Angin kencang menghantam bangunan semi permanen yang terbuat dari kayu itu. Atap seng yang dipaku asal-asalan terbanting tak kuasa menahan hantaman. Awan hitam menggantung sejak pagi tak membiarkan matahari leluasa bersinar. Sahrul meringkuk sendirian di dalam bangunan tersebut. Bangunan terbuka itu serta merta memberikan ruang yang ideal untuk angin menerpa tubuhnya.

Sahrul meringis. Kopi di sampingnya tumpah sebelum tandas. Asap kretek menari-nari ke udara, pasrah pada angin yang menghabiskan tembakaunya, bukan oleh paru-paru yang menuntut nikotin dan tubuh yang menuntut kehangatan. Pelan-pelan Sahrul meraba pelipis matanya, “Ahhh, anjing,” gumamnya menahan perih. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya, seakan-akan ia baru saja ditimpa oleh seekor gorila. Darah di ujung bibirnya menetes perlahan ke sela-sela papan yang menjadi lantai bangunan itu. Darah itu kemudian bergabung dengan aliran hujan yang lebih dulu tumpah. Tanah membutuhkan hujan, bukan darah.

Sekitar satu jam lalu Sahrul masuk ke bangunan itu, bangunan yang hampir sepuluh tahun menjadi rumah keduanya. Orang-orang menyebut bangunan tersebut sebagai pangkalan ojek. Mungkin bagi mereka bangunan tersebut tak begitu penting selain menjadi tempat berteduh kala hujan. Namun bagi Sahrul, pangkalan ojek itu adalah tempat paling nyaman yang pernah ada. Ia membawa serta segelas kopi hitam yang sudah ia seduh di rumah yang berada hanya 50 meter dari pangkalan ojek itu, juga sebungkus kretek kesukaannya.

“Aneh. Ini sudah masuk pertengahan tahun dan berarti waktu untuk musim panas. Kenapa hujannya malah tumpah ruah begini,” batin Sahrul sembari sesekali menghirup dalam-dalam kretek di sela jarinya. Memang sudah seminggu ini hujan tak henti-hentinya membasahi kota Ternate. Alhasil kota kecil di kaki gunung Gamalama ini pun terlihat muram. Hujan memang beberapa saat berhenti tetapi awan hitam seakan tak pernah beranjak dari langit Ternate.

Ada sebuah keyakinan yang melekat dalam kepala masyarakat Ternate ketika hujan dan angin tak henti menghunjam. Mereka percaya itu adalah tanda dari alam akan sesuatu yang tak beres. Dan entah kenapa keyakinan tersebut selalu menemukan jalannya. Tahun lalu setelah berhari-hari diterpa hujan dan angin kencang, berembus sebuah kabar tentang seorang ayah menjadikan anaknya sebagai pemuas nafsu sejak si anak masih duduk di sekolah dasar, dan baru ketahuan ketika menginjak sekolah menengah atas.

Sahrul percaya dengan hal itu. Baginya alam punya jiwa dan cara tersendiri dalam mengawasi dan mengontrol kehidupan.

Menatap bulir hujan yang pecah ketika membentur tanah, Sahrul teringat ucapan para pujangga dan para pendakwah yag pernah ia dengar bahwa hujan adalah anugerah yang diberikan untuk manusia. Hujan adalah berkah.

“Sssssiiihhh, apanya yang berkah. Yang ada malah bikin repot saja!” dengusnya kesal. Seperti tukang es krim yang membenci hujan, Sahrul pun begitu. Bagaimana tidak, penghasilannya akan terhambat jika hujan terus-menerus turun seperti ini. Ia yang cuma mengandalkan ojek sebagai mata pencaharian itu tentu akan kesal sebab hanya orang gila yang mau menggunakan jasanya di tengah badai begini.

Saat itu saja ia hanya sendirian di pangkalan ojek. Kawan-kawan pengojek lainnya memilih tidur atau mencari kehangatan lainnya di ranjang. Tapi entah dari mana ia sendiri ragu dengan pikirannya itu. Sebuah pikiran datang, tentang kejadian seminggu lalu antara ia dengan kawan-kawannya.

***

“Saya tra benci politik, biar bagaimanapun selama ada negara, selama kitorang mengakui adanya pemerintah, saat itulah kitorang sedang berpolitik,” ucap Sahrul dengan tenang. Di depannya Egon tampak menahan emosi.

“Lalu kenapa kau tolak apa yang mau kami bikin?!!” sergah Egon.

Katong susah menyingkirkan politik, tapi bukan berarti katong dengan bodohnya ikut percaya dengan janji-janji yang dong bilang! Katong punya pikiran masih ada!” bantah Sahrul dengan tegas.

Jang berlagak seperti dosen, Rul, kau saja drop out! Ahhh, kau bilang saja kalau kau punya pilihan yang beda dari kami! Dan kalau itu benar maka kau akan sendirian, Rul,” tambah Gafur.

Di depan Sahrul duduk ketiga kawannya yang notabene sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Sebab sedari kecil mereka seakan tak bisa dipisahkan, ke mana-mana selalu bersama, dari mulai mandi di pantai sampai mencuri ayam tetangga.

Sahrul dan Egon bekerja sebagai tukang ojek, sedangkan Gafur adalah seorang pegawai negeri sipil di lingkup kelurahan. Kawan satunya lagi, Rio, adalah politisi muda yang bergabung dengan sebuah partai politik.

“Woi Gafur, sudah saya bilang berapa kali kalau saya tra urus deng pilkada tai kucing ini. Saya cuma tra suka kalian bikin hal semaunya dengan menempel baliho salah satu calon kandidat di pangkalan sini!” jelas Sahrul sambil menunjuk tumpukan kayu dan selembar besar baliho di sampingnya.

“Ini pangkalan bukan punya kau, Rul!” ucap Egon setengah teriak.

“Memang bukan saya punya, tapi ini juga bukan punya kalian bertiga!”

“Saya pernah bilang bahwa di Ternate setiap pangkalan ojek itu sudah jadi tempat ngumpulnya pemuda-pemuda. Di mana ada pangkalan ojek di suatu perkampungan, maka di situlah anak-mudanya biasa kumpul. Dengan kata lain, selain lapangan bola, pangkalan ojek itu semacam alun-alun dalam lingkup perkampungan,” jelas Sahrul.

“Jadi, saya cuma tra ingin pangkalan dijadikan wilayah politik kalian. Sebab sudah lumrah, kalian juga pasti tahu itu, bahwa saat pilkada jika ada pangkalan yang menempel baliho salah satu calon kandidat, maka itu menjadi representasi dari kampung di mana pangkalan itu berada. Dan saya tra suka itu. Setiap orang berhak punya pilihannya sendiri tapi tak mesti bawa-bawa pangkalan. Ini tempat ngumpul anak-anak, bukan panggung politik.”

“Begini, Rul. Hanya dengan tak menghalangi kawan-kawan pasang baliho di sini, aku bisa mengatur tunggakan motormu di leasing itu. Dan kau tahu kan, kampung kita ini sangat diperhitungkan oleh para kandidat.”

“Rio, kau tahu dulu kitorang sering sama-sama berkelahi dengan anak kampung sebelah, tapi saya tra akan sungkan mematahkan rahangmu jika kau sekali lagi bilang seperti tadi. Saya bisa urus sendiri saya punya masalah.”

“Jangan sok jagoan kau, Rul. Kau tahu kan penghasilan ojek tra cukup bayar saya punya anak masuk SMP! Jujur saja saya butuh tambahan. Biaya hidup makin hari makin tinggi!” gertak Egon menghampiri Sahrul dengan tangan mengepal.

“Kalau begitu pasang saja baliho itu di depan rumahmu. Lagipula biaya hidup yang tinggi itu ya sedikit banyak karena ulah orang macam kalian ini. Sudah tahu koruptor masih saja dipilih,” bantah Sahrul.

“Sudah… sudah, tra usah bikin ribut di sini,” sergah Gafur melerai.

“Kau memang keras kepala, Rul. Dari dulu,” ucap Rio tenang.

“Ya sudah kalau begitu, Rul. Tapi kau harus ingat kata Gafur tadi. Kau sendirian,” ucap Rio.

Cuuihh… Sahrul meludah mendengar ancaman itu. Tak habis pikir kawan-kawannya bisa sebrengsek itu.

***

Ingatannya pada kejadian seminggu lalu itu terhenti oleh suara knalpot sepeda motor yang mendekat. Ada dua sepeda motor yang mengarah ke pangkalan ojek yang sama-sama ditumpangi oleh dua orang. Sahrul tak mengenal keempat orang yang berbadan besar itu, baginya mungkin orang yang hendak berteduh.

Sahrul memberikan senyum tipis setelah keempat pria itu turun dari sepeda motor sebagai tanda kesopanan. Namun bukan balasan senyum yang ia dapat, melainkan pukulan telak ke pelipis matanya oleh salah seorang tamunya itu. Tubuh Sahrul terbanting ke belakang. Sontak ia kaget dengan keadaan tersebut namun mencoba berdiri. Belum sempat mengartikan situasi, saat itu sebuah pukulan mendarat di perutnya. Kali ini membuat ia memuntahkan kembali kafein yang diminumnya. Setelah pukulan di perut itu, berdatangan pula tendangan serta tinju-tinju yang mengarah di tubuhnya. Sahrul bukan seorang pengecut. Semasa sekolah dulu ia beberapa kali memimpin tawuran. Namun melawan empat orang pria dewasa yang juga berbadan besar tentu lain soal. Melawan hanya akan membuat tamu-tamu brengsek itu semakin bergairah menghajarnya. Sahrul memilih diam dan memang hanya itu yang bisa ia lakukan.

Langit semakin gelap, hujan semakin menghunjam, guntur kian menggelegar. Di arah barat, gunung Gamalama yang dulu menjadi magnet raksasa bagi bangsa-bangsa barat masih kokoh menjulang. ♦

About the author

Anak Ternate yang merasa lebih mudah mengutarakan sesuatu lewat jari tinimbang mulut. Lulusan Adm. Negara yang lebih kenal Pram ketimbang Henri Fayol. Bisa disapa di line : @risalsyam

Related Posts