“Adakah usia tertentu untuk jatuh cinta?” kalimat pendek itu tertera di belakang buku bersampul abu-abu ini. Sebuah pertanyaan yang rasanya menjadi milik banyak orang. Sudah sering kita dengar narasi bahwa cinta memang buta, ia tak memandang berapa lama waktu hidup di dunia. Kadang pula kita bertemu dengan ucapan bahwa cinta bisa semaunya, datang kapan saja, pada siapa saja, dan begitu juga, pergi sesukanya.

Tentu saja rata-rata dari kita sudah mengalami rasanya jatuh cinta, entah itu sungguhan ataupun yang katanya sekadar cinta monyet. Namun sejatinya kita tak pernah tahu apa dan bagaimana cinta yang sesungguhnya itu.

Dalam hubungan antarmanusia, jelas dikurung dalam rangkaian norma dan etika. Sebuah tatanan masyarakat yang menciptakan batasan, memberikan makna baik dan buruk menjadi berarti. Lantas dalam konteks jatuh cinta, kadangkala orang harus terpenjara pada batasan-batasan itu, pada norma yang mengintervensi sampai pada hal intim.

Beberapa tahun lalu, tepatnya 2009, masyarakat dibuat heboh oleh perkawinan yang ganjil, ketika seorang pria pemimpin pesantren di Semarang menikahi seorang gadis berusia 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa. Ya, pria itu bernama Syekh Puji. Bukan apa-apa, masyarakat dibuat heboh sebab jarak usia antara dua pasangan ini berbeda sangat jauh. Si pria yang usianya saat itu hampir setengah abad menikahi seorang bocah.

Terang saja perkawinan itu menjadi santapan manis bagi media. Segala kecaman dilontarkan kepada Syekh Puji, ada yang menganggapnya mempunyai penyakit pedofil, ada juga yang menganggap perkawinan itu hanyalah cara yang ujung-ujungnya tentang materi. Apapun itu, semua kecaman itu menjadikan norma sebagai peluru.

Budaya timur yang diagung-agungkan pun menyeruak. Ibu-ibu tak bisa membayangkan bagaimana bocah tersebut melayani keseharian suaminya. Bagi bapak-bapak, tak bisa membayangkan bagimana jadinya malam pertama. Kita seakan lupa bahwa perkawinan seperti itu kerap atau bahkan bisa dikatakan lumrah terjadi di desa-desa.

Alhasil, Syekh Puji pun harus mendekam di penjara.

Tetapi yang mengagetkan justru ucapan yang keluar dari mulut mungil bocah perempuan itu. Di tengah makian masyarakat, bocah yang hendak dijadikan istri kedua ini malah membela calon suaminya, yang tentu saja lebih pantas disebut Ayahnya atau bahkan kakeknya. Lutfiana mengaku bahwa perkawinan itu bukan paksaan dan bahwa ia memang mencintai Syekh Puji.

Di sini kita kemudian dihadapkan pada segudang  pertanyaan. Apakah bocah 12 tahun sudah sepatutnya bicara begitu sedangkan teman sebayanya masih asik bermain layangan? Atau, apakah ucapan tersebut betul-betul dimengertinya? Apakah ia memang merasakan jatuh cinta?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu harus dibenturkan lagi dengan asas dan norma masyarakat kita. Tapi toh siapa yang bisa mengetahui kedalaman hati seseorang?

Saya teringat kisah tersebut ketika membaca novel karya pengarang kondang kelahiran Kolombia yang bernama lengkap Gabriel Jose de la Concordia Garcia Marquez. Dalam novel tipis ini, Marquez menjlerentehkan bagaimana jatuh cinta memang tak mengenal usia.

Sosok Aku yang digambarkan dalam novel ini adalah seorang kolomnis di Koran El Diari Di La Paz. Cerita bermula ketika si Aku terbangun pada pagi di mana ia berulangtahun yang ke-90 — suatu usia yang tak sejalan dengan hasrat hidupnya. Ia merasa masih segar walaupun kawan-kawannya telah lama mangkat. Si Aku ini bahkan kerap menertawakan pria berumur 80 tahun yang disebutnya “bocah-bocah yang ketakutan”.

Hasrat yang masih menyala-nyala ini berdampak pada kehidupan seksualnya. Sejak usia 20 tahun hingga tepat setengah abad, ia selalu menulis catatan ketika bercinta dengan perempuan bayarannya. Terhitung pada rentang waktu itu ia sudah bercinta dengan 514 wanita. Ia tidak menikah. Satu-satunya orang yang menemaninya di rumah hanyalah seorang pembantu bernama Damiana, yang sering ia jadikan pelampiasan seksual.

Pada usia ke 90 tahun itu ia mempunyai rencana akan merayakannya pada sebuah malam yang dipenuhi oleh nafsu. Sebab itulah ia lantas menelpon Rosa Cabarcas, pemilik rumah bordil di kawasan Barrio Chino. Pada Rosa ia tak ingin disamakan dengan pengunjung lainnya, kali ini ia menginginkan perempuan yang masih perawan.

Cerita berlanjut ketika Rosa kemudian mendapatkan perempuan yang diinginkan si Aku, gadis yang masih sangat belia, yang lebih pantas disebut cucu olehnya. Namun apa daya, setelah berduaan di dalam kamar Si Aku malah terpaku tak bisa berbuat apa-apa. Ia begitu terpesona pada bocah yang tengah tertidur bugil di ranjang. Setelah bertahun-tahun memuntahkan hasratnya pada ratusan pelacur, baru kali ini ia merasakan jatuh cinta.

Ya, si tua bangkotan itu jatuh cinta pada gadis yang hendak ia beli keperawanannya.

Di sinilah gaya Marquez selalu menarik untuk dilahap. Di tangannya jatuh cinta bisa sebegitu rumit dan magis. Bagaimana tidak? Si Aku yang berusia 90 tahun itu tak pernah bercinta dengan si Bocah yang ia beri nama Delgadina. Sejak pertama bertemu si Aku hanya bisa memandang dan menyentuh tanpa membangunkannya. Ia jatuh cinta pada bocah yang tertidur.

Jatuh cinta yang betul-betul mengubah hidupnya. Marquez seakan mengatakan bahwa jatuh cinta memang bisa membuat segalanya menjadi makin susah dimengerti. Bahwa begitupun juga dengan kehidupan seksual seseorang, selalu menyimpan misteri bak kisah dalam Eyes Wide Shut-nya Kubrick (1999).

Pria bangkotan yang sudah seharusnya rajin ke gereja itu justru tergila-gila pada tubuh seorang bocah, hingga dibuat kesetanan ketika menemukan si Bocah mengenakan perhiasan di sebuah kesempatan. Ia murka sebab menganggap perhiasan itu diberikan oleh lelaki lain. Ia cemburu. Ia tak menginginkan ada lelaki lain yang menikmati tubuh bidadari kecilnya.

Ia semakin terobsesi ketika memimpikan Delgadina akan hidup bahagia dengannya. Suatu mimpi yang lebih cocok untuk orang yang masa depannya masih panjang. Dalam usia yang hampir seabad itu Si Aku dibuat seperti kembali pada masa remaja karena cinta. Bagaimana membayangkan seorang yang berusia setua itu kasmaran?

“Bahwa bukan masalah berapa umurmu, tapi bagaimana kau merasakan ketuaan itu,” ucap si Aku pada suatu kesempatan. Bahkan hidupnya bisa berantakan jika sekian lama tak bertemu dengan Delgadina.

Novel ini memaparkan suatu ambiguitas tentang moral yang disodorkan pada pembaca. Marquez seakan ingin menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai aturan sendiri-sendiri pada tubuhnya. Baginya hasrat juga tak selalu identik dengan pergumulan yang panas.

Selain itu, Marquez menggambarkan situasi ihwal kekuasaan gender yang mau tak mau menjadikan perempuan (lagi-lagi) sebagai pihak yang ditaklukkan. Bahwa perkawinan semacam ini tak bisa dipandang hanya dalam kerangka moralitas semata, tetapi perlu dan memang harus melihat dalam kerangka ekonomi, sebagaimana Delgadina yang menyetujui tawaran Rosa karena alasan uang. Upah yang diterimanya sebagai pekerja di pabrik tentu tak cukup menghidupi adik-adiknya.

Si Aku tentu pernah berpikir tentang moralitas, tentang batasan yang mengawal segala tingkah-laku manusia, namun bukankah jatuh cinta memang hanya bisa dihentikan oleh kematian? Lagipula siapa yang mampu menahan hasrat yang menyergap? Dan soal moral, Rosa Cabarcas pernah berkata di awal novel ini bahwa “Moralitas pun hanya masalah waktu.” ♦

Keterangan

Judul : Para Pelacurku yang Sendu

Judul asli: Memoria de mis Putas Tristes (2004)

Penulis: Gabriel Garcia Marquez

Penerbit: Circa

Cetakan: Agustus 2016

Tebal: vi + 133 hal.; 13 x 19 cm

ISBN: 978-602-74549-2-7

About the author

Anak Ternate yang merasa lebih mudah mengutarakan sesuatu lewat jari tinimbang mulut. Lulusan Adm. Negara yang lebih kenal Pram ketimbang Henri Fayol. Bisa disapa di line : @risalsyam

Related Posts