Cikal Bakal

Kata kuncinya adalah rasa lelah terhadap kebanalan hidup yang kian lama kian menggerogoti. Kami bosan dengan rutinitas-rutinitas. Jemu dengan pemakluman-pemakluman. Acuh dengan standar-standar semu. Muak dengan retorika-retorika ilutif. Dan terakhir, kesal dengan ketidakberdayaan. Dengan menerbitkan zine Spätkapitalismus, kami berharap mampu melatih kedisiplinan dalam menulis (dan berpikir, tentu saja), seraya berharap dapat menggugah siapapun yang membacanya.

Mengapa Zine

Sederhana: murah. Meminjam semangat dan etos kerja DIY (“do-it-yourself”) dari subkultur punk, kami percaya bahwa langkah-langkah kecil tetap perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Kami menyadari bahwa untuk berbuat, yang paling dibutuhkan adalah tekad tulus. Medium zine membuka berbagai ruang kemungkinan yang kerap dijadikan kendala, macam: ‘berapa biaya yang harus dikeluarkan?’, ‘Bagaimana gaya menulis yang harusnya diterapkan?’, ‘Siapa target pembacanya?’, Dan rentetan pertanyaan lainnya. Selain itu, editor Spätkapitalismus semasa di Jogja pernah menerbitkan zine indiepop yang terbit tiga edisi, Lightningsheets, sehingga proses pengerjaan zine ini bisa lebih terarah.

Mengapa “Spätkapitalismus”?

Jika dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, frasa “Kapitalisme-Lanjut” tak elok untuk dibaca atau dijadikan sebuah nama. Jadi, meski memakai kata dari bahasa Jerman sebagai nama zine, kami tidak berhasrat menjadi pretensius. Sungguh.

Tema yang kami usung adalah perihal kehidupan sehari-hari mulai yang remeh hingga serius (sosial, budaya, dan politik). Lewat Spätkapitalismus kami mencoba mengajak pembaca untuk melihat suatu persoalandari perspektif berbeda.

Jika ditanya apa yang belum diakusisi sistem kapitalistis, jawabannya udara yang kita hirup. Duhai kawan, kapitalisme menghantui kehidupan yang kian tak manusiawi ini hingga di air kemasan yang kita teguk!

Melalui zine yang sedang Anda genggam ini, kami mrncoba menyajikan sebuah alternatif bacaan kritis dalam format zine fotokopian dengan estetika (gaya tata letak, model pembundelan, dsb.) cut-and-paste.

Siapa Kami

Rizal Syam: Mahasiswa Adm. Negara Unas. Anak Ternate yang mengidolakan Persiter, Chelsea, dan karya-karya Pramoedya A. Toer. Bisa dihubungi di @rizart atau ID Line: risyamoo.

Purwanto: Penulis lepas yang tidak bernaung di instansi mana pun. Menggemari kopi hitam, rokok dan film. Pernah berorganisasi di Himasos Unas dengan menjabat Kadiv. Litbang (2008). Bisa dihubungi di ID Line: ipungurakan.

Jonathan Simatupang: Penikmat sepakbola dan kata. Menulis di lepaskata.blogspot.com. Masih mengerjakan manuskrip novel dan mahasiswa jurusan sosiologi; dapat dihubungi di semua akun sosialnya, jonasima.

Subki Maroghi: Nguliah di Sosiologi Unas dan menyukai grup band The Killers. Penulis amatir dan tukang desain grafis. Bisa dihubungi di ID Line: subkimaroghi.

Fajar Martha: Kompor mledug yang membidani lahirnya Spätkapitalismus. Mahasiswa tingkat akhir Sosiologi Unas. Memiliki kadar cinta berlebih terhadap Umar Kayam, Y.B. Mangunwijaya, Gus Dur, Woody Allen, Jim Jarmusch, Alejandro Jodorowski, Morrissey, Brett Anderson, Pierre Bourdieu, dan Arsene Wenger.

Selamat membaca!!!

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts