Oleh: Arif Abdurahman*

Dari hitamnya Sungai Citarum yang sepekat malam, mencuat keluar makhluk berlendir setinggi satu setengah meter. Monster ciptaan iblis dari campuran limbah pabrik, sampah plastik dan tai, lalu ditaburi rapal-rapal mantra kutukan maha jahat. Dengan bentuknya yang jelek bukan main—bisa dibilang ini anak haram hasil kawin silang antara bekicot dengan muntahan orok yang darinya lahir agar-agar buruk rupa raksasa. Sang monster bergerak meluncur menuju pemukiman yang tengah tertidur dekat bantaran sungai, menggilas kebun jagung dan singkong yang tumbuh liar di sisi sungai, meninggalkan jejak cairan berbau super busuk. Dalam perjalanannya menuju Kampung Cibolerang, sang monster telah melahap sedikitnya sepasang kucing yang sedang senggama, sekeluarga ayam (seekor betina beserta 6 anaknya yang masih kuning), seorang pengendara (beserta motor bebek bututnya), dan dua orang sial yang habis minum-minum.

Blubuk blubuk blubuk, brrr, gerutu sang monster sepanjang perjalanan, dalam bahasa yang hanya beberapa mahkluk mengerti.

Belakangan ini banyak muncul kejadian-kejadian heboh berkaitan dengan Sungai Citarum ini. Masih hangat-hangatnya bahwa seminggu yang lalu ditemukan seekor hiu terdampar di sisi sungai. Awalnya banyak yang menyangka kalau ini ikan patin yang kelewat besar, namun setelah diperiksa, tak ada keraguan bahwa ini memang ikan hiu laut. Sungguh iseng benar kalau memang ada orang yang meletakan seenaknya ikan malang ini. Tak mungkin lah, ada kucing yang menggondol ikan sebesar ini dari sisi Pantai Pangandaran misalnya, menyusuri bantaran sungai beratus-ratus kilometer sampai ke Bandung, lalu meninggalkannya di sini begitu saja. Hanya kucing ajaib yang bisa melakukannya, oleh karena itu yang paling masuk akal tentu saja ini pekerjaan orang jahil. Dan baru dua hari kebelakang, seorang bocah yang mengejar layangan putus dikabarkan hilang. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan si orang jahil?

Purnama yang separuh bersinar masih mengambang di langit. Sang monster pun masih terus terseok-seok bergerak mendekati kampung. Jalanan aspal rusak berlubang bagai permukaan bulan tak jadi hambatan buatnya. Kalau saja sang monster itu gumpalan aspal panas, pasti bakal ada kehebohan besok pagi, karena warga Cibolerang dihadiahi jalanan mulus yang telah mereka idamkan selama puluhan tahun – ada kemungkinan si monster bakal dipilih sebagai bupati dalam dua periode. Bagai bola salju, makin banyak yang sang monster lindas makin besar pula massa tubuhnya. Sekarang tubuhnya sudah setinggi rumah dua lantai. Nampaknya bakal ada kehebohan lain.

***

“Enak kali ya makan ikan hiu?” kelakar pemuda yang menjinjing sebotol Intisari.

“Pasti lah,” sahut si pemuda yang tak terlalu muda satunya, teman berjalannya. “Seribu kali lebih nikmat dari pecel lele yang kumakan tadi.”

Untuk mempermudah, percakapan dalam bahasa Sunda antara si pemuda dan si pemuda yang tak terlalu muda itu sudah saya alihbahasakan ke bahasa Indonesia.

Si pemuda yang tak terlalu muda memang tak pernah sempat mencicipi gurihnya ikan hiu dalam hidupnya, tapi ia begitu yakin. Sangat yakin, berkat pengaruh teler. Siripnya saja sudah mahal, hanya siripnya, dan yang mahal sudah pasti enak, pikirnya, berkat pengaruh teler. Tapi siapa yang tahu, mungkin saja lele goreng yang sedang berenang di lambungnya sekarang justru lebih enak. Dan lagi, dibanding hanya sirip hiu untuk sekali makan, ia justru bisa mendapat jatah makan pecel lele selama dua bulan penuh.

“Dicocol sambal asam manis bakal tambah sedap,” si pemuda menanggapi.

Mereka berdua tak tahu kesialan yang bakal menimpanya sebentar lagi. Hidup memang kumpulan dari beragam senda gurau, dan lucunya ini candaan terakhir mereka. Entahlah, apakah kematian sebuah kesialan atau bukan, karena dengan mati otomatis beragam kesialan dalam hidup pun akan berhenti. Kedua pemuda ini terkekeh-kekeh, membicarakan beragam hal—ikan hiu terdampar dua pekan kemarin memang masih jadi topik menarik—untuk melepaskan kebosanan dan rasa dingin yang memeluk di dini hari itu. Meski ada perbedaan umur sepuluh tahunan, si pemuda yang menjinjing sebotol Intisari dan si pemuda yang tak terlalu muda itu kelihatan akrab layaknya teman sebaya saja.

Ketika melintas pekuburan yang dipagari deretan pohon bambu, ini sedikit banyak mengingatkan pada salah satu video klipnya Michael Jackson yang dirilis tahun 80an itu, hanya bedanya mereka bukan pasangan kekasih. Angin sedang ribut, ranting-ranting bambu saling bergesekan satu sama lain, menyamarkan suara benda besar yang sedang bergerak mendekati kedua pemuda malang itu.

“Cucu Wak Haji masih belum ketemu ya kang?”

“Dimakan jurig samak kali,”

Saat itulah sang monster menampakan diri. Sebelum dilahap bulat-bulat, sebenarnya mereka berdua sudah mati ketakutan, jantung mereka dibuat berhenti ketika melihat makhluk hitam besar itu. Seperti lalat yang sudah tertangkap jaring laba-laba, ajal tak bisa dihalang lagi. Untuk menjerit pun tak mampu.

Hoek, sama saja, manusia dewasa tak ada enak-enaknya, keluh sang monster, namun dengan tetap melahap kedua pria malang tadi. Oh bagaimana sang monster yang tak punya otak itu bisa berpikir?

***

Sang monster berbalik mundur, kembali ke habitatnya di dasar sungai setelah terdengar azan melantun di udara subuh itu. Sebenarnya lantunan nyaring berbahasa Arab itu tak membuat panas sang monster atau apalah. Dia hanya berpikir lebih baik untuk balik pulang sebelum terbit fajar. Siluman dasar air ini sensitif terhadap sinar ultraviolet. Baginya, azan subuh hanya penanda bahwa sebentar lagi bumi bakal terang. Lagi pula, tiga manusia sudah lebih dari cukup, bahkan dia dibuat begah karenanya—meski memang dia masih penasaran untuk melahap bocah. Oh bagaimana sang monster yang tak punya otak itu bisa berpikir? Ah ya, manusia pun seringnya berpikir tanpa otak.

Hanya menggelar dirinya di dasar sungai sungguh sangat membosankan. Masa-masa para bocah berenang di Citarum sudah tak ada lagi. Saat itu sebulan atau paling lama tiga bulan sekali ia bisa mendapat asupan gizi dari para bocah itu. Menjerat mereka, lalu menggulungnya seperti saat membuat sushi—atau seperti menggulung karpet masjid, kemudian meremukkan mereka, dan terakhir tentu saja mencernanya. Pabrik-pabrik lewat sokongan tantara dan preman tak henti terus tumbuh dan buang hajat, ikan-ikan mati, Citarum jadi coklat, lalu menghitam, para bocah ogah main di sana, dan memilih main Street Fighter. Tahun-tahun yang telah lewat itu tak akan terulang, maka tak ada cara lain, siluman dasar air itu harus membuat langkah maju. Melakukan manuver berbahaya, merangkak ke darat.

Saat Wak Haji usai melantunkan kalimat adzan terakhir, saat itulah sang monster sudah berada di dasar sungai kembali. Tentu saja, sang monster berniat naik ke permukaan lagi, masih didera penasaran ingin mencicipi gurihnya para bocah.

Pagi itu, tak ada kabar gembira bagi warga Cibolerang. Asal muasal ikan hiu masih misteri, cucu Wak Haji masih hilang, dan sekarang warga kampung hanya mendapati jalanan rusaknya jadi becek oleh cairan berbau busuk. Cepat atau lambat, bakal tersiar pula berita kehilangan tiga warga.

Satu kabar baik, Kampung Cibolerang bisa aman, untuk hari ini.

***

*Pekerja teks komersial. Bermukim di Bandung dan bergiat di Komunitas Aleut. Menulis, menerjemahkan jurnal, esei, dan cerpen suka-suka sambil menunggu unduhan film.

Blog: yeaharip.com.

Twitter & Instagram: @yeaharip

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.