Oleh: Jonathan Simatupang*

I

Sepakbola sudah berkembang dan tumbuh begitu pesat. Ia semakin manis dan menarik perhatian bagi para pemilik modal atau koorporasi untuk menaruh dana mereka agar mendapatkan keuntungan yang lebih. Ia bergerak seperti mesin yang terus memutar uang yang jumlahnya tidak kecil dan selalu bertambah setiap tahunnya.

Sepakbola yang begitu sederhana ini awalnya memang dekat dengan kaum buruh dan menjadikan pertandingan sepakbola sebagai hiburannya setelah bekerja di pabrik-pabrik. Tetapi sekarang? Sepakbola kini sudah berkembang begitu pesat menjadi sebuah industri yang semakin menempatkan posisi para kapitalis pemilik modal di titik teratas dalam meraih keuntungan dan kelas bawah yang tidak memiliki kuasa untuk dapat ikut merasakan keuntungan dari olahraga yang begitu popular ini.

Industri. Iya, di Eropa sepakbola sudah berkembang menjadi industri yang begitu menarik. Perusahaan-perusahaan berani untuk menaruh uang seberapa besar pun untuk mendapatkan posisi iklan di klub sepakbola tertentu, para konglomerat berani membeli klub untuk mengakumulasi keuntungan yang lebih lagi – meski demikian ada yang membeli dengan cara menghutang terlebih dahulu, contohnya keluarga Glazer saat membeli saham mayoritas di Manchester United.

Media-media berani menaruh pemberitaan sepakbola dalam porsi yang besar di halamannya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari olahraga yang begitu disukai oleh hampir sebagian besar orang. Industri ini berkembang dengan begitu cepat dan menjadi lebih besar lagi.

Kita juga sering menikmati berita-berita mengenai gaji pemain, nilai sponsor terhadap klub, dan keuntungan klub yang begitu fantastis dan tidak masuk akal jumlahnya. Kita terbuai dengan keindahan angka yang ditampilkan oleh media-media. Kita pun terbuai dengan begitu mewahnya sepakbola di Eropa. Kita sering melupakan kondisi di Indonesia yang padahal sangat begitu dekat dengan kita.

Indonesia merupakan suatu Negara yang diberkati secara luar biasa, kekayaan alamnya yang melimpah, pemandangan alamnya yang luar biasa. Indonesia pun tak jarang menelurkan para bintang-bintang di lapangan hijau yang begitu luar biasa. Namun, semuanya mulai memudar dan cerita yang terus hadir tentang kacrutnya kompetisi dan pengelolaan olahraga yang begitu disenangi oleh banyak orang.

II

Berbicara tentang industri sepakbola, memangnya di Indonesia sepakbola sudah menjadi sebuah industri? Ini merupakan suatu pertanyaan yang malah lebih sering menjadi bahan perdebatan antara iya atau tidak. Sebelum mendapatkan jawaban yang sahih, baiknya kita mengatakan bahwa di Indonesia itu sepakbolanya masih malu-malu kucing untuk menjadi sebuah industri layaknya di Eropa, atau minimal dapat bersanding dengan Thailand dalam menjalankan kompetisi sepakbola dengan tata kelola yang rapi, baik itu dari federasi, klub, bahkan supporter yang dikelola sedemikian rupa hingga menarik investor asing masuk bahkan perusahaan lokal mereka dapat bersaing dengan brand besar seperti Nike atau Adidas dalam menyuplai jersey timnas sepakbola Thailand, Grand Sports.

Sebuah industri memiliki aspek-aspek yang harus dipenuhi untuk dapat dikatakan sebagai sebuah industri. Contohnya, pengelolaan yang professional, pengaturan dan pemberian upah yang jelas, transparansi keuangan, dan aturan-aturan yang harus dilakukan sesuai standar yang telah diterapkan.

Di Indonesia, untuk mengatakan sepakbola nasional sebagai sebuah industri agaknya cukup ganjil. Bagaimana tidak? Pengelolaan yang amburadul, penunggakan gaji pemain (bahkan sampai setahun), atau pemutusan sepihak dengan pesangon yang begitu rendah, manajemen keuangan yang tidak transparan, untuk menyebut sebagian contoh buruknya wajah sepakbola nasional.

Aturan? Wani piro? Ada uang, aturan bisa dipermainkan.

Berbicara tentang kusutnya sepakbola Indonesia memang tidak ada habisnya. Belum lagi mengenai stadion yang dimiliki oleh Pemda dan beberapa stadion yang dibangun untuk menghabiskan anggaran (lalu dibiarkan begitu saja tanpa ada perawatan yang rutin), dan pembangunan stadion yang tidak terintegrasi dengan jalur transportasi dan penerangan yang memadai. Harga sewa yang tinggi dan akses yang kurang membuat klub-klub tidak cukup berani memilih stadion tersebut, seperti Pusam yang memilih di Stadion Segiri daripada pindah ke Stadion Palaran yang jauh lebih besar dan megah, karena akses transportasi dan mahalnya biaya perawatan yang mereka keluarkan. Akhirnya, Pusam sekarang pindah ke Bali dan berubah nama menjadi Bali United.

Selanjutnya, persoalan mengenai kompetisi usia dini yang sebagian besar dikelola oleh swasta dan tidak ada kelanjutan sesuai dengan kategori umur agar program pembinaan usia dini berjalan dengan rutin untuk meningkatkan pengalaman bertanding dan kemampuan pemain-pemain muda. Kompetisi usia dini yang bergulir di Indonesia, sebut saja Liga Kompas Gramedia, Danone Cup, Piala Suratin, maupun Liga Pendidikan Indonesia. Namun, kompetisi digulirkan sebatas untuk menjalankan program perusahaan dan upaya marketing terhadap penjualan produk mereka. Setelah kompetisi berakhir, pembinaan sepakbola usia muda kembali diserahkan pada sekolah sepakbola masing-masing dalam melakukan pelatihan. Kompetisi yang dilakukan pun jarang dengan format kompetisi penuh.

Pemain sepakbola di Indonesia dapat dikatakan diekspolitasi habis-habisan oleh klub. Di kompetisi yang telah resmi berakhir karena pembekuan oleh Menpora, kita dapat melihat bahwa kompetisi yang digulirkan seperti kejar setoran yang dalam seminggu bisa bermain dua atau tiga kali. Gaji yang diberikan memang besar untuk pemain yang memiliki status pemain bintang, namun untuk pemain biasa? Gaji yang diberikan sekedar cukup untuk hidup. Pemain dikondisikan seperti kuda pacuan.

Persoalan mengenai gaji pemain memang menjadi masalah utama yang harus dibenahi, baik itu oleh pihak federasi atau klub. Namun karena tidak memperhatikan kondisi keuangan klub, maka terjadilah keterlambatan pembayaran dan terminasi kontrak saat kompetisi berlangsung. Kepastian hukum kepada klub dan agen yang melanggar kontrak, menunda pembayaran, dan melakukan penggelapan pembayaran harus ditindak dan diperhatikan secara serius.

Dari laman Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) bahkan masih tercatat laporan kasus pemain, dari mengenai pembayaran gaji yang belum lunas, tidak menerima salinan kontrak, keterlambatan pembayaran dan terminasi kontrak, dan penggelapan pembayaran yang dilakukan oleh pihak agen.

Berapa kali kita mendengar berita mengenai keluhan pemain yang gajinya tidak kunjung dibayarkan, pemain yang diusir dari rumah kontrakannya karena tidak sanggup membayar, pemain yang mengamen untuk dapat memperpanjang hidupnya atau pulang ke kampung halamannya, pemain yang bermain liga tarkam karena belum mendapatkan gaji dari klubnya. Bahkan lebih menyedihkan pemain yang meninggal karena tidak sanggup membayar biaya perawatan selama ia sakit.

Sistem yang berantakan menimbulkan berbagai persoalan. Ironisnya, sistem yang berantakan ini tampaknya sengaja  dibiarkan, dirawat, bahkan dijaga untuk kemapanan yang telah mereka dapatkan. Sistem yang telah terbentuk dan mengakar ini, menjadi kekuatan mereka dalam melakukan pertahanan diri ketika diminta untuk membantu permasalahan pemain dan klub, bahkan tidak jarang malah memberikan sanksi kepada pemain yang meminta kejelasan pembayaran dan meminta tolong kepada federasi untuk membantu mereka mendapatkan haknya.

“Beginilah nasib pemain di Indonesia. Udah gak digaji malah kena hukum. Terima kasih PSSI!” ucap Irwin Ramadhana kepada Republika saat menanggapi sanksi yang diberikan oleh PSSI ketika mereka datang ke Jakarta untuk meminta bantuan dan kejelasan mengenai gaji mereka yang tidak dibayarkan oleh PSMS selama 10 Bulan.

Sepakbola kita adalah sebuah ironi. Sebuah cerita yang pilu dan betapa kurang humanisnya industri bersama pemilik kapital yang hanya ingin mendapatkan keuntungan baik itu kekuasaan atau uang. Betapa industri sepakbola yang kita sering ucapkan, bahkan kurang menarik perhatian dari perusahaan-perusahaan lokal untuk berinventasi di klub-klub sepakbola nasional dan tak jarang memilih klub, pemain, atau pelatih asing untuk menjadi sponsor secara resmi.

“Bagi sebagaian pengamat berpendapat bahwa pihak sponsor tidak nasionalis karena lebih mengutamakan mensponsori klub asing, namun sebagian yang lain justru mendukung karena yang sering terjadi selama ini justru banyak ruginya jika memberikan sponsor pada klub lokal.” – Valentino Simanjutak, General Manager APPI.

Sepakbola Indonesia terjebak dalam kenikmatan pemakaian dana APBD bagi klub-klub untuk keberlangsungannya menjalani sebuah kompetisi. Sepakbola Indonesia terjebak dalam pusaran politik yang mencengkeram dengan kuat hingga membuatnya menjadi begitu lemah dan tidak berkembang.

Sepakbola merupakan salah satu aset yang mampu menarik banyak investasi ke dalam negeri, bila dikelola dengan baik dan transparan. Indonesia jangan hanya menjadi negara penonton sepakbola dan lahan basah klub-klub asing dalam mengeruk pundi-pundi untuk keuntungan mereka. Industri sepakbola Indonesia harus dikembangkan secara utuh dan menyeluruh sehingga dapat membantu roda perekonomian dari aktivitas industri ini, baik dalam skala nasional maupun daerah.

III

Kawan, ini adalah sebuah realitas yang terjadi di negeri ini. Realitas mengenai betapa mirisnya yang dinamakan industri sepakbola di Indonesia. Sebuah industri yang hanya mementingkan segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan. Industri yang menyedot setiap orang yang berada di lingkaran pusarannya untuk terus bekerja dan bekerja. Industri yang akan lepas tangan bila sistem tidak bekerja dengan baik dan menimbulkan korban dari sistem yang telah terbangun.

“Yang terpenting, PT Liga dan klub bisa hidup. Bagaimanapun, yang punya PT Liga itu adalah klub-klub (ISL). Jangan bisnis sepakbola yang jadi haknya justru dirampas oleh pihak lain.” Ujar Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti yang dilansir Kompas, Rabu 28 Oktober.

Sepakbola adalah bisnis. Sepakbola adalah tentang uang. Sepakbola adalah tentang mendapatkan akumulasi keuntungan. Sepakbola adalah industri itu sendiri.

Industri yang masih malu-malu kucing ini, semoga dapat dicerahkan dan bertumbuh tanpa melupakan luka-luka lama yang masih dibiarkan begitu saja menganga. Perbaikan dan pembenahan layak dilakukan secara menyeluruh dan serius agar dapat dikatakan bila industri sepakbola adalah industri yang berjalan dengan profesional dengan tata kelola yang sehat dan bersih.

Dalam pembenahannya, mengatur persoalan dan perlindungan kepada pemain mengenai permasalahan gaji, klub yang bermasalah dengan keuangannya tidak segan-segan mendapatkan hukuman yang jelas dan tegas dari Komisi Disiplin, pembinaan usia dini yang diatur dalam sebuah konsep dan sistem yang jelas dan berjalan setiap tahunnya dengan rutin, dan aturan-aturan yang diatur dapat dijalankan dengan tegas yang dapat mengubah aturan sesuai kepentingan.

Tulisan diatas mengambarkan bagaimana kondisi sepakbola kita yang masih memiliki segudang permasalahan. Pembenahan secara menyeluruh memang sangat diperlukan dan dilalukan bukan hanya oleh satu pihak, tetapi semua pihak melakukan pembenahan bagi sepakbola nasional. Baik itu Kemenpora sebagai pihak pemerintah, PSSI sebagai pihak Federasi, klub, pemain, kelompok supporter, perusahaan lokal pun melakukan pembenahan secara sinergis dengan satu tujuan yang sama. Sehingga akhirnya kita dapat berharap sepakbola Indonesia dapat berprestasi dan benang yang sudah terlalu kusut ini dapat terurai secara perlahan.

*Penikmat sepakbola dan kata. Menulis di lepaskata.blogspot.com. Masih mengerjakan manuskrip novel dan mahasiswa jurusan sosiologi; dapat dihubungi di semua akun sosialnya, jonasima.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts