“Find out too much about a person and you lose interest” – Wong Kar Wai, Fallen Angels

 

“Di mana celana dalam itu, Sobat?”

Me-memang a-aku yang mengambilnya.Tapi a-aku tidak menyimpannya.A-aku menjatuhkannya entah di mana setelah si bangsat Radit menghajarku. La-lalu, ketika sadar kalau aku menjatuhkannya, aku mulai mencarinya. Mencari celana dalam dengan wajah bonyok dan kesakitan adalah sesuatu yang sulit, Sobat, ta-tapi aku terus berusaha mencarinya. Sampai, a-aku melihat nenek itu mengambilnya dan mengaku kalau dialah pemilik celana dalam tersebut,” jelas Bernard terbata-bata.

Nenek siapa?!” bentak Rizal dengan suara yang dibuat-buat.

Nenek itu! Neneknya Sisca!” teriak Bernard.

Jangan bohong! Atau kubuat isi kepalamu berceceran!”

Aku tidak bohong! Aku juga memastikannya pada nenek itu. Katanya, itu celana dalam kesayangannya! Dia hampir tidak pernah mengganti celana dalamnya sampai Sisca diam-diam mencucinya. Aku tidak bohong! Kau bisa langsung menanyakan itu pada Sisca!”

Rizal tersenyum penuh arti bak Kevin Spacey di akhir-akhir film Se7en mengingat adegan ‘dialog-ruang-interogasi’ yang terjadi beberapa saat lalu. Bedanya ruang interogasi milik Rizal berada di halte bis pinggir jalan, bukan di dalam kantor polisi. Detik berikutnya, Rizal sudah tertawa terbahak-bahak. Semua perkataan Bernard benar-benar membuatnya geli. Raut wajah bodoh dan penjelasan Bernard yang gemetar karena ditodong sebuah pisang ambon terngiang-ngiang di dalam kepalanya. “Rencho” dari Nella Kharisma sayup-sayup mulai terdengar kembali. Rizal memejamkan matanya, mencoba menikmati lagu tersebut.

“Ah, aku gagal. Tapi dengan ini semuanya jelas. Hahaha ini benar-benar kocak!”

Rizal gagal menyelesaikan kasusnya, sehingga dia tidak berhasil mendapatkan uang bayaran yang tadinya akan digunakan untuk membeli peralatan peredam ruangan. Alih-alih bersedih dan kecewa, Rizal justru tersenyum puas. Dia bangkit dari ranjang, lalu mencopot poster Maggie Cheung dan menggantinya dengan sebuah poster yang baru dibelinya di pasar.

Poster Nella Kharisma.

Rizal lalu membuka pintu balkon, merelakan rentetan melodi merdu suara Nella Kharisma dari rumah Pak Legimin menjajah habis atmosfer kamarnya.

Tanpa dia sadari sebelumnya, pesona penyanyi yang masih berkuliah di Kediri itu telah membelenggunya di ruang rindu.

Dia menyukainya.

Ah, tidak.

Dia membutuhkannya.

***

Berbekal buku-buku dan film-film detektif, Rizal menyusuri gang-gang yang berbau pesing dan becek untuk mencari dan menemukan benda yang dimaksud Sisca. Tanpa membutuhkan kejeniusan ala Sherlock Holmes, Rizal sudah menemukan tiga tersangka utamanya dengan mudah. Mereka adalah Radit, Tere dan Bernard. Permasalahannya sekarang adalah Rizal harus dapat menyusup dan ‘bergaul’ bersama mereka dalam waktu satu hari saja. Dan itu pekerjaan yang sulit. Rizal bisa saja memilih cara lain, seperti mengintai apa yang mereka lakukan dari jauh, tapi menginterogasi mereka langsung adalah cara yang paling cepat dan efektif. Karena itu, Rizal mengambil resiko yang ada.

Selain berprofesi sebagai mahasiswa dan jurnalis magang, Rizal memiliki profesi lain yang banyak orang tidak tahu. Dia adalah seorang detektif. Tidak bisa dibilang detektif hebat memang. Tapi cukup banyak kasus yang bisa dia pecahkan, walau itu hanya kasus remeh seperti menguntit orang yang diduga selingkuh atau hanya untuk mencari ayam jago Pak RT yang hilang.

Jauh berbeda dengan Tony Leung dalam film Infernal Affairs yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menyusup ke dalam Triad, Rizal hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk ‘bergaul’ bersama Radit dan Tere di tempat yang terpisah. Dengan berbekal satu krat botol bir untuk Radit dan sebungkus kecil ganja kering untuk Tere, Rizal melucuti keduanya habis-habisan. Dalam keadaan mabuk, mereka mengatakan semua yang ingin mereka katakan tanpa terkecuali, termasuk tentang Sisca. Memang terlihat mudah, tapi kenyataannya tidak. Rizal harus merelakan dirinya dicaci dan ditempeleng oleh mereka, sebelum akhirnya dia berhasil membuat keduanya ‘KO’.

Setelah berjam-jam menginterogasi mereka, yang konyolnya, dalam keadaan mabuk, Rizal akhirnya memutuskan bahwa bukan merekalah yang menyimpan celana dalam milik Sisca. Memercayai mereka dalam keadaan tidak sadar memang hal yang bodoh. Tapi dengan kecerdasannya, Rizal bisa memilah mana perkataan yang jujur dan mana yang racauan pemabuk. Rizal selalu meyakini bahwa selalu ada kejujuran yang sebening kristal di antara pekatnya lumpur dusta para pemabuk.

“Aku mencintai gadis itu, Sobat. Yah, aku tahu jika aku memang berandal. Tapi bukan berarti aku harus sesinting itu sampai harus menyimpan celana dalamnya,” jelas Radit sewaktu Rizal menanyakan perihal celana dalam tersebut.

“Lalu kenapa kau mati-matian mau merebutnya ketika tahu Bernard mengambilnya?” tanya Rizal.

Radit menatap Rizal dalam-dalam.

“Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku harus mengambilnya dari Bernard, lalu mengembalikannya pada Sisca. Tapi begitu tahu kalau si bangsat Bernard malah menggunakannya untuk, ah, aku tidak sanggup mengatakannya. Aku jadi teringat lagi. Kau tahu? Aku benar-benar kehilangan kendali, dan lupa akan tujuanku yang sebenarnya akibat perbuatan si anjing itu. Entah di mana celana dalam itu sekarang.”

 Bukan dia, batin Rizal.

Sama halnya dengan Tere yang mengaku kalau dia juga jatuh hati pada Sisca.

“Lalu kenapa kau harus sampai repot-repot berseteru dengan Radit dan kelompoknya? Apa ini soal solidaritas?” tanya Rizal. “Jika kau benar mencintai Sisca, harusnya ‘kan kau menghukum Bernard, bukan malah melampiaskan kekesalanmu kepada kelompok Radit.”

“Aku berseteru dengan Radit karena dia yang lebih dulu menantang kami. Sebagai seorang pria, kita tidak boleh kabur dari tantangan, Sobat. Itu tindakan pengecut. Dan lagi pula, karena insiden menjijikkan itu, Bernard sudah kuhajar dan kedepak dari kelompokku. Sekarang, aku tidak tahu di mana celana dalam itu. Kalaupun aku mendapatkannya, pasti aku sudah mengembalikannya pada Sisca,” jelas Tere.

Bukan dia juga. Bernard! Pasti dia pelakunya, pikir Rizal.

Matahari sudah mulai tenggelam saat Rizal menemukan Bernard yang sedang merokok di depan sebuah halte bis. Sosok Bernard yang polos dan cenderung goblok ini mengingatkan Rizal pada karakter Yusa di film favoritnya, Stray Dog, yang nekat menjadi perampok dan menjual pistol curian milik polisi hanya karena mengidolai seorang gadis dari salah satu idol group macam JKT48.

Rizal menghela napas, lalu berjalan menghampiri Bernard dari belakang. Dia sangat berharap kalau benar Bernard-lah yang menyembunyikan celana dalam kepunyaan Sisca. Karena jika bukan dia pelakunya, maka kemungkinan besar di antara Tere dan Radit ada yang berbohong. Rizal bisa mendesak Bernard yang pengecut ini, tapi dia tidak bisa mendesak Radit dan Tere untuk kedua kalinya. Rizal tidak sebodoh dan senekat itu. Apalagi dia sudah tidak punya waktu untuk mengintai dan memata-matai Radit dan Tere. Dia mulai menyesal. Kenapa pula aku harus membuang waktuku seharian ini hanya untuk menemukan sebuah celana dalam? Tapi aku harus mengambil kasus ini. Aku membutuhkan uangnya untuk membeli peralatan peredam ruangan. Kalau tidak begitu, aku bisa benar-benar gila karena lagu “Rencho”!

Rizal ingin sekali menodongkan pistol ke kepala Bernard, tapi apa daya yang dia miliki hanya pisang bekas makan siang tadi. Jadi, dengan pisang itulah dia menodong kepala Bernard. Bodohnya, Bernard benar-benar menyangka bahwa pisang itu adalah sepucuk pistol. Jadi, tanpa berani menolehkan wajahnya ke arah Rizal, dia mulai membeberkan kebenaran.

***

Rewel kokok ayam membangunkan Rizal di keesokan paginya. Dengan langkah berat, Rizal berjalan ke dapur kecilnya untuk memasak air panas guna menyeduh kopi hitam sebagai teman merokok di pagi hari. Lagu “Rencho” dari rumah Pak Legimin tidak terdengar. Rizal yang terbiasa mendengarkan lagu itu hampir di setiap saat jadi sedikit terkejut. Dia mengambil buku kecilnya, lalu melihat catatan iseng tentang kapan saja lagu “Rencho” itu terdengar dari rumah Pak Legimin. Dari catatannya, Rizal baru ingat kalau Pak Legimin memang tidak pernah memutar musiknya di pagi hari. Rizal memiliki ingatan yang tajam. Oleh karena itu, dia merasa bingung dengan perubahan suasana hatinya ini.

Seakan-akan, aku sudah mulai terbiasa mendengarkan lagu Rencho tersebut!

Seakan-akan tanpa lagu itu, ada perubahan yang siginifikan di dalam keseharianku!

Rizal menggelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran seperti itu.Setelah menuangkan air dari teko ke dalam cangkir, dia membuka laptopnya, memeriksa pesan permohan kasus yang masuk ke alamat surelnya.Rizal membaca pesan-pesan yang ada di kotak masuk dengan malas, sampai dia tiba di satu pesan yang menarik perhatiannya. Pelan-pelan dia membaca dan meneliti sebuah pesan yang lebih pantas disebut tantangan ketimbang permohonan itu, sampai kemudian dia tersenyum kecil.

Dari: siscavalentine@yuhuu.com

Untuk: rizalmarlowe@yuhuu.com

Dear Rizal,

Bisakah kau temukan benda (foto pada lampiran) ini? Satu juta jika kau bisa menemukannya dalam waktu sehari.  Jika tidak, maka tidak ada bayaran.

Sisca

***

Entah sudah berapa lama bunyi-bunyi bising itu menghantam pusara ketenangan Rizal di dalam kamar kosnya yang menyempil di bilangan Jakarta Timur. Lagu dangdut jaranan yang diputar keras-keras dari radio tetangganya seakan bersekutu dengan raungan dan petikan gitar pemuda-pemuda pengangguran lulusan STM yang mengadakan “konser” dadakan di ujung gang sana. Belum lagi suara ibu-ibu pengajian dan tangisan bayi tiga bulan yang menelusup masuk ke dalam kamar kosnya dari berbagai penjuru mata angin. Perpaduan aneka jenis suara maha dahsyat itu membuat dia gila. Katrastofi. Artikel tulisan yang biasanya dia dapat selesaikan dalam waktu tiga puluh menit kini terasa seperti seumur hidup.

Kamar kos Rizal sama dengan kamar kos murah yang biasa disewa mahasiswa-mahasiwa pada umumnya. Kecil, bau dan berantakan. Dan kamar Rizal ini jauh lebih berantakan dari kamar mereka semua. Meja dan lantainya penuh dengan kertas-kertas koran, buku-buku, asbak dengan punting rokok menggunung, cangkir-cangkir kopi, bungkus kacang dan mangkuk bekas mie instan. Di dinding kamarnya terpampang megah poster Maggie Cheung ukuran raksasa. Jika kalian perhatikan lebih jeli dan seksama, maka kalian bisa melihat noda sperma yang telah mengering, menempel di sudut-sudut poster itu.

Dari sekian banyaknya suara-suara yang menganggunya, lagu dangdut jaranan berjudul “Rencho” yang dinyanyikan Nella Kharisma itulah yang paling mengusiknya. Rizal pernah nekat menegur tetangganya untuk mematikan atau setidaknya mengecilkan volume radionya, tapi si tetangganya itu tidak pernah menggubrisnya. Bahkan dia tidak pernah keluar dari rumah ketika Rizal mengetuk pintu rumahnya. Menurut para tetangga yang lain, si tetangga pecinta dangdut jaranan itu ialah Pak Legimin. Beliau adalah seorang bapak pensiunan pegawai negeri yang menjadi sinting karena ditinggal pergi oleh istrinya ke Jombang. Istrinya dulu adalah seorang penyanyi dangdut jaranan, karena itu, mungkin dia selalu memutar musik tersebut untuk mengenang istrinya.

“Ah, makdirabit! Kalau begini terus, kapan aku bisa menyelesaikan artikel buat minggu depan? Pak Fajar juga gila, sih. Dia kan tahu kalau aku ini mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi, tapi dia malah menyuruhku menulis artikel tentang pilkada. Politik ‘kan bukan bidangku. Ah, benar-benar sial!” umpat Rizal.

Ojo lali karo lagune mas Tony, hidup ini yang penting happy don’t worry. . .

“Don’t worry apanya! Lagu ini membuatku gila! Argghh!”

Rizal memejamkan matanya, mencoba mengusir penat yang menyelubungi dirinya. Lamat-lamat, di balik riuh lagu jaranan yang membandel dan menghujam indera pendengarannya tanpa ampun, Rizal mendengar hiruk pikuk dari luar kamar. Sambil mengusap rambutnya, dia bangkit dari kursi, menyalakan rokok, lalu berjalan menuju balkon kamarnya. Bukan balkon seperti yang biasa dilihat di rumah orang-orang kaya, hanya balkon kecil tempat biasa Rizal menjemur pakaiannya. Dari atas sana, Rizal melihat segerombolan pemuda ramai-ramai berjalan menyusuri gang. Masing-masing orang membawa senjata. Mulai dari tongkat bisbol, kayu berpaku, atau pisau dapur. Pemuda-pemuda yang sedang asyik bermain gitar di ujung gang pun dipaksa untuk mengikuti mereka.

Beberapa hari yang lalu, geng Radit dan Tere ini sempat berseteru hanya karena perihal celana dalam yang jatuh dari jemuran milik seorang gadis seksi pemain voli bernama Sisca. Radit secara tidak sengaja melihat Bernard, tangan kanan Tere, mengambil celana dalam Sisca yang terjatuh itu. Diam-diam, Radit mengikuti Bernard yang berjalan mengendap-endap ke sebuah jalan buntu, tempat biasa anak-anak SMP kabur dari sekolah untuk merokok dan mabuk lem. Dengan kewaspadaan bak seorang pencopet terminal, Radit melihat Bernard mengusir anak-anak SMP itu. Sambil bersembunyi di balik tembok, Radit berpikir dan menebak-nebak apa kiranya yang sedang dilakukan Bernard di gang buntu itu. Sedang apa si bangsat itu di sana? Ah, mungkin dia hanya memalak anak-anak SMP, pikir Radit.

Menit demi menit berlalu. Bernard tak kunjung keluar dari gang. Radit mulai kehilangan kesabarannya. Begitu dia keluar dari gang, akan kuhantam moncongnya dengan martil ini, ujar Radit dalam hati. Dipenuhi rasa penasaran dan kecurigaan yang memuncak, Radit memutuskan untuk menyergap Bernard langsung. Dia berjalan dengan langkah besar menuju gang buntu itu, martil ditangannya digenggam kuat-kuat.

Radit akhirnya muncul di mulut gang, dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati Bernard yang sedang asyik bermasturbasi, dengan celana dalam Sisca terbungkus di penisnya.

Celaka dua belas untuk Bernard.

Dia pulang dengan empat buah gigi tanggal, kepala bocor dan mata lebam.

Sisca memang terkenal akan kecantikan dan keseksiannya di daerah itu sehingga menjadi rebutan para begundal-begundal kampung. Dulunya, Sisca memang tinggal di Gang Senggol, yang mana menjadi markas Tere dan pasukannya.Tapi beberapa bulan kemudian, Sisca pindah ke Gang Cowel, tempat tinggal Radit dan anak buahnya. Hanya karena itu, mereka berdua sama-sama merasa memiliki Sisca. Padahal Sisca itu bukan siapa-siapanya mereka.

Kehadiran Sisca sudah seperti bidadari yang turun dari khayangan untuk komplotan Tere dan Radit.

Sebuah oase di pulau yang gersang.

Perawan di sarang penyamun

“Serbuuuuuuu…..”

Teriakan salah satu anak buah Radit membuyarkan lamunan Rizal. Sambil menggelengkan kepala dan berdecak, Rizal masuk kembali ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu balkon rapat-rapat.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)