Jakarta, 1988. 23.23 WIB

Tubuh kurus Ricky terempas menghantam dinding. Dia mengaduh. Ujung bibirnya robek. Pipi kirinya pun lebam karena dua pukulan telak yang dia dapat sebelumnya. Ricky meringis sembari meludahkan darah anyir dari mulutnya. Dia berusaha bangkit, tapi sebuah tendangan di perut membuatnya kembali terjerembab di tanah. Tubuhnya kini tergolek lemah berselimutkan debu dan luka. Napas Ricky tersengal-sengal. Dia mengerang parau. Tenggorokannya kering. Peluh dan darah melumuri tubuhnya yang mulai dirubung tikus-tikus got. Mereka mencicit rewel. Mungkin tikus-tikus itu penasaran. Di malam gerah begini siapa kiranya yang berani berbuat onar di dekat sarang mereka.

“Dasar sampah! Pecundang! Mati lu! Mampus! Anjing!” maki Si Penendang sambil menyarangkan beberapa sepakan ke perut dan punggung Ricky. Si Penendang baru berhenti setelah Ricky berjanji akan membayar utang serta bunganya besok.

Sepeninggal Si Penendang, dengan susah payah Ricky berhasil bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia tersenyum kecut. Sembari menyibakkan rambutnya yang dipotong dan diwarnai ala John Taylor dengan jemari kanan, dia menyelipkan rokok ke bibirnya menggunakan tangan kirinya yang memar karena sempat terinjak Si Penendang, lalu menyulutnya. Bandana merah yang sedari tadi melingkari dahinya dia lepaskan untuk menyeka darah dan keringat di wajahnya. Sementara itu, lamat-lamat lagu “Kasih” yang dinyanyikan Ermy Kullit terdengar dari kejauhan. Pasti dari Jaya Pub, pikir Ricky. Musik bossanova yang melenakan itu membuat perasaannya sedikit nyaman.

Ricky merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah kaset dengan kotak albumnya yang sudah dipenuhi goresan. Dia menatap kaset yang dibelinya dari uang pinjaman Si Penendang itu dengan sendu. Kaset itu adalah album Big Thing dari Duran Duran yang tadinya akan dihadiahkan untuk Nena, gadis yang dipacarinya sampai satu minggu lalu sebelum akhirnya gadis itu bunuh diri dengan menenggak obat nyamuk.

Ricky adalah anak dari keluarga berada. Namun, semua uang jajannya sehari-hari telah dia habiskan untuk minuman keras dan judi balap motor. Di arena balap motor jalanan itu pula Ricky bertemu Si Penendang yang memang berprofesi sampingan sebagai bandar judi dan preman kelas teri. Sudah berulang kali Nena mengingatkannya untuk berhenti minum atau berjudi, tapi Ricky menutup telinga dan terus melakukannya. Nena kecewa berat. Karena itulah dia memutuskan untuk melarikan diri ke dunia sana tepat di hari ulang tahunnya.

Sejak kematian Nena, tubuh Ricky bagai diselubungi kepompong kesedihan yang mendalam. Meski kesedihan itu telah melukai batinnya begitu parah, tapi di saat yang sama kesedihan itu juga yang telah menjaganya dari rasa sakit fisik. Maka dari itu, sebenarnya dia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat Si Penendang membabakbelurkan tubuhnya. Dia hanya berpura-pura.

Dua siluet sepasang muda-mudi mengalihkan perhatian Ricky dari kaset yang dipegangnya. Dari sudut gang, Ricky bisa melihat siluet si pria yang sedang mengendus dan menjilati leher si wanita. Sesekali terdengar tawa geli dari si wanita. Ricky muak dibuatnya. Dia menggenggam sebuah botol bir bekas yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya ke arah siluet tersebut. Gaduh bunyi botol pecah mengejutkan dua muda mudi itu. Beberapa kucing garong pun mengeong ribut, senewen kala rutinitas malamnya mengaduk-ngaduk tong sampah ikut terusik.

“Jangan ngentot di sini, anjing!” seru Ricky.

Muda mudi itu tak peduli. Mereka tak menghiraukan seruan Ricky dan terus melanjutkan kegiatannya berasyik-masyuk. Ricky bangkit, lalu dengan langkah penuh amarah menghampiri keduanya. Dia menggamit pecahan botol tadi, kemudian dengan cepat mengiris perut si pria. Pria itu kaget bukan main. Dia tidak mengira kalau pemuda kurus yang tampak ringkih ini berani menyerang tubuh besarnya. Ricky juga tak menyangka kalau serangannya itu melukai si pria. Padahal niat dia hanya untuk menggertak supaya muda mudi setengah telanjang itu enyah. Kepalang tanggung, biar kuhajar saja sekalian pria ini.

Belum sempat si pria bereaksi lebih jauh, Ricky segera menendang biji pelirnya keras-keras hingga pria itu roboh. Si wanita menjerit, tapi Ricky tidak peduli. Dia melayangkan tinjunya berkali-kali ke wajah si pria sampai buku-buku jarinya memar-memar. Sadar kalau orang yang dihajarnya sudah pingsan, Ricky segera berdiri dan menatap nyalang wanita cantik di hadapannya. Seperti dirasuk iblis, Ricky menampar si wanita, lalu menyeretnya masuk lebih dalam ke ujung gang.

“Kalau kamu teriak, saya iris leher kamu ini!” ancam Ricky dari balik punggung si wanita.

Wanita itu mengangguk ketakutan. Dia tahu kalau Ricky tidak main-main. Kekasihnya yang berbadan besar saja bisa dia lumpuhkan, apalagi hanya dia seorang wanita yang tidak punya keahlian bela diri sama sekali. Ricky mendorong tubuh wanita itu sampai menempel ke tembok gang berbau pesing dan dipenuhi mural murahan. Wanita itu bisa merasakan dengus napas Ricky di punggungnya yang telanjang. Gaun mahal pemberian ibunya telah robek menjadi dua bagian. Celana dalamnya sudah diturunkan sampai ke mata kaki. Kedua kakinya pun telah direnggangkan. Naas bagi Ricky, si pria sudah tersadar dari pingsannya. Tanpa sepengetahuan Ricky yang tengah bersiap memasukkan penisnya ke dalam vagina si wanita, pria itu sudah bersiap menghantam batok kepala Ricky dengan sebilah balok kayu.

Buk!

Tubuh Ricky terkapar seketika. Darah mengucur deras dari kepalanya. Namun pria itu belum puas, dia memukul kepala Ricky berkali-kali, sampai-sampai tubuh si pria kini bermandikan darah. Sadar telah membunuh orang, pria itu segera menarik tangan si wanita, lalu bergegas pergi.

Darah dari kepala Ricky, atau lebih tepatnya ‘bekas-kepala-Ricky’ mengalir pelan hingga melumuri kaset Duran Duran yang tergeletak tak jauh dari tubuhnya yang kini kembali dirubung tikus-tikus.

Dari Jaya Pub, “Sesal” yang dilantunkan Ermy Kullit mulai berkumandang.

Ketika kau terbayang, ku merasa bersalah. Karena kesungguhanmu telah sekian lama kuabaikan. Namun kau memang tulus, dan tak pernah putus asa. Walau aku tenggelam di kedalaman angan semu yang melupakanmu. .

***

Jakarta, 1994. 23.23 WIB

“Winona Ryder cantik sekali, ya,” ujar Andi sambil menyulut rokok dengan korek api batangan. Voni mendelik, lalu merebut rokok dari bibir Andi dan mengisapnya dalam-dalam.

“Jadi yang kamu perhatikan dari tadi itu hanya Winona Ryder? Filmnya tidak?” tanya Voni sambil mengembalikan rokok Andi.

Andi merengut. Kesal karena rokoknya diserobot. Voni yang melihat itu hanya bisa menempeleng kepala Andi. Kedua sahabat ini memang baru saja keluar dari salah satu studio di Bioskop Buaran. Mereka berdua habis menonton Reality Bites yang diperankan Winona Ryder dan Ethan Hawke. Mendebatkan segala sesuatu sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Yang didebatkan macam-macam. Mulai dari film, musik, buku sampai gaya favorit ketika bercinta. Buat yang terakhir ini agak janggal memang. Karena Voni dan Andi berbeda jenis kelamin, dan bukan merupakan sepasang kekasih. Mereka juga tidak pernah terlibat persetubuhan satu sama lain. Padahal, mereka sering sekali mandi dan tidur bersama sejak kecil hingga sekarang berusia 23 tahun. Toh meski begitu, mereka tetap tidak memiliki hasrat untuk melakukan persetubuhan. Begitulah persahabatan mereka berdua. Platonis.

Voni berperawakan mungil. Wajahnya lucu, walau tidak terlalu cantik. Kulitnya yang berwarna kuning langsat mulai berwarna kecokelatan karena terlalu sering beraktifitas di luar ruangan. Kedua bola matanya yang berbinar polos seperti mampu mengiris rahasia semua orang. Rambutnya dipotong pendek seperti karakter Setsuko di film Grave of the Firelies besutan Isao Takahata. Sejujurnya Voni belum pernah menonton film itu. Kaset videonya sulit dicari, baik itu versi Beta atau VHS-nya. Dia tidak sengaja melihat poster film itu di foto kiriman temannya yang tinggal di Shibuya. Teman Voni berfoto persis di sebelah poster film itu. Poster yang menunjukkan gambar Setsuko yang sedang digendong abangnya, Seita. Dari situlah muncul ide Voni untuk memangkas rambut panjangnya.

Voni juga selalu mengenakan topi bisbol dan celana pendek garis-garis ke manapun dia pergi. Dia punya ketakutan yang ganjil terhadap celana panjang. Katanya, waktu dia berusia lima tahun, Voni pernah bermimpi dikejar-kejar celana panjang raksasa di sebuah lorong gelap, lalu celana panjang itu menelannya hidup-hidup. Sejak saat itu dia tidak pernah mau memakai celana panjang.

Ada satu cerita unik lagi yang membuat Andi tersenyum geli dengan tingkah laku Voni ini. Beberapa tahun yang lalu, mantan pacarnya secara tak sengaja mengeluarkan spermanya di dalam vagina Voni saat bercinta. Voni panik bukan kepalang. Dia berlarian ke rumah Andi dengan hanya mengenakan celana dalam dan kemeja mantan pacarnya. Untungnya saat itu Ayah dan adik perempuan Andi yang masih kecil sudah tertidur pulas.

“Eh, si bangsat. Kamu ini makin rusak saja ya otaknya? Malam-malam telanjang ke rumah orang!” hardik Andi sambil melemparkan handuk.

“Si Toni Tampan keluar di dalam, Ndi! Bagaimana nih? Aku hamil ya? Aku belum mau punya anak, Ndi! Aku tidak mau punya anak sampai kapan pun!” jerit Voni. Belingsatan, dia melingkarkan handuk itu di pinggang rampingnya

“Diam, goblok! Nanti orang rumah bisa bangun. Tenang dulu.”

“Ah, bagaimana bisa tenang, sih? Apa aku minum pil KB ibuku saja ya, Ndi?”

Andi berdecak sambil menggelengkan kepala. Sambil menggaruk jidatnya, dia menyulut rokok, “Kemarin kamu bukannya bilang, ya, kalau mau ngentot sama Toni Tampan tidak pakai kondom karena sekarang kamu sedang tidak subur?”

“Oh, iya ya,” ujar Voni dengan ekspresi wajah tolol. Kemudian dia melenggang begitu saja keluar dari kamar Andi seolah-olah tidak terjadi apapun.

Itulah Voni. Bagaimana dengan sahabatnya Andi?

Andi bertubuh jangkung. Wajahnya tirus. Kulitnya pucat karena hampir tidak pernah keluar rumah. Kerjanya hanya mendekam di kamar sambil membaca cerpen-cerpen Danarto, menulis cerpen untuk beberapa majalah remaja dan mendengarkan lagu-lagu Bob Dylan. Beda dengan Voni yang eksentrik dan urakan, Andi ini kalem dan tenang. Cenderung pasif dan apatis terhadap sesuatu di sekitarnya, walau sebenarnya dia memiliki empati yang besar terhadap orang lain. Tidak seperti Voni yang liar dalam seks, Andi tidak pernah tertarik dengan seks bebas. Dia hanya pernah bercinta dengan beberapa gadis semasa SMA dulu. Dia lebih sering menikmati hand job dari Voni, atau kadang blow job jika Voni lagi bersedia. Itu pun jarang sekali. mungkin bisa dihitung dengan jari. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya untuk pria lain, Andi tidak pernah tertarik lagi berhubungan dengan perempuan, walau sekadar urusan seks. Voni tahu soal itu. Berkali-kali sudah dia meyakinkan Andi bahwa tidak semua perempuan seperti ibunya. Namun, Andi tidak peduli. Dia tetap teguh pada pendiriannya.

“Dengan tampang sepertimu, kamu bisa saja mengentoti banyak gadis perawan cantik, Ndi. Bukannya malah memintaku mengocok titit panjangmu terus menerus,” keluh Voni suatu hari.

“Aku tidak tertarik, Von. Kalau aku punya kamu buat mengeluarkan sperma keparat ini, buat apa lagi gadis lain?”

“Memangnya tanganku ini lebih enak dari memek ya?”

“Buatku sama saja. Yang penting cairan goblok ini keluar dan aku puas dibuatnya.”

“Terserahmu saja, Sartre.”

Kalau sudah begitu, giliran Voni yang menghela napas panjang. Toh dia hampir selalu menurutinya kalau Andi meminta. Mungkin dia merasa kasihan dengan sahabatnya yang satu itu.

Setelah keluar dari gedung bioskop, Andi dan Voni bermain ding dong selama beberapa jam. Andi mendengar perut Voni berbunyi, tanda gadis itu mulai lapar. Namun, dia terus asyik meneruskan permainannya. Dia tahu kalau sebentar lagi Voni akan menembakkan rentetan keluhannya.

“Duh, aku lapar! Perutku kembung kebanyakan merokok! Pergi yuk, Ndi? Aku ingin makan ayam goreng Wendy’s sama minum segelas besar Coca-Cola! Ayo, Ndi!”

Benar kan, batin Andi.

“Memangnya kamu masih punya duit?” tanya Andi. Matanya masih fokus ke layar permainan.

“Tidak punya, sih,” balas Voni. Mukanya cemberut.

“Terus mau bayar pakai apa? Pakai daun? Kita pulang saja, yuk. Nanti bikin mie instan saja di rumah.” Andi menyudahi permainannya. Dia melengos, lalu berjalan menghampiri Voni.

Voni melirik Andi. Andi tahu arti lirikan itu. Kalau Voni sudah melirik dengan seringai bak psikopat seperti itu, dia pasti sudah merencakan sesuatu yang tidak-tidak lagi.

“Aduh, kamu mau apa lagi? Jangan gila, deh! Aku sudah capek. .”

“Jangan banyak cincong! Ikut aku!“ Voni mencekal lengan kurus Andi, menariknya untuk menjejeri langkahnya.

Tak lama kemudian mereka sudah berdiri di depan gerai Wendy’s. Malam itu begitu ramai. Maklum, malam minggu. Anak-anak muda keluar dari sarangnya masing-masing lengkap dengan dandanan mentereng layaknya peserta karnaval 17 Agustus. Mereka berseliweran di depan Andi dan Voni dengan menggunakan sepatu roda mereka. Voni senyum-senyum sendiri menatap mereka. Entah apa yang dipikirkannya, Andi sudah tidak mau menebak-nebak lagi. Dia manut saja mengikuti titah Voni. Dia tidak pernah bisa membantah keinginan gila Voni sejak kecil sampai sekarang. Andi selalu merasa bahwa Voni punya semacam daya tarik magis hingga orang-orang tak sanggup menolak perintahnya. Apa tepatnya itu, Andi tak pernah tahu.

“Aku mohon. Apapun rencanamu, jangan sampai merugikan orang lain. Oke?”

Voni tertawa. “Kau tenang saja, Ndi. Lagi pula, memangnya aku pernah begitu?”

Andi mendengus. “Kau lupa kalau tiga hari lalu kau mengempeskan ban sepeda motor Pak Ali tetangga kita hanya gara-gara dia pernah genit padamu?”

Voni mendelik sekilas pada Andi yang berjalan di belakangnya sambil tetap melangkah pasti. “Kau serius? Itu termasuk pelecehan seksual, Ndi. Dia itu patut mendapat ganjaran seperti itu. Malahan yang kulakukan itu masih terlalu baik.”

“Oke, oke. Jadi, sekarang kamu mau melakukan apa?”

Voni menghentikan langkahnya. Dia menatap Andi, lalu tersenyum penuh arti. “Diam dan perhatikan.”

Andi menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di tiang listrik dekat gerai Wendy’s. Matanya memicing, mengawasi gerak gerik Voni dari jauh sambil berdoa di dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja. Menit berikutnya, sosok Voni sudah menghilang di balik kerumunan anak-anak yang sedang asyik bersepatu roda ria. Untuk menghilangkan kegelisahan, Andi mengambil sebatang rokok terakhir yang dia miliki dari saku kemeja flannelnya, lalu menyulutnya. Tidak jauh dari tiang listrik tempat Andi bersandar, sekelompok anak muda berambut gondrong dan bercelana jins robek-robek asyik memainkan gitar sambil menyanyikan lagu “Scentless Apprentice” dari Nirvana. Lagu yang dibuat Kurt Cobain karena terinspirasi novel favoritnya, Perfume: The Story of a Murderer.

Tidak lama kemudian Voni muncul dengan cengiran khasnya. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Tangan kanannya menjinjing tas kresek berlogo Wendy’s yang mengeluarkan aroma sedap nan gurih ayam goreng dan hamburger.

Belum sempat Andi bertanya dari mana Voni bisa membeli semua makanan itu, gadis itu sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir. “Ssst, jangan banyak tanya. Biar aku ceritakan di rumahmu nanti. Sekarang, ayo kita pulang!”

***

“Apa yang kamu lakukan? Kok bisa-bisanya membeli semua ini?” tanya Andi tanpa basa-basi setibanya mereka berdua di teras depan rumah Andi.

Voni mencabik burger dengan gigi-giginya, lalu dengan mulut penuh roti dan daging, dia menjawab pertanyaan Andi dengan enteng. “Affku meramffok.”

“Apa?”

Voni menelan sisa-sisa makanan itu dengan susah payah, kemudian dengan terburu-buru dia menenggak Coca-Coca sampai berdahak lama. “Aku merampok.”

“Apa?? Dasar sinting! Kamu serius?”

Voni menjilat jari tengahnya cepat, menyulut rokok, lalu menatap Andi dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.

“Dengar dulu. Ini bukan merampok seperti yang kau bayangkan. Di dalam tadi, aku melihat om-om kaya sedang memaki-maki pelayan hanya karena pelayan itu salah memberikan pesanannya. Aku kesal sekali. Akhinrya kuhampiri om-om brengsek itu, lalu aku pura-pura tersandung dan menabraknya. Dia sama genitnya dengan Pak Ali. Dia sempat tersenyum-senyum mesum. Aku terpaksa membalas senyuman itu sambil menahan jijik dan meminta maaf, sebelum kemudian aku memesan ayam goreng dan hamburger ini dengan duit yang kuambil dari dompetnya saat dia lengah.”

Voni melempar sebuah dompet kulit berwarna cokelat ke pangkuan Andi yang masih terbengong-bengong seperti orang tolol.

“Kau tidak usah berlagak menasehatiku, Ndi. Kau sendiri tidak suka dengan orang-orang seperti om-om itu, kan? Mentang-mentang punya duit banyak tapi seenak-enaknya memperlakukan orang. Ya, sudah ah. Aku lelah sekali hari ini. Aku mau tidur. Baju The Doors yang biasa kupakai belum dicuci kan, ya? Eh, ngomong-ngomong, cerpenmu tentang anak berandal yang akhirnya mati dibunuh di gang itu sudah selesai?”

“Sudah, tapi aku belum menentukan judulnya. Ya sudah, kamu tidur sana. Nanti aku menyusul.”

“Oke, tapi jangan memintaku untuk mengocok tititmu ya, malam ini aku lelah sekali!”

Andi tertawa kecil sembari termenung mengamati dompet curian Voni. Yang dikatakan Voni memang benar, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjalku, pikir Andi. Semenit kemudian Andi menyusul Voni ke kamar. Dia melepaskan bajunya, lalu merebahkan tubuhnya di samping Voni yang telah tertidur pulas. Dengkuran pelan Voni terdengar seperti musik pengantar tidur di telinga Andi. Dia menikmati dengkuran itu selama beberapa saat sampai akhirnya dia menguap dan memejamkan matanya. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts