Oleh: Jevandy Purba*

Saat aku pertama kali memutuskan untuk merantau di negeri orang, saat itu pula pertaruhan sudah dimulai. Yakni antara menang atau pulang. Pertaruhan ini nantinya aku pertanggungjawabkan pada kedua orangtuaku selaku Jaksa Penuntut yang siap menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaan jika aku dianggap menyeleneh di sini. Jadilah sekarang aku penjudi yang dimodali orangtua.

Telah lebih dari tiga tahun yang lalu kuinjakkan kaki di bumi Batavia. Kota metropolitan ini konon dijadikan dongeng bagi mereka yang ingin mencoba peruntungan. Ada yang ingin memperbaiki nasib dan berhasil. Tak sedikit pula yang pulang membawa segepok pilu dan kekalahan. Aku pun tak akan mampu membedah satu persatu alasan mereka untuk datang ke sini. Yang pasti semuanya hanya ingin hidup bahagia sejahtera walau seperti yang kukatakan tadi, kebanyakan dari mereka justru banyak yang terluka.

Berbeda halnya dengan mereka yang datang ke sini untuk mengais rezeki, berbeda pula dengan alasanku. Diawali rasa frustasi akibat tak diterima beberapa universitas negeri, akhirnya kucoba melanjutkan studi di universitas swasta. Dengan penuh pertimbangan, aku memilih Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik dengan harapan menjadi manusia berguna bagi manusia lainnya. Tak apalah harapan pertama tergusur, setidak-tidaknya aku tak menunjukkan batang hidung di depan rumah sendiri bertemankan beberapa galon tuak dan daging babi. Mungkin penggambaran macam itu sudah tak asing lagi bagi mereka yang pernah mendengar kisah tentang teman-teman yang berasal dari bagian utara Sumatera.

Amboi! Mengerikan ternyata ibukota ini! Yang terpampang berbeda sekali dengan kotaku dahulu. Semua pendudukya cuek dengan apa yang terjadi di depan rumahnya. Pintu tertutup rapat, serapat barisan serdadu perang. Ketimpangan sosial nyata adanya. Lebih parah lagi adalah masalah intoleransi. Pernah satu ketika aku sedang mencari-cari kos, aku ditanyai beragama apa. Kujawab apa adanya. Alhasil, tak diperbolehkannya aku ngekos. Macam mana pula! Begini ternyata nasib menjadi warga minoritas.. Mungkin penduduk kota ini harus berkaca mengenai toleransi beragama di Pematangsiantar. Kalau mau, tentunya.

Setelah mencari sekian lama, akhirnya aku mendapat kos yang pas. Aku mendapat lokasi tempat kos yang cukup unik karena diapit dua kelas yang menurut para pemikir sosialis seharusnya saling bentrok. Kelas kaya dan miskin. Perumahan dan gubuk. Tetangga-tetangga kamarku berasal dari berbagai penjuru nusantara. Ada yang dari tanah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, bahkan Papua. Yang terakhir ini adalah tetangga terdekat kamarku. Sesama perantau, wajar bila kami kompak.

***

Malam ini aku memilih mengisi waktu dengan nikotin dan kafein di dalam kamar. Akhir bulan memang selalu tidak menyenangkan bagi anak kos sepertiku ini. Duit mulai menipis, dan otomatis duit jajanku berkurang. Alih-alih mengunyah makanan, si lambung malah lebih sering menerima terpaan asap dan cairan hitam yang membasuhnya. Maafkan aku ya, Mbung.

Aku berpikir keras, mencari-cari ide apa yang enak untuk mengalihkanku dari perut yang kosong. Aku jadi teringat ucapan Bang Dimas, seniorku dari jurusan sastra Inggris tentang kalimat yang pernah diucapkan Hemingway. Kata Bang Dimas, Hemingway pernah berkata bahwa lapar adalah disiplin yang bagus. Ada banyak kelebatan pemikiran yang mencerahkan saat kita tidak makan atau tidur. Dan, aku setuju. Karena dalam keadaan lapar dan tak bisa tidur seperti sekarang, aku seakan mendapat pencerahan.

Kuambil laptop, lalu merenung sebentar, “Oh, iya. Kutulis saja kisah tiga hari yang lalu itu, ya!”

Bertemankan lagu “Kebenaran Akan Terus Hidup” yang dinyanyikan Fajar Merah, aku mulai mengetik.

***

Siang itu aku membeli rokok di warung Pakde. Niat sebentar menjadi lama karena bapak-bapak yang sedang nongkrong di pos RW menawarkan kopi sambil ngobrol-ngobrol. Aku tak menolaknya. Kami berbicara panjang lebar mengenai pertandingan sepak bola tadi malam.

Sambil mendengarkan cerita bapak-bapak ini, mataku tak lepas dari seseorang yang sedang lewat. Tidak sampai hati memang melihatnya, namun aku tak bisa untuk tidak melihat gerak gerik orang itu, sehingga kuputuskan untuk tetap mengamatinya saat ia mulai mengais tumpukan sampah yang ada di depan rumah berpagar tinggi itu. Sedang sang tuan rumah lagi menelepon di balkon rumah.

“Bla ..bla . . bla . .” oceh si tuan rumah dengan nada meyakinkan manusia di seberang telepon. Konon kabarnya, tuan rumah kaya ini adalah seorang tauke beras. Itu sih yang kudengar dari para penghuni kos-kosan. Aku sendiri tidak tahu apa itu tauke beras. Tidak tertarik aku dengan hal macam itu.

Pos RW ini memang berada di dekat tembok bolong yang menjadi penghubung perumahan dengan perkampungan warga. Si pemulung yang berharap mendapatkan rongsokan yang lumayan berharga untuk dibawa pulang kini mendapat masalah. Datang seorang sekuriti komplek yang tampak tak senang ada gembel yang mencoba menggerogoti tempatnya. Alhasil, si Bapak, sambil membenarkan goni yang disematkan di pundaknya, pergi bergegas meninggalkan tumpukan sampah rumah besar itu.

Aku pamit pulang ke kos pada bapak-bapak yang masih asyik membahas sepak bola. Berpaling mata memandang kenyataan itu, berpaling pulalah rasa hati ini. Di sudut gang, segerombolan anak-anak sedang bercanda ria menikmati serunya bermain kejar-kejaran. Gang yang menyulitkan pesepeda motor jika nekat melintasi jalan setapak ini. Belum lagi ventilasi jendela para penghuni akan penuh dengan asap knalpot para pengendara. Tapi yang namanya bocah, mereka tetap senang dan tak memedulikan risiko apa yang nanti akan menghampiri.

Hei, kalian bocah kota yang tinggal di gang sempit ini! Kelak, dewasa nanti hendaklah menggugat pemimpin yang telah merenggut indahnya masa kecil kalian! jeritku dalam hati sambil menatap mereka dengan nelangsa.

Sembari menikmati rokok dan asap yang menghunjam wajah berminyak ini, kulangkahkan kaki kembali untuk menikmati senja di kosan Ibu Endang. “Kosan 40”, orang-orang sering menyebutnya. Memang aku tak pernah bertemu dengan si empunya kos ini secara langsung. Hanya tahu nama saja. Yang kukenal hanya si Babe beserta keluarganya yang menjabat penjaga kos. Katanya, Ibu Endang sudah menjanda dan tinggal di perumahan kaya depan pos RW. Tapi, sekali pun aku tak pernah bertemu dengannya.

Saat menanjaki tangga kosan, rupa-rupanya Pace Berto sudah berdiri mengadangku. Beliau adalah seorang kawan dari timur nusantara. Pace Berto juga seorang mahasiswa di salah satu kampus di daerah Lenteng Agung, mengambil jurusan Teknik Sipil dan berkeinginan menjadi kontraktor. Agak jauh memang dari kampusnya ke kos ini, tapi karena kawan-kawan satu kampungnya berada di sini, dia pun memilih tinggal di sini. Sering kami mengisi waktu untuk ngopi, main gaplek, atau hanya sekedar berkaraoke dengan speaker di kamarnya. Tentunya dengan Pace-pace yang lain juga. Kebetulan saat ini hanya dia sedang yang berada di kursi dekat tangga. Pace-pace lain tampak belum muncul.

“Ah, ko darimana saja, Bung?” sapanya.

“Hanya keliling-keliling saja tadi, bung,” jawabku sambil bersalaman. Salaman yang unik, yakni menarik jempol saya diantara jempol dan jari tengahnya yang dibengkokkan dan menimbulkan suara, “Plokkkk”.

