Kala itu kedua orang tuamu sedang bertengkar hebat di rumahmu. Pertengkaran itu akibat dari sang ayah yang kerap kali berselingkuh. Bukan satu atau dua kali kamu sering mendengarnya, tapi sudah berkali-kali. Tak jarang juga kamu mendengar suara gelas dan piring pecah, atau suara pukulan tangan yang keras serta jeritan suara ibumu. Namun kamu tidak mempunyai keberanian untuk melerai pertengkaran mereka. Kamu hanya bisa mengurung diri di kamar saat mendengar mereka berdua bertengkar. Terkadang kamu merasa kesal, sedih, dan bahkan menangis sendirian di kamar karena tak ada yang bisa kamu perbuat. Dan hari itu adalah puncak perasaan muakmu meledak. Akhirnya kamu pun memutuskan untuk meninggalkan rumah dan kabur secara diam-diam ke suatu gua yang terletak di bawah bukit untuk tinggal di sana seorang diri.

Awalnya kamu merasa sulit hidup di gua itu. Karena di sana tak ada listrik, kasur yang empuk, ataupun televisi seperti layaknya di rumahmu. Melainkan hanya ada lumut yang menempel di setiap dindingnya, ruang yang gelap, lembab, serta suara tetesan air yang menggema dari batu yang berbentuk seperti taring. Suasana di sana begitu sunyi tanpa terdengar seorang pun yang berbicara. Tapi kamu merasa dirimu kuat untuk bisa hidup di sana. Kamu tak pernah menyerah untuk mencoba beradaptasi dengan alam seiring berputarnya waktu. Hingga keterpaksaanlah yang menjadi kunci untuk kamu terbiasa hidup di dalam gua itu.

Kadang kamu memetik buah-buahan atau dedaunan yang ada di luar gua ketika merasa lapar, juga mencari ikan di sungai dengan menggunakan sebilah tombak yang kamu buat dari setangkai kayu. Gua itu sendiri jaraknya memang jauh dari pemukiman warga. Maka kamu tak dapat mengandalkan satu orang pun untuk bertahan hidup di sana. Sebab hanya ada hamparan hutan liar dan sekelompok fauna saja yang ada di sekitar gua. Tentu kemampuanmu sendirilah yang akan menentukan apakah kamu bisa bertahan hidup di sana atau tidak.

Kegiatanmu di sana dari pagi sampai sore hanyalah berburu. Dan ketika sore menjemput malam, kamu pun akan kembali pulang ke dalam gua untuk beristirahat. Aktivitas yang monoton itu terus-menerus kamu lakukan secara rutin. Tak pernah terbesit dalam benakmu untuk kembali lagi ke rumah. Sebab tekad dalam dirimu sudah bulat dan kamu telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menginjakkan kaki lagi di rumahmu. Walaupun itu harus mati sekalipun, kamu akan lebih memilih untuk mati di gua itu ketimbang harus kembali lagi ke pangkuan orang tuamu.

***

Ada suatu siang kamu tidak bisa berburu dan mencari makanan lagi. Suhu tubuhmu terasa begitu panas. Badanmu menggigil. Pandanganmu melayang-layang tak keruan. Kamu hanya bisa berbaring di atas batu yang cukup besar di dalam gua. Ragamu tergolek lemah dan sedikit tenaga yang tersisa pada tubuhmu. Pikiranmu menjadi kacau-balau. Kamu merasa hari itu adalah hari kematian yang telah datang untuk menjemputmu. Dan di saat kamu sedang berpikir seperti itu, kamu mendengar ada suara yang berbicara kepadamu.

“Kasihan sekali kau, tak ada yang mengobatimu,” ucap suara itu tiba-tiba mengejutkanmu.

Suara itu menggema di dalam gua, terucap berulang-ulang kali. Kamu panik. Lantas kamu menengok ke arah kanan dan kirimu. Walaupun kepalamu agak sedikit berat untuk digerakkan, tapi kamu tetap mencoba untuk menengoknya meski kamu tidak menemukan apapun di sekelilingmu. Tak ada tanda-tanda makhluk yang masuk ke dalam gua ataupun mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahmu. Kamu merasa bingung. Kamu menjadi takut. Yang terlintas dipikiranmu yaitu sesosok hantu raksasa dengan mata merahnya yang menyala.

“Sudahlah…Tak perlu kau menengok-nengok lagi. Aku sekarang berada di sampingmu.” Suara itu datang lagi.

Kamu dengan gerakan spontan langsung menengokkan kepalamu ke arah samping. Kamu terkaget-kaget melihat yang berbicara itu adalah seekor kelelawar yang sedang berdiri kokoh tepat di sampingmu. Kelelawar itu mempunyai taring yang panjang serta ukuran tubuhnya lebih besar enam kali lipat dari pada kelelawar pada umumnya.

“Siapa kau? Apa kau hantu gua ini?” Tanyamu sedikit panik padanya.

Kelelawar itu tertawa terbahak-bahak. “Apa kau tidak mengetahui tentang nama-nama hewan?”

“Ya, aku tahu kau adalah kelelawar. Tapi mengapa kau bisa berbicara seperti manusia?”

“Takdir,” jawab kelelawar itu pendek.

Kamu merasa sangat kesal dengan kelelawar itu. Kamu juga sangat meyakini dalam hatimu bahwa dia adalah manusia siluman kelelawar atau semacam raja iblis yang sedang diturunkan di bumi. Dan tanpa kamu ketahui sebab dan alasannya, tiba-tiba kelelawar itu menawarkan diri untuk mengobatimu. Kamu pun tidak langsung percaya begitu saja padanya, lalu kamu menolak mentah-mentah permintaannya tersebut. Tapi kelelawar itu tetap saja terbang ke luar gua tanpa merespon perkataanmu. Sampai beberapa saat kemudian, dia kembali lagi ke dalam gua dengan membawa beberapa pucuk daun yang dibawa oleh gigi runcingnya. Kelelawar itu lalu memberikannya padamu dan menyuruhmu untuk memakannya. Kamu masih tetap bersikeras menolak, sebab ada kecurigaan dalam dirimu padanya. Kecurigaan yang kamu munculkan sendiri dalam otakmu.

“Makanlah daun ini, maka kesehatanmu akan cepat pulih,” saran kelelawar itu padamu.

“Tidak! Aku tidak mempercayaimu. Pasti kau akan meracuniku dan akan memakan tubuhku ketika aku mati nanti,” jawabmu dengan ketus.

Kelelawar itu tertawa lagi. Dia kini akan membuktikan bahwa daun itu tidak beracun. Maka dia pun memakan selembar daun yang telah dibawanya tadi. Dia memakannya hingga tandas. Kamu mengamati tubuhnya dalam beberapa saat. Ternyata memang tidak terjadi perubahan serta adanya tanda-tanda yang buruk pada kelelawar itu. Kecurigaanmu sedikit demi sedikit pun mulai hilang, terlunturkan oleh fakta yang ada. Akhirnya kamu memakan daun yang dibawa kelelawar itu. Setelah kurang lebih setengah jam waktu berlalu, ternyata sakitmu memang benar-benar pulih. Kamu pun mengucapkan terima kasih serta meminta maaf kepada kelelawar itu karena sempat mencurigainya.

Kelelawar itu bercerita padamu, bahwa dia adalah raja dari segala kelelawar di dunia ini. Seluruh kelelawar yang hidup di dunia ini akan tunduk padanya. Karena dia yang telah menyelesaikan permasalahan-permasalahan di antara kelelawar dengan hewan lainnya. Awalnya para kelelawar itu sebenarnya mencari makan pada siang hari. Maka dari itu, hal tersebutlah yang selalu menjadi perdebatan dan konflik di antara hewan; terutama kelelawar. Semua berebut dan tak ingin mengalah dalam berburu makanan di siang hari. Jadi pada saat itu, hanya dia yang berani membuat kesepakatan dengan raja-raja hewan lain, agar seluruh hewan bisa lebih seimbang dan tak saling berebutan lagi ketika sedang berburu makanan. Itulah sebabnya mengapa sekarang para kelelawar mencari makan di malam hari, semua itu berkat hasil kesepakatan yang telah dia buat.

Kamu kini merasa senang karena sekarang ada teman yang bisa diajak berbincang. Rasa kesepianmu tanpa kamu sadari mulai larut perlahan. Setelah berbincang cukup panjang, akhirnya kamu diajak ke suatu tempat oleh kelelawar itu. “Tempat yang sangat menakjubkan,” kata kelelawar. Kamu pun ingin mengetahui tempat yang dikatakan oleh kelelawar tadi, lalu kamu segera memulai perjalananmu keluar dari gua dan menyisiri beberapa kilometer ke arah hutan liar bersama kelelawar itu. Dan ketika perjalananmu telah sampai tujuan, kamu mendapatkan dirimu berhenti dan berdiri di tepian sungai dengan aliran airnya yang cukup deras.

“Ya, di sinilah tempatnya,” ucap si kelelawar.

“Di sini? Apanya yang menakjubkan di sini?!” tuturmu heran pada kelelawar itu.

“Tunggu dulu. Tempat itu ada di dalam sungai ini. Di bawah aliran sungai ini terdapat sebuah pintu. Ayo, langsung saja kita menyelam biar kau mengetahuinya,” jawab kelelawar.

Ketika kamu menyelam bersama kelelawar itu, benar saja, kamu mendapatkan ada sebuah pintu di dalamnya. Lalu kamu membukanya. Kamu tercengang, ternyata di dalamnya ada kehidupan baru lagi. Kehidupan seperti bumi kedua.

***

Kamu berjalan-jalan di sana bersama kelelawar itu dan melihat banyak sekali hewan yang berbicara seperti manusia. Ada pula beberapa manusia yang tak asing wajahnya ketika kamu berpapasan sewaktu di sana. Ketika kamu sedang asyik berjalan-jalan, tiba-tiba pandanganmu tertumbuk ke arah kanan. Kamu melihat pria yang sedang memetik sebuah bunga matahari di pinggiran taman nan hijau. Kamu dapat mengenali wajah itu dengan cepat dan jelas hanya dalam hitungan detik.

“Apakah itu Tan Malaka?” tanyamu pada kelelawar itu dengan gigi gemetar.

“Iya betul,” jawab sang kelelawar.

“Tempat apa ini sebenarnya?”

“Ini adalah tempat bagi makhluk yang sudah meninggal dunia.”

Kamu menghampiri pria itu yang kini sudah duduk di sebuah bangku taman yang cukup sejuk. Kamu mengajaknya berkenalan. Kamu mengulurkan tanganmu ke arahnya, dan ia menjabatnya dengan tegas. Kamu duduk bersama dan berdikusi dengannya. Berdikusi tentang semasa hidupnya di bumi pertama. Ia mengatakan sangat begitu sedih setelah meninggal di bumi pertama, karena kepergiannya itu dibarengi oleh awalnya kekacauan di negara yang dibelanya mati-matian, tapi nasibnya begitu miris, malahan negaranya sendiri yang mati-matian demi membunuhnya. Ya, negara itu Indonesia!

“Kekacauan yang akan terus beranak-pinak,” katanya.

“Apa yang kau maksud kekacauan beranak-pinak itu?” tanyamu penasaran.

Ia menghirup sejenak bunga yang dipetiknya itu. “Kekacauan pola pikir dan tindakan yang sudah mengakar serta mengangkangi setiap generasinya.”

Kemerdekaan seratus persen menurutnya tak pernah terwujud. Mereka hanya mengganti pengeksploitasian itu dari nama Hindia-Belanda menjadi Indonesia. Kesadaran palsu itu dimulai setelah proklamasi kemerdekaan terjadi. Mereka hanya sekedar merdeka di dalam pikiran saja tapi tidak dengan kondisi kehidupannya. Kemerdekaan yang seperti itu hanyalah sebuah ilusi. Mereka hanya mengganti siapa tuan yang akan mengisap selanjutnya.

Setelah berdiskusi panjang dengannya, kamu berjalan-jalan kembali bersama kelelawar itu dan kini menemui seorang perempuan yang sedang duduk bersandar di bawah pohon yang batangnya berukuran cukup besar. Pohon dengan daun rimbun yang memayungi tubuhnya. Kamu melihat ia sedang bengong menatap dedaunan pohon itu yang bergoyang-goyang karena tertiup oleh angin, mungkin pikirannya sedang melayang-layang di udara. Tapi kamu tak tahu pasti, yang jelas wajahnya seakan terpenjara kemurungan.

Kamu mencoba untuk menghampirinya. Kamu semakin penasaran dengan orang yang sudah pernah merasakan kematian di bumi pertama. Kamu pun mulai berkenalan serta berbincang dengannya.

“Memangnya bagaimana proses kematian di bumi yang pertamamu?” tanyamu di sela perbincangan itu.

“Aku mati dengan dililit kawat panas sampai seluruh kulit leherku mengelupas, pembunuhan itu dilakukan oleh bosku sendiri.”

Kamu mengernyitkan dahi. Wajahmu terlihat bodoh dengan mulut yang terbuka cukup lebar karena dibuat kaget oleh pernyataannya tersebut. Kamu kembali semakin penasaran. “Hah! Memangnya apa alasan dia membunuhmu?!”

“Hari itu aku diajak ke rumahnya, sebab katanya ada masalah pekerjaan yang ingin dibicarakan padaku secara pribadi. Aku tidak bisa membantahnya. Dan sesampainya di sana, istri serta anaknya ternyata sedang tidak ada di rumah. Lalu aku diperkosa berkali-kali olehnya. Setelah melakukan hal itu, ia mengunciku di dalam kamar. Ia pergi ke luar beberapa saat, kemudian datang lagi ke dalam kamar dengan membawa kawat yang sudah dibakar panas dan segera melilitkannya ke leherku begitu kencang. Kesakitan itu tak pernah bisa aku lupakan sampai sekarang. Dia takut aku akan melaporkannya ke polisi kalau tidak membunuhku saat itu.”

Kamu hanya diam mengangguk-angguk. Kamu bisa melihat masih ada dendam di dalam bola mata perempuan itu ketika bercerita denganmu. Kamu seperti bisa merasakan apa yang kala itu dirasakan olehnya.

“Lalu apa yang paling kau sesali selama hidup di bumi pertamamu?” Kamu mencoba menanyakan hal lain, karena tak sanggup mendengar lebih panjang lagi tentang cerita kematiannya yang tragis itu.

“Yang paling aku sesali adalah aku selalu saja diam ketika hidup di bumi pertama. Aku selalu diam bila para pria melecehkanku, baik secara verbal maupun nonverbal. Aku selalu diam ketika perempuan tak mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Aku selalu diam ketika perempuan hanya pantas sebagai pekerja dengan upah yang murah. Aku selalu diam ketika perusahaan tempatku bekerja menyuruhku untuk memakai pakaian kerja yang seksi karena ingin sekaligus menjual tubuhku. Aku selalu diam ketika perempuan hanya boleh disibukkan pekerjaan rumah saja. Ya, aku selalu diam bila perempuan dinomorduakan.”

Kamu kini berpikir, dan mengambil kesimpulan bahwa sejatinya sang guru abadi itu adalah pengalaman. Apakah harus dengan cara kematian baru kita bisa menyadarinya? “Tidak, aku tidak mau seperti dia yang kini menyesal setelah kematian telah datang merenggutnya,” tuturmu pada diri sendiri. Kamu mulai sadar, bahwa kamu tak ingin nanti kedua orang tuamu menyesal di sepanjang hidupnya karena telah kehilangan seorang anak yang dicintainya. Kamu juga tak ingin menjadi seorang yang pendiam ketika orang tuamu bertengkar lagi. Dan kamu tak ingin lagi melarikan diri dari sebuah masalah atau kenyataan hidup ini layaknya seorang pecundang. Tidak, kamu tak ingin menyesalinya!

Setelah perbincanganmu dengan perempuan itu berakhir dalam waktu yang cukup lama. Kelelawar itu mengajakmu untuk kembali pulang ke gua. Akhirnya kamu pun beranjak pergi dan bertekad akan merubah segala sifatmu mulai dari sekarang. Kamu menyadarinya bahwa tak seharusnya kamu meninggalkan rumah. Sebab kabur bukan berarti dapat menyelesaikan masalah. Atau mungkin memang manusia hanya ingin mendapatkan kenyamanan semata saja tanpa mau ada resiko dan lubang yang menerpa jalan hidupnya?

Satu-dua langkah kini kamu tapaki menuju pintu penyambung antara kedua dunia tersebut. Ketika kamu sampai di depan pintu bersama kalelawar itu, kamu berdiri sejenak memandangi pintu itu dengan tatapan kosong. Matamu melihat pintu itu, tapi tidak dengan pikiranmu. Lalu kamu mengucapkan sesuatu pada si kelelawar.

“Lihatlah, ketika kita buka pintu ini, dunia palsu akan ada di depan kita sebentar lagi. Dunia yang dipenuhi dengan segala penyesalan makhluk yang ada di dalamnya,” ucapmu tanpa sadar.

***

Kamu pun lalu membuka pintu itu, dan segera berenang kembali ke tepian sungai bersama sang kelelawar. Setelah sampai di tepian, kamu melihat ke arah langit di atasmu. Ternyata tanpa terasa malam sudah datang menjemput. Suasana gelap dan suara bising jangkrik terdengar begitu nyaring di telingamu. Tak berselang lama, tiba-tiba kamu melihat ada gerombolan ratusan kelelawar. Oh tidak, bahkan ribuan kelelawar beterbangan tepat di atasmu. Semua beterbangan saling berhimpitan karena begitu banyaknya dari gerombolan itu. Mereka hanya terbang berputar-putar saja seakan seperti menyambut kedatanganmu.

“Ada apa ini rupanya?” tanyamu pada sang kelelawar.

Kelelawar itu tertawa terbahak-bahak. “Ada sebuah pesta malam ini.”

“Pesta apa?”

“Ya tentu berpesta memakan tubuhmu. Aku kan sudah bilang, bahwa kelelawar mencari makan pada malam hari. Itu sebabnya, pada siang itu aku tidak memakanmu ketika di dalam gua. Aku sengaja mengulur waktu dengan mengajakmu berjalan-jalan di tempat itu agar malam datang. Kau juga harus tahu, aku itu rela menyembuhkan sakitmu bukan karena keikhlasanku, tapi semata-mata untuk menambah nafsu makanku ketika akan menyantapmu agar lebih terasa nikmat dan lezat.”♦

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts