“Kamu serius?” tanya Abdi.

Rano mengangguk pasti. Sembari menyulut rokoknya, dia melihat ekpresi wajah Abdi yang tampaknya tak begitu senang.

Abdi adalah mantan seorang polisi militer yang diberhentikan secara tidak hormat karena menolak mentah-mentah  kala diperintahkan untuk merazia buku-buku tertentu. Menurutnya itu adalah hal yang sangat konyol. Kota ini sudah bobrok dan hancur lebur dari zaman nenek moyang kita, para pembakar penyihir. Merazia buku sama saja dengan menenggelamkan kota ini ke dalam pasir isap, ucapnya suatu hari. Abdi sedikit tahu perihal Kelompok Kucing Menari. Dia pernah membaca berkas-berkas rahasia tentang mereka sewaktu di kepolisian dulu. Namun dengan memberikan informasi kepada Rano, dia khawatir nasib Rano sama dengan nasib teman-teman jurnalis lainnya yang menghilang. Begitulah nasib para pencari kebenaran di kota ini. Diberantas dalam bayang-bayang, mampus dalam kesunyian. Jadi, Abdi memilih bungkam, dan pelan-pelan menekan keinginan Rano untuk mencari Kelompok Kucing Menari.

“Heh, malah bengong. .”

“Eh, iya. Sekarang begini, oke, kamu berhasil menyusup. Terus apa yang bakal kamu lakukan? Mengeksploitasi mereka di media? Lapor polisi? Mereka sudah mengendalikan semuanya! Nggak ada gunanya. Lebih baik menahan dahaga untuk bertahan hidup, daripada harus menenggak air kemudian mati “

“Itu semua baru dugaan, Abdi. Belum terbukti kebenarannya. Ada kemungkinan berkas-berkas yang pernah kau baca itu juga palsu. Memang logis jika kita berpikir begitu karena teman-teman kita yang lenyap begitu saja. tapi kita harus memikirkan sesuatu dengan persepsi berbeda. Maka dari itu aku ingin menyelidiki. Bukan untuk bertindak sebagai pembela kebenaran atau semacamnya. . “

“Tapi untuk memuaskan rasa penasaranmu, kan?” potong Abdi.

Rano berdiri, mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar bir, lalu menenggak setengah gelas birnya yang tersisa hingga tandas. “Aku lebih baik menenggak air lalu mati daripada bertahan hidup hanya untuk menahan dahaga. Rasa penasaran mungkin bisa membunuh seekor kucing. Tapi kucing punya sembilan nyawa, ‘kan?  Aku pergi dulu. Terima kasih atas perhatiannya. .”

“Tapi kamu manusia. Nyawanya cuma satu” bisik Abdi setelah sosok Rano menghilang di depan pintu bar.

***

Orang-orang menamainya Tuan Tersenyum. Bertubuh jangkung, kurus dan berwajah pucat. Matanya bersinar picik, sedangkan bibirnya selalu menyeringai, memamerkan gigi-gigi besarnya. Sosok itu diceritakan suka memburu dan menculik perempuan-perempuan muda. Tahun ini banyak sekali kasus perempuan hilang. Jumlahnya nyaris mencapai ratusan, dan semuanya dikait-kaitkan dengan Tuan Tersenyum. Ada kisah lain menyebutkan bahwa pria ini adalah iblis yang memprakarsai semua tragedi yang menimpa kota Hitam Pekat.

Seorang fotografer bernama Ali Rabat menemukan beberapa penampakan sosok pria ini di berbagai foto-foto yang berhubungan dengan kecelakaan, pembunuhan, kebakaran dan sejenisnya. Selalu ada sosok pria jangkung dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam terpotret di foto-foto tersebut. Dan foto-foto itu diambil dari sekitar tahun 1930 sampai akhir tahun 1980-an. Setelahnya, Tuan Tersenyum tak pernah muncul lagi. Tapi setiap ada kasus perempuan hilang yang tak terpecahkan, Tuan Tersenyum ini selalu dijadikan kambing hitam. Bahkan jika kalian cukup jeli, ada banyak grafiti dan pamlet-pamflet di tiap-tiap dinding kota Hitam Pekat bertuliskan “Jadilah perempuan baik, atau Tuan Tersenyum akan mendidikmu”.

Sejak saat itu Ali Rabat beralih profesi menjadi seorang blogger yang menulis konten-konten misteri dan teori konspirasi. Dia juga menulis beberapa buah novel horor . Lucunya, novelnya menjadi salah satu dari sedikit novel yang tidak dijarah para polisi militer. Para penikmat literasi yang penasaran segera membeli buku-bukunya, dan dalam sekejap novel-novelnyanya menjadi candu di kalangan tertentu. Rano adalah penggemar karya-karyanya. Karena Ali Rabat-lah dia bercita-cita menjadi jurnalis seperti sekarang dan ingin menulis novel horor juga suatu saat nanti.

Ali Rabat hidup soliter dan tertutup. Sudah puluhan tahun dia ditinggal keluarga, saudara, teman dan juga kolega-koleganya. Usianya sudah hampir lima puluh. Dia tidak memiliki istri dan anak. Benar-benar seorang pertapa. Muskil menemukan di mana tempat tinggalnya, tapi berbekal ilmu jurnalistik dan kecerdasannya, Rano berhasil melacak keberadaan Ali Rabat di sebuah apartemen murah di daerah pecinan tempat orang-orang tanpa masa depan menghabiskan hidupnya yang pahit di sarang-sarang opium. Sebuah gua persembunyian yang tepat untuk orang seperti Ali Rabat, pikir Rano sambil tersenyum kecil. Kini dia berada tepat di depan pintu kamar Ali Rabat. Dari luar terdengar sayup-sayup musik gospel. Rano berdehem kecil, melemaskan leher dan pinggangnya yang pegal, lalu bersiap untuk mengetuk.

***

 “Kamu nggak perlu repot-repot menyusup. Kita bisa mendapatkan tiket masuk gratis ke markasnya sebagai pengunjung, tapi aku belum pernah mencobanya. Padahal dulu aku penasaran sekali dan rela melakukan apapun untuk bisa masuk ke markas mereka, tapi begitu sudah tahu caranya, rasa kertertarikanku malah sirna. Seperti terobsesi dengan wanita cantik misterius. Begitu kita berhasil menyingkap selubung dan memilikinya, ya sudah nggak menarik lagi.”

“Bagaimana caranya?”

“Bermacam-macam. Tapi aku tahu tiga cara.”

“Yaitu?”

“Yang pertama adalah merancap di tengah jalan ramai sembari tersenyum lebar. Yang kedua adalah mengumpulkan seratus kucing berbulu hitam di bukit Sentosa. Yang ketiga adalah melukai telapak tanganmu dengan pisau dapur curian milik seorang ibu-ibu di atas umur empat puluh tahun. Campurkan darah dari tanganmu itu ke dalam kopi pahit, lalu minum sampai habis dengan sekali tegukan. Oh iya, aduk kopi itu dengan celana dalam bekas pakai gadis perawan. Catat itu. Oh, kamu rekam ya. Biar kuperjelas. Minum kopi dengan sekali tegukan. Diaduk, iya. Celana dalam bekas pakai gadis perawan. Jelas kan?”

“Lalu kalau ritual-ritual aneh ini sudah dilakukan apa yang terjadi?”

“Tuan Tersenyum akan datang menjemputmu, lalu mengantarmu ke markas Kelompok Kucing Menari.”

“Tuan Tersenyum? Bukannya dia hanya mitos?”

***

Deras hujan membuatku melipir ke sebuah warung kecil di pinggir jalan. Sembari mengeluarkan bungkus rokok, mancis, ponsel dan buku catatanku dari balik jaket, aku memesan secangkir kopi dan semangkuk ramen pedas. Jam di ponselku menunjukkan pukul sembilan malam. Hampir lima jam sudah aku menghabiskan waktu menanyai Ali Rabat perihal Kelompok Kucing Menari. Aku mendapat banyak informasi, hanya saja semuanya meragukan. Karena tidak ada bukti nyatanya. Aku menyulut rokok, lalu menyalakan rekaman hasil wawancaraku dengan Ali Rabat di ponselku. Lamat-lamat percakapan kami berdua terdengar.

***

“Kamu serius, Ran?” tanya Pangpen. Dia tersenyum mengejek.

“Hari ini rasanya “serius” menjadi kata yang paling banyak kudengar” balasku masam.

Pangpen tergelak, lalu menghilang di balik tumpukan barang curian yang belum sempat disortirnya. Pangpen adalah singkatan dari Pangeran Pencuri. Dia sendiri yang membuat nama julukannya seperti itu. Aku tidak pernah tahu siapa nama aslinya. Dia punya ratusan identitas palsu. Nama dan penampilannya selalu berubah-ubah tiap saat. Aku malah yakin kalau dia sudah lupa dengan nama pemberian orang tuanya.

Sebagai pencuri, Pangpen tergolong unik. Dia tidak pernah mencuri barang-barang berharga seperti uang atau perhiasan, Dia juga tidak pernah mengincar barang-barang seni seperti lukisan atau barang langka. Yang dia curi dan koleksi adalah pakaian-pakaian. Mulai dari jas, celana, kemeja sampai benda yang aku cari sekarang, celana dalam. Dan celana dalam adalah koleksi favoritnya. Dia punya ratusan atau bahkan ribuan celana dalam dari berbagai pelosok Negara. Aku pernah membaca orang yang mengoleksi rambut perempuan di lemarinya, dan dia adalah pembunuh berantai. Tapi mengoleksi celana dalam? Mungkin banyak juga. Namun belum ada yang segila Pangpen. Celana dalam-celana dalam favoritnya dipajang di tiap-tiap dinding rumahnya. Jumlahnya nyaris menyentuh angka 500. Luar biasa

Pangpen punya beberapa “pelanggan tetap” dari kalangan pejabat dan bangsawan. Dari merekalah Pangpen mendapatkan kucuran dana. Permintaan mereka kadang muskil dan mengundang bahaya, tapi Pangpen selalu bisa menyanggupinya. Contohnya, salah satu dari mereka pernah menyuruh Pangpen mencuri gaun puteri kerajaan dari negeri bersalju yang mengasingkan diri entah di mana dan konon mampu mengeluarkan es dari tangannya sendiri atau mencuri lukisan potret diri seorang bangsawan muda yang digosipkan sebagai rahasia awet mudanya. Hebatnya, Pangpen berhasil menemukan mereka dan mencuri barang yang diinginkan pelanggan-pelanggannya. Entah bagaimana caranya, apa trik dan tipu muslihat yang digunakannya, dia tidak pernah mau menceritakannya.

“Kamu mau celana dalam perawan yang seperti apa? Sebenarnya aku nggak pernah meminjamkan koleksiku. Tapi karena ayahmu sering membantuku, kujadikan pengecualian.”

“Ya, seperti tadi sudah kujelaskan, celana dalam bekas pakai perawan. Berarti yang belum dicuci. Kalau bisa yang perawannya cantik, agar aku nggak terlalu jijik”

***

Aku menatap kopi, pisau dan celana dalam di depanku. Ini semua terasa absurd. Tak ada bukti sama sekali yang menunjukkan kalau ritual ini dapat berhasil. Dan lagi seandainya Tuan Tersenyum ini benar-benar muncul, apakah dia benar akan mengantarku ke markas Kelompok Kucing Menari? Minum kopi bercampur darah dan bau selangkangan gadis perawan aku rasa tidak terlalu buruk, tapi melukai telapak tanganku? Pasti sakit sekali. Yah, setidaknya aku sudah menyiapkan P3K. Kalau Ali Rabat sampai menipuku, aku akan mencabut kontol busuknya.

Cih, kebanyakan berpikir malah akan membuatnya terasa lebih tolol lagi. Apapun yang terjadi, terjadilah. Kugenggam mata pisau itu ditelapak tangan sebelum menariknya keras-keras. Bangsat! Perih sekali! Ngentot! Kuteteskan darah itu ke dalam gelas kopi, lalu setelah kuaduk dengan celana dalam, cepat-cepat kuminum habis kopi pahit itu. Rasanya tidak terlalu buruk, mungkin karena rasa kopinya cukup tajam, jadinya mendominasi. Kini peluh mulai memenuhi sekujur tubuhku. Aku mencoba tenang, kuperban tanganku perlahan-lahan. Untung saja aku tidak melukainya terlalu dalam.

Hidungku menghidu sesuatu. Ada bau yang begitu anyir sekonyong-konyong meninju penciumanku hingga aku berbangkis. Seperti kemenyan yang bercampur amis darah. Dari luar kamar motelku terdengan suara puluhan kucing mengeong bising bak orkestra orang sinting. Baru saja aku hendak membuka jendela, sekelebat bayangan hitam muncul dari balik punggungku. Masih sembari menahan nyeri di telapak tangan dengan tubuh bersimbah keringat, aku berpaling perlahan. Tubuhku  menggigil gemetaran.

Tuan Tersenyum.

Dia tersenyum lebar sekali. Matanya menyorot licik. Sosoknya persis seperti yang dideskripsikan orang-orang, jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, dia bertepuk tangan. Tepukan perlahan penuh kepuasan bagaikan tepukan bangsawan setelah menonton pertunjukan teater termegah di alam semesta. Dia berjalan menuju sofa dengan langkah anggun, lalu duduk sembari menyilangkan kaki panjangnya. Dia menatapku santai, menungguku untuk berbicara. Semua kejadian itu berlangsung hanya beberapa detik saja, tapi terasa seperti berjam-jam.

“Wujudmu sama persis seperti yang digambarkan orang-orang” desisku.

“Oh, iya? Sebenarnya aku tak memiliki wujud asli, Njing. Aku juga tak punya kuasa untuk mengganti-ganti wujudku sesuka hati, Njing. Apa yang kamu lihat sekarang adalah manifestasi dari apa yang kamu bayangkan, Njing” Katanya. Suaranya ganjil. Seperti kombinasi suara gadis muda dan pria tua. Tipe suara yang hadir dalam mimpi burukmu dan akan membekas di lumbung memorimu selamanya.

Aku terdiam. Kata “Njing” yang dia ucapkan di tiap akhir kalimat terdengar menyebalkan.

“Jadi apa permintaanmu, Njing?” tanya Tuan Tersenyum pada akhirnya.

“Bawa aku ke markas Kelompok Kucing Menari” kataku pelan. Aku tidak boleh membuang-buang waktu.

“Kamu sudah membuang-buang waktu, terus terang saja, Njing. Ah, tak usah kaget, Njing. Membaca pikiran adalah satu kebiasaan burukku yang sulit dihilangkan, Njing. Aku hanya ingin bilang. Tiga temanmu itu baik-baik saja. Mereka hanya tak ingin pulang, Njing. Mereka tak ingin dicari. Jadi, kalau kamu ingin mencari mereka, bagiku kamu sudah membuang-buang waktu. Lebih baik ucapkan permintaan lain, Njing”

Benarkah? Atau ini salah satu tipu muslihatnya? Lalu ke mana gerangan mereka?

“Mereka ada di tempat yang mereka inginkan, Njing. Aku bisa menunjukkannya kalau kamu mau tahu. Dan setelah kuperlihatkan, kamu masih bisa meminta satu permintaan lagi. Anggap saja itu bonus, Njing. Jarang-jarang aku memberikan bonus, Njing. Bagaimana? Aku ini sibuk, Njing. Tak punya banyak waktu, Njing. Jadi, cepat putuskan”

Aku menarik napas dalam-dalam. Menimbang-nimbang semua kemungkinan apa yang terjadi. Tak ada jaminan aman sama sekali. Aku sedang berususan dengan iblis. Tapi kalau aku tidak memilih, maka apa artinya semua investigasi dan ritual ini? Kulihat Tuan Tersenyum menatapku sembari terus menyeringai. Dia tahu apa yang kupikirkan sekarang. Baiklah, aku sudah menetapkan apa pilihanku. Apapun yang terjadi, terjadilah.

“Kulihat kau sudah menetapkan pilihan, Njing” Tuan Tersenyum bangkit dari duduknya.

Aku mengangguk. Atmosfer kamar yang tadinya panas, seketika mulai mendingin. Apa yang terjadi?

“Baiklah, kalau begitu, Njing”

Tuan Tersenyum berjalan pelan mendekatiku. Telapak tangannya yang panjang terulur ke depan wajahku. Kepalaku terasa pusing. Udara semakin dingin. Samar, kulihat empat manusia berkepala kucing muncul dan menari-nari dari balik punggung Tuan Tersenyum. Dua orang mengenakan jubah putih bergambar burung garuda, sementara yang dua lagi mengenakan jubah merah bergambar banteng. Dari fisik, mereka berempat terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita dengan warna kulit yang berbeda-beda. Kombinasi musik dangdut-psikedelik entah terdengar dari mana, membahana mengisi seluruh ruangan, mengiringi keempat manusia berkepala kucing itu menari atau mungkin lebih tepatnya berjoget? Entahlah. Kesadaranku mulai menipis.

***

Hitam Pekat: Kota yang Terkutuk

Oleh: Ali Rabat

Hitam Pekat, orang-orang menjuluki kota itu. Kota terkutuk yang harusnya dimusnahkan oleh Tuhan seperti Sodom dan Gomora. Kota yang muram, suram dan memuakkan. Jika kalian menyempatkan diri mampir ke perpustakaan kota, mungkin kalian bisa menyempatkan sedikit waktu untuk membaca buku Sejarah Perkotaan tulisan Amar Amadeus yang terbit pada tahun 1969. Di situ kalian akan menemukan halaman-halaman yang menuliskan beberapa peristiwa di kota Hitam Pekat. Peristiwa-peristiwa yang bakal membuat kalian setuju kenapa kota tersebut dinamakan demikian.

Pada tahun 1662, 45 wanita yang diduga penyihir dibakar hidup-hidup di atas bukit Sentosa. Asap dari pembakaran tersebut membuat langit menjadi hitam pekat selama berhari-hari. Bau daging gosong tubuh mereka bahkan terhidu sampai ke kota-kota tetangga. Entah dikutuk atau hanya kebetulan, para pembakar penyihir itu ditemukan tewas di kamarnya masing-masing 60 hari kemudian. Mayat mereka digigiti kucing hitam dan burung gagak. Malah ada yang mayatnya berupa jadi babi panggang lengkap dengan acar, kuah sayur dan saus.

Pada tahun 1882, ratusan hewan ternak mati tanpa sebab. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui. Para ahli berasumsi mereka mati karena sebuah virus. Bangkai-bangkai mereka dikubur di bukit Sentosa. Kali ini asap hitam tidak mencemari langit, tapi kala itu halilintar sedang menggasak angkasa sampai hitam pekat hingga hujan lebat turun. Bau busuk bangkai yang belum sempat terkubur tercium menggantikan aroma petrikor. Keesokan paginya rumah-rumah dan jalan-jalan dipenuhi bau busuk muntahan orang-orang.

Pada tahun 1918, ribuan tikus hitam menyerang kota, menyebabkan histeria masal. Sampai akhirnya seorang penulip seruling berhasil menggiring mereka semua enyah dari kota. Tapi karena si peniup seruling tidak mendapatkan upah yang sudah ditetapkan sesuai perjanjian, dia membalas dendam. Pada malam bulan purnama seminggu kemudian, dia menggiring semua anak-anak di kota itu dengan melodi serulingnya yang indah dan menghipnotis, sama seperti dia menggiring ribuan tikus itu. Mereka semua masuk ke dalam sebuah gua batu dan menghilang di dalamnya. Tak ada yang pernah melihat mereka lagi.

Pada tahun 1935, ratusan penyair mati bunuh diri karena hujan yang mereka sembah tak turun. Berita ini diragukan kebenarannya karena data tulisan dan foto-foto yang terpampang tidak lengkap. Namun, sebuah kelompok persaudaraan yang muncul di akhir tahun 70-an memercayai hal tersebut. Malah mereka selalu merayakan peristiwa-peristiwa mengenaskan di atas dengan sebuah pesta pora di sebuah rubanah mewah. Gosipnya, para artis papan atas dan pejabat-pejabat kota ikut menghadiri pesta misterius itu. Sampai sekarang belum ada yang berhasil menguak pesta dan kelompok itu lebih dalam. Karena belum meresahkan masyarakat dan sepertinya tidak melibatkan hal-hal yang melanggar hukum, pihak kepolisian belum bisa bertindak. Kelompok persaudaraan itu dinamakan Kelompok Kucing Menari.

Rano Amadeus, cucu dari Amar Amadeus tidak berpikir demikian. Dia yakin Kelompok Kucing Menari telah mengendalikan pihak kepolisian dari dalam. Jurnalis dan detektif yang berusaha menyelidiki mereka pun lenyap satu per satu, termasuk rekan-rekan Rano. Itu membuat Rano semakin curiga. Sampai akhirnya dia membulatkan tekad untuk ikut menyusup dan menyelidiki.

Sayang seribu sayang, sampai tulisan ini dimuat, Rano belum juga terdengar kabarnya. Ini sudah minggu ketiga pasca terakhir dia menunjukkan batang hidungnya di kamarku.

Ke mana perginya Rano? Dan pertanyaan terbesar sebenarnya adalah, apa itu Kelompok Kucing Menari?  Siapa mereka? Apakah ada hubungannya dengan Tuan Tersenyum yang meneror kota dan semua keganjilan di kota terkutuk ini yang melanda dari masa ke masa?

***

Pangpen: Kamu yakin mau memesan kucing sebanyak ini?

A.R: Iya, kamu bisa menyiapkannya dengan mudah, kan? Aku tahu kamu siapa, Pangpen. Ingat itu. Kamu bukan sekedar pencuri biasa. Aku tahu rahasiamu. Kita bisa bercakap-cakap lewat mimpi seperti ini pun berkat salah satu kemampuanmu.

Pangpen: Hehehe, bajingan kamu, Ali Rabat. Aku nggak peduli pendapat dan pandangan orang-orang dan lagi aku bisa menghilang kapanpun aku mau. Tapi aku risih kalau kamu sampai menuliskan sesuatu tentangku

A.R: Tenang saja. Aku juga nggak berminat. Dan aku yakin orang-orang zaman sekarang bakal sama nggak pedulinya dengan orang-orang yang mengkhianatimu di masa lalu. Padahal kamu orang yang berjasa besar.

Pangpen: Oke, oke. Kalau aku siapkan kucing-kucing ini. kamu bakal diam, ‘kan? Besok malam kucing-kucing itu sudah ada di bukit Sentosa. Kamu tunggu saja.

 

Ali Rabat bangun dari tidur, keluar dari mimpinya. Dia menenggak segelas air sampai habis. Bercakap-cakap di dalam mimpi memang membuat tubuh dehidrasi. Saat meletakkan gelas ke meja, ekor matanya menatap tangan kanannya yang dibalut perban. Kemudian dia melihat gelas kopi dan celana dalam perempuan di meja kerjanya yang belum sempat dia rapikan tergeletak di antara buku-buku, foto-foto orang hilang dan lembaran kertas-kertas koran. Dia menghela napas. Tubuhnya terlalu lelah untuk bersih-bersih. Dia membuang pandangan ke luar jendela, menatap gambar karikatur Tuan Tersenyum di sebuah dinding gedung tua, kemudian tersenyum kecut.

“Apapun yang terjadi, terjadilah. Hehehe, pemuda lucu”

***

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)