Oleh: Bram Sitompul*

Beginilah hikayat bangsa pemakan apel yang diceritakan turun-temurun dari generasi ke generasi. Awalnya hanya dikisahkan di kalangan keluarga terdekat Nuton saja. Tetapi, semenjak kedatangan tuan Alexander dari Inggris, cerita ini menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Pada suatu sore di tahun 1660, seorang pemuda dari desa Mekarwangi bernama Isak Nuton baru saja pulang dari ladang. Nuton yang lelah duduk di bawah pohon apel di dekat rumahnya. Embusan angin perlahan menyapu tubuhnya dan membuatnya mulai mengantuk. Tak lama berselang sebuah apel jatuh mengenai kepalanya. Ia mengusap-usap kepalanya dan memandangi apel yang kini tergeletak tak jauh dari dirinya. Ia mengambil dan membersihkan apel tersebut dengan tangannya. Warnanya kemerahan dan bentuknya bulat sempurna. Nuton pun memakannya.

Kekasih Nuton, Sekar Bunton mengamati kejadian itu dari beranda rumah dan melukiskannya di atas selembar kain putih. Sekar menunjukkan gambar tersebut kepada Nuton saat makan malam. Keduanya pun tertawa mengingat peristiwa sore tadi.

Dua tahun berselang Nuton menikah dengan Sekar Bunton. Dan, tak lama setelahnya Nuton mendapatkan posisi penting di kantor pemerintahan. Kepintarannya memang jauh melebihi pemuda lain di desa Mekarwangi. Tak hanya itu, kefasihan Nuton berkomunikasi dalam bahasa Belanda juga memudahkannya untuk masuk ke dalam kantor administrasi Belanda.

Nuton dan Bunton memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Nuton II. Kehadiran Nuton II membawa sukacita besar bagi keluarga karena ia baru hadir dua puluh tahun setelah ayah ibunya menikah. Nuton meninggal pada usia 100 tahun dan Sekar Bunton menyusul dua tahun setelah kepergian Nuton.

Sang Ibu mewariskan berbagai lukisan karyanya kepada Nuton II, termasuk lukisan apel yang jatuh mengenai kepala ayahnya. Nuton II menyimpan dan merawat lukisan ibunya hingga akhir hayatnya. Ia lalu mewariskan lukisan-lukisan tersebut kepada anaknya, Nuton III.

Tak ada yang luar biasa selama ratusan tahun kemudian sampai tiba seorang antropolog asal Inggris bernama tuan Alexander. Ia tiba di desa Mekarwangi pada suatu malam di musim hujan tahun 1950. Tujuan kedatangannya adalah mempelajari tradisi batik di pulau Jawa. Mekarwangi memang sempat menjadi sentra produksi batik terkenal namun ketika tuan Alexander datang, tak demikian lagi keadaannya. Tuan Alexander ingin tahu alasannya.

Nuton XX menjamu Alexander di rumah yang diwariskan nenek moyangnya secara turun-temurun. Sejumlah renovasi sudah dilakukan terhadap rumah warisan tersebut, meskipun tidak mengubah bentuk aslinya. Beberapa lukisan nenek moyangnya tersusun rapi di tembok ruang tengah yang begitu lapang. Alexander, sambil menikmati segelas teh lokal berkeliling ruangan menikmati keindahan lukisan Bunton.

Ia berhenti lama pada sebuah lukisan. Lukisan apel yang jatuh ke kepala Nuton. Melihat tamunya yang tampak terheran-heran dengan lukisan itu, Nuton XX lalu menjelaskan kisah di balik lukisan tersebut. Alexander tersentak dan menyampaikan kepada Nuton XX sebuah kisah serupa yang konon dialami juga oleh seseorang di kampung halamannya yang bernama Isaac Newton.

“Apakah Newton juga memakan apel yang menimpa kepalanya?” Nuton XX bertanya seraya tertawa.

Tuan Alexander tersenyum, “Tidak. Newton justru menjadikan peristiwa itu sebagai momen eureka. Sebuah momen yang menginspirasinya untuk menjelaskan tentang gravitasi. Kau tentu tahu apa itu gravitasi, kan?”

Nuton XX menggelengkan kepalanya. Jadilah malam itu tuan Alexander menghabiskan waktu menjelaskan tentang gravitasi dan kemajuan ilmu pengetahuan di Barat kepada Nuton XX. Sebelum pulang dua hari kemudian, Alexander mengabadikan pohon-pohon apel yang ada di sekeliling rumah Nuton XX dengan kameranya.

Alexander menuliskan kisah Nuton dan Newton. ‘Sebuah paradoks,’ begitu Alexander membuka tulisannya. Keduanya sama-sama tertimpa apel. Nuton memakannya. Newton menjadikannya inspirasi untuk sebuah penelitian penting. Sebuah kontras yang bisa jadi mewakili perjalanan kedua bangsa. Yang satu pemakan apel, yang lain menjadikan apel tersebut berbuah lebat dalam ranah ilmu pengetahuan.

Alih-alih laporan tentang batik yang mengemuka di ruang publik, justru kisah Nuton dan Newton-lah yang menarik minat pembaca, baik di Inggris maupun di Indonesia. Sebagian kecil rakyat Indonesia tersinggung dengan artikel tersebut. Namun mayoritas tidak melihatnya sebagai sebuah masalah. Mereka justru menertawakan Newton yang dianggap tidak bisa menikmati hidup. Ada apel jatuh ya makan saja, kenapa harus memusingkan gravitasi segala. Begitulah kira-kira tanggapan banyak orang sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka mengelu-elukan Nuton.

Tetapi Nuton XXI termasuk dalam golongan yang tak senang dengan artikel Alexander. Sebagai kaum terpelajar ia ingin bangsanya dikenal tidak hanya sebagai bangsa pemakan apel. Ia meluapkan kemarahannya dengan menebang pohon apel tertua di dekat rumah keluarganya. Tiga hari kemudian, tanpa sebab yang pasti, Nuton XXI meninggal. Orang pintar di desa memberikan penjelasan bahwa Nuton XXI telah melawan ketentuan nasib dari Sang Maha Kuasa. Bangsa Indonesia sudah ditakdirkan menjadi bangsa pemakan apel. Hanya jika Sang Maha Kuasa sendiri yang membatalkan takdir itu, barulah bisa terjadi perubahan.

Pada tahun 2016, Nuton XXV memiliki dua orang anak kembar, Isak Nuton XXVI dan Isaac Nuton XXVI. Ketika keduanya masih berumur sepuluh hari, hujan badai melanda negeri selama sepuluh hari. Banjir terjadi di berbagai tempat dan kilat menyambar-nyambar membuat orang-orang ketakutan. Sebuah petir besar sampai ke bumi dan menghanguskan batang salah satu pohon apel tua di rumah keluarga Nuton.

Pohon apel tersebut perlahan miring ke sebelah kiri hingga akhirnya terjatuh ke tanah. Suaranya begitu kencang hingga terdengar sampai ke kamar keluarga Nuton. Isak menangis ketakutan dibuatnya. Sedangkan Isaac memancarkan senyum lebar yang begitu manis. ♦

*Bram Sitompul lahir dan besar di Indonesia Barat, menikmati hidup di Indonesia Timur. Dapat dihubungi via Twitter di @brammykidz.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts