Aku mendengar kabar itu tepat setelah menginjakkan kaki di desa tersebut. Seorang buruh pikul di pelabuhan mengatakan padaku: Sepasang kekasih masuk ke hutan karena cinta mereka tak direstui.

Mendengar informasi itu, aku hanya menjawab sekenanya saja. Dua hari perjalanan menggunakan kapal membuat kepalaku pening. Kadang masih terasa oleng walau kaki sudah menjejak tanah. Mabuk laut sialan.

Kendati lahir di wilayah yang dikelilingi lautan, harus diakui, aku cukup payah jika harus berada di atas laut. Melakukan perjalanan lewat laut merupakan salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini.

Aroma mesin yang bercampur dengan bau karat, belum lagi bau muntahan yang menusuk-nusuk hidung, terlebih udara pengap yang membuat pernapasan seperti diserang asma tiba-tiba. Itu semua bakalan lengkap dengan ayunan kapal akibat gelombang.

Tapi tidak ada cara lain. Laut adalah satu-satunya jalan untuk mencapai desa ini. Letaknya tepat di sisi selatan Pulau Emas, disebut begitu karena di perutnya terdapat logam mulia yang melimpah.

Aku ke sini karena tugas kantor. Ini bukan pertama kali aku menginjakkan kaki di desa ini, nyaris setiap tahun aku ke sini. Aku dikirim selama sebulan untuk melakukan riset tentang hutan adat. Maka tak heran sebagian besar warga di sini mengenalku.

“Nanti malam kau ikut kami, ya, mencari mereka.”

Ajakan yang tak kuinginkan itu menambah denyut di kepalaku.

“Sip,” jawabku singkat tak bisa lagi menahan pusing, lalu memanggil tukang ojek untuk mengantarku ke rumah yang pernah kutinggali.

Seminggu sebelum berangkat, sudah kukirimkan sepucuk surat untuk Om Mustofa, tuan rumah yang sudah seperti orangtua bagiku di sini, guna mengabarkan rencana kedatanganku.

***

Di atas motor yang berjalan lambat, kubayangkan segelas teh hangat buatan Norma, anak gadis Om Mustofa yang cantik jelita. Dulu, sepulang melakukan pendataan batas hutan damar, aku selalu disuguhkan segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng oleh Norma.

Pasti sekarang makin dewasa dan cantik, batinku.

Kalau boleh jujur, ditugaskan ke sini memang bukan tanpa alasan, aku yang memintanya sendiri. Salah satu alasannya ya si Norma ini.

Sesampainya di depan rumah Om Mustofa, aku langsung bergegas. Pintu masih tertutup rapat. Ketukan demi ketukan tak mendapati hasil. Setahuku, pintu rumah ini selalu terbuka saat pagi. Penghuninya pun selalu lebih dulu bangun ketimbang matahari.

Sebagai imam di masjid desa, dan letak rumah yang persis berada di depan masjid, Om Mustofa selalu tak ketinggalan salat Subuh.

“Allah itu memberkahi manusia saat pagi,” kata Om Mustofa suatu ketika menyindirku yang selalu bangun kesiangan.

Seingatku dulu, pagi-pagi begini Norma selalu sibuk di dapur. Bunyi penggorengan yang memecah suasana adalah alarmnya.

Om Mustofa hanya tinggal berdua dengan Norma. Istrinya tewas terbunuh bersama dengan janin yang dikandung pada konflik antaragama yang meledak bertahun-tahun silam.

“Pak Imam belum pulang, Dek,” tiba-tiba suara seorang perempuan paruh baya, tetangga Om Mustofa, menyelamatkanku dari kebingungan perihal keberadaan penghuni rumah.

***

Malam sudah tiba, bunyi jangkrik yang khas memenuhi seantero desa. Bersahutan dengan deru mesin lampu yang terpasang di beberapa rumah. Ya, di sini listrik memang belum masuk. Begitupun dengan sinyal ponsel. Menginjakkan kaki di sini berarti meninggalkan segala hiruk-pikuk modernitas.

Aku yang terpaksa menginap di rumah kepala desa terbangun dengan perasaan gundah. Mabuk laut sudah lintang pukang berganti dengan sesak di dada.

Sambil menyulut sebatang rokok, aku berjalan menyusuri jalan desa yang sepi. Di sebuah perempatan kecil, tampak belasan lelaki tengah berkumpul.

“Aku akan ikut mencari Norma,” ucapku kepada gerombolan tersebut.

“Kukira kau masih terkapar karena mabuk laut,” jawab Firman, kepala pemuda desa yang bertubuh tambun.

“Macam tak tahu saja kau, yang kabur ‘kan Norma,” timpal Wahyu, si pemabuk dan tukang onar kelas wahid, dibarengi gelak tawa.

“Kau pasti sangat khawatir, ‘kan?” Wahyu mencoba menginterogasiku.

“Dia sudah kuanggap adik sendiri, bangsat!” Diam-diam aku meragukan jawabanku itu.

Kami berangkat sekitar pukul 9. Agar pencarian lebih efektif kami membagi tim menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menyusuri sungai Naki, sebuah sungai yang berada di sebelah barat desa. Aku, Firman, Wahyu dan beberapa pemuda lainnya tergabung dalam kelompok kedua. Tugas kami menyisir Sungai Lurung yang berada di sebelah timur.

Selama perjalanan pikiranku tak bisa lepas oleh pertanyaan-pertanyaa tentang Norma.

Dari cerita-cerita yang kudengar, Norma memutuskan masuk ke hutan karena Om Mustofa bersikeras tak merestui hubungannya dengan Rudi, pacarnya.

“Padahal Rudi itu anak baik dan cerdas, lo,” ucap Firman di sela-sela perjalanan.

“Dan beruntung,” batinku.

Aku bilang beruntung karena, setahuku, Norma bukanlah tipe perempuan yang mudah membuka hati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemuda-pemuda kampung ini menaruh hari padanya. Beberapa di antaranya bahkan masih menyimpan angan-angan itu, kendati sudah menikah dan punya anak. Aku menduga, tidak, aku yakin, pria-pria ini kerap membayangkan wajah bulat Norma kala menyetubuhi istri masing-masing.

Di lain sisi, Rudi adalah seorang pemuda cerdas. Ia baru menyelesaikan kuliah di kota, dan beberapa bulan lalu pulang untuk mengabdi di desanya. Kedua orangtua Rudi kini sudah menetap di kota pasca kerusuhan itu. Di desa, Rudi tinggal bersama pamannya, seorang guru sekolah dasar dan seorang mualaf.

Konon, hubungan keduanya sudah terjalin sejak lulus SMA. Sejak itulah pertentangan dengan Om Mustofa terjadi.

Kesalahan Norma cuma satu: cintanya jatuh pada lelaki yang beda agama.

Apakah itu pantas disebut sebagai kesalahan? Jika pertanyaan itu dilontarkan di depan Om Mustofa, sudah tentu jawabannya adalah “Iya!,” tidak kurang, tidak lebih!

Cahaya bulan sedikit membantu pencarian malam ini. Saat kami sampai di bawah pohon beringin yang sangat besar, tampak cahaya berpendar dari sebuah gubuk.

“Di sana,” ucap seseorang yang entah siapa.

Awalnya aku mengira itu Norma dan Rudi, ternyata ketika mendekat aku sadar itu adalah Om Mustofa. Tampangnya begitu lusuh. Jelas ia sedang menanggung siksa, satu-satunya orang yang ia kasihi memilih pergi.

Ah cinta, ketimbang bahagia rasanya lebih banyak duka yang dibawanya. Mencintai berarti menyerahkan diri pada patah hati yang tinggal menunggu di sebuah tikungan waktu. Sebagaimana suka cita, duka di dalam cinta adalah niscaya.

Om Mustofa menyadari kehadiranku, namun tubuhnya terlampau lelah, ia hanya bersandar di tiang gubuk yang berderit. Tatapannya terpaku padaku, sekilas aku dapat menangkap kesedihannya yang teramat. Tapi Om Mustofa tetaplah Om Mustofa, ia sesungguhnya berhati keras. Begitu memegang teguh sebuah prinsip.

“Aku menamakannya Norma tentu karena sebuah alasan. Agar ia tumbuh mengikuti nilai-nilai yang dianjurkan agama. Bukan malah lari dengan binatang itu,” bibirnya bergetar, tak jelas apakah ia menahan getir atau justru amarah.

“Sekarang begini,” ia meraih sebungkus tembakau bermerek Koenjti yang tergeletak di depannya, lalu menggulungnya di sebuah kertas putih kecil, “Siapa yang berhasil menemukan Norma, kalau ia bujang, akan kujadikan menantu.”

Aku bisa merasakan kekagetan yang luar biasa menjalar di antara kami. Wahyu melirikku sejenak, seperti menunggu responsku atas ‘sayembara’ itu.

Tapi tidak, yang kurasakan kali ini beda, dan rasanya bukan aku saja yang memiliki keyakinan ini. Ini bukan lagi persoalan Norma semata. Aku bisa melihat ekspresi pemuda lainnya. Aku bisa menangkapnya: orang tua di hadapan kami ini begitu dihormati. Sayembara—jika boleh disebut demikian—itu adalah perpaduan antara kesedihan dan kekerasan hati.

“Asal ia tak menikah dengan si Kristen itu!”

Pikiranku berkecamuk. Aku bisa merasakan desiran murka dari pak tua di depanku ini.  Bayang-bayang tentang istrinya yang terhunus pedang adalah kepedihan yang mesti ditanggung hingga mati.

Tapi di sisi lain, aku tiba-tiba manaruh simpati pada Rudi. Entah dari mana datangnya rasa itu. Mungkin karena aku berpikir, perang tetaplah perang. Kemenangan dalam sebuah perang nyatanya seperti sebuah ilusi. Bahwa nyawa bukanlah semata-mata angka di atas kertas, yang kemudian menjadi legitimasi: berapa yang tersisa dan berapa yang tumbang.

Kemenangan dalam perang, tetap akan terasa pahit bagi mereka yang telah kehilangan.

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Om Mustofa yang memimpin. Siang tadi, seorang petani cengkeh membeberkan sebuah tanda, di kebunnya tampak berserakan kulit buah kelapa. Padahal, sebelumnya sampah tersebut tak ada, sementara ia selalu pulang dari kebun ketika matahari mulai lengser. Sederhananya, kemungkinan besar itu adalah jejak Norma dan Rudi, kecuali setan juga doyan kelapa.

Saat pergi, pasangan itu hanya dibekali sebilah parang dan sebuah korek api. Ini dua benda yang cukup untuk bisa bertahan hidup di hutan.

“Aku pernah bertanya kepada Rudi sebenarnya,” Wahyu memulai obrolan saat kami melewati sebuah bukit.

“Waktu itu aku tanya: kenapa kamu tak menjadi mualaf saja meninggalkan agamamu. Toh kalau kau benar-benar cinta sama Norma, harus ada pengorbanan, ‘kan.”

“Dia kemudian menjawab dengan penjelasan yang aku pun tak mengerti seutuhnya. Kalau tidak salah, ia bilang kalau menikah itu persoalan dua orang, sementara keyakinan itu persoalan pribadi. Ia kemudian mencontohkan gurunya di kampus,”

“Dosen kali,”

“Iya maksudnya itu. Dosen. Katanya dosennya itu menikah dengan perempuan yang beragama Kristen, dan hidupnya aman-aman saja. Terus si budak cinta ini bilang kalau menikah ia tak akan mengajak Norma pindah ke agamanya. Ah, aku tak paham jalan pikiran orang sekolahan. Bikin pusing.”

“Budak cinta.. budak cinta.. kau juga kepincut setengah mati sama si Sarah. Janda anak tiga itu, ‘kan?” timpalku.

Obrolan kami terhenti ketika sebuah suara mirip dengkuran terdengar mendekat. Sesosok makhluk hitam muncul dari semak-semak. Kami terperanjat, lantas menggapai pohon terdekat untuk dipanjati.

“Babi, woi, babiii!!!” teriak Firman sambil merayap pada pohon pala.

Aku tak cukup beruntung, jarak paling dekat denganku adalah sebuah pohon kelapa. Berbeda dengan yang lain, yang bisa sedikit bersantai di cabang pohon, aku hanya bisa tabah dengan mengandalkan sebuah undakan di pohon kelapa.

“Ngorrkkk… oink!” Babi itu berputar-putar tanpa arah.

Tak jauh dari makhluk itu, aku melihat Om Mustofa di sebuah pohon cengkih. Matanya tak lepas dari si babi. Ia seperti menunggu suatu momen yang tepat. Ketika binatang hitam yang panjangnya nyaris dua meter itu membelakangi Om Mustofa, seketika ia meloncat tepat di belakang babi tersebut.

Zeeeppppp! Satu tebasan tepat mendarat di leher babi.

Binatang itu meliuk-liuk, tapi masih berusaha mencari asal tebasan itu. Om Mustofa tahu, babi lambat dalam berbalik arah, maka dalam satu lompatan ke samping, ia menghunjam tubuh si babi. Kali ini liukan binatang itu melambat. Si babi menjauh masuk ke dalam semak-semak tempat ia pertama datang. Bruukk! binatang beringas itu rubuh.

Kami, setidaknya aku, melihat adegan itu dengan takjub. Memang benar cerita itu, ketangkasan Om Mustofa dalam mengayunkan parang memang sudah teruji. Kemampuan itulah yang membuatnya dipilih sebagai panglima perang jihad kala itu.

Namun, seketika tubuhku bergetar, merinding membayangkan jika nanti ia berhasil menemukan Rudi.

Setelah tersadar dari apa yang baru terjadi, kami memutuskan bergegas menjauh dari lokasi ini.

***

Perjalanan kami sudah lebih dari satu jam. Firman, si tambun itu, sudah kelelahan. Juga beberapa orang lainnya. Menyusuri hutan di malam hari tentu berbeda dengan ketika siang hari. Diperlukan kewaspadaan yang tinggi. Apalagi setelah diserang babi tadi.

“Kita balik saja. Ini sudah terlalu jauh,” keluh Firman mencari pembenaran dari lelahnya.

“Lagipula, mereka tak akan sampai ke sini. Aku rasa mereka sudah berpindah ke sungai Naki.”

“Aku setuju. Ini sudah terlalu jauh. Tak mungkin mereka berani sampai sini,” timpal Wahyu.

Aku yang duduk di sebuah batang pohon kelapa yang telah tumbang diam-diam memerhatikan Om Mustofa. Ia khusyuk membolak-balik parang sambil sesekali menggosoknya dengan selembar kain.

“Kita lanjut mencari!” bantahku.

“Di depan sana, sekitar 200an meter dari sini, ada sebuah gua. Kita bisa cek di situ dulu,”

Mendengar ucapanku itu, pria-pria ini tampak kaget bukan main, termasuk Om Mustofa. Ia berhenti mengurusi parangnya.

“Kau gila! Kita semua di sini tahu itu tempat apa! Orang luar tak tahu apa-apa lebih baik diam,” Firman memandangku dengan tatapan kesal.

“Aku tahu itu tempat apa, Fir. Aku tahu cerita itu. Jangankan malam, siang pun belum tentu ada yang berani masuk ke gua itu. Aku tahu karena aku mendata hutan ini.”

“Aku tahu cerita tentang pembunuhan-pembunuhan itu. Juga jasad-jasad yang dibantai jauh sebelum konflik antaragama. Waktu itu persoalannya tentang politik di pusat sana ‘kan?”

“Tak mungkin ada yang berani ke tempat itu,” Firman masih tetap ngotot.

“Iya, tak mungkin ada. Kecuali sepasang kekasih yang tengah memperjuangkan cinta mereka. Tak ada yang berani, tentu saja, kecuali dua orang anak manusia yang berusaha untuk menua bersama.”

Om Mustofa berdiri dari tempat duduknya. Berjalan mendekat ke arahku. “Kita ke gua itu. Yang mau kembali silakan,” ucapnya pelan.

Perjalanan berlanjut. Sesampainya di mulut gua, langkah kami melambat. Di situ aku melihat jejak langkah babi di mana-mana.

Suasana di gua ini memang berbeda. Memasukinya, seperti masuk ke sebuah dunia yang lain. Aku berjalan paling depan, menyusul kemudian Om Mustofa. Di lantai gua tampak bercak lumpur yang bercampur darah.

Tik.. tik… bunyi tetesan air menciptakan suara yang menggema. Suasana di dalam gua membuatku teringat ucapan Firman tadi. Tak mungkin ada yang berani ke tempat itu.

Ini gua yang tak cukup panjang sebenarnya. Sekitar sepuluh menit menyusurinya, kami sampai di ujung gua. Di ujung gua itu ada semacam bidang datar. Untuk sampai ke sana, kami harus melewati air yang tingginya sekitar lutut orang dewasa.

Kami berhenti. Suasana begitu hening. Sebuah gerakan kecil bakal membuat gema yang semakin menciutkan nyali.

Melalui pendar cahaya, di salah satu sudut gua, tak jauh dari bidang datar tadi, samar-samar kulihat seorang pria sedang terkapar tak berdaya. Di sisinya, tampak sesosok perempuan sedang menahan tangis. ♦

About the author

Anak Ternate yang merasa lebih mudah mengutarakan sesuatu lewat jari tinimbang mulut. Lulusan Adm. Negara yang lebih kenal Pram ketimbang Henri Fayol. Bisa disapa di line : @risalsyam

Related Posts