, ia memesan es teh manis di warung Mbak Marni. “Kok nggak ngopi?” tanya sang penjual. “Pikiranku sedang kusut, mbak,” jawab Restu ala kadarnya.

Terdengar suara adukan teh, air, gula, dan es. Pasti segar, batin Restu.

“Tambah esnya sedikit lagi, Mbak Marni,” potongnya, masih menatap jalan raya, “hari ini panasnya kelewatan sekali.”

“Kamu kenapa tho, Res? Perkara kunci hilang kan persoalan sepele. Gayamu itu sudah kayak orang terjerat utang puluhan juta saja.”

“Di rumah sedang kusut, Mbak.”

“Dari tadi kok kusut terus yang keluar dari mulutmu itu?”

“Memang itu kenyataannya, Mbak. Kusut! Susah diurai. Bikin suntuk.”

“Bukannya kamu bisa menyuruh orang rumah untuk membawakan kunci duplikat ke sini?”

“Mbak ini bagaimana. Kan barusan saya bilang di rumah sedang kusut. Toh saya sedang tidak terburu-buru,” tandasnya berbohong.

“Terserah apa katamu sajalah. Diajak ngomong kok ngeyel terus!”

Craanggg. Terdengar suara nyaring dari dapur. Ini memang saatnya Mbak Marni sibuk mempersiapkan lauk pauk untuk sajian makan malam, jam-jam tersibuk di warungnya. Siang hari, warung Mbak Marni sekadar tempat mengaso sembarang orang. Kebanyakan hanya memesan minuman dingin. Udara dan kemacetan Tangerang adalah kombinasi pas untuk perut-perut miskin menunda lapar. Sangat tidak membangkitkan selera.

Ia membuka bloknot, mencermati lagi beberapa hal yang harus ia lakukan sesampainya di ibukota. Terlintas di kepalanya suatu strategi, atau lebih tepatnya: perjudian. Sambil memicingkan mata ke jalan raya yang seolah tak berujung, ia mengingat banyak hal, lalu dengan alamiah mengenangnya. Ia tak tahu apa saat ini ia sedang marah, gundah, atau putus asa. Ia mencari optimisme dalam permenungan, namun mengais remah-remahnya saja ia tak kunjung mampu.

Tercium semerbak ikan mas goreng, yang membuat air liur Restu meleleh. Tetapi, uang di sakunya tinggal lima puluh ribu dan stok kreteknya telah habis. Es teh manis telah tandas sepertiga.

“Es teh manisnya satu lagi, Mbak. Kali ini tidak usah pakai komentar macam-macam. Oh iya, sama rokok sebungkus,” Restu memesan sambil berdiri dan memandangi Mbak Marni.

Restu menaksir uangnya hanya akan tersisa sekitar tiga puluh ribu. Ia merasa kesal sekaligus tolol. Dibukanya kantong depan tas, merogoh telepon genggam. Ada lima panggilan tak terjawab. Semuanya dari Sari.

Buat apa gadis itu meneleponku? Bukankah seharusnya ia sedang berada di pabrik pada jam segini? Atau hari ini jadwal liburnya? Mungkin dia mengetahui nasib sialku dan menemukan kunci terkutuk itu? Ah, betapa barang sekecil itu bisa begitu menyusahkan.

Sari adalah sepupu yang dalam dua tahun terakhir menumpang tinggal di rumahnya. Ia lahir dan besar di Lampung. Ibu Sari adik kandung ibu Restu. Ibu Restu mendorong Sari merantau ke Tangerang, untuk bekerja di pabrik. Dengan menumpang di rumah kerabat, upah dari pabrik bisa dibilang lumayan. Terlebih Sari tak perlu memikirkan ongkos untuk makan. Sari tidak lulus SMP, sama seperti ibu Restu.

Ini pula yang kerap menjadi sebab perselisihan antara dirinya dan ibu. Menurutnya, keputusan sang ibu begitu naif sekaligus konyol. Ia memaksa anaknya untuk menyelesaikan kuliah, tak peduli bahwa Restu berketetapan untuk menyambung hidup tanpa tuah selembar ijazah. Di sisi lain, Ibu justru memperpanjang jumlah tenaga kerja berpendidikan rendah dengan menyuruh Sari merantau ke Tangerang. Hitung-menghitung sederhana saja gadis itu tidak bisa. Saat menonton film barat, Restu sering melihat bibir Sari bergerak terbata-bata membaca teks terjemahan. Jika memang ingin membantu, mengapa tidak menyekolahkan Sari saja? Ibu membatu, berkilah bahwa pendidikan tidak akan meringankan beban kehidupan Sari.

Saat nanti hari berganti malam, warung Mbak Marni juga akan menjelma menjadi halte prostitusi. Ia harus menentukan diri sebelum saat itu tiba, tak mau mengganggu rezeki orang. Teringat lagi, uangnya kini tinggal tiga puluh ribu. Matanya berkelana, menatap beraneka rupa sampah visual. Spanduk, reklame berkarat, baliho rompal, poster iklan, poster pemilu…

Ia isap dan hela kretek dalam-dalam, yang sialnya bercampur dengan debu jalanan. Kerongkongan terasa tercekat. Merasa makin senewen, Restu mengaduk es teh manis keduanya dengan brutal.

***

“Aku butuh uang itu untuk biaya penyelesaian skripsiku.”

“Bukannya kau sudah kuberikan uang seminggu yang lalu?”

“Uangnya telah habis.”

“Mana janjimu? Tujuh tahun ibu menunggu.”

Ibu yang sejak tadi memunggunginya berbalik. Mereka kini berhadap-hadapan, saling bersiap untuk melakoni pertempuran yang kesekian ratus. Api yang menyala di atas tungku sedikit dikecilkan.

“Tujuh tahun yang tidak diperlukan jika ibu tidak berkeras hati memaksaku menyelesaikan kuliah,” Restu menukas, “aku bisa cari uang tanpa selembar ijazah!”

“Ya, Restu. Hebat sekali. Lantas mengapa kini kau masih meminta uang dariku?”

“Itu karena ibu tidak mengizinkanku untuk meninggalkan kuliah. Ketahuilah, Bu, pendidikan tinggi takkan menyelamatkan orang-orang seperti kita. Itu semua hanya ilusi. Ya, setelah ini selembar ijazah akan aku genggam, lantas setelah itu apa? Aku hanya lulusan kampus swasta yang namanya tidak ada di peta pendidikan tinggi nasional. Namaku akan dilumat nama-nama lain dengan status yang lebih mentereng. Koneksi pun aku tak punya. Buang-buang waktu!”

“Mengapa hatimu begitu keras, nak? Mengapa kau tumbuh menjadi lelaki yang terus membohongi diri sendiri?”

“Bu, hidupku tidak sepertimu, yang selalu berkutat di rumah dan pabrik. Ibu memandang pendidikan seperti juru selamat saja. Tidak demikian, Bu. Anak buruh pabrik akan selamanya menjadi buruh pabrik.”

“Restu!”

“Mengapa, Bu? Menjadi buruh bukanlah pekerjaan hina. Ibu menjalaninya pula. Begitu pula almarhum bapak, Sari, tetangga-tetangga kita…”

Restu menilai kampus sebagai jenjang seleksi di mana para pemenangnya adalah orang yang itu-itu saja. Sebuah kompetisi yang hasilnya bisa diprediksi dan orang seperti Restu hanyalah penggembira.

“Lalu apa maumu? Kamu hanya memberontak lewat mulut, tetapi tidak dengan tindakanmu. Aku ragu uang yang kemarin kuberi telah kamu habiskan untung urusan lain. Kamu tak cukup berani dalam menjalani hidup, dan ingat: aku tak selamanya menyertai hidupmu.”

“Ya, lantas setelah ini apa?! Ibu akan berkeras agar aku bekerja sesuai dengan ijazah yang kupunya. Ibu akan begitu dan terus-terusan seperti itu. Bagaimana menurut Ibu jika aku cukup puas dengan kondisiku sekarang ini, melajang dan terus melajang sambil bekerja serabutan? Ibu akan kembali menyalak dan memarahiku — itu pasti.”

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku. Ke mana uang yang kemarin kuberikan? Katamu itu uang terakhir yang harus kukeluarkan untuk urusan skripsimu ini? Mengapa untuk menjawab pertanyaan sederhana terasa susah sekali, sih?”

“Kuhabiskan untuk pesta ciu dan anggur merah! Puas?”

Sontak Ibu bergetar dengan air muka begitu pias. Ia memegangi dadanya, mencoba mencari keseimbangan. Restu melihat peristiwa itu seraya bergidik. Ia ingin mengupayakan sesuatu namun tak bisa. Ibu terperenyak, roboh, tak kuat menahan gempuran dari sang anak. Restu masih mendengar ocehan ibunya yang kini bersimbah air mata di atas lantai.

“Sari, kau ada uang?” Restu menodong Sari yang baru memasuki ruangan.

“Ibu kenapa, Mas?” gadis itu membalas pertanyaan dengan pertanyaan.

“Kau ada uang?”

“Ibu kenapa, Mas?”

“Sari!”

“Mas Restu!” kaget, Sari berteriak. Restu merogoh kedua saku di celana Sari, dan menemukan selembar lima puluh ribu.

“Aku titip ibuku.”

***

“Gadis itu sepertinya mengenalmu. Betul?” Mbak Marni menepuk pundak Restu, lalu menunjuk ke arah perempuan yang dimaksud. Sari.

Restu melihat telepon genggam, terdapat sebelas panggilan tak terjawab. Kedua pasang mata bertumbuk. “Ayo pulang, Mas,” gadis itu membuka percakapan, “Mas harus segera pulang.”

Ibu tewas dihantam bus saat hendak menyeberang jalan. Di saku dasternya ditemukan berbagai perhiasan. Orang-orang menerka bahwa ia hendak menuju rumah gadai yang terletak di seberang jalan. Ia tak tertolong, mati di tempat dengan bibir mengulas senyum.

Restu dan Sari sudah berada di atas motor. Bukan. Bukan si rongsok melainkan Honda 70 tua milik mendiang Ayahnya.

Mengapa pelan sekali, Mas, tanya Sari. Tidak apa, kata Restu. Yang sabar, Mas, kata gadis itu lagi. Dunia dan kepala Restu kompak berpusing.

“Sar, sebentar. Aku baru ingat, aku harus beli pulsa untuk mengabari sanak saudara. Uang darimu tersisa tiga puluh ribu. Bersediakah kau turun, Sari? Kau tahu nomorku.”

Gadis itu mengangguk, lalu berjalan menuju kios pulsa yang bersebelahan dengan kios kunci duplikat, yang beberapa waktu lalu menyita pikiran Restu.

Di kejauhan dua puluh meter, sebuah bus melaju kencang. Naluri membuat Restu paham: bukan si rongsok, bukan pula Honda 70 ini. Bus itulah yang akan mengantarnya ke ibu, demi memohon ampun sambil menciumi kedua tapak kakinya. Jelang beberapa detik, Honda 70 dilajukan Restu, lantas pecahlah suatu suara yang begitu memekakkan telinga.

Sari menjerit kencang. Sari menangis. Orang-orang sibuk memegang kepala dan menyebut nama Tuhan, ngeri dan terheran-heran dengan peristiwa yang terjadi di depan mata. ♦

April 2017

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.