“Ada rokok, kah?” tanyanya.

“Ada ini, bung. Filter tapi. Tarapapa, toh?” ujarku menirukan bahasa mereka.

“Ah sembarang saja, namanya juga paru-paru asbak. Semua rokok bisa ditampung. Asal tara ganja saja ko kasih,” candanya sembari membuka bungkus rokok.

“Ha ha,. tidaklah. Ko ini sembarang saja”

Beberapa menit kemudian, saat sedang asyik menikmati rokok yang dibeli di warung depan ditambah kopi Lampung buatan Pace Berto, Babe penjaga kos menghampiri kami.

“Bang Ojak, uang kos kapan dibayar ini?!” hardiknya membuyarkan suasana nikmat sore itu. Nada bicaranya sangat menyebalkan. Jengkel aku dibuatnya.

“Sudah tiga bulan Abang nunggak, katanya minggu depan. Entah sampai kapan minggu depan ini selesai. Belum lagi denda Abang sudah menumpuk. Dendanya saja sudah bisa menutupi harga kos sebulan Abang!” bentaknya lagi.

Kakek tua bajingan, umpatku dalam hati.

Basah kuyup sudah seluruh tubuh ini dipermalukan bapak penjaga kos yang sedari tadi ngomong mengalahkan suara toa aksi demontrasi. Ya, Tuhan, cobaan apa lagi ini.

Aku memang tak menyukai orang yang satu ini. Selain tak ramah, beliau juga genit kalau melihat gadis-gadis sekitaran kampung ini lewat depan gerbang kos. Padahal sudah punya istri dan cucu. Hadehhh…. Mungkin puber kedua.

“Kalau enggak punya uang, Bang Ojak bilang saja! Jangan janji-janji terus. Bukan hanya ini pekerjaanku!” tegasnya kepadaku.

Memang sebelum hari ini aku kerap menebar janji untuk membayar uang bulanan. Bukan karena disengaja. Namun lebih kepada memang belum ada uang sebesar itu untuk dibayarkan.

“Eh, ko ngomong apa! ” tiba-tiba Pace Berto menyudahi makian itu sambil berdiri dan hendak memberi satu hantaman pukulan.

“Saya ngomong sama dia. Bukan sama Anda,” kilah Babe yang ketakutan melihat orang Timur ini ikut-ikutan panas.

“Eh, ko tahu ya. Masalah si Batak ini adalah masalahku juga,” kata Pace Berto sambil membusungkan dan menepuk-nepuk dada. Pace Berto semakin berapi-api emosinya.

“Sudah, Pak. Besok aku keluar dari sini kalau belum bisa bayar. Oke?” ujarku untuk mencairkan suasana yang mulai ramai sampai kepala para penghuni kamar lain mulai bermunculan dari jendela, mencari tahu.

Aku pun sebenarnya muak hidup di sini, di kota ini, keluhku dalam hati.

“Iya..! Tapi tetap bayar yang tiga bulan dan denda!” timpal si Babe mengingatkan masalah pembayaran lagi.

“Iya, Be. Dalam waktu dekat akan kulunasi,” balasku sambil berjalan menuju kamarku. Kubuka pintu itu dengan muak, lalu kubanting lagi dari dalam. Kesal dan malu sekali aku dibuatnya!

Ko kejam ya, sama-sama orang kecil tapi menindas orang kecil juga. Tak berperikemanusiaan memang kau. Kupukul juga kau nanti!” sahut Pace Berto yang kudengar dari dalam kamar. Sedang aku yang sudah di dalam kamar mulai melihat sekeliling, mencari-cari ide yang bisa menyelesaikan masalah.

Ah, laptop.

Barang hasil keringat orang tuaku ini harus kujual juga besok. Maafkan aku, Mak. Jangan teteskan air matamu melihat anakmu dipermalukan manusia Ibukota. Jangan sampai, Mak. Berulangkali kuelus layar laptop yang penuh debu.

***

Keesokan harinya, kuhampiri sahabatku di warkop langganan, Tarafan namanya. Putera Ternate ini memang sahabatku di kampus. Hampir di manapun kami selalu bersama. Kalau kata Bang Japra, seniorku yang karismatik itu, kami sudah seperti sepasang biji pelir. Mulai dari belajar di kelas, diskusi, dan turun ke jalan. Bahkan sampai tokoh idola pun kami sama. Bedanya, dia ini bergaya agak kejakartaan. Lebih modis, tapi tetap kritis.

