Oleh: Iman Zanatul Haeri*

Seandainya kita adalah orang Korea Utara dan menyaksikan apa yang dilakukan AS di Irak dan Libya, yang tersisa adalah melawan atau hancur. Sebelum kematiannya di tiang gantungan tahun 2003, luput dari perhatian media global bahwa Saddam Hussein berkali-kali membantah[i] bahwa ia memiliki senjata pemusnah massal (WMDs).[ii] Sebelum digusur dan dibunuh di jalanan secara brutal oleh kelompok pemberontak, Moammar Khaddafi berkali-kali membantah bahwa negaranya merupakan markas kelompok teroris.[iii] Kedua pemimpin itu membantah tuduhan AS dan meminta untuk berdialog, hasilnya sama: mereka digantung di negaranya sendiri.

Persoalan utama dari situasi ini adalah media mainstream Barat. Sejak 3 tahun terakhir, media Barat seperti DailyMail, BBC, CNN, New York Times, Reuteurs,[iv] Al Jazeera dan lainnya seringkali menampilkan berita yang menyudutkan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Di Indonesia, berita mereka diterjemahkan secara langsung tanpa proses verifikasi yang jelas oleh CNNIndonesia,[v] Kompas[vi], Sindonews[vii] bahkan Tempo[viii]. Mari kita ambil contoh:

Pada tahun 2014, media Barat dihebohkan dengan informasi bahwa Kim Jong Un mengeksekusi pamannya sendiri, Jang Song Thaek dengan cara dimakan hidup-hidup oleh anjing kelaparan. Beruntung seorang reporter the Guardian[ix], Jonathan Kaiman berhasil melacak bahwa informasi tersebut berasal dari tabloid Hongkong pada 12 Desember 2013 yang mengutip suatu media satire di Cina. Dua minggu setelahnya, pernyataan satir “mengeksekusi dengan cara dimakan oleh anjing kelaparan” dikutip oleh media berbahasa Inggris di Singapura. Kemudian dikutip kembali dan menjadi berita heboh NBC, New York Daily, DailyMail dan media barat lainnya.

Pada tahun yang sama, publik barat dihebohkan oleh pengakuan anak perempuan Korea Utara bernama Yeonmi Park yang mengaku melihat ibunya sendiri diperkosa di depan matanya dan mengaku harus menguburkan sendiri ayahnya diam-diam dini hari karena sang ayah melawan pemerintah Korea Utara. Ia menceritakan semua itu sambil menangis di hadapan peserta acara Pertemuan One Young World di Dublin.[x]

Belakangan ia sering diundang beberapa acara stasiun tv, radio dan lainnya. Semakin lama pengakuannya berubah-rubah. Kadangkala ia mengaku ayahnya sudah mati di Cina, dan ibunya tidak diperkosa. Lalu ia bercerita sampai-sampai memakan rumput karena kelaparan dan dalam talkshow lain ia mengaku pelariannya sebagai pengungsi ke Korea Selatan sangat beruntung dan tidak sampai kelaparan. Kantor berita seperti In The Now sempat membuat investigasi kumpulan kisah pilu Yeomi Park yang tidak konsisten tersebut.[xi] Bahkan The Diplomat melaporkan kontradiksi pengakuan Park dengan membeberkan fakta bahwa Park merupakan anggota dari NGO Atlas Foundation yang berkantor di New York, Amerika Serikat.[xii]

Namun, berita tentang kisah pilu Park sudah tersebar ke seluruh dunia dan Korea Utara sudah terlanjur dianggap negara yang gagal menjunjung tinggi hak asasi warga negaranya. Seluruh dunia kini memiliki satu opini yang dominan: Kim Jong Un adalah pemimpin keji yang rela membunuh rakyatnya, bahkan pamannya sendiri. Kim Jong Un seorang pemimpin gila yang bisa sewaktu-waktu meluncurkan nuklir untuk mengancam perdamaian dunia.

Apakah kita tidak melewatkan hal penting? 

Ini merupakan hal yang sama, yang dilakukan media-media Barat menjelang invasi ke Irak; Bush mengatakan Sadam Husein sebagai poros setan, ketika menginvasi Libya; Khadafi dituduh pemimpin gila yang membunuh rakyatnya sendiri. Cara yang sama ketika AS hendak melakukan invasi ke Irak tahun 1991 dengan memberikan kesempatan kepada Nariyah (anak perempuan asal Kuwait) untuk berbicara dan menangis di hadapan kongres menyatakan bahwa pasukan Saddam Hussein membunuh 300 bayi di kampung halamannya (belakangan terbukti ia berbohong), persis sama ketika Yeonmi Park menangis dihadapan publik OYW, untuk tujuan yang sama; membuat negara tersebut (Irak maupun Korea Utara) terlihat buruk di hadapan dunia.

Mengapa Korea Utara malah Menantang AS?

Sejarah selalu memiliki penjelasannya. Sebelum terpecah, pada tahun 1950, pasukan Korea prokomunis yang dibantu oleh tentara merah Cina dan senjata Uni Soviet berhasil menguasai kota Seoul (sekarang ibukota Korsel). Sekutu di bawah AS melancarkan serangan untuk merebut kembali Korea Selatan dan berhasil memukul mundur hingga ke perbatasan awal. Bahkan dengan bangga, kepala pasukan Udara AS dalam perang Korea (1950-53), Curtis LeMay mengatakan:

 “Dalam tiga tahun tersebut, kita membunuh 20% populasi orang korea utara.”[xiii]

Jumlah tersebut sangat mampu untuk memberikan ingatan yang jelas pada penduduk Korea Utara tentang trauma perang, terutama pada bom yang dijatuhkan Angkatan Udara AS. Keputusan Korea Utara untuk mengembangkan senjata nuklir dapat dianggap sebagai suatu sikap defensif yang traumatis tentang kedatangan kembali pasukan AS.

Kekhawatiran ini sangat beralasan. Setelah berakhirnya perempuran Perang Korea tahun 1953, pasukan Cina sudah pergi dari Korea Utara dan Uni Soviet tidak ikut campur. Namun, sejak saat itu pasukan AS membuat pangkalan Militer di Korea Selatan dan masih berada di sana hingga Sekarang (1953-sekarang).

Pembunuhan 20% penduduk Korea Utara dan penempatan pasukan negara yang pernah melakukan pembantaian terhadap mereka di perbatasan menjadi alasan yang cukup kuat mengapa Korea Utara selalu merasa perlu untuk meningkatkan pertahanan militernya.

Namun, media barat membuat dunia terbalik. Mereka menjalankan tradisi buruknya[xiv] kembali. Pada minggu lalu, media barat dihebohkan dengan parade militer Korea Utara yang menampilkan beberapa cadangan senjata hingga misil mereka. Opini yang hendak dibangun adalah, bahwa Korea Utara tidak hanya mengancam AS, namun seluruh dunia. Belakangan diketahui bahwa parade tersebut merupakan perayaan ulang tahun Kim Jong Il sebagai bapak bangsa mereka.[xv]

Korea Utara yang pasukannya tidak pernah mengganggu kedaulatan negara lain dianggap sebagai ancaman dunia sedangkan AS yang memiliki sekitar 1000 pangkalan militer di seluruh dunia, dan 400 pangkalan militer di kawasan Asia Pasifik[xvi] tetap dipandang sebagai penjaga kedamaian dunia.

Penyatuan (unifikasi) Korea memang merupakan cita-cita kedua negara (Korea Utara dan Korea Selatan). Persoalannya, Korea Selatan tidak ingin melepaskan keberadaan pasukan AS di negaranya. Seiring berjalannya waktu, unifikasi ini sedang melalui proses yang baik. Korea Utara sudah membangun hotel tempat kerabat antara Korea Utara dan Korea Selatan bertemu di perbatasan. Seorang fotografer Singapura bernama Aram Pam yang berharap mendapatkan foto-foto menyedihkan ketika berkunjung ke Korea Utara, namun ia malah menemukan keadaan terbalik. Kolam renang berwarna, pekerja kota yang sedang memakan es krim hingga ibu-ibu yang sedang berada di salon. Kehidupan yang sangat normal.[xvii] Belakangan Korea Utara mulai mengundang perwakilan PBB untuk memeriksa labotarium nuklir mereka. Tentu saja, seperti Kuba dan Cina di masa lampau, seiring berjalannya waktu negara-negara tersebut akan membuka diri terhadap dunia global. Namun tentu saja, proses yang damai ini tidak disukai beberapa pihak.

Stabilitas politik dan ekonomi menguntungkan negara-negara seperti Cina yang sudah menjadi raksasa, Rusia, Brazil, India dan tentu saja Indonesia. Karena negara-negara tersebut sudah siap untuk perdagangan besar di sektor pangan, konstruksi, hingga teknologi. Namun, AS dan Eropa sedang mengalami persoalan ekonomi yang serius sejak tahun 2008. Bias eropasentris membuat mereka tidak rela berada sejajar dengan negara-negara maju “baru” tersebut.

Satu-satunya harapan AS untuk menunjang perekonomian mereka yakni melalui industri senjata. Hal ini sudah diperingatkan oleh Presiden Eisenhower pada tahun 1961, disebut sebagai “The Military Industrial Complex”.[xviii] Satu-satunya pasar bagi industri senjata adalah rekayasa wilayah-wilayah konflik. Tentu saja, dengan keseriusan AS menjadikan Korea Utara sebagai pemantik, maka wilayah Asia Pasifik (terutama semenanjung Korea) akan menjadi lahan konflik baru. Konflik dan perang bisa menjadi bencana bagi negara sekitarnya. Termasuk negara-negara di Asia Pasifik dan Asia Tenggara. Korea Utara menganggap bahwa negara-negara ASEAN mesti bersuara tentang  formasi konflik rancangan AS ini. Menlu Korut mengirim surat pada otoritas Asean pada tanggal 23 April 2017[xix]:

“Saya mengungkapkan harapan saya bahwa ASEAN yang sangat mementingkan perdamaian regional dan stabilitas akan membuat sebuah isu latihan militer gabungan AS-Korea Selatan di konferensi ASEAN dari posisi yang adil dan berperan aktif dalam menjaga perdamaian dan keselamatan Semenanjung Korea,”

Surat ini menandakan kekhawatiran Korea Utara tentang situasi yang mereka hadapi. Sekurang-kurangnya negara-negara Asia Tenggara mampu bersikap untuk mengatakan bahwa perang/intervensi militer AS bukanlah solusi. Namun, bukan berarti bahwa Korea Utara tidak boleh meluncurkan nuklirnya. Korea Utara sudah jauh-jauh hari menegaskan keberanian mereka meluncurkan Nuklir bila pasukan AS — selangkah lagi sejak 1953 — berani untuk mengganggu kedaulatan negaranya. Keputusan Korea Utara untuk melawan bisa menampilkan hasil baru dalam sejarah invasi AS ke negara-negara kecil yang dianggapnya musuh. Meski kita juga menyadari tidak ada hal baik yang akan muncul ketika nuklir pertama dijatuhkan. ♦

Pandeglang, 8 Januari 2018

*Iman Zanatul Haeri aktif di komunitas Perpustakaan Kandangbuku dan divisi riset LBH Rakyat Banten. Sekarang bekerja sebagai guru sejarah di Hellomotion High School.

Daftar Pustaka

Mortimer, Caroline. CIA Officer Who Interrogated Saddam Hussein Says There were Cleary No WMDs in Iraq (Independent.Uk: 4 January 2017)

Dearden, Lizzie. Phone Conversation Transcript Reveals Colonel Gaddafi Warned Tony Blair About the Rise of Islamic Extremism (Independent.UK: 7 January 2016)

Silverman, Henry I. Reteurs: PrinciplesOf Trust Of Propaganda?. Rossevelt University: The Journal od Applied Business Research – November/December 2011 Vol 27.

Catatan Kaki

[i] Pidato Saddam Hussein yang dikutip secara penuh menjadi arsip The Guardian, lihat https://www.theguardian.com/world/2003/jan/06/iraq1

[ii] Pengakuan petugas CIA yang menginterograsi Saddam Hussein bahwa Irak tidak memiliki WMDs (senjata pemusnah massal), lihat http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/cia-officer-saddam-hussein-interrogate-wmds-iraq-weapons-of-mass-destruction-war-a7509081.html

[iii] Dalam percakapan telepon antara Moammar Khadafi (Libya) dengan Tony Blair (PM Inggris), Khadafi mengingatkan tentang kebangkitan Islam Ekstremis dan memberi peringatan bila Libya digempur oleh Pasukan NATO maka gelombang pengungsi yang selama ini tertahan di Libya akan menyebar ke Eropa. Lihat, http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/gaddafi-accused-tony-blair-of-supporting-al-qaeda-as-former-pm-urged-him-to-step-down-during-arab-a6800526.html diposting pada tanggal 7 Januari 2016 dan diunduh pada tanggal 30 April 2017

[iv] Untuk menguji kredibilitas jurnalistik reuteurs, lihat http://honestreporting.com/academic-study-exposes-reuters-propaganda/  studi akademik tentang kredibilitas Reuteurs lihat http://blogs.roosevelt.edu/hsilverman/files/2011/11/Reuters-article-JABR.pdf

[v] CNN mendapatkan berita mengenai Korea Utara dari Reuteurs dan menterjemahkannya begitu saja, lihat http://www.cnnindonesia.com/internasional/20160830105357-113-154755/kim-jong-un-eksekusi-pejabat-tinggi-korut-karena-ketiduran/

[vi] Dalam hal ini Kompas mengutip dari Reuteurs, mengupas sikap pribadi Kim Jong Un dengan sangat tendensius. Lihat, http://internasional.kompas.com/read/2016/04/20/09364741/Kim.Jong.Un.Lebih.Arogan.dan.Impulsif.dari.Ayahnya.

[vii] Media milik Harie Tanoe atau kawan karib Donald Trump ini mengutip Straits Times (Media Mainstream Barat) ketika memberitakan peristiwa di Korea Utara. Lihat, https://international.sindonews.com/read/823264/40/cara-eksekusi-korut-paman-jong-un-dimangsa-120-anjing-1388739036

[viii] Tempo mengutip Daily Mail (media mainstream barat) tanpa berkorespondensi dengan kantor berita lokal sehingga searah dengan arah wacana media barat, sebagai contoh lihat, https://m.tempo.co/read/news/2014/01/03/118542007/eksekusi-paman-kim-jong-un-menggunakan-anjing

[ix] Lihat artikel Jonathan Kaiman dalam https://www.theguardian.com/world/2014/jan/06/story-kim-jong-un-uncle-fed-dogs-made-up

[x] Lihat Pidato Lengkap Yeonmi Park di https://www.youtube.com/watch?v=Ei-gGvLWOZI

[xi] Laporan ini dibuat dalam video pendek berjudul Why do North Korean Defentors Keep Changing Their Stories? Lihat, https://www.youtube.com/watch?v=VfNHdhIE13A

[xii] Mary Ann Jolley, The Strange Tale of Yeonmi Park (The Diplomat: 10 Desember 2014), lihat, http://thediplomat.com/2014/12/the-strange-tale-of-yeonmi-park/

[xiii] Lihat https://www.washingtonpost.com/opinions/the-us-war-crime-north-korea-wont-forget/2015/03/20/fb525694-ce80-11e4-8c54-ffb5ba6f2f69_story.html?utm_term=.1b58f473be32

[xiv] Tulisan mengenai kumpulan kebohongan media barat atau media Mainstream pernah diulas oleh Profesor Michel Chossudovsky dalam artikelnya di Global Research berjudul Who is Behind “Fake News” Mainstream Media Use Fake Video and Image. Lihat, http://www.globalresearch.ca/who-is-behind-fake-news-mainstream-media-use-fake-videos-and-images/5557580 diposting pada tanggal 24 November 2016 dan diunduh pada tanggal 30 April 2017.

[xv] Lihat video parade yang disebarkan resmi oleh pemerintah Korea Utara, https://www.youtube.com/watch?v=o0XYFW9G3eE

[xvi] John Pilger adalah pebuat film dokumenter, pada akhir 2016 ia membuat film dokumenter berjudul The Coming War On China yang menyebutkan beberapa fakta mengejutkan. Terdapat 1000 pangkalan militer AS diseluruh dunia, 400 diantaranya (memiliki cadangan nuklir) sudah mengelilingi Cina termasuk yang berada di wilayah Asia Fasifik. Lihat, http://www.dailystar.co.uk/news/latest-news/606068/the-coming-war-on-china-john-pilger-military-bases

[xvii] Untuk melihat koleksi fotografer Singapura tersebut bisa dilihat dalam http://www.dailymail.co.uk/news/article-2638213/Tourist-took-camera-inside-North-Korea-expected-really-really-sad-people-shocked-seemingly-ordinary-lives-citizens.html

[xviii]  Military Industry Complex atau Kompleksitas Industri militer merupakan suatu gejala ekonomi pasca perang dunia kedua, ketika AS berhasil memperbaiki industri mereka pasca krisis malaise 1929 dengan cara mengubah industri berat menjadi industri senjata. Ketika Soviet Runtuh dan keadaan dunia semakin damai, maka industri senjata yang menyerap banyak tenaga kerja akan mengalami kehancuran, oleh sebab itu AS berkepentingan untuk mempertahankan konflik demi berjalannya industri senjata mereka yang belakangan lebih dikenal sebagai industri militer.  http://wallstreetwindow.com/military-industrial-complex

[xix] Lihat uraian surat Menteri Luar Negeri Korea Utara kepada ASEAN dalam https://www.rt.com/news/386406-pyongyang-asean-letter-nuclear-holocaust/

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.