Dua jam menuju tahun yang baru. Di sebuah kamar losmen bertingkat dua yang bobrok, dengan dinding kamar bercoretkan salah satu bait puisi Arthur Rimbaud, “A thousand dreams within me softly burn”, Ezra sedang mendesain sebuah rencana pencopetan maha dahsyat yang akan tercatat dalam sejarah. Sementara itu, tiga ratus meter dari losmen, seorang pengamen cilik bernama Mamat sedang bernyanyi dengan suara cempreng di depan sebuah warung makan pinggir jalan sembari mengocok ukulele jeleknya secara serampangan. Plastik besar bekas bungkus permen yang menjadi dompet tempatnya mengumpukan receh terselip di saku celananya. Ezra dan Mamat tidak saling mengenal. Mereka mempunyai kehidupan mereka masing-masing. Lalu apa hubungan antara mereka berdua? Kita belum tahu itu. Namun mungkin dalam waktu dekat kedua karakter ini akan segera bersinggungan.

Ezra tidak mempunyai kedua orang tua. Dia tidak mempunyai sanak saudara, keluarga atau teman. Dia tidak bersekolah. Dia juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Yang terburuknya lagi, sejak kecil dia tidak memiliki mimpi dan cita-cita. Atau lebih tepatnya, dia tidak mempunyai kemampuan untuk bermimpi dan bercita-cita. Ajaibnya, Ezra diberkahi kemampuan untuk mencopet dompet dari siapapun yang dia mau, lengkap dengan mimpinya. Begitulah cara dia bertahan hidup hingga sekarang. Dengan uang dan mimpi copetan.

Namun belakangan ini Ezra sudah mulai jenuh dengan mimpi-mimpi yang dia copet. Dia memiliki 145 mimpi copetan dari 145 dompet di dalam kamarnya. Dan semuanya sudah membuat dia bosan. Dia membutuhkan mimpi baru yang lebih segar, kreatif dan inovatif. Mimpi-mimpi yang bakal membuat hari-harinya sebagai pencopet terhebat sepanjang sejarah menjadi lebih menyenangkan. Maka dari itu, malam ini dia berniat menyusup ke dalam pesta para mahasiswa pintar nan tajir di sebuah hotel mewah ibukota. Menurut Ezra, remaja-remaja yang tingkat intelegensinya di atas rata-rata seperti mereka pastilah memiliki mimpi yang jauh lebih tinggi dibanding orang-orang awamnya pada umumnya.

Kalian tidak usah membayangkan bagaimana caranya Ezra mencopet mimpi seseorang. Mekanismenya sama sekali tidak rumit. Dia cukup mencopet dompet seseorang, lalu membuka dompet itu. Dengan begitu mimpi atau cita-cita si pemilik dompet akan tergambar nyata di benaknya seperti film yang diputar. Ezra, tentu saja, tidak bisa memiliki mimpi itu dan menjadikannya sebagainya mimpinya. Mimpi-mimpi mereka tetaplah ilegal. Hanya bisa dilihat, tapi tidak bisa dimiliki. Untungnya, tidak dengan uang di dalamnya. Ezra bebas menggunakan uang itu untuk membiayai hidupnya, sama seperti pencopet-pencopet pada umumnya.

Satu jam menuju tahun yang baru. Di sebuah pesta yang megah dan glamor. Ezra mulai berbaur di antara riuhnya lagu dansa elektronik, gemerlap lampu, asap rokok, ruap alkohol serta aroma parfum dan peluh gadis-gadis cantik. Jauh berbeda dengan keadaan Ezra yang sementara ini lupa akan misinya dan sibuk menahan diri untuk tidak menyeret salah satu gadis ke dalam toilet, Mamat sedang menerima bogem mentah dari Kepra, si bos preman, dengan dalih uang yang harusnya Mamat setorkan pada Kepra raib di jalanan. Dengan satu hardikan galak, Kepra mengusir bocah malang itu untuk mencari lagi uang setorannya.

Lupakan nasib Mamat yang menyedihkan sejenak. Kita kembali mengintip Ezra. Dalam waktu dua puluh menit, Ezra sudah mengantongi dua puluh dompet berbagai merk di tasnya. Berbagai trik dia gunakan. Mulai dari trik persuasi klasik mengalihkan fokus korban dengan mengajaknya mengobrol sampai harus menggunakan trik paling kuno dalam sejarah pencopetan dunia: Mencomot langsung dari celana atau tas dengan kecepatan yang bahkan akan membuat Barry Allen si The Flash bertepuk tangan. Apalagi di tempat yang berisik dan gelap seperti ini, ditambah pengunjungnya yang sudah ditundukkan alkohol, ganja dan narkotika lainnya yang Ezra tidak ketahui namanya, pemuda kurus itu bisa beraksi lebih mudah dari biasanya.

Ezra mempelajari teknik mencopet dari ayahnya saat tinggal di Majenang dulu. Dia berlatih dengan cara mencelupkan tangannya ke dalam wajan berisi pasir yang dipanaskan di atas kobaran api, sementara ayah Ezra berdiri di belakangnya sambil memegang sebuah bantalan per. Jadi, apabila Ezra mencabut lengannya dari wajan, maka bantalan per itu akan menghajar kembali siku Ezra, dan secara otomatis kembali mencelupkan tangan Ezra ke dalam wajan. Begitu terus berulang-ulang selama tiga puluh menit. Sementara teknik mengalihkan korban, baik dengan persuasi atau manipulasi, Ezra pelajari dari banyak buku dan film. Kita tak akan membahas buku-buku dan film-film tersebut karena berisiko akan ditiru. Kalau untuk masalah teknik latihan Ezra yang ekstrem itu kita rasa tak apa-apa dibeberkan. Karena untuk berlatih seperti itu dibutuhkan mental, disiplin dan kenekatan yang tak tanggung-tanggung. Tidak semua orang akan berani melakukannya, iya kan?

Tiga puluh menit menuju tahun yang baru. Terompet-terompet dan petasan di jalan-jalan terdengar makin bingar. Hiruk-pikuk merajam malam dengan bising. Ezra sudah berhasil mengumpulkan lima puluh dompet, dan kini ia sedang berdiri di belakang gedung pesta sambil asyik membuka dompet dan mimpi remaja-remaja aristokrat berotak pintar. Sesekali dia menggigit bibir sembari memegang kepala Lulu, kala gigi gadis cantik berdarah Perancis-Sunda itu tak sengaja memarut penisnya. Ezra tidak terlalu peduli dengan Lulu yang berasyik-masyuk di antara kedua lututnya itu. Dompet-dompet sekaligus mimpi-mimpi yang telah dia copet jauh lebih penting untuknya.

Lulu adalah mahasiswi baru jurusan sastra Perancis yang baru mendapatkan beasiswa masuk salah satu kampus negeri terbaik di Indonesia karena meraih nilai UAN tertinggi kedua se-Indonesia. Selinting ganja berhasil meletupkan kebinalannya yang tersembunyi. Ironis juga melihat gadis cantik nan pintar calon pembangun negeri ini malah bertingkah seperti pelacur terhadap seorang pencopet tak berpendidikan macam Ezra. Keadaan Ezra kini bertolak belakang dengan Si Mamat yang sedang meringkuk di sudut jalan, tepat di depan kios rokok Pak Kosim. Kedua matanya sembab oleh lebam dan air mata. Ingusnya berleleran di sekitar hidung. Giginya bergemeletuk, tubuh kecilnya menggigil, bermandikan peluh dan takut. Mamat bingung memikirkan ibunya yang sedang diserang deman tinggi di rumah. Dia juga bingung bagaimana mengumpulkan uang setoran itu dalam waktu singkat

Sepuluh menit menuju tahun yang baru. Ezra baru saja memuntahkan sepiring makan malamnya ke selokan. Mimpi-mimpi yang dia copet ternyata membuatnya mual. Ezra tak menyangka bahwa para mahasiswa dan mahasiswi terpintar dan terkaya di kota ini memimpikan banyak hal yang menjijikkan dan memuakkan. Ada yang bermimpi untuk mengoleksi mobil Eropa. Ada yang bermimpi untuk menikahi pria tampan kaya raya berjenggot tebal dan melahirkan sepasang anak kembar yang lucu-lucu. Malah dua orang pemuda bernama Alex dan Herman bermimpi dan bercita-cita untuk menjadi pejabat pemerintah agar bisa mengambil duit rakyat. Anjing, anjing, anjing! Kita bisa mendengar Ezra bersumpah serapah. Mimpi dan cita-cita macam apa itu! Mengapa anak muda zaman sekarang begitu muluk dan pretensius? Kita masih bisa mendengar Ezra merutuk. Setelah mengambil uang di dalamnya, Ezra membuang dompet-dompet itu ke dalam tong sampah, lalu membakarnya. Kemudian, sembari menyulut rokok, Ezra berjalan menuju kios rokok Pak Kosim langganannya untuk membeli segelas kopi hitam panas.

Lima menit menuju tahun yang baru. Kaki-kaki Ezra tak sengaja menendang sesuatu. Bunyi gemerincing terdengar bisu di balik kerasnya ledakan kembang api raksasa di angkasa. Puluhan logam berwarna putih dan beberapa lembar uang seribuan kumal pontang-panting berserak di atas trotoar jalan. Ezra terdiam. Dia tidak memedulikan receh itu. Matanya justru menatap bungkus besar bekas permen yang terinjak di bawah sepatunya. Ezra membungkuk, mengambil bungkusan permen itu, lalu membukanya. Seketika visi-visi mimpi dalam bungkus permen itu mulai berlompatan keluar, berlari mengitarinya. Ezra tidak menyangka bahwa bungkus bekas permen tersebut adalah dompet seseorang. Ezra menyaksikan mimpi-mimpi di dalamnya bergantian dengan dinamis. Di satu mimpi, Ezra tertawa lepas, kemudian di mimpi lainnya, Ezra dibuat memangis haru. Itu mimpi yang luar biasa. Mimpi sempurna yang dicari-cari Ezra selama ini. Ezra tidak bisa menjelaskan mimpi seperti apa yang dilihatnya pada kita. Tapi menurut penggambarannya secara singkat, mimpi yang dia lihat di dalam bungkus permen itu seperti film-film Hayao Miyazaki. Sederhana tapi penuh dengan fantasi yang menyenangkan juga mengharukan. Ezra tersenyum lebar sekali. Namun, dia kembali terdiam. Dia merenung. Apa yang dia renungkan? Kita belum tahu itu. yang pasti sekarang Ezra mengantungi bungkus permen itu, lalu bergegas berjalan menuju kios rokok Pak Kosim.

Malam tahun baru tiba. Sorak sorai kebahagiaan terdengar di berbagai penjuru. Sementara mahasiswa dan mahasiswi di pesta kostum itu masih belum sadar jika dompet mereka telah menjadi abu di depan gedung sana. Di salah satu toilet di dalam gedung itu, Lulu baru saja mengenakan pakaian dalamnya dengan wajah tertekuk. Dia berdiri menatap cermin, lalu menangis hingga riasan wajahnya luntur. Dia menangis bukan karena Alex dan Herman baru saja menyetubuhinya. Namun karena Ezra mencampakkannya hingga dia harus melampiaskan kemarahan dan kesedihannya dalam bentuk seks kepada dua pria itu. Lulu pun tak mengerti kenapa dia bisa jatuh hati secepat itu pada pemuda asing seperti Ezra.

Sementara itu, di bawah langit malam yang berpayungkan cahaya dan suka cita, Ezra merangkul hangat Mamat. Tangan Mamat terlihat kerepotan memegang bergepok-gepok duit pemberian Ezra. Berkali-kali dia menghaturkan terima kasih pada Ezra. Sedangkan Pak Kosim, mantan tentara veteran itu baru saja membekuk Kepra dan melaporkannya pada polisi setempat. Pria tua yang masih berbadan tegap di usianya yang kian senja itu mengajak Mamat untuk pulang. Dia berjanji pada Mamat bahwa Kepra tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Dia juga berjanji kalau besok dia akan mengantarkan ibu Mamat ke klinik, sekalian mendaftarkan Mamat ke sekolah dasar gratis. Mimpinya memiliki anak asuh kini terkabul.

***

Satu jam setelah malam pergantian tahun. Satu blok dari losmen bobrok tersebut, jika kita telusuri jalur pedestrian di sisi jalan selama setengah jam, kita bakal melihat sosok Ezra yang sedang asyik mengisap rokok kretek sambil menatap sebuah rumah mewah di seberang jalan. Tangan kirinya menggenggam dompet merah muda milik Lulu yang sempat dia curi sewaktu gadis itu lengah.

Ezra membuang puntung rokoknya, lalu tergopoh-gopoh menyeberang jalan ketika melihat sosok Lulu yang baru saja keluar dari mobilnya untuk membuka pagar.

“Lulu!” sahutnya.

Lulu membalikkan tubuhnya dengan lesu. Matanya yang sayu beradu pandang dengan mata Ezra yang digumpali rasa bersalah. Alih-alih mengamuk karena murka, Lulu menatap Ezra dengan jengah. Gadis cantik itu tersenyum kecut

“Mau apa kamu ke sini? Belum puas membuat saya terlihat seperti sampah?” tanya Lulu sinis.

Ezra menghela napas. “Saya minta maaf sebelumnya. Tapi saat itu kamu mabuk, Lulu. Saya hanya tidak mau kamu menyesali perkataanmu keesokan harinya.”

Lulu terdiam. Kini matanya menatap Ezra dengan tajam dan nyalang.

“Saya ke sini untuk mengembalikan dompetmu yang terjatuh. Saya sudah melihat mimpi-mimpi di dalamnya. Dan saya tidak mengira dari sekian banyak mimpi-mimpi yang membuat saya mual di dalam pesta itu, mimpi kamu mungkin satu-satunya mimpi yang sukses membuat saya merenung lama. Padahal saya sudah mendapatkan mimpi yang saya inginkan malam ini, tapi mimpi kamu membuat perspektif saya lebih luas.”

Lulu mengernyitkan dahi. “Kamu ini bicara apa sih?”

Ezra menghampiri Lulu. Kemudian dia memberikan dompet merah muda itu padanya. “Kamu mau memaafkan saya?”

Lulu menerima dompet itu dengan heran. Matanya masih tak lepas menatap wajah Ezra. kerlap-kerlip cahaya kembang api yang baru saja melesat ke langit malam menyinari wajah mereka berdua. Tatapan Lulu yang tadi nyalang dan terluka kini mulai melunak. ♦ 

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts