Jumat siang itu, matahari nampak begitu gemulai menari-nari dengan indahnya. Pancaran warnanya yang sejuk meradang di relung hati jika dipandang. Di dalam sebuah kelas di salah satu universitas terkemuka, seorang dosen sejarah bernama Thomas akan memulai perkuliahannya.

“Selamat sore semua. Sudah bisakah dimulai perkuliahan kita?” ucapnya sambil berjalan masuk ke kelas. Sambil duduk dan meletakkan buku yang dia bawa, Thomas menatap tajam sebagian mahasiswa yang masih asyik mengobrol.

Thomas mengambil buku yang ditaruh di atas mejanya itu, lalu ia berjalan perlahan menghampiri para mahasiswanya tersebut. Buku yang dia pegang sekarang mengingatkannya akan sebuah memori tentang sebuah kejadian dua puluh lima tahun yang lalu. Seakan baru hitungan hari saja, ingatan itu semua masih tergambar dan terukir jelas di dalam kepalanya.

Bermula saat Thomas sedang duduk di sebuah kafe di pinggir pantai. Ia asyik menyeruput kopi sembari memandangi suasana laut yang airnya nampak berwarna hijau muda. Lalu pandangangnya beralih ke pasir nan putih yang menjadi tempat bermain beberapa anak kecil. Pemandangan ombak yang bergulung di tepi pantai itu ternyata sangat menyejukkan dan membuat nyaman hatinya.

Namun tiba-tiba ada seorang pria yang mencuri perhatiannya dari pemandangan indah tadi. Pria itu berambut cokelat dan terlihat lusuh sekali. Hampir di setengah kepalanya itu telah ditumbuhi oleh uban. Pria itu sedang duduk di atas sebuah batu karang yang cukup besar di pinggir pantai. Dari kejauhan, Thomas melihat pria itu sedang menulis di atas selembar kertas sambil sesekali melihat ke arah laut di hadapannya. Tatapannya begitu dalam dan tajam, seakan diselimuti luka-luka yang tak bisa diobati

Entah mengapa pria itu terus menyedot perhatikannya. Sampai tiga puluh menit berikutnya,  Thomas masih terus mengamatinya. Pria itu lalu membawa kertas yang ia tulis tadi ke arah laut, lalu ia menenggelamkan kertas itu di dalam air. Setelah itu ia pun pergi entah kemana, hilang bagai api tersiram air. Lenyap.

“Jangan heran. Dia selalu melakukan itu selama bertahun-tahun. Aku pun sudah lama mengamatinya,” seorang pria berbadan gemuk dengan kemeja putih dan berkacamata tebal mengejutkan Thomas. Thomas membalas perkataan pria gemuk tadi dengan senyuman kecil.

Kini ia menjadi tertarik dengan pria misterius tadi. Ternyata bukan hanya ia yang mengamatinya, orang-orang di kafe ini pun sepertinya sudah biasa mengamatinya juga. Thomas bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang sedang ia lakukan tadi? Mengapa ia melakukan itu selama bertahun-tahun, kata pria gemuk ini?

Karena begitu tertarik, Thomas menghampiri pria gemuk tadi. Pria itu bernama Joseph, dia adalah pemilik kafe tempat Thomas asyik menyesap kopinya. Mereka berbincang panjang tentang pria tua misterius itu. Joseph mengatakan bahwa pria misterius itu mengalami depresi berat atau mungkin sudah gila. Sudah bertahun-tahun lamanya, di setiap minggu sore, dia selalu datang ke batu karang di tepi pantai dan entah menulis apa. Lalu ia akan menenggelamkan kertasnya tersebut kemudian pergi. Pria itu tinggal di desa sebelah dan  hidup sebatang kara. Tidak banyak yang tahu tentang apa yang dialami olehnya, bahkan nama si pria misterius itu, Joseph sendiri pun tidak tahu. Yang jelas dia sudah melakukan hal itu jauh sebelum kafenya dibangun.

Thomas sendiri merupakan orang baru di daerah itu. Ia pindah karena orang tuanya mendapatkan pekerjaan baru yang tidak jauh dari tempat tinggalnya yang sekarang. Kebetulan rumah barunya tidak jauh dari pantai, maka ia sering kali menghabiskan waktunya sekedar untuk berjalan atau minum secangkir kopi di pinggir laut agar menghilangkan rasa bosan di rumah barunya.

Sudah hampir sebulan ia melihat pria misterius itu selalu datang setiap Minggu sore, melakukan hal yang sama. Tapi ia hanya memerhatikannya saja dari kejauhan tanpa berani menyapa langsung si pria misterius itu. Minggu depan akan kuberanikan diri untuk menyapanya, ujar Thomas dalam hati.

***

Minggu sore itu datang, Thomas kini duduk tidak jauh dari batu karang tempat biasa pria misterius itu berada. Tak lama, pria itu pun datang dan duduk di atas batu karangnya. Ia kembali menulis di sebuah selembar kertas, sambil beberapa kali memandangi lautan. Thomas membisu, tak berani berkata-kata pada pria itu. Jaraknya kini tak sejauh biasa ia memerhatikannya.

Ayo Thomas, bukankah kau ingin mencari tahu tentangnya? Kesempatan tak datang dua kali! Ayolah beranikan dirimu berbicara!

“Hei, tuan. Apa yang sedang kau tulis itu?” akhirnya Thomas memberanikan diri  untuk bertanya.

Pria itu hanya menoleh tanpa memberikan sepatah kata yang terhempas dari mulutnya. Thomas tidak menyerah sampai disitu, kini ia mencoba mendekati pria itu perlahan.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Nak? Pergilah sana, jangan kamu mengganggu aku!” seru pria misterius itu dengan nada sedikit keras.

“Tuan, aku orang baru di sini. Aku tidak memiliki teman. Tolonglah jangan berkata kasar kepadaku, aku hanya ingin mengenalmu saja,” ungkap Thomas. “Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin mempunyai teman baru saja di tempat tinggal baruku ini,” tambahnya.

Pria misterius itu merasa iba ketika melihat raut wajah Thomas yang begitu memelas. Thomas benar-benar mengganggu aktivitas yang sudah dilakukannya bertahun-tahun itu. Tapi, ia tidak tega melontarkan kata-kata yang pedas lagi terhadap Thomas, sebab wajahnya terlihat begitu sungguh-sungguh ketika berbicara kepadanya. Seperti seorang gelandangan yang meminta dan memohon sepotong roti kepada para bangsawan.

“Baiklah, apa yang kau mau dariku?”

“Aku ingin tahu namamu. Siapakah namamu, tuan?” ujar Thomas yang berdiri di samping pria itu dengan sebuah senyuman lebar terbingkai di wajahnya.

“Aku Marcus,” jawab pria itu pendek. “Sekarang kembalilah ke tempatmu semula, aku sedang sibuk,”

Thomas akhirnya kembali menjauh dari pria itu menuju tempatnya semula. Lalu ia duduk kembali memandangi Marcus yang sedang menulis di atas batu karangnya. Hatinya bercampur aduk antara senang dan penasaran. Seperti biasa, kemudian Marcus berjalan ke arah laut untuk menenggelami tulisannya

Di minggu sore berikutnya, Thomas kembali menunggu kedatangan Marcus di dekat batu karang itu. Ia semakin penasaran untuk mengenal Marcus lebih jauh. Thomas tak pernah menyerah untuk bisa berkenalan dengan Marcus. Sampai akhirnya, mereka berdua kini begitu akrab, bahkan kini saling berbincang satu sama lain ketika Marcus sedang menuliskan tulisannya tersebut. Pertemanan merekapun terjalin hingga berbulan-bulan kemudian.

Thomas kini mengetahui, ternyata Marcus merupakan seorang pekerja buruh kapas. Marcus selalu datang setiap hari Minggu sebab pada hari itu ia libur bekerja. Dan ia juga menuturkan bahwa selama ini ia yang ia tulis adalah secarik puisi. Puisinya tersebut ditulis untuk kekasihnya yang telah berjanji akan datang pada Minggu sore. Tapi, kekasihnya itu tidak pernah datang, karena kekasihnya sudah menikah dengan seorang saudagar. Kekasihnya itu dipaksa dan dijodohkan untuk menikah oleh orang tuanya. Mereka tidak setuju anaknya tersebut menjalin hubungan dengan Marcus yang hanya bekerja sebagai seorang buruh. Setelah menikah, kini mereka pun sudah tinggal di negeri tetangga dan sampai saat ini Marcus tidak pernah melihat serta bertemu sekali pun dengan kekasihnya itu.

Pernah suatu ketika, Thomas menanyakan sesuatu ke Marcus, “Tuan, mengapa kamu selalu menunggu kekasihmu itu dan tidak mencari wanita lain saja?”

“Thomas, dengarlah. Ketika engkau merasa sebagai seorang lelaki, maka tepatilah selalu janjimu itu. Bukankah seorang lelaki memang harus memegang ucapannya?” tutur Marcus dengan sedikit tersenyum.

Thomas tersentak dengan ucapan Marcus. Banyak orang-orang yang bilang bahwa Marcus mengalami depresi berat bahkan gila. Tapi dalam pandangan Thomas, kini Marcus bukanlah orang gila atau orang yang mengalami depresi. Ia adalah seorang lelaki sejati yang mengajarkannya menjadi manusia dengan penuh tanggung jawab, serta jiwa konsisten yang begitu tinggi.

Seperti Minggu sebelumnya, Thomas sudah lebih dahulu menunggu Marcus duduk di samping batu karang itu. Tapi hari ini ada yang berbeda dari hari sebelumnya, wajah Marcus nampak murung tak seperti sebelum-sebelumnya. Ia mencoba menerka-nerka mengapa Marcus kali ini mengubah ekspresi mukanya itu. Apakah ia bosan denganku? Ataukah aku membuat kesalahan dengannya? Pikirnya saat itu mencoba menduga-duga. Thomas hanya diam tak berani berbicara saat itu. Suasana pun menjadi canggung. Tak ada yang bersuara satu sama lain.

“Kau tahu apa yang paling menyebalkan di dunia ini?” tanya Marcus tiba-tiba.

Thomas menggelengkan kepalanya

“Hal yang paling menyebalkan untukku adalah dilahirkan di bumi ini,” ujarnya.

Thomas tersentak, “Kenapa begitu?”

“Dalam kacamata Tuhan, kita sebagai manusia dihadapannya adalah sama. Bumi ini pun diciptakan hanya untuk seluruh umat manusia.Tapi ketika kita lahir di dunia, alam yang luas ini hanya bisa dinikmati hanya untuk sebagian kecil orang saja, merekalah para borjuis keparat,” ungkapnya.

“Mengapa bisa? Bukankah berhasil atau tidaknya kita di dunia ini, kita sendiri yang menentukan?”

“Sekarang begini. Aku dilahirkan dari seorang keluarga petani. Orang tuaku pun tak sanggup membiayaiku sekolah, bahkan mencari sepotong roti pun kami harus bersusah payah bekerja untuk sang tuan tanah. Tapi, ketika hasil panen datang, para borjuis yang hanya tidur dan bersantai-santai dalam kesehariannya, mendapat hasil yang lebih besar daripada kami yang sudah bekerja dari pagi sampai malam, tapi hasil yang kami dapat hanya cukup untuk membeli roti, bahkan terkadang pun tak cukup sampai akhir bulan.”

“Lantas apa yang salah? Bukankah memang seperti itu kehidupan?”

“Tentu ada yang salah.Ini semua merupakan akibat dari kerakusan para borjuis yang hanya ingin mempersenang hidupnya saja. Tapi di satu sisi, ia pun mengambil hak-hak manusia lainnya di bumi ini. Memang, dalam mengejar kesuksean, pendidikan menjadi nomer satu. Tapi bagaimana dengan nasibku yang tidak bersekolah?Aku tidak bisa bersekolahpun bukan karena keinginanku sendiri. Tapi karena orang tuaku tidak dapat membiayaiku, sebab mereka pun bekerja dengan upah yang sedikit. Sekolah sendiri dalam pandanganku hanya diperuntukkan bagi anak bangsawan saja. Bila orang tuamu mempunyai uang, maka kamu akan dapat pendidikan, dan bila tidak, siaplah kamu meneruskan menjadi budak-budak borjuis selanjutnya, seperti yang kualami sekarang. Apakah semua ini adalah kesalahanku?” cetus Marcus dengan tatapan yang dalam melihat Thomas.

“Aku tahu, walaupun orang tua kekasihku tak setuju denganku, tapi aku tidak menyalahkannya. Orang tua selalu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Jadi aku bisa mengerti mengapa ia tak mengizinkan anaknya untuk menikah denganku yang hanya seorang buruh kapas. Ia tak mau anaknya kelak merasakan hidup susah dan melarat. Maka dalam hal ini, borjuislah yang akan selalu jadi pemenangnya. Contohlah dari orang tua kekasihku yang selalu menekan anaknya untuk menikahi kalangan bangsawan. Itu semua akibat dari kasta seseorang, yang telah memandang manusia satu dengan lainnya menjadi berbeda-beda,” lanjut Marcus

Hari itu, Marcus agak lebih lama menyelesaikan puisinya, karena banyak sekali berbicara mengenai hal-hal dalam hidupnya dengan Thomas. Dan seperti biasa, ketika telah selesai, ia pun membawa puisinya itu menuju laut dan menenggelamkannya di sana. Hanya laut yang tahu, puisi apa yang pernah ditulis oleh Marcus selama bertahun-tahun ini. Kesedihan dan kepahitan yang dialami oleh Marcus tidak menenggelamkannya dalam kehancuran, melainkan telah memberinya kekuatan, bahkan menjadi lebih kuat lagi. Ketika mereka berdua hendak pulang, Marcus memanggil Thomas. Ia memberikan sebuah buku berjudul The Communist Manifesto yang telah usang pada Thomas.

“Mungkin kamu belum begitu paham dengan apa yang kubicarakan di batu karang tadi, tapi buku ini akan membuatmu mengerti. Jadikanlah buku ini sebagai pedoman hidupmu.”

***

Thomas tidak dapat menemui Marcus di minggu berikutnya. Dia mulai berpikir kalau mungkin Marcus sedang pergi ke suatu tempat atau sedang sakit. Sayangnya, Thomas tidak tahu rumah dan tempat kerja Marcus. Thomas masih juga tidak bisa menemui Marcus di minggu berikutnya, dan di minggu berikutnya.Ia mulai cemas dan berpikir kalau ada sesuatu yang tidak beres, sampai akhirnya dia menemui seorang pria bertopi jerami yang menurut Joseph si pemilik kafe adalah teman kerja Marcus.

“Marcus? Kau mencari Marcus?” tanya pria itu sedikit terkejut ketika Thomas datang menemuinya untuk menanyakan perihal mengihilangnya Marcus. Mungkin pria itu kaget karena tahu kalau Marcus mempunyai teman seorang pemuda.

Thomas mengangguk.

“Memangnya kamu belum mengetahuinya?”

“Tahu apa?”

“Beberapa minggu yang lalu, rumahnya yang terletak di ujung jalan sana didatangi oleh kawanan serdadu. Mereka menembakinya hingga tewas.”

Mata Thomas terbelalak. Ia begitu terkejut mendengarnya sampai tidak bisa berkata-kata.

“Mereka membunuh Marcus karena Marcus merupakan ketua pada suatu pemberontakan aksi buruh beberapa waktu lalu,” lanjut si pria bertopi jerami.

Thomas terdiam. Dengan langkah lunglai, dia pergi meninggalkan pria bertopi jerami tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa sadar, air mata sudah sudah jatuh ke pipinya.

Pada Hari Minggu depannya, Thomas duduk di samping batu karang itu, memandang nanar ke arah lautan. Tidak ada lagi Marcus yang bisa dilihat atau diajak mengobrol. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk membaca buku pemberian Marcus. Dia membaca buku itu berulang-ulang sampai-sampai dia hapal semua isi dari buku itu.

Pikiran Thomas kembali ke saat ini. Dia kembali mendapati dirinya berdiri di depan kelas, di hadapan para mahasiswanya. Thomas memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya panjang. Dia mengusap sampul depan buku The Communist Manifesto pemberian Marcus, sebelum akhirnya dia melontarkan pertanyaan kepada para mahasiswanya.

“Kalian tahu apa yang paling menyebalkan di dunia ini?” ♦

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts