Malam semakin larut. Bulan berwarna kuning pucat telah menggantung di atas langit yang hitam. Bising bunyi klakson kendaraan sudah mulai mereda. Beberapa kios dan kedai makanan di pinggir jalan pun juga sudah mulai ditinggal pelanggannya. Semilir angin dingin seolah berbisik pada tiap-tiap orang yang masih berada di jalan, membujuk mereka dengan halus untuk lekas pulang dan tidur berselimutkan pelukan kekasih di atas ranjang yang empuk. Jika tidak ada kekasih untuk dipeluk dan cumbu, maka guling pun tak apa. Jika tidak ada ranjang empuk untuk berbaring, karpet kumal pun tak apa. Semilir angin tidak mau tahu. Tugasnya hanya itu. Tidak lebih. Malam ini, semilir angin itu sedang riang gembira karena rinai hujan deras tidak jadi turun. Dengan begitu, dia bisa bermain-main sepuas hati, menggoda manusia-manusia malang yang masih asyik berlalu-lalang di jalan, entah melakukan apa. Semilir angin tetap tidak mau tahu. Itu bukan urusanku, ujarnya acuh tak acuh.

Saat semilir angin itu sedang asyik bermain, Kania, seorang gadis pengemudi ojek daring, menghentikan motornya di depan sebuah kios buku bekas di pinggir jalan. Dia mencabut kunci motor, lalu membuka helm dengan tidak bersemangat. Sembari menarik resleting jaket kulitnya ke bawah, dia melangkah masuk ke kios buku itu. Di dalam kios, Kania disambut Irvin, pemuda kurus berkaca mata yang sosoknya mirip Damon Albarn, vokalis band Blur sewaktu muda.

Selama beberapa menit, Irvin tidak menghiraukan Kania yang asyik memilih-milih buku-buku yang sudah kusam dan apak karena termakan zaman dan tergerus waktu. Irvin menyulut rokok, lalu kembali menenggelamkan diri dalam buku The Invention of Morel  karya Adolfo Bioy Casares.  Sesekali, di balik tebalnya asap rokok yang dia embus dan sayup-sayup lagu “O Children” dari Nick Cave yang diputar dari ponselnya, Irvin melirik Kania

“Ada yang memesan buku?” tanya Irvin setelah tak puas hanya dengan menatapnya. Irvin bisa mengenali bahwa Kania seorang pengendara ojek daring dari kartu identitas yang tergantung di lehernya. Setelah bertanya seperti itu, Irvin mengenakan jaketnya karena mendadak menggigil. Entah kenapa udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi lebih dingin.

Kania tersenyum kecil. “Oh, tidak. Aku sudah selesai bekerja malam ini. Aku mencari buku untuk diriku sendiri”

“Oh, ya?”

Kania tidak membalas respon simpatik Irvin. Dia mengambil sebuah buku, lalu berjalan menghampiri Irvin di meja kasir sambil meneliti kondisi buku.

“Berapa harga buku ini?” tanya Kania. Irvin sedikit kecewa dengan reaksi Kania yang cuek. Namun tak urung dia mengambil buku yang disodorkan Kania untuk menimbang berapa kiranya harga yang pas untuk buku Siapa yang Mengetuk Jendela Kamarku? karya Amar Amadeus terbitan Asap Kretek tahun 1978 itu. Satu-satunya novel drama gotik yang pernah ditulis Amar Amadeus. Amar Amadeus sendiri lebih dikenal sebagai pengarang buku serial detektif “Petualangan Detektif Kano”. Namanya makin melambung di akhir tahun 70an karena kasus menghilangnya yang misterius. Kasus itu sempat diadaptasi dalam bentuk novel oleh Abdullah Harahap dan sempat juga diangkat ke layar lebar oleh Sisworo Gautama Putra, dengan Slamet Rahardjo berperan sebagai Amar Amadeus. Sampai saat ini kasus menghilangnya penulis itu masih belum terpecahkan. Dan tampaknya para penyelidik sudah menutup kasus itu rapat-rapat.

“Hmm, kalau boleh tahu, Pak Jaya ke mana ya?” tanya Kania lagi.

“Ah, Pak Jaya kebetulan sedang mengunjungi anak perempuannya  di New York. Baru kemarin dia berangkat. Makanya dia menitipkan kios bukunya ini padaku selama beberapa hari”

“Hmm, begitu” ujar Kania pendek sambil membuang pandangannya ke luar kios.

“Kalau boleh tahu, kamu ada perlu apa dengan beliau?”

Kania tidak menjawab. Matanya menatap nanar satu dua mobil yang lewat di jalan.

“Kania?”

“Ah, maaf. Iya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Pak Jaya sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Dan katanya aku juga sudah dianggap anak oleh beliau. Mungkin aku mengingatkan dia pada anak perempuannya. Ayahku sudah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan” jelas Kania sendu.

Irvin termenung sejenak. “Oh, maafkan aku. Aku turut berduka”

“Ah, tidak perlu minta maaf. Aku sendiri kan yang menceritakannya. Hmm, kalau boleh, aku ingin duduk-duduk dulu di sini. Lelah juga seharian mengantar jemput penumpang. Ngomong-ngomong, kok kamu tahu namaku?”

“Dari kartu identitasmu, tentu saja. Kamu mau kopi?” tawar Irvin sambil mematikan rokoknya di atas asbak kaca.

Kania mengangguk. “Jika tidak merepotkan. .”

“Tentu saja tidak. Ah, iya. Namaku Irvin” Irvin menutup bukunya, lalu bergegas ke dapur. Lima belas menit kemudian dia datang kembali dengan dua cangkir kopi hitam.

“Rokok?” tawar Irvin setelah meletakkan cangkir kopi di atas meja kasirnya.

“Aku punya rokok sendiri” Kania mengambil sebungkus rokok dari saku jaket kulitnya. Dia mengambil sebatang, menyelipkannya di ujung bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda, lalu menyulutnya perlahan. Irvin juga melakukan hal yang sama dengan rokoknya. Selama beberapa menit, mereka asyik menikmati wangi kopi dan rokoknya masing-masing tanpa saling berbicara.

“Kamu memang suka baca?” tanya Irvin tiba-tiba. Kania memandang Irvin, lalu mengangguk pelan.

“Memangnya kenapa?”

“Hmm, bukan bermaksud merendahkan. Tapi baru pertama kali ini aku melihat pengemudi ojek daring membeli buku di kios buku bekas untuk dirinya sendiri. Di belahan dunia manapun, itu sesuatu yang jarang terjadi, kan?”

Kania mengangkat kedua bahunya “Aku tidak tahu. Mungkin duniamu saja yang terlalu sempit. .”

“Ah, kamu benar. . “ sahut Irvin pelan. Ada perasaan tidak enak melingkupi dirinya. Dia sadar bahwa dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan.

“Maaf ya, tapi bagiku perkataanmu tadi itu merendahkan perempuan dan pengemudi ojek daring mana pun. . .”

“Tidak apa-apa, aku yang salah.”

“Sampai setahun yang lalu, aku ini terdaftar sebagai mahasiswi jurusan sastra jepang di alah satu kampus swasta. Tapi itu hanya sampai semester empat. Kemudian ayahku meninggal. Sejak saat itu aku berusaha menggantikan peran ayahku. Ibuku sudah meninggal waktu aku kecil. Jadi, selain adik perempuanku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Sekarang, aku bekerja semata-mata hanya untuk menghidupi dan menyekolahkan adik perempuanku saja”

Irvin terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

“Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku tahu kamu hanya mencoba memulai pembicaraan” ujar Kania sambil menyeruput kopinya. “Tapi tak biasanya aku bercerita tentang latar belakangku pada orang selain Pak Jaya. Kamu orang kedua yang membuatku nyaman menceritakan ini semua. Mungkin kamu punya bau yang sama dengan Pak Jaya”

Irvin tersenyum kecil. Walau dia tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Kania dengan “bau”.

“Yah, aku memang harus berterima kasih dengan orang tua itu. . “ ujar Irvin.

“Karena?” kejar Kania. Nada bicaranya pelan dan halus, seperti gaung dentingan piano.

Irvin bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu dia dikeluarkan dari kampusnya secara tidak hormat tanpa penjelasan apapun. Irvin tidak pernah mencoba mencari tahu apa penyebabnya, karena dia sudah menyadari penyebabnya dari awal. Teman-teman aktivis Irvin mulai protes dengan keputusan kampus. Mereka melakukan demonstrasi selama seminggu penuh. Namun seperti yang sudah-sudah, tentu saja semuanya sia-sia belaka.

“Memangnya apa yang kamu lakukan?”

Irvin tersenyum kecut. “Aku hanya membuat selebaran dan menempelkannya di tiap penjuru kampus. . “

“Selebaran apa?”

Irvin mengernyitkan dahi. “Kamu tidak menonton TV, atau membaca berita di portal-portal daring?”

Kania menggeleng. “Aku terlalu sibuk di luar sana, . .”

“Yah, itu tidak penting” tandas Irvin.

Setelah kejadian itu, Irvin mengasingkan dan mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Dia mengurung diri selama kurang lebih tiga tahun di dalam rumah. Itu adalah bentuk pemberontakan selanjutnya yang dia lakukan terhadap semua sistem yang terus-menerus mengekangnya sebagai manusia. Dia tidak ingin diluluhlantakkan lagi akan hal yang harusnya benar. Dia merasa tidak akan bertahan menghadapi kemunafikan yang merajalela di dunia luar sana. Dia sudah berusaha melawan dengan mencoba memancak tongkat-tongkat kebenaran. Namun tongkat-tongkat itu dicabut, disingkirkan. Irvin terus mengurung diri di dalam rumah sampai sebuah kunjungan tak sengaja ke dalam kios buku bekas merubah hidupnya.

“Pak Jaya mendengar semua ceritaku. Yah, ujung-ujungnya aku diajak kerja di sini. Bertegur sapa denga para pencinta buku. Kembali bercengkerama dengan kehidupan yang cukup lama kulupakan. Untungnya aku memang suka membaca dari kecil. Jadi bagiku ini pekerjaan yang sangat menyenangkan”

Kania termenung. Dia mencoba membayangkan apa yang Irvin rasakan. Tapi dia tak mampu melanjutkan. Karena dia tahu itu sangat menyakitkan. Diserang oleh dunia dan manusia di dalamnya. Itu sering kali dia rasakan, walau dengan tikaman yang berbeda. Namun yang namanya tikaman, bagaimanapun caranya dan siapa yang melakukannya, akan tetap terasa sama sakitnya.

“Hei, aku ingin bercerita. .” kata Kania setelah beberapa saat mereka berdua terdiam.

“Cerita apa? Ceritakan saja. Aku memang tidak sebijak Pak Jaya, tapi aku pendengar yang baik”

Kania mengangguk. Dia mengambil rokok keduanya, lalu menyulutnya. Setelah beberapa kali isapan, Kania mulai bercerita tentang pengalaman aneh yang baru dialaminya di jalan tadi.

Kania bercerita bahwa dia menemukan mayat berlumuran darah tergeletak di pinggir jalan sepi usai mengantar penumpang terakhirnya. Irvin terkejut, tapi dia diam dan membiarkan Kania untuk terus menceritakan pengalamannya sampai selesai. Kania yang melihat mayat itu awalnya takut dan jijik, dia juga sempat memuntahkan makan malamnya akibat melihat mayat dengan isi perut terburai itu. Anehnya, Kania merasa wajah mayat itu mirip sekali dengan sopir angkot yang menabrak ayahnya hingga tewas. Tapi Kania yakin sekali kalau mayat itu bukanlah mayat si sopir angkot yang menewaskan ayahnya. Sopir angkot itu telah dipenjara. Ayah Kania tewas murni karena kecelakaan, dan si sopir angkot ditahan karena kelalaiannya mengemudi dalam keadaan mabuk.

Kania terus mengamati mayat itu selama beberapa menit, hingga akhirnya dia kembali memacu motornya lalu melenggang pergi. Baru kali ini dia merasakan pengalaman ganjil tersebut. Kania memang membenci sopir angkot yang telah menewaskan ayahnya lantaran mengemudi dalam keadaan mabuk. Dia ingin sekali sopir itu dihukum mati. Malah dia sempat berpikir untuk membunuh si sopir yang telah membuat dia dan adiknya menderita dan merasakan sedihnya ditinggal sosok seorang ayah. Meski pada akhirnya, waktu menyembuhkan semuanya. Kania memaafkan si sopir. Dan malam ini dia malah melihat seonggok mayat yang wajahnya mirip dengan sopir itu.

“Tunggu dulu. Jadi kamu meninggalkan mayat itu begitu saja?” tanya Irvin heran

“Iya, memangnya kenapa?” tanya Kania balik. Ekpresinya datar.

“Memangnya kenapa? Kenapa kamu tidak melapor pada polisi? Atau mungkin warga setempat?”

“Kenapa aku harus melapor polisi?”

“Loh, memang itu kan yang harus dilakukan manusia pada umumnya? Jangan karena dia mirip dengan sopir yang menewaskan ayahmu, lantas kamu meninggalkan mayatnya begitu saja. Di mana rasa kemanusiaanmu? Bukankah kamu sudah memaafkan sopir angkot itu?”

Kania tertawa mendengar rentetan pertanyan Irvin. Pemuda kurus berkacamata itu menatap Kania dengan takut-takut.

“Tenang. Aku sudah membuang mayat itu ke sungai. Aku tidak ingin melihat orang lain jijik melihatnya” kata Kania tenang.

“Membuangnya ke sungai?! Kamu sudah gila ya? Itu mayat manusia! Kamu membuangnya begitu saja ke sungai?! Kamu sudah tidak waras.” Irvin bangkit dari kursinya. Napasnya terengah-engah karena emosi yang meletup tiba-tiba.

Kania tertawa. Irvin menatap Kania dengan heran. Jantungnya yang tadi berdegup kencang kini mulai mereda. Irvin mencoba mengatur napasnya pelan-pelan. Dia masih belum bisa berkata-kata. Tapi tatapan matanya itu meminta jawaban yang logis dari Kania.

“Itu mayat tikus” kata Kania pendek. “Yang kulihat dan kubuang itu mayat tikus”

Kedua alis Irvin terangkat. Matanya terbelalak. Irvin menghela napas, berdehem pelan, lalu bertanya dengan suara penuh penekanan. “Mayat tikus? Maksudmu bangkai? Jadi itu bangkai tikus?”

Kania mengangguk-angguk. Tiga asap rokok berbentuk cincin keluar satu per satu dari mulutnya.

“Dan bangkai tikus itu mengingatkanmu dengan sopir yang telah menewaskan ayahmu?”

Kania mengangguk lagi, kali ini sambil tersipu.

Irvin terduduk lemas. Dia menatap Kania lekat-lekat, sebelum akhirnya derai tawa keduanya pecah membahana.

***

Azan subuh dikumandangkan dari sebuah masjid kecil tak jauh dari Kania memarkir motornya di dekat taman yang sepi. Semilir angin yang melihat peristiwa itu sempat berhenti sejenak. Akibatnya, beberapa  rambut Kania tersibak cukup kencang. Semilir angin itu tahu betul siapa gadis di hadapannya. Walau gadis itu mengubah tampilan fisik, ras serta gendernya tiap hari, semilir angin hafal betul atmosfer sedingin es yang ditebar gadis itu. Semua semilir angin di dunia ini pernah melihatnya. Namun seperti biasa, itu bukan urusan dan tugas mereka.  Mereka tidak pernah mau tahu apa urusan Kania.

“Bagaimana?” tanya seorang pemuda bersetelan jas serba hitam. Wajahnya putih bersih, rambutnya pun mengilap. Entah sejak kapan dia sudah berada di samping Kania.

Kania terkekeh sinis. “Berani-beraninya Dia menyuruhku mengambil nyawa seekor tikus got dan seorang pemuda yang baru bangkit dari keterpurukannya”

“Itu salahmu sendiri. Buat apa kau menambahkan nyawa ke orang tua bernama Jaya itu? Menurutku, hukuman yang Dia berikan untukmu malah terlalu ringan. Masih untung kau tidak dikutuk menjadi manusia. Memangnya kau bakal tahan menjadi manusia?” balas si pemuda sambil menyalakan rokok.

“Kau benar. Hanya saja, kau tahu, ini tidak adil. Dan Dia tahu sekali bagaimana cara merendahkan bawahannya”

“Tidak ada yang adil di alam semesta ini, Kania. Kita semua tahu itu. Asal kau tahu, pemuda bernama Irvin itu harusnya masih mempunyai waktu dua puluh tahun lagi untuk hidup. Kaulah yang mencuri dua puluh tahun masa hidupnya untuk si Jaya, meski aku rasa pemuda itu tidak keberatan. Lagi pula, dia mati dengan sangat tenang, dan. . tampaknya bahagia. Kau melakukannya dengan sangat baik”

Senyuman nelangsa terbingkai di bibir Kania. Dia sendiri masih tidak mengerti kenapa dia bisa memiliki rasa belas kasihan pada Pak Jaya saat itu. Dia benar-benar tidak mengerti. Entitas seperti dia harusnya tidak memiliki apa yang namanya emosi.

Tugas Kania di jagad raya ini hanya satu, yakni memastikan bahwa orang yang ada di dalam daftarnya tidak bernapas lagi, tidak peduli bagaimana cara yang akan digunakannya. Sudah menjadi kewajibannya untuk berakting dan memanipulasi hati dan pikiran tiap-tiap manusia yang berada di daftar mautnya. Dan hari ini dia sudah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik seperti yang dikatakan si pemuda bersetelan jas hitam. Memang itu yang harusnya dia lakukan untuk menebus kesalahan yang pernah dia perbuat.

Kania mencoret dua nama di dalam buku catatannya, kemudian menyulut rokok.

“Sudah saatnya. . “ bisik si pemuda. Kania menatap pemuda itu sekilas. Dia mengisap dalam-dalam rokoknya, mengembuskannya terburu-buru, membuangnya ke dalam selokan, kemudian mengangguk pelan.

Keduanya memejamkan mata sambil merentangkan kedua tangannya, lalu bersamaan dengan matahari yang mulai menghangatkan jalanan, sosok mereka pun memudar, lenyap dari pandangan.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir. Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts