Oleh: Purwanto*

Informasi Umum

Sutradara : David Fincher

Penulis : Chuck Palahniuk, Jim Uhls

Genre : Drama

Tanggal Rilis : 15 Oktober 1999

Durasi : 139 menit

Negara : Amerika Serikat

Bahasa : Inggris

Produksi : Fox 2000 Pictures, Regency Enterprises, Linson Films

Fight Club adalah sebuah film dari Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1999. Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama “Fight Club” yang diterbitkan pada tahun 1996, karya Chuck Palahniuk. Film ini disutradarai oleh David Fincher dan diperankan oleh Edward Norton (tokoh utama yang hanya disebut narator/tidak punya nama). Film ini mengisahkan seorang pria yang teralienasi dari dunia pekerjaannya yang bertemu dengan tukang sabun yang bernama Tyler Durden (Brad Pitt). Mereka mendirikan Fight Club bersama-sama demi mendapatkan ketenangan batin dari terjebak alienasi dunia pekerjan. 

Alienasi Pekerja Yang Terjebak Pada Konsumerisme

Masalah perkotaan yang paling menonjol pada individu adalah masalah pekerjaan dan gaya hidup. Dari masalah tersebut maka terciptalah kebutuhan-kebuthan palsu yang dimodifikasi oleh kaum kapitalis dan terciptalah budaya konsumerisme. Sehingga individu membeli apa yang tidak dibutuhkan sampai dia puas, sampai dia tidak tahu siapa diri mereka sendiri. Wajar saja dari prilaku tersebut tiap individu menjadi teralienasi dikarenakan penyeragaman atau komodifikasi oleh kapitalis. Hal ini jugalah yang dialami oleh narator.

Seperti pada umumnya pekerja urban, sang narator juga mengalami alienasi dari pekerjaannya. Menurut narator pekerjaannya merupakan rutintas yang membosankan dan tidak mempunyai manfaat apa-apa bagi dirinya sendiri. Rutinitas pekerjaan yang membosankan tersebut, narator mengalami alienasi, sehingga tidak dapat membedakan dirinya dimana dan mengalami gangguan tidur (insomnia).

“Inilah hidupku, kau terbangun di bandara Internasional Harbor. Kalau kau terbangun di waktu yang berbeda dan ditempat yang berbeda, apa kau juga akan terbangun sebagai orang yang berbeda?” (menit: 00:19:47)

Dalam pekerjaannya, sang narator adalah koordinator Recall[1] di perusahaan mobil yang besar (dalam film tidak disebutkan nama perusahaan tersebut). Kebijakan dari perusahannya adalah mencabut Recall jika dapat merugikan perusahaan. Karena filosofi dari perusahaan tersebut adalah pemborosan sama saja dengan pencurian. Jadi masalah nyawa manusia adalah masalah untung-rugi bagi perusahaan.

“Aku koordinator Recall, tugasku menerapkan formula.Mobil baru yang dibangun perusahaan lari 60 mill/jam, gigi mundurnya terkunci, mobil itu menabrak dan terbakar dengan semua orang terperangkap didalamnya, apakah kita akan mengajukan Recall?.

Catat nomor mobilnya, A.Berapa kali kemungkinan gagal, B.Kalikan hasilnya dengan ganti rugi rata-rata, C.A kali (X) B kali (X) C sama dengan (=) X.Kalau X kurang dari biaya Recall, kita tak akan lakukan Recall”. (menit: 00:21:17).

Dari rutinitas pekerjaannya yang membosankan sang narator mengalami insomnia. Sebagai pekerja professional muda tentulah uang bukan masalah yang sulit bagi narator. Biasanya pekerja professional muda seperti narator dekat dengan iklan dan media massa. Suatu hal yang mudah untuk dicekoki propaganda iklan yang menawarkan produk sebagai solusi. Dengan uang yang didapat dari hasil kerjanya, narator membeli semua barang yang ia ingini guna mengobati insomnia.

“Selama 6 bulan aku tak bisa tidur. Tak ada yang nyata jika menderita insomnia. Segalanya terasa jauh, segalanya terasa berulang-ulang dan melelahkan. Yang muncul hanya nama-nama perusahaan. IBM Steller Sphare, Microsoft Galaxy, Planet Starbucks”. (menit: 00:04:25)

“Kalau aku melihat hal menarik, seperti meja kopi berbentuk yin-yang, aku harus memilikinya. Perabot kantor klipsk, sepeda rumah hovertekke, sofa olmashab dengan pola garis hijau strine bahkan lampu Rylsampa dari kertas mentah. Aku memeriksa catalog dan bertanya “perabot apa yang menciri diriku?”.

Aku sudah memiliki semuanya bahkan dengan peralatan makan dengan gelembung kecil dan tak sempurna bukti bahwa itu diukir oleh pekerja keras yang sederana dari mana saja”. (menit: 00:05:35).

Sang narator adalah bukan satu-satunya pekerja yang teralienasi. Banyak para pekerja yang mengalami seperti dirinya. Biasanya, pekerja seperti narator bertempal tinggal diapartemen yang sama.

“Rumahku di kondominium lantai 15, tempat tinggal para professional muda. Dindingnya dari beton. Itu penting, ketika tetanggamu menonton TV dengan suara keras”. (menit: 00:26:01).

“Seperti kebanyakan orang aku adalah budak, budak perabot dari rumah Swedia”. (menit: 00:04:08).

Saat kondominiumnya terbakar dan barang perabotannya terpental keluar dari apartemen barulah sang narator menyesal. Memalukan, rumah penuh barang bagus tapi tidak ada makanan (menit: 00:26:53). Hal ini pun diakui dihadapan Tyler, dan Tyler memberikan sindirian yang halus terhadap prilaku konsumtif narator.

“Narator: waktu kau beli perabot, kau bilang ‘ini sofa terakhir yang ku inginkan. Apapun yang terjadi masalah sofa sudah selesai’. Aku punya segalanya. Aku punya stereo yang sangat canggih, jas yang sangat terhormat. Aku hampir sempurna.

Tyler: sial, dan semua sekarang itu sudah lenyap.

Narator: semua itu lenyap.

Tyler: kau tahu apa itu penutup ranjang yang tebal?.

Narator: penghangat.

Tyler: selimut. Cuma selimut, nah kenapa kita kenal Duvet? Apakah itu penting untuk keselamatan kita? Tidak. Lalu kita ini apa?

Narator: entahlah, kita cuma pemakai.

Tyler: benar, kita cuma pemakai. Kita terobsesi dengan gaya hidup. Pembunuhan, kejahatan, kemiskinan, hal-hal ini tidak kupedulikan. Yang kupedulikan adalah majalah artis, TV dengan 500 chanel. Nama orang yang tercetak di pakaian dalam, Rogaina, Viagra, Olestra.. persetan dengan sofa dan perabot bergaris-garis hijaumu. I say never be complete. Jangan jadi sempurna, apa yang terjadi, terjadilah.

Narator: asuransiku akan membayar ganti rugi, jadi…. apa?

Tyler: hartamu sudah mengusaimu”. (menit: 00:31:16).

Apa yang telah diambil dari dialog dan fragmen diatas adalah setiap orang seperti narator, pekerja (khusunya kelas menengah dan atas) selalu terperangkap dengan benda-benda mahal yang dibelinya. Hal tersebutlah yang menghubungkan pola konsumerisme dengan alienasi. Para pekerja akan menjadi individu yang terasing satu sama lain dikarenakan obsesi membeli barang mewah yang bukan kebutuhannya yang ditawarkan oleh pasar.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, alienasi adalah proses menuju keterasingan. Alienasi muncul ada dimana-mana; dirumah, disekolah, bahkan di lingkungan kerja. Menurut Marx, alienasi yang paling penting adalah alienasi yang muncul didalam dunia pekerjaan, karena manusia adalah pekerja dan pencipta. Jika ini diselewengkan oleh kapitalis/perusahaan maka kerja tidak lagi sebagai sebuah ekspresi dari tujuan para pekerja tapi berdasarkan tujuan kapitalis/perusahaan yang menggaji para pekerja. Marx mendeskripsikan alienasi sebagai proses konkretisasi hakihat batin manusia yang kemudian menjadi barang mati, dan menceraikan manusia yang satu dari yang lain[2]. Menurut Marx, alienasi dalam bidang kerja ada empat unsur dasar[3], yaitu:

  1. Pekerja teralienasi dari aktifitas produksi. Pekerja tidak memproduksi ide-ide mereka sendiri tapi mereka bekerja kepada kapitalis/perusahaan yang menggaji mereka. Sehingga yang dikerjakan para pekerja menjadi pekerjaan membosankan.
  2. Pekerja teralienasi dari produk. Produk kerja pekerja tidak menjadi milik mereka tapi milik kapitalis/perusahaan. Jika pekerja menginingkan produknya, maka pekerja harus membayar/membelinya.
  3. Pekerja teralienasi dari sesama pekerja. Kapitalis/perusahaan melarang para pekerja untuk bekerjasama dengan pekerja lainnya sehingga mereka tidak saling kenal sekalipun berada di tempat yang berdampingan.
  4. Pekerja teralienasi dari potensi kemanusiaan mereka tersendiri. Kerja bukan lagi pemenuhan sifat dasar manusia. Pekerja hanya dicetak untuk menjadi ,mesin produksi yang hanya menguntungkan kapitalis tanpa memikirkan bagaimana jiwa dan kualitas pekerja sebagai seorang manusia.

Mengacu pada konsep alienasi Marx. Narator jelas-jelas mengalami alienasi dalam dunia pekerjaannya. Rutinitas pekerjaan yang membosankan tidak dapat mengenal diri sebenarnya narator. Dia hanya menjalankan pekerjaan yang berulang-ulang saja. Di sisi lain, perusahaannya mempunyai kebijakan dimana nyawa seseorang hanyalah sebuah statistik untung-rugi dalam bisnisnya. Maka dari itu, narator mengalami insomnia dikarenakan teralienasi dari dunia pekerjaannya sehinga pelampiasannya membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhanya dengan harapan dapat mengobati insomnia yang dideritanya.

Fight Club Sebagai Solusi Alternatif Pekerja Yang Teralienasi

Fight Club didirikan oleh dua orang, yaitu narator dan Tyler Durden. Klub ini berdiri setelah pertemuan kedua mereka di sebuah bar, Lou’s Tavern. Tyler meminta dipukul oleh narator dengan alasan agar dapat mengenal dirinya sendiri. Lambat laun peminat Fight Club bertambah dan diikuti rata-rata oleh para pekerja. Fight Club adalah solusi baru (solusi sebelumnya adalah kelompok konseling, namun tak bertahan lama) bagi narator untuk mengobati insomnia yang dideritanya.

Walaupun terkesan sadis karena baku hantam sesama petarung (one by one) namun Fight Club dapat mengalihkan rasa keterasingan dalam dunia pekerjaan bagi para anggota Fight Club yang mayoritasnya adalah pekerja. Setelah berkelahi semuanya lebih tenang (menit:00:39:14). Dengan kata lain, Fight Club telah menjadi tempat pelampiasan marah, kekesalan dan keterasingan di dalam dunia kerja.

Setiap perkumpulan/kelompok mempunyai aturan sendiri, baik lisan ataupun tulisan. Tidak ada bedanya dengan perkumpulan/kelompok lain, Fight Club pun mempunyai aturan tersendiri yang selalu dibacakan tiap minggunya oleh Tyler Durden, Founding Father Fight Club.

“Tiap minggu Tyler memberikan peraturan untuk kami..

Tyler: Gentlemen, Welcome to Fight Club!.

Peraturan pertama, jangan bicarakan Fight Club.

Peraturan kedua, jangan bicarakan Fight Club.

Peraturan ketiga, kalau orang teriak berhenti. Mundur. Pertarungan selesai.

Peraturan keempat, hanya dua orang boleh bertarung.

Peraturan kelima, bertarung satu per satu.

Peraturan keenam, lepas kaos, lepas sepatu.

Peraturan ketujuh, pertarungan berjalan selama mungkin.

Dan peraturan kedelapan dan juga yang terakhir, ini pertarungan pertama maka kau harus bertarung.”

Fight Club menjadi tempat ajang solidaritas dan persatuan bagi para anggotanya. Dengan adanya sistem egaliter didalam Fight Club maka tak ada jarak antar anggotanya. Diluar Fight Club para pekerja mengalami alienasi dikarenakan kapitalis/perusahaan melarang para pekerjanya berkerja sama (guna menjaga jarak antar pekerja) tapi didalam Fight Club tidak ada peraturan itu.Anggota Fight Club sangat mudah dikenali, dengan muka babak belur sudah pasti itu adalah anggota.Hal itu memudahkan untuk mengenal anggota Fight Club satu sama lain diluar Fight Club.

Sebuah perkumpulan jika tidak ada program maka akan menjadi mati atau membuat kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja. Bukan tanpa konsekwensi, hal ini dapat membuat jenuh para anggotanya dan ketika anggota mulai merasa jenuh maka satu per satu akan meninggalkan/keluar dari perkumpulan. Sadar akan hal itu, maka Tyler Durden membuat program yang diberi nama Project Mayhem.

Film besutan David Fincher memang patut diacungi jempol karena sudah mampu memvisualisasikan novel Chuck Palahniuk yang gaya penulisannya diluar aliaran sastra yang populer. Chuck mampu menangkap fenomena sosial yang terjadi pada keresahan-keresahan pekerja urban. Dengan kritik yang tajam ditujukan pada para pekerja urban, ternyata gaji yang tinggi belum tentu mendapatkan kebahagiaan pada para pekerja. Justru mendapatkan keresahan dalam batin sehingga menimbulkan penyakit. Chuck menggambarkan narator (tokoh utama) sebagai pekerja muda yang resah dengan keadaannya (alienasi). Dari keresahannya timbullah ide gila untuk membuat Fight Club dengan teman khayalannya, Tyler Durden.

Ada beberapa cerita yang diubah oleh Fincher, yakni endingFight Club. Novel Fight Club menceritakan narator bunuh diri sedangkan Film Fight Club, narator menembak mulutnya untuk membunuh Tyler Durden. Selain cerita yang dirubah, ternyata khalayak lebih menyukai ide cerita David Fincher daripada cerita ide Chuck Palaniuk. Walaupun ceritanya dirubah hal itu tidak membuat Chuck Palahniuk tersinggung. Justru Chuck Palahniuk membuat kelanjutan Fight Club dengan format komik.

“Setelah kita kehilangan semuanya barulah kita bebas melakukan apapun”

sumber gambar

*Penulis lepas yang tidak bernaung di instansi mana pun. Menggemari kopi hitam, rokok dan film. Pernah berorganisasi di Himasos Unas dengan menjabat Kadiv. Litbang (2008). Bisa dihubungi di ID Line: ipungurakan.

[1]Recall atau product recall adalah proses mengambil barang cacat dari konsumen (oleh produsen) dan memberikan mereka (konsumen) dengan kompensasi. Biasanya sering terjadi sebagai akibat dari masalah keamanan atas cacat manufaktur pada produk yang dapat membahayakan penggunanya. Jika produsen mobil/motor mengeluarkan produk yang dapat membahayakan konsumen dalam hal keamanan, produsen dalam hal ini pabrikan akan mengumumkan kepada publik bahwa ada masalah keamanan produk yang harus diperbaiki dan meminta konsumen mengembalikannya kepada produsen.

[2]Lorenz Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2005, hal: 37.

[3]George Ritzer, Douglas J. Gooodman,TEORI SOSIOLOGI,Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009, hal: 54

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.