Catatan: cerpen ini tayang pertama kali di Majalah Kartini edisi 2453 (6-20 Juli 2017).

Bulan maduku tidak baik-baik saja dan sepertinya pernikahanku dengan Reia tidak akan berjalan bahagia. Aku berpikir demikian setelah kemuraman ini tak kunjung berlalu, kupendam dan berkarat di palung jiwaku sendiri. Di hadapan terhampar dua jalan bercabang dengan papan penunjuk arah yang berbunyi, ‘CERAIKAN REIA’. Kemuraman ini bahkan seperti tak menyediakan jalan buntu. Aku tersesat dalam kabut pekat di sebuah bukit bernama masa lalu.

Pada awalnya semua tampak begitu tertata dan masuk akal. Aku dan Reia bersenyawa, mulai soal warna sprei, hingga pilihan rasa selai untuk roti sarapan pagi. Kami senang pula membahas perkara rumit seperti populisme ataupun pajak progresif. Perdebatan tentu saja ada, tetapi tidak menyulut api pertengkaran.

Mengenai pernikahan ini, kami merencanakan seutuhnya dengan cetakbiru yang kutulis di buku catatanku. Aku dan Reia memilih untuk memangkas ongkos pesta pernikahan. Kami sama-sama keras kepala dan memandang resepsi pernikahan secara ironis. Bayangkan, ratusan juta kau hamburkan demi sebuah pesta yang hanya berlangsung dua jam! Banyak orang melakukannya dengan alasan kesakralan seremoni ini. Bahwa pernikahan hanya berlangsung sekali dalam seumur hidup manusia; bahwa pernikahan adalah peristiwa pertautan dua keluarga besar; bahwa ada tradisi yang harus dijaga, serta beragam tetek bengek lain. Aku dan Reia masygul dengan sudut pandang seperti itu. Kami sama sekali tidak berniat untuk melestarikannya.

Umurku 39, umurnya 33. Kami tahu kami tidak memerlukan suatu kemubaziran macam itu. Aku mengawininya bukan karena landasan cinta atau demi mematuhi aturan agama. Aku hanya ingin mengikuti konvensi sosial agar sejumlah pertanyaan tidak terus menerus menderaku. Sebelum menginjak kepala tiga, aku selalu bisa mengabaikan pertanyaan-pertanyaan bertema pernikahan. Seiring bertambahnya usia ternyata hal ini cukup mengusik juga.

Aku, dengan nada yang kupikir agak bengis, mengatakan bahwa yang modern bukanlah perkara memilih resepsi dengan konsep adat, nasional, atau barat. Tetapi bagaimana uang yang kami punya dapat keluar seefisien mungkin. Tidak perlu ada siomay bila sudah ada kambing guling. Tidak perlu ada salad buah jika telah tersedia es krim. Musik pengiring — baik full band maupun organ tunggal — singkirkan saja, ganti dengan jasa Arbi, temanku yang seorang DJ. Ia akan senang memeriahi pesta tanpa dibayar.

Itu semua kukatakan di depan keluarga kami, yang mereka bayar lunas dengan tatapan-tatapan melongo. Secara menakjubkan, Reia menimpali pendapatku dengan begitu lantang dan riang: “Sisa uangnya kita pakai jalan-jalan saja keliling Asia!”

Itu semua bukan karena kami tak berduit. Secara adil, ongkos pernikahan berasal dari tabunganku dan Reia. Gadis yang kukenal di suatu festival film itu membuatku berjanji untuk mencegah keluargaku mengeluarkan sepeser pun di pernikahan ini. Demikian sebaliknya, tak seperak rupiah pun keluar dari pihak keluarganya.

Pesta pernikahan kami berjalan baik-baik saja. Atau kira-kira seperti itu adanya, sebelum perempuan itu datang. Ia datang seorang diri, mengenakan pakaian dan aksesori serba hitam. Ia menghampiri pelaminan saat prosesi pemberian selamat berlangsung.

“Jika sedetik pun muncul keraguan di benakmu pada perempuan yang kau nikahi ini, tak usah menunggu lama. Ceraikan.” Ia berbisik ke telingaku, lalu menatap mata Reia. Istriku, yang tentu tak bisa mendengar, hanya tersenyum sedikit, lalu kembali menyapa tamu selanjutnya.

Aku tidak mengundangnya untuk datang. Aku mengundang anaknya, yang pernah kupacari cukup lama. Aku sendiri yang mengantar undangan itu ke rumah mereka.

Aku bersyukur jika Puspa mantan pacarku itu mau datang. Asmara kami telah berakhir lebih dari lima tahun yang lalu. Kedatangannya akan memupus rasa bersalah yang selama ini mengendap di jiwaku. Namun mengapa justru ibunya yang datang ke sini? Ini bukan undangan pesta ulang tahun atau kenduri keluarga. Apa maksud dan motifnya?

Perempuan yang pernah menjadi ibu keduaku itu langsung melenggang keluar setelah tuntas menyampaikan nasihat yang murung.

***

Hitam kurasakan menyeluruh dan tak mau luruh. Sungguh benar ketika ada yang bilang bahwa kondisi jiwa acap kali menentukan perilaku manusia. Sekeras apapun upayaku untuk mewarnai suasana hati, sekeras itu pula nasihatnya mengguntur dalam kepala.

Jika sedetik pun muncul keraguan di benakmu pada perempuan yang kau nikahi ini, tak usah menunggu lama. Ceraikan. Kata-kata ini menggema, lalu bertuah sehingga mengempaskan bulan maduku dan Reia.

Sejak di Singapura hingga Pulau Cebu, rahim Reia terus saja mengucurkan darah menstruasi. Kamar suite hotel terasa begitu dingin. Dingin yang tak mengeluarkan aroma kemesraan. Apakah masih bisa disebut bulan madu jika pergumulan ranjang selalu tertunda? Berapa lembar dolar pun yang kami habiskan untuk beraneka barang, sungguh tak bisa menggantikan saat yang kami nanti-nantikan itu. Kejadian ini berlangsung selama lima hari.

Kupikir itu akan usai saat kami tiba di Thailand. Hei, darah di rahimku berhenti mengucur, kata Reia. Kusetop taksi dan meminta sang sopir untuk segera melarikan kami ke hotel terdekat. Hotel yang telah kami pesan masih berjarak begitu jauh.

Hotel murah tapi cukup nyaman berhasil kami dapat. Bukan kamar suite tetapi paling tidak bantalnya tak berbau apak. Di saat kami baru meletakkan barang-barang, terdengar dentuman suara yang amat mengerdilkan nyali.

Bleggharrr!!!

Kaca-kaca bergetar tak menyisakan kekokohan. Jerit suara manusia terdengar sahut-menyahut. Ketakutan menyelimuti kota. Kami panik, merunduk berlindung di samping lemari. Beberapa menit setelah ledakan kunyalakan televisi: Kuil Erawan diteror bom, menewaskan dua puluh jiwa manusia. Seratus lebih yang lain mengalami luka-luka.

Seharusnya kami berada di sini selama empat hari. Namun Reia dan aku memutuskan untuk meninggalkan Thailand, menuju tempat vakansi selanjutnya, Kamboja. Suasana Thailand benar-benar tak sejalan dengan yang kami rencanakan.

Seperti jadwal piket murid sekolah, sekarang giliranku yang sakit. Sakitku biasa saja, hanya keracunan makanan taraf ringan. Tetapi di titik itu aku tahu ini semua adalah pertanda. Sebuah sinyal yang menuntunku untuk menyudahi pernikahan. Sebelum berjalan terlalu lama, sebelum nantinya menjadi bencana.

Jika sedetik pun muncul keraguan di benakmu pada perempuan yang kau nikahi ini, tak usah menunggu lama. Ceraikan.

Aku dulu bercita-cita menjadi guru. Cita-cita luhung yang kuenyahkan setelah cerpen-cerpenku sering masuk koran. Aku banting stir menjadi penulis skenario setelah seorang sutradara menyadur cerpenku ke medium film. Film perdanaku begitu laris. Namaku pun serta merta menjulang di dunia sinema. Mau itu film biografi, percintaan, hingga horor sekali pun, namaku menjadi garansi bagi laku atau tidaknya suatu film.

Selain cita-cita, kuenyahkan juga Puspa, orang yang sejatinya begitu bersemangat mendukung kegiatan menulisku. Ia sama sekali tak menyana keputusanku. Berakhirnya hubungan ini ia rasakan seperti fait accompli karena aku dengan begitu yakin memaparkannya di suatu malam yang dingin di selatan Jakarta.

“Keputusan ini kuambil bukan karena kau telah menjadi penghalang. Kau masih secantik dan sebaik dulu. Justru akulah yang selama ini sosok penghalang bagimu, Puspa. Ini semua harus kuakhiri agar kau tak merasakan perih di saat semuanya telah terlambat. Ini memang pahit, tetapi percayalah, ini demi kebaikanmu semata,” kukatakan itu tanpa menatap matanya. Kedua matanya yang bulat, bening dan meneduhkan itu akan menciutkan tekadku bila kutatap.

“Mungkin seperti ini, ya, rasanya mendengar vonis kanker dari seorang dokter?” Pertanyaan retoris ini yang kudengar di akhir perjumpaanku dengannya. Selebihnya tak bisa kudengar dengan jelas karena disertai isak tangis.

Setelah Puspa, beberapa perempuan silih berganti merias hari. Aku tak bisa mengingat jumlahnya, karena seringkali kedekatanku dengan perempuan tak kuimbuhi dengan sebutan kekasih. Reia adalah orang yang akhirnya meyakinkanku untuk berhenti berpetualang. Mungkin karena ia hadir di saat aku telah lelah berkompromi dengan beraneka rupa karakter perempuan.

***

Di bandara Soekarno-Hatta kuutarakan semuanya pada Reia. Kuceraikan ia saat itu juga. Ia menangis walau hanya sekejap. Tak ada tamparan atau makian. Ia begitu rasional. Ia tak suka melodrama. Dengan dua koper di tangan, Reia berjalan menjauh. Begitu sunyi begitu sendu. Di kepalaku terbayang wajah Puspa, dan, tentu saja wajah ibu keduaku. Tiba-tiba aku membayangkan pelangi.

Puspa begitu menyukai namanya, sehingga mencintai pula bunga-bunga. Dia Puspa indahku dulu. Hatiku begitu berbunga-bunga saat membeli bunga yang hari ini akan kuberikan padanya. Mawar, krisan dan gladiola. Merah, pink dan pastel. Aku teringat ayahnya begitu suka memakan buah. Kupilih anggur, juga beberapa buah naga. Semoga ia mau kembali menjadi puspaku yang indah.

Puspa, dulu sekali, pernah kuajak untuk kembali bergala asmara. Upaya itu menemui jalan buntu. Namun hubunganku dengan ibunya selalu kurawat. Beberapa bulan sekali ia kukunjungi. Terkadang kuberi dia novel-novel untuk dibaca di waktu senggang. Puterinya tak kunjung berkenan menemuiku. Tetapi aku tak peduli. Ibu keduaku selalu bisa menjadi tempat bagiku mengadu, atau lari sejenak dari ingar-bingar hidup.

Kutinggalkan mobil di stasiun. Kujejakkan kaki, melangkah ke rumahnya. Ponsel yang selalu kupastikan berada dalam keadaan siaga kali ini kumatikan. Kusimpan di saku celana. Aku ingin menapaktilasi masa silam saat kedua pasang kaki kami berjalan beriring mesra dari stasiun ke stasiun, dari rumah ke kampus. O, betapa langkah-langkah kecil itu terasa begitu ringan dan riang!

Entah dorongan apa yang meyakinkanku untuk berbuat ini. Semenjak kejadian itu Puspa sempat terpukul. Dari ibu keduaku aku tahu bahwa perlahan ia bisa melanjutkan hidup dengan bahagia, bekerja di dunia yang ia impi-impikan. Aku begitu percaya kekerasan hatinya bisa luluh setelah mengetahui pernikahanku luluh-lantak, semata-mata demi kembali berpulang padanya.

Lamunan hanya sejenak melarikanku dari kenyataan. Mataku memicing hingga sekira dua puluh meter. Terlihat gang sempit yang begitu kukenal. Gang itu sungguhlah masih jauh, kira-kira masih lima puluh langkah lagi. Ingin aku bergegas, namun kutahan. Ekstase ini perlu kunikmati secara khidmat dan perlahan. Seutuhnya dan seluruhnya.

Sayup-sayup kudengar suara orang mengaji. Sebagaimana gang-gang lain di belantara Jakarta, religiusitas bersanding mesra dengan pejalnya hidup. Setelah belasan tahun hanya mampir sepintas lalu selewat dengar, kukhidmati kembali ayat-ayat suci yang dilantunkan penghuni gang. Kuhirup udara dalam-dalam. Ekstase ini pun bertambah dosisnya.

Satu rumah, tiga rumah, tujuh rumah, lantunan ayat suci tak lagi terdengar sayup-sayup. Kalam Tuhan kudengar semakin bening dan nyaring. Orang-orang duduk meleseh dan berjejal hingga di depan rumah-rumah tetangga. Pertanyaan membebat dengan hebat setelah kusadari yang sejak tadi kudengar adalah irama pengantar mati. Seseorang yang duduk di deretan paling pinggir kuhampiri.

“Ini acara apa?” tanyaku tanpa berusaha ramah.

“Pengajian empat puluh hari Ibu Murti. Mau duduk di sebelah saya? Sepertinya di dalam sudah penuh.”

Buket tiga macam bunga dan seplastik buah serta merta luruh dari genggaman. Kepala dan duniaku kompak berpusing. Seharusnya ibu keduaku tidak menghadiri pesta dan memberikan nasihat itu. Baru tiga belas hari yang lalu pesta pernikahan itu kuadakan. ♦

Pondok Bambu, April 2017

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts