esai ini diterbitkan pertama kali di SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua (Desember 2015)

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia,” demikianlah sang proklamator bangsa bertutur, ditengah-tengah pidatonya pada Hari Pahlawan tanggal 10 November 1961. Sebuah kalimat yang terasa bagai mantra, yang mungkin menghentak setiap telinga-telinga para pemuda kala itu. Menggugah jiwa nasionalisme serta rasa bangga atas keindonesiaannya. Hal yang mungkin sangat sulit untuk bisa kita dapatkan hari ini.

Separuh abad lebih sudah berlalu, gaung dari mantra yang dirapalkan sang pendiri bangsa sayup tersisa menyapa telinga. Sebuah kalimat yang lima puluh empat tahun silam menjadi ajian setiap pemuda untuk angkat senjata, kini tinggal cerita, sebatas seremonial sumpah pemuda yang mewarnai lini masa sosial media.

Nampaknya semangat Nasionalisme hari ini tak lebih menjadi mitos orang tua, cerita kepahlawanan dianggap sebagai legenda usang pengantar lelap si buyung yang hanya menceritakan heroisme pangeran tampan berkuda putih datang mengecup Putri Aurora, seperti yang diceritakan  Charles Perralut dalam karyanya “La Belle Au Bois Dormant” (The Beauty in The Sleeping Wood) tahun 1600-an.

Esai singkat ini akan sedikit mengupas hal tersebut, hal yang menjadi keresahan yang memuakkan bagi penulis sendiri, meminjam istilah Abdu Rizal S Syam dalam esainya Topeng Nasionalisme, sebuah lelaku “pseudo-nasionalis”(nasionalisme semu): nasionalisme yang hanya menjadi identitas palsu, yang dirayakan hanya pada hajatan-hajatan tertentu.

***

Dalam The Consequences of Modernity, Anthony Giddens mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial dunia yang menghubungkan tempat-tempat jauh sehingga peristiwa di suatu tempat dapat dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat lain sekian kilometer jauhnya dan begitu juga sebaliknya. Begitu derasnya arus informasi yang bisa diterima dari belahan dunia manapun dan oleh siapapun tanpa adanya filter, membuat setiap individu kini mampu menggenggam jagad raya melalui sebuah peranti ringkih bernama smartphone.  Kemudahan proses komunikasi yang kini telah mampu memangkas jarak berapapun jauhnya membuat mayapada makin sempit terasa, meminjam istilah McLuhan, sebagai global village.

Lebatnya budaya-budaya Barat yang turun dari langit westernisasi benar-benar menenggelamkan habis nilai, norma serta budaya bumi nusantara dalam air bah yang kemudian menghanyutkan semangat nasionalisme anak bangsa dalam derasnya arus globalisasi. Globalisasi adalah sebuah keniscayaan, pun begitu pula dengan westernisasi. Pasca khatamnya perang dingin antara blok Barat yang diimami oleh Amerika Serikat dengan blok Timur yang diimami oleh Uni Soviet terjadilah apa yang Fukuyama katakan sebagai the end of ideology: berakhirnya sebuah ideologi dunia, dan kapitalisme liberal yang menjadi pemenang atas atas ideologi-ideologi dunia yang lain.

Bagi penulis sendiri, tidak bisa terus menerus kita mengambinghitamkan globalisasi perihal terkikisnya identitas nasionalisme anak bangsa. Ini tidak melulu soal globalisasi, ada peran pemerintah dalam upayanya melestarikan nilai, norma serta budaya Indonesia yang telah disemai dan ditanam para pendahulu kita, sialnya itu semua tidak dipupuk serta dirawat dengan baik, yang akhirnya nilai, norma serta budaya tersebut tidak pernah tumbuh dan hanya terkubur ditengah ladang globalisasi.

Katedral Konsumsi

Katedral Konsumsi, sebuah istilah yang digunakan Martin J. Lee dalam Kebudayaan Konsumsi & Komoditas untuk menyebut shopping mall, sebuah kawasan khusus dan pusat konsumsi yang menjadi tempat ibadah baru bagi anak bangsa hari ini, tempat dimana berhala-berhala seperti Louis Vuitton, Channel, Charles & Keith dijajakan. Tidak semua dari mereka yang datang mengujungi tempat tersebut untuk berbelanja, justru kebanyakan dari mereka hanya datang sekadar melihat-lihat serta mungkin mengagumi barang-barang dengan harga selangit tersebut dipamerkan, yang kemudian lahirlah sebuah term “cuci mata” atau “window shopping” yang bagi mereka budaya tersebut menjadi sebuah pemuas diri bagi kehidupannya, namun bagi penulis sendiri, penulis lebih senang menyebut kegiatan tersebut sebagai “ritus pemujaan komoditas Barat”.

Banyaknya komoditas dagang Barat dengan berbagai varian produk dari berbagai brand ternama dunia yang menyesaki rimbunnya komoditas dagang impor di dalam belantara katedral konsumsi semakin menenggelamkan produk-produk dalam negeri yang diperparah oleh gengsi: mengedepankan prestise sosial ketimbang kebutuhan paling esensial, atau mungkin prestise sosial hari ini telah menjadi kebutuhan paling esensial? Sebuah pertanyaan kritis yang harus kita kedepankan hari ini.

Pada era kekinian, dunia Barat dengan segala nilai serta budayanya memang menjadi seperti ka’bah baru  bagi hamba-hamba agama modernitas, menjadi kiblat paling mutakhir bagi individu-individu yang ingin dikatakan modern. Pada akhirnya melahirkan dogma-dogma baru yang mengkonstruksikan stigma negatif kepada konsumen komoditi dalam negri yang menyatakan bahwa menggunakan produk dalam negri merupakan sesuatu yang sangat tidak kekinian, tidak mencerminkan perilaku ‘orang modern’..

Slogan “cintailah ploduk-ploduk Indonesia” ala Alim Markus dalam iklan MASPION nampaknya hanya menjadi jampi dagang bagi penulis, terlepas dari adanya kesungguhan bagi Alim Markus dalam upayanya mengajak khalayak untuk mencintai produk lokal, tapi rasanya terlalu naif jika kita mengatakan tidak tahu bahwa tujuan utamannya sudahlah pasti agar produk-produknya dibeli dengan memanfaatkan embel-embel nasionalisme, bukan demi tumbuhnya kecintaan terhadap keindonesiaan.

Imaji Nasionalisme Semu dan Nasionalis Hipokrit

Seorang pemuda yang penulis enggan sebutkan namanya datang dan kemudian bertanya, “Emang kenapa kalo gw beli barang-barang impor, apa salahnya gw beli barang-barang barat, bagus, berkualitas, modelnya up to date? Worth it kok sama uang yang gw keluarin.” hal ini yang pada paragraph di atas penulis katakan sebagai pemujaan berlebih terhadap komoditas Barat. Pemberhalaan terhadap komoditas Barat ini kemudian menciptakan sikap apatis terhadap apapun yang berbau Indonesia. Sialnya hal ini seperti sudah mendarah daging bagi para pemuda penerus bangsa.

Dalam esai ini penulis bukan tengah menjadi polisi moral, yang bertingkah nasionalis maupun idealis, tapi hendak mengajak para pembaca untuk berfikir lebih objektif dalam melihat suatu hal. Jika memang parameter kita dalam memilih suatu produk adalah kualitas, bukankah banyak juga produk dalam negri yang memiliki kualitas di atas rata-rata? Jika yang menjadi parameter kita dalam menonton film ataupun mendengarkan musik adalah kualitas, bukankah sangat banyak film-film maupun musik-musik dalam negeri yang sangat berkualitas bahkan kerap kali mendapat apresiasi tinggi justru dari luar negeri ketimbang dalam negeri?

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2008, batik yang kini telah dikukuhkan sebagai warisan dunia asal Indonesia pernah hampir diklaim negeri jiran Malaysia. Semua orang panik seperti kebakaran jenggot. Semua orang teriak, mencaci maki Malaysia habis-habisan tanpa henti. Tapi ijinkan saya bertanya: Seberapa sering kalian mengenakan batik? Seberapa apresiatif kalian terhadap batik? Karena ada kecenderungan anak muda sekarang memberi stempel kuno untuk pengguna batik. Batik tak lebih sebagai pakaian seremonial yang hanya dipakai pada acara pesta perkawinan, bahkan jika kita memakainya bukan saat acara-acara serupa, akan selalu saja ada yang menyindir dengan ungkapan ‘Mao kemana lu pake batik, mao kondangan?.’ Sungguh sebuah ironi dari bangsa yang batiknya pernah dipakai seorang revolusioner anti-apartheid Afrika Selatan bernama Nelson Rolihlala Mandela.

Tidak sampai disitu, melansir dari pemberitaan nasional.tempo.co (20/72012), setidaknya ada tujuh klaim budaya oleh Malaysia sejak tahun 2007, diantaranya Reog Ponorogo, Tari Pendet, dan Gordang Sembilan. Kembali keusilan penulis tergoda ketika melihat demonstrasi di depan kedutaan Malaysia yang bahkan cenderung mengarah kepada vandalisme: Kapan terakhir kali kalian menyaksikan pentas budaya-budaya diatas? Kontribusi apa yang sudah kalian berikan agar budaya-budaya di atas tetap lestari keberadaannya?

Pada tanggal 9 Mei 2015 lalu solois wanita asal Amerika bernama Katheryn Elizabeth Hudson atau yang kerap kita kenal dengan nama Katy Perry menggelar konser megahnya di  Jakarta dengan mengusung tema “The Prismatic World Tour”. Kisaran harga tiket yang ditawarkan mulai dari Rp. 900.000,- hingga Rp. 5.000.000,-. Namun, meski harga yang dipatok cukup tinggi, nyatanya tak kurang dari sepuluh ribuan penonton rela merogoh kocek dalam-dalam demi menyaksikan sang solois melantunkan 17 lagu selama 1,5 jam lamanya tersebut. Relakah kita mengeluarkan uang untuk membeli tiket acara-acara bertemakan apresiasi budaya yang harga tiket termahalnya hanya setengah dari harga tiket termurah Katy Perry, sebagai bentuk apresiasi kita terhadap budaya Indonesia yang kian hari kian terkikis habis oleh budaya-budaya impor? Pertanyaan yang menurit perlu dituangkan dalam tindakan: sebagai kontribusi kita dalam turut serta berperan aktif menjaga dan melestarikan budaya-budaya nusantara untuk tetap eksis dan tetap menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

About the author

Buruh penginapan di pusat kota Jakarta. Penikmat kopi dan puisi. Bercita-cita ingin menghabiskan waktunya menulis di sungai Seine. Bisa diusik di don-choyyy (LINE & Instagram)