tulisan ini merupakan editorial sekaligus obituari dan dimuat di SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua (Desember 2015)

Alam keilmuan Indonesia berkabung. Mengibarkan bendera setengah tiang. Sialnya lagi, dua mendiang adalah mereka yang masuk dalam kategori “pinggiran” – jalur non-mainstream. Mengingatkan apa yang diutarakan Vedi Hadiz dkk, ada upaya struktural dari rezim Orde Baru untuk memangkas pemikiran-pemikiran kritis sehingga dunia akademik di republik ini dikuasai paradigma positivisme. Usaha yang diterapkan agar ilmu yang diproduksi bisa sejalan dengan kemauan babe Harto. Jadi jika ingin menulis buku, tulislah yang sesuai dengan garis tersebut. Memakai paradigma kritis? Siap-siap dicekal, dibui, dan dinistai.

Wijaya Herlambang dan Benedict Anderson meninggal di waktu yang berdekatan. Keduanya pun baru menerbitkan buku. Herlambang dengan Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film dan Oom Ben dengan Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

Kekerasan Budaya Pasca 1965 mengungkap sengkarut politik kebudayaan (antara kelompok Manikebu dengan Lekra) yang karena kudeta sunyi babe Harto dan bantuan CIA dimenangkan oleh kubu pertama. Kemenangan yang secara historis memopulerkan ideologi humanisme universal di ranah sastra, dan propaganda penghitaman PKI melalui film. Kekerasan budaya yang melanggengkan rezim Orba.

Herlambang meninggal pada 4 Desember 2015 dalam perjalanan dari Jakarta menuju Semarang untuk melakukan kemoterapi. Perawatan yang ia jadwalkan ulang karena ia lebih memilih untuk menjadi saksi di Indonesia’s People Tribunal di Den Haag.

Oom Ben meninggal di Batu, Malang, 13 Desember 2015 setelah beberapa hari sebelumnya memberi kuliah umum yang membahas karya terakhirnya itu. Saat hidup, ia berwasiat agar jenazahnya dikremasi dan abunya ditabur di Laut Jawa. Ia mencintai betul Nusantara.

Tahun 1966, Oom Ben (bersama Ruth McVey) menjadi akademisi pertama yang mencoba mengungkap kenyataan di balik kudeta sunyi babe Harto pada 1965 melalui A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia. Monograf termasyhurnya, Imagined Communities, dicekal rezim Orba dan Oom Ben pun dilarang memasuki republik ini yang baru berakhir saat babe tumbang.

Buku-buku kiri secara kasat mata menjadi populer pasca babe Harto tumbang. Tapi ramainya penerbitan buku-buku itu tidak serta merta membuat kajian tandingan diterapkan di ranah praksis, apalagi membuat tabir peristiwa ’65 disingkap. Bah! Terlalu muluk itu.

Apalagi persoalan ini diperburuk dengan gaya hidup konsumtif di era masyarakat informasi seperti yang kita jalani sekarang. Era di mana kontestasi makna (baca: kebudayaan lokal versus asing) begitu sengit namun kering substansi lewat perayaan  dan pemujaan berlebih terhadap ‘kulit’ atau tampak muka. Budaya intelektual menjadi sepi bak masjid di waktu subuh karena rakyat mengejar yang ringkas, mudah, dan tentu saja mendatangkan untung. Apatisme meraja, kritisisme pun sirna. Di berbagai level, di beribu ruang sosial.

Secercah harapan sempat muncul kala Gus Dur menjabat presiden yang mencabut TAP MPRS XXV/1966 sehingga mereka yang KTP-nya ditandai tidak ‘bersih lingkungan’ atau memiliki keterlibatan dengan PKI disamakan dengan warga lainnya. Keputusan yang membuat hak mereka untuk merasakan pendidikan dan akses pekerjaan tidak dibatasi. Gus Dur pun sempat meminta maaf atas peristiwa ’65 (terkait massa NU yang menjadi salah satu unsur yang terlibat dalam ‘penumpasan’ massal) – usaha yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai basa-basi karena tidak diiringi dengan bentuk konkrit.

Saya pun teringat dengan drama Menunggu Godot karya Samuel Beckett yang menceritakan obrolan dua lelaki mengenai Godot (Beckett sengaja mendeskripsikan hakikat Godot sebagai persona manusia ex absentia – keberadaannya berasal dari ketiadaan) yang tak kunjung tiba. Sama seperti kita yang hanya menghabiskan waktu untuk berdebat dan berbicara. Bahkan, di sebagian kalangan, mereka pun tak yakin hakikat Godot itu seperti apa. Messiah-kah? Sinar harapankah? Perubahan hidupkah? Kita menyia-nyiakan semua dan naasnya kita larut dalam kesia-siaan itu. Pasrah terhadap kebiasaan-kebiasaan yang niscaya membuat tidur kita tenang, perut kenyang, dan hati senang.

Namun di samping kekhawatiran-kekhawatiran di atas, dewan redaksi SPÄTKAPITALISMUS bisa sedikit berbahagia karena di edisi kedua ini banyak dibantu kawan-kawan dalam bentuk kontribusi tulisan. Cakupan temanya pun luas. Secara biografis penulispun meliputi mahasiswa lintas jurusan, angkatan, bahkan lintas strata.

Kami juga berterimakasih atas komentar-komentar pembaca yang kami terima di perjumpaan-perjumpaan sosial masing-masing dari kami. Memang bentuknya masih nonformal, berbentuk obrolan ala warung kopi. Tapi sungguh, kami tersanjung dengan dukungan-dukungan tersebut. Dukungan yang memantik semangat kami untuk terus konsisten menyebarkan gagasan-gagasan kritis (dan semoga) emansipatif.

Maka, seduh teh atau kopi Anda, dan selamat menikmati zine sosbudpol  SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua.

Pejaten, Desember 2015

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.