tulisan ini merupakan editorial untuk Spätkapitalismus edisi ketiga yang terbit pada Maret 2016

Dalam sebuah paper berjudul Beyond Frame and Nation: Reframing Social Inequalities in a Globalizing World – yang ditujukan sebagai argumentasi untuk kritik Will Atkinson terhadapnya, almarhum Ulrich Beck habis-habisan menerangkan konsep individualisasi. Ia mengatakan bahwa individualisasi menjadi salah satu penyebab ‘matinya’ konsep kelas sementara ketimpangan sosial makin merengsek segala sendi kehidupan.

Individualisasi yang ia maksud berbeda dengan individualisme. Dalam individualisasi, individu menjadi terasing karena sistematisasi kehidupan yang diterapkan oleh institusi-institusi sosial. Individualisasi menjadi fenomena sosiologi makro. Salah satu indikatornya, seperti yang Beck cantumkan di paper tersebut, bisa dilihat dari melonggarnya definisi kenormalan dalam institusi keluarga. Di Eropa, sifat keluarga fungsional menjadi relatif. Suatu pasangan bisa bertahun-tahun hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, sekaligus membesarkan anak, tanpa harus khawatir kehilangan hak-haknya sebagai warga negara. Ketimpangan sosial makin nyata (karena sifatnya yang transnasional, bukan lagi per region), namun relevansi analisis kelas terhadap realitas terkini semakin kendur, begitu menurut Beck.

Individualisasi menjadi salah satu konsep penunjang teori besar kepunyaan Beck, yaitu modernitas refleksif – reflexive modernity atau the second modernity – dan masyarakat risiko. Beck mengulasnya di berbagai kesempatan, tidak hanya di paper tersebut. Melalui individualisasi, fitur objektif (pendapatan, okupasi, tingkat pendidikan, posisi hirarki) dan fitur subjektif (selera, aspirasi, gaya hidup, dsb) dalam diri manusia berserak-serak sehingga sulit dikaitkan satu dengan yang lain sebagaimana analisis kelas klasik.

Suatu waktu saya pernah mengikuti riset yang meneliti sikap politik buruh pabrik di Tangerang dan Bekasi. Pengalaman ini saya pikir mengamini postulat Beck di atas. Di satu malam, salah satu rekan riset  saya, Hafiz, mengulum senyum saat keluar dari rumah responden. Apa sebab? Ternyata respondennya adalah sesama pecinta mainan Gundam dan ia memiliki koleksi cukup banyak. Karena kesamaan hobi, si responden memberi kenang-kenangan satu koleksinya kepada Hafiz. Saya tentu penasaran. Saya tahu mengoleksi action figure bukanlah hobi murah dan jika hal ini dijalani oleh buruh, maka ini fenomena unik.

Dari apa yang Hafiz sampaikan, saya menyimpulkan bahwa buruh tersebut mempunyai aspirasi begini: Baginya, hidup melajang, merantau, dan digaji sedikit di atas UMR sudah cukup karena ia bisa memenuhi kebutuhan harian sembari menabung untuk menjalani hobi Gundam-nya. Jika Marx masih hidup, tentu buruh tersebut sudah dimaki habis-habisan sembari berteriak:

“Mainan Gundam adalah candu masyarakat! Opium of the people, you son of a bitch!

Alienasi bisa terus terjadi karena dunia nyata yang sebenarnya riil tak mampu digapai individu. Individu membutuhkan suatu kekuatan di luar dirinya untuk memaknai dan melanjutkan hidup. Kekuatan eksternal tersebut bisa agama, doktrin politik, atau yang marak terjadi dalam kehidupan modern: peluangan waktu untuk menjalani satu gaya hidup. Bermacam rupa gaya hidup dilakoni manusia: bisa menjadi wota pemuja JKT 48, menjadi metalhead, menjadi vegan-plus-aktivis PETA, atau seperti buruh yang dihadapi Hafiz, menggemari miniatur robot Gundam.

Dalam In the Mood for Love (2000), film ouvre Wong Kar-wai, digambarkan bagaimana keterasingan manusia bergejolak dalam tutur kata, laku gerak, dan air muka kedua tokohnya: Chow Mo-wan dan Su Li-zhen. Keduanya geram betul setelah tahu bahwa masing-masing pasangannya ternyata bersikongkol memadu asmara di belakang mereka.

Apa yang mulanya sebatas teman berbagi keluhkesah, berlanjut semakin jauh. Intensitas bertemu dan keintiman interaksi semakin padat. Namun alih-alih menjadi profan, tanpa mengucap janji keduanya tak sekalipun mengadakan persetubuhan, atau kontak fisik yang menggambarkan afeksi. Hasrat yang ditahan justru begitu terpancar, dan di akhir cerita kita dibuat gemas oleh keputusan kedua tokoh. Padahal penonton mungkin sudah membatin, ‘geez, they really are meant for each other.’ Yang lelaki, Chow Mo-wan: ganteng, klimis bin necis, dikaruniai sepasang mata dengan sinar teduh. Yang perempuan, Su Li-zhen: anggun, piawai berbusana, lembut dalam bertutur, mempesona segala kalangan. Ditambah keduanya membagi rasa yang sama: rasa sakit akibat dikhianati pasangan.

Salah satu sudut penting bagi keduanya adalah kamar hotel bernomor 2046. Di sana, yang mereka lakukan justru berbincang, bertukar ide untuk proyek novel silat, atau sekadar memroyeksikan masa depan. Namun 2046 justru menjadi penting karena pergumulan tak lazim ini. Tak ada kamar lain yang mereka tempati selain 2046. Padahal namanya hotel tentu tersedia banyak kamar dengan fasilitas dan interior serupa. Kata-kata Shakespeare ‘apalah arti sebuah nama?’ tak berlaku bagi mereka. 2046 tak sekadar menjadi ruang: ia menjelma laksana oasis di gurun nan panas dan penuh marabahaya. Bagi buruh yang menjadi responden Hafiz, barangkali kamar kosnya beresensi sama seperti 2046.

Maka, wahai pembaca, zine ini kami harapkan bisa menjadi semacam oasis bagi para pembacanya. Karena bagi kami ia sudah mencapai ke taraf tersebut. Tentu dengan alasan masing-masing. Sebenarnya ini mengafirmasi ucapan kawan kami, Sigid Kusumo, yang menaruh harapan ‘agar SPÄTKAPITALISMUS menjadi semacam oase bagi pembacanya.’ Atau seperti kata guru kami, ‘hadir untuk minimal menginterupsi kehidupan yang semakin kacau.’

Perdebatan sengit yang terjadi belakangan adalah mengenai LGBT. Sebagai orang yang pernah bekerja di industri yang banyak diisi gay, saya nyatakan bahwa alih-alih merusak, mereka sejatinya sama-sama ‘berfungsi’ seperti yang mayoritas/hetero (saya sengaja menghindari kata ‘normal’). Namun untuk membicarakannya di ranah publik, masyarakat kita belum siap. Lha wong agama saja menjadi urusan publik (manakala ia harusnya urusan privat). Lihat saja di KTP-mu, ada kolom agama yang harus diisi dengan agama-agama yang diakui negara.

Seksualitas adalah sesuatu yang cair. Seseorang bisa diam-diam memiliki fetis seksual terhadap sepatu, kaki, atau bau mulut. Pastor nan agung bisa diam-diam mencabuli anggota gerejanya yang berusia di bawah umur. Habib kesohor beberapa tahun lalu terungkap meniduri remaja-remaja pria anggota majelis taklimnya. Yang ingin saya imbau adalah, perilaku seks di luar ketetapan hukum atau agama (seks pranikah, seks sesama jenis, omniseks, seks BDSM, prostitusi, dsb) sudah merupakan realita sosial.

LGBT produk Barat? Lho, di Ponorogo, untuk menjadi seorang warok (semacam jawara dalam tradisi Banten), seseorang dilarang berhubungan seks dengan perempuan sehingga memiliki budaya memelihara dan meniduri bocah lelaki yang biasa disebut gemblak. Bagaimana menjelaskan fenomena lokal tersebut? Fenomena yang bermula di abad ke-17 dan bertahan hingga penghujung abad 20? Agama kerap bersifat paradoksal jika disandingkan dengan demokrasi. Pun kita biasa membicarakan seksualitas dan sistem reproduksi dalam bisik-bisik – sehingga jangan kaget jika ketika topik ini diangkat sebagai pembicaraan publik, masyarakat menjadi reaksioner. Seks bukan topik perbincangan di meja makan keluarga Indonesia, bukan?

Oasis saya bisa saja satu warung kopi murahan pinggir jalan. Oasis milik anda bisa saja masjid sejuk berpendingin ruangan. Namun di manapun itu, semoga melalui permenungan-permenungan di oasis masing-masing kita dijernihkan untuk berdialog dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada. Karena sejatinya, kawan, perbedaan dalam hidup adalah suatu hal yang niscaya. Dan jangan lupa, di balik perdebatan LGBT atau prostitusi artis, ada kecamuk lain yang lebih penting: kontrak Freeport dan kemaruk privatisasi di berbagai daerah di Indonesia.

Jatiwaringin, 27 Februari 2016

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.