Di warkop, Tarafan sedang bersama beberapa mahasiswa baru sedang duduk mengelilingi meja. Biasalah, ingin memamerkan ‘kekiriannya’ demi tak putusnya rantai perlawanan.

“Fan, aku pinjam motorlah. Ada mau yang kuurus!” seruku.

Lu ini, baru juga sampai. Langsung mau pergi. Emang lu mau pergi ke mana?” tanya Tarafan keheranan melihat tingkahku hari ini. Tarafan mengambil kunci motor dari saku celananya, lalu melemparkannya padaku.

“Yaudah, ini nih.. nanti lu masuk enggak kelas pak Tito?” tanyanya lagi.

“Titip absen lagi lah aku, Fan. Oke? Buru-buru, nih.” Aku bergegas ke depan warkop untuk mengambil motor. Sejurus kemudian roda motor berputar ke arah PGC. Sebulat roda motor, sebulat itu pula tekadku membayar mulut bapak kos yang keterlaluan.

Sesampainya di mal, kunaiki eskalator sambil menenteng tas berisi laptop menuju lantai tujuh yang memang khusus tempat jual-beli barang elektronik. Kuperhatikan setiap orang yang mencurigakan. Berjaga-jaga siapa tahu ada jambret.

Di lantai tiga kejadian yang tak kusangka itu pun terjadi. Mata yang sedari tadi mengawasi gerakan mencurigakan mulai tertuju pada sesosok laki-laki yang sudah kukenal bentuk fisik dan wataknya. Tapi, kali ini dia berpenampilan perlente dengan mengenakan topi Converse hitam. Mungkin biar tidak ketahuan orang yang dia kenal. Dia sedang menggenggam tangan ibu-ibu yang kalau kuperkirakan berumur empat puluhan, di sebuah kafe dekat eskalator. Namun posisi duduk mereka agak terhalang bunga hiasan di pinggir eskalator. Lumayan cantik dan montok parasnya. Mungkin selingkuhan.

Aku pun turun untuk memastikan dugaanku. Ya, kan! Benar dugaanku! Itu Babe! Kakek-kakek tengik itu! Tanpa pikir panjang, dan dengan dendam membara, kuhampiri manusia brengsek ini.

“Oh, begini kelakuan kakek-kakek sekarang?!” sahutku keras-keras sambil sibuk menahan tawa.

“Aduh. Bang Ojak? Ngapain ke sini, Bang?” balasnya. Dia tampak terkejut, keheranan, bingung, malu, beradu menjadi satu.

“Bang, jangan kasih tahu istri saya, ya, Bang. Bisa mampus saya, Bang,” rayunya sambil memohon dan memindahkan genggaman tangannya kepadaku.

Dalam hati aku heran. Ini bapak sudah tua, juga sudah berkeluarga, orang kecil, namun masalah nafsu seolah-olah seperti kambing bandot. Gaji kecil, badannya kurus. Mungkin ada penarik lain yang membuat selingkuhannya ini ketar-ketir di atas ranjang. Aku pun tak jadi menjual salah satu hartaku yang paling berharga. Semua berkat keberuntungan menjadi saksi perselingkuhan Babe dan Bu Endang, si janda pemilik kos.

Malamnya, aku mengopi santai di kursi depan dekat jemuran sambil merokok dan senyum-senyum sendiri. Bang Japra dan Tarafan yang kebetulan sedang main ke kosku tertawa keras sekali setelah mendengar cerita itu.

Lo peras aja sekalian tuh kakek!’’ seru Bang Japra memanas-manasi.

Aku membalas usul Bang Japra dengan senyum jemawa. Yang pasti, kini aku bisa tinggal gratis di kosan ini, selama yang aku mau. Untungnya aku sudah sempat memotret dan merekam dua orang tua bau tanah itu di ponsel pintarku. He he he.

Ah, kehidupan di Jakarta ternyata tidak seburuk yang kukira! ♦

* Mahasiswa rantau penyuka sosok Bung Karno, yang bercita-cita mewariskan ajaran beliau agar tak terputus digilas barbarnya zaman. Dapat diajak ngopi-ngopi di Line: jevandy973 atau Facebook: Jevandy Purba.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts