Oleh: Krea Baski*

“Ketakutanku membaca Borges adalah ketakutan menjadi seorang snob.”

Tak ada tawa yang memantik dalam kisah-kisah lelaki buta itu.

Tak ada kata piramida untuk celana dalam, tak ada kata gumpalan cacing tanah untuk bulu jembut, juga tak ada ritsleting untuk mulut gombal.

Semua yang dikatakan oleh lelaki buta itu hanyalah waktu, waktu dan waktu.

Szymborska masih bisa menulis dengan ringan ; “Jam berapa sekarang?” dalam puisinya “Menara Babel”. Aku menoleh jam yang ada di taskbar laptopku.

Dengarlah, tak seharusnya permainan filsafat yang dingin diucapkan begitu sempurna tanpa sehuruf pun yang najis. Aku tahu kalau Borges senang bercanda dan berparodi.

Parodinya sama sekali tidak lucu. Parodinya mirip parodi politisi liberal yang doyan beretorika kemudian menihiliskan dirinya untuk menulis.

Kau tahu? Baru-baru ini aku membaca Monsieur Pain dari Bolano. Ringan. Pikiran stabil.

Tak mengguncang-guncang seperti kapal yang dinaiki Kristus saat badai menerpa.

Jika suatu saat kutemui Borges di alam barzah. Aku ingin mengatakan kepadanya; Tuan, waktu kita berakhir, Waktu tidak.

Mimpi Amerika

 

Jikalau suatu saat komputer memiliki

Rasa narsis dan punya hasrat untuk selfie.

Lalu, apakah akun instagram para robot

Akan memiliki begitu banyak followers

Dan haters sekaligus?

Aku tahu kalau John von Neumann tak pernah

Memikirkan konsekuensi itu.

Game Theory adalah salah satu sastra orang kanan.

Permainan itu sederhana sekali.

“Belah anak itu menjadi dua!” perintah Raja Salomo kepada pengawalnya.

Siapa yang mengaku lebih dulu, dia yang kalah.

Aku jadi ingin berbincang soal NBA.

Baru-baru ini peraturan NBA direvisi.

Dulu :

Magic Johnson, no travelling.

Charles Barkley, no flagrant foul.

Jika keduanya bermain di tahun 2017, tak ada emas 24 karat untuk mereka.

NBA sudah dirasuki ideologi sosialis saat ini. Sport for the sake of the sport, no entertainment!

Mana Suratnya? Lagi ada Operasi Zebra.

Mana surat-suratnya?, kata Pak Polisi

Kepada si Pengendara.

Ini Pak suratnya…surat Rasul Paulus

Kepada Jemaat di Efesus.

Lari Pagi yang Menyenangkan

Lari pagi bersama Felicia menyenangkan.

Aku dan Felicia tak pergi ke gereja pagi ini.

Sesampai di rumah, Felicia menselonjorkan kakinya

Di pangkuanku saat kami duduk di sofa.

Aku membuka tali kasutnya satu per satu

Hingga yang nampak tinggal kaus kaki yang membungkus

Tumit sampai telapak kakinya.

Felicia bilang, bukalah kaus kakiku, nikmatilah telapak dan jari-jemarinya yang berwangi lavender, bukankah kau menyukainya?

French pedicure membuatku bergairah.

Aku tak suka warna pekat seperti merah hati,

Warna itu membuatku jijik

Karena mengingatkannya pada darah manusia.

Kau bisa membayangkan, bau kaki sehabis lari jarak jauh

Di pagi hari.

Jauh lebih mirip duren busuk dibanding

Sambal terasi yang masih lebih enak di lidah.

Jaring Laba-Laba di Kota Pertanyaan

Baru saja aku mengetik kata kunci “love of science” di Ensiklopedia Terbesar di Dunia

Yang keluar malah tulisan dan video dengan judul “science of love”.

Orang-orang yang masuk kategori love of science disebut musyrik

Orang-orang yang masuk kategori science of love disebut pengemis cinta

Keduanya menggunakan kata cinta. Yang pertama terlihat seperti dendam. Yang kedua terlihat seperti kasih.

Yang pertama (jika berhasil); menjadi tenar. Yang kedua (jika berhasil); tidak onani lagi.

Yang pertama (jika gagal); depresi. Yang kedua (jika gagal); depresi.

Kukira, aku tak perlu menyimpulkannya. Barisan deduksi diatas bisa kau lihat di jaring laba-laba Kota Pertanyaan.

*Profil penulis:

Panggilan saya Krea, tinggal di Jakarta. Sedang berusaha dan belajar menerjemahkan beberapa karya asing ke dalam Bahasa Indonesia. Sesekali menulis puisi.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts