Berambut emas dengan sepasang mata kecil dan lingkar bibil mungil, Donald Trump, kakek penuh welas asih yang saban akhir pekan menimang cucu itu hidup secara bersahaja di pinggiran Alabama. Sukses menjalani karir sebagai pialang saham di New York, kini Trump menikmati hari tua bermodal uang tabungan dan bonus investasi di masa lewat serta berternak sapi (meski yang terakhir ini, ia akui, dijalankan sebatas untuk membunuh rasa bosan). Kegemarannya yang lain, ia rutin menyongsong senja dengan ngejogrog di tepi jendela sambil mendengar siaran dari radio musik country, tak lupa disambi dengan menyesap wiski barang sesloki-dua sloki.

Sebagaimana red neck pada umumnya, Trump pendukung Partai Republik. Tetapi politik tidak terlalu menyita pikirannya. Meski beberapa karibnya membenci Obama dengan sengit, Trump menganggap gerutuan mereka sebagai kelakar saja, bukan menjadi masalah perintang hati. Di hadapan kawan-kawan sejawat, ia sering mengakui beberapa hal baik dari Obama (‘menurutku Obamacare tak seburuk itu, kok’; di lain waktu,  ‘harus kita akui, sobat, kita tak bisa terlalu bersandar pada institusi agama. Kalau mereka mau melegalkan kawin sesama jenis, selama mereka nyaman dengan itu, well, go ahead.’)

Dua paragraf di atas adalah murni saya punya imajinasi. Bisa jadi, di dunia paralel memang ada sosok Trump “yang lain”. Bisa Anda bayangkan? Ah, rupanya terlalu sulit.

Trump adalah antitesis dari segala predikat baik untuk seorang negarawan. Ia rasis, seksis, misoginis, predator seksual, megalomaniak, diskriminatif, xenofobik, intoleran, penunggak pajak. Trump juga memiliki kegemaran merisak siapa saja – dari lawan politik, aktris, hingga jurnalis – dengan intensitas yang sama seperti Lionel Messi mencipta gol.

Trump sukses menghantui hari-hari kita. Imaji tentangnya merajalela dan merongrong kesadaran. Bagi kita warga Indonesia yang terpaut jauh jarak dan waktu, sosoknya kita anggap sekadar lelucon. Atau parodi. Mirip selebriti internet yang mencuri perhatian publik sepintas lalu-selewat dengar. Semenjak memutuskan diri untuk maju menjadi calon presiden, headline demi headline tentangnya silih berganti merias hari.

 

Trumpism dan Suara yang tak Didengar

Sebagai generasi yang kerap disebut milenial – golongan demografi yang menjadi sasaran untuk mendulang suara seorang calon di pemilu, moral kita seperti terusik mendengar segala pemberitaan tentang dirinya. Janji membangun tembok raksasa untuk menghalau imigran gelap Meksiko, misalnya, meruapkan aroma fasisme yang chauvinistis. Orang-orang Hispanik juga menjadi bulan-bulanan karena Trump tanpa tedeng aling-aling menyebut mereka semua pemerkosa. Lalu ada perihal kebenciannya kepada umat muslim, atau bagaimana rencananya memulangkan imigran-imigran ilegal ke negeri mereka masing-masing. Belum lagi kegemarannya meracau di media sosial favoritnya, Twitter. Ia dengan enteng mencebik Obama dan Nyonya Clinton serta kompetitor separtai, terutama Jeb Bush dan Ted Cruz – membuat kita tersadar bahwa Pilpres 2014 lalu tak ada apa-apanya dibandingkan Pilpres AS 2016. Jika Trump kita ibaratkan sebagai supermarket, maka supermarket Trump adalah supermarket kebencian di mana nafsu membenci Anda diakomodasi dengan sukacita. Kebencian tidak lagi sebatas bara dalam sekam. Tetapi, hingga sebelum pemungutan suara berlangsung, kita hanya menyepakati status Trump sebagai lelucon. Kita menyikapi rentetan kedegilan Trump secara enteng, yaitu dengan menertawakannya. Kita di sini adalah saya, Anda, dan rakyat AS.

Lalu ia menghentak. Trump terpilih secara resmi sebagai presiden Amerika Serikat ke-45 pada 8 November 2016 di Pilpres yang juga dijuluki “the ugliest campaign” ini. Bagaimana bisa? Belum lagi jika kita perhitungkan bahwa sepanjang pemungutan suara, raihan suaranya selalu lebih tinggi ketimbang sang pesaing. Musnah sudah segala isu-isu dan retorika politik ‘progresif’ yang dibawa Clinton sepanjang kampanye. Ambruk pula semua survei atau polling yang menetapkan Clinton sebagai calon kuat jawara. Ditambah kecurigaan para pengamat perihal kedekatan Trump dengan Kremlin, tak sedikit yang kemudian pesimis dan menyebut negara mereka tinggal selangkah lagi menuju distopia. Ada pula komentator yang menyadari kegagalan mereka dalam menyikapi gelora Trumpism seperti kolumnis Rolling Stone Matt Taibbi,

Most of us smarty-pants analysts never thought Trump could win because we saw his run as a half-baked white-supremacist movement fueled by last-gasp, racist frustrations of America’s shrinking silent majority.” (cetak tebal dari saya).

America’s shrinking majority, golongan mayoritas AS yang menyusut. Seperti analis, komentator, dan pengamat lain, Taibbi mengakui Trumpism sebagai gejala sosial. Bahwa dengan kedegilan dan kegilaannya, Trump memang berpotensi membuka kotak pandora: aspirasi kalangan konservatif Amerika Serikat yang selama ini ditekan menjadi bebas untuk diekspresikan di ruang publik. Faktor-faktor yang mengendap di kotak pandora itu antara lain,

  1. Kebijakan-kebijakan progresif selama kepemimpinan Obama yang mengecewakan mereka. Contoh paling utama adalah pelegalan pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian.
  2. Kecemburuan sosioekonomi terhadap kalangan minoritas, utamanya ras, seperti terhadap masyarakat hispanik dan kulit hitam. Juga berdasarkan agama, terutama kepada warga muslim AS.

Maka jangan kaget bila menurut penelitian yang dilakukan lembaga riset Gallup, mayoritas suporter Trump adalah kelompok kulit putih yang “tertindas” secara ekonomi. Mereka adalah blue-collar workers yang tidak memiliki gelar sarjana. Namun politik bukan soal perkara ekonomi belaka. Dalam politik elektoral, meski isu ekonomi menjadi sajian utama, isu-isu lain – yang bahkan seringkali dianggap tidak penting – turut menentukan kemenangan seorang calon. Trump acapkali menyombongkan riwayat kesuksesannya sebagai milyarder untuk meyakinkan pemilih. Ini pula yang membuatnya acap jumawa di hadapan lawan-lawannya terkait perekonomian. Namun Trumpism bergelora lebih banyak oleh isu-isu nonekonomi. Sentimen terhadap “the establishment” di kalangan pendukung Trump memang kuat, akan tetapi itu didominasi oleh hal-hal yang terkait perasaan sehingga hal yang substansial mengendap tak dijamah publik.

Riset Gallup tadi juga menegaskan argumen bahwa Trumpism lebih dari sekadar gejala sosial prematur dan bersifat spontan. Lebih lanjut, ditulis bahwa ‘suporter Trump mungkin saja tidak mengalami tekanan ekonomi yang akut, tetapi mereka tinggal di tempat-tempat yang kesempatan ekonominya kurang terjamin bagi generasi selanjutnya.’ Profil demografi responden adalah mereka – pekerja kerah biru – yang terimbas dari peralihan besar-besaran struktur ketenagakerjaan AS dari industri atau manufaktur ke sektor jasa. Mereka pekerja kerah biru, namun bukan di industri manufaktur yang menyediakan jaminan ekonomi – lewat rendahnya kualifikasi pendidikan pekerja dan keberadaan serikat pekerja – melainkan bekerja di sektor konstruksi, reparasi, serta transportasi.

Setelah pada dekade 80-an lalu struktur sosial AS diterpa krisis ketenagakerjaan (peralihan dari masyarakat industri/manufaktur ke masyarakat jasa dan manajerial), pemerintahan neoliberalnya sanggup bertahan. Alejandro Portes (2010: 93) menyebut gejala ini sebagai ‘deindustrialisasi dan restrukturasi industri’. Meski catatan ekonomi mengilustrasikan fenomena yang mengesankan, Portes menetapkan fleksibilitas dan restrukturasi ekonomi di AS tak sepenuhnya baik, dan bahwa hal itu ‘justru menciptakan bifurkasi struktur sosial yang mana kesuksesan spektakuler beberapa kelas menyembunyikan gejolak marjinalisasi dan pemiskinan relatif kelompok yang lain.’

Diimbangi dengan geliat dan ekspansi AS di percaturan ekonomi-politik global, negara menarasikan achievement ideology dalam artikulasi mutakhirnya. Achievement ideology – yang secara bebas saya samakan dengan istilah American dreams – bagi warga AS masa kini adalah menjadi konsumen pasar global, enerjik menyikapi dunia kerja (angkatan kerja milenial sebagai kaum trendi, alih-alih kritis terhadap ketidakadilan di sektor jasa), dan bersikap makin bebas. Asal memiliki kemauan teguh, Anda semua bisa menjadi Steve Jobs atau Elon Musk berikutnya.

Jay Macleod (2009) menggambarkan bagaimana kemiskinan juga menyertai kalangan kulit putih AS. Segregasi berdasarkan ras memang ada, namun itu tak mutlak berlaku bagi kaum minoritas semata. Meski menanggung beban hidup yang mirip, nyatanya sentimen-sentimen negatif terhadap suatu golongan “yang lain” atau “the other” tetap tersemai. Di penelitian etnografi yang berlangsung dalam rentang tiga dekade ini, Macleod memberi penekanan pada kegagalan warga AS dalam memandang ketimpangan sosial secara jernih. Dengan membandingkan aspirasi dan sikap dua kelompok pemuda di satu public housing – kelompok pemuda kulit putih dengan kelompok pemuda kulit berwarna, Macleod mencatat bahwa meski mereka sadar kesempatan ekonomi mereka terbatas, mereka ‘dibutakan’ oleh sistem sehingga yang satu memilih ‘mengikuti’ sistem, sementara yang lain ‘melawan’. Yang menarik, justru kelompok kulit berwarnalah yang memiliki aspirasi positif terhadap achievement ideology AS sehingga memandang penting institusi sekolah untuk lompatan mobilitas vertikal. Aspirasi ini membuat mereka giat belajar, aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan hanya segelintir yang menjalani kegiatan kriminal. Kelompok kulit putih, sebaliknya, menganggap sekolah sebagai arena pemberontakkan – sama seperti kelompok the lads di penelitian Paul Willis (1977). Mereka tahu mereka adalah kelompok ‘tersisihkan’ dari geliat ekonomi sehingga sejak dini melakukan kegiatan ekonomi ilegal dan informal seperti pencurian bersenjata (armed robbery), penodongan, mengedarkan narkoba, pekerja serabutan, pekerja nonkontrak, dsb.

Apapun, Trumpism bukan sekadar anekdot. Ia berubah menjadi momok dan kemudian mengejawantah dengan terpilihnya Trump sebagai presiden AS selanjutnya. Yang jadi soal, kenyataan sejarah populisme berangkat dari ide-ide perlawanan terhadap status quo. Akal sehat kita yang mengetahui kedigdayaan Trump di ranah bisnis sepertinya mustahil membayangkan Presiden Trump akan melawan kehendak dan kepentingan elite – birokrat dan korporat – yang selama puluhan tahun ia akrabi demi keberlangsungan bisnisnya.

Rayuan Populisme

Emile Durkheim dalam The Division of Labour in Society (2013 [1902]) mencetuskan suatu konsep sosiologi cemerlang, yakni kesadaran kolektif, atau ‘la conscience collective ou commune’. Melalui kesadaran kolektif, suatu yang ‘sosial’ menjadi ‘mengada’. Kesadaran kolektiflah yang membuat individu mematuhi norma, nilai dan kode sosial tempat ia tinggal. Satu abad setelahnya, Giddens – salah satu pengkritik keras Durkheim – mengatakan bahwa struktur sosial tak hanya menghambat (constraining) individu, ia juga mampu memberdayakannya (enabling). Dan pergulatan agensi dengan struktur, di mana kesadaran kolektif terdapat di dalamnya, menjadikan yang sosial terkondisi serta mengada.

Baik itu di masyarakat suku atau komunal – seperti masyarakat Baduy, Samin, atau cult society di barat – hingga di lingkungan bercorak modern, kesadaran kolektif ini ‘mengada’. Sosialisasi adalah salah satu alat vital terpeliharanya suatu kesadaran kolektif. Individu melakukan atau tidak melakukan sesuatu setelah menerima dan mencerna pesan yang ia terima sejak kecil dari institusi keluarga, pendidikan, serta agama dan politik.

Kesadaran kolektif adalah kenyataan yang distingtif. Kita, di tengah derasnya terpaan informasi, menjadi sering bersikap ambivalen dalam menyikapi gejala serta kenyataan yang ada. Itu sebab mengapa kesadaran kolektif begitu dekat dengan identitas. Berseberangan dengan itu, kelas – sebagai konsep subjektif seseorang – tak hanya menjadi kosakata yang anakronistis, relevansinya bahkan dianggap tak lagi memadai untuk dijadikan tolak ukur dalam memecahkan masalah. Kelas kini menjadi sekadar ornamen atau pernak-pernik dunia akademis, alih-alih menjadi pisau analisis. Fran Tonkiss (2006: 129) mengatakan bahwa para sosiolog telah menjadi skeptis terhadap pentingnya konsep kelas sebagai ‘lokasi ekonomi objektif’ serta ‘penanda sosial subjektif’. Dari perspektif neo-Marxis, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe yang mendekonstruksi Marxisme ortodoks mengatakan bahwa ‘identitas-identitas sosial tak lagi terbangun semata-mata lewat keterlibatan mereka dalam relasi-relasi produksi, dan merupakan suatu artikulasi yang rapuh di tengah-tengah berbagai posisi subjek’ (2008: 83) – di tengah kesadaran akan ‘betapa tak pastinya dunia sosial,’ serta ‘kompleksitas dan resistensi-resistensi dari kapitalisme yang semakin terorganisir’ (21). Di ranah akar rumput kenyataan turut mengafirmasi. Saya akan menceritakan kejadian yang benar-benar saya alami.

Pada suatu malam di bulan Juni 2016, bersama beberapa orang kawan saya mengunjungi dua wilayah terancam tergusur di Jakarta. Setelah menghabiskan beberapa jam di Penjaringan, kami bergerak ke Jembatan Lima atau yang juga kerap disebut “kolong tol”. Dua wilayah ini adalah wilayah yang kala itu sedang diberdayakan secara politik oleh suatu LSM. Di Jembatan Lima, kami berhadapan dengan koordinator lapangan yang bernama Rino (nama samaran). Ia mengharapkan ada yang bisa kami perbuat untuk membantu rencana aksi yang akan mereka jalankan esok hari. Saya pribadi kaget sekaligus tidak siap. Di Penjaringan, alih-alih berkonsentrasi pada isu penggusuran kami malah lebih banyak mendengarkan keluhan ibu-ibu mengenai kesukaran hidup yang mereka hadapi. Kebanyakan berbicara tentang ruwetnya sistem BPJS dan KJP. Mereka juga mengeluhkan sulitnya memberdayakan warga untuk bersama-sama bergerak secara politik menentang kebijakan Pemprov DKI. Buku catatan di tangan saya lebih ramai dengan celotehan ibu-ibu tangguh ini. Di Jembatan Lima, kami hadir tepat di saat Rino sedang mempersiapkan logistik untuk aksi besok. Dari sebagian besar yang hadir, terpampang jelas profil dan raut individu-individu yang setiap hari dihantam pejalnya hidup – sehingga suasana di kolong tol terasa ‘panas’. Setelah lama mendengarnya berbicara, saya menanyakan satu hal yang menurut saya penting, yakni mengapa warga di bilangan Pasar Ikan dan Luar Batang tidak turut dikoordinasi? Secara geografis, dua wilayah ini sangat dekat dengan Jembatan Lima. Selain itu, warga dari dua wilayah ini mutlak akan menambah kuantitas massa aksi. Rino menjawab, dan ini pukulan bagi saya, “Mereka (warga di dua kawasan itu) sudah diberdayakan oleh ormas yang, yah, lu tau laah, islam-islam gitu.”

Isu yang dibangun oleh LSM Rino adalah bagaimana mendongkel Ahok, dan caranya adalah dengan narasi ‘Ahok harus berhenti karena dia nonpribumi.’ Terlepas dari apapun ideologi yang diusung LSM tersebut, mereka masih gagal dalam memberdayakan warga, dan semakin menegaskan anggapan banyak kalangan bahwa kelas semakin sulit dijadikan pijakan dalam suatu gerakan sosial. Gerakan Bali Tolak Reklamasi juga dapat menjadi contoh. Apa gerakan tersebut bisa besar jika tak ada unsur keberakaran terhadap tempat tinggal yang berlandaskan kesamaan adat/tradisi?

Kembali ke AS. Meski angin segar bagi kedaulatan rakyat sempat berembus melalui tokoh simpatik Bernie Sanders, sistem dua partai menjegalnya di konsensus Partai Demokrat. Ditambah kedekatan Clinton dengan the establishment (yang paling disorot: Wall Street), menjadikan pendukung Sanders sebagai massa mengambang dan banyak yang kemudian beralih mendukung Trump – yang, biar bagaimana, memenuhi syarat sebagai outsider. Rakyat AS sudah begitu muak dengan perkongsian jahat elite, yakni antara birokrat dengan bos-bos korporasi, sehingga secara intuitif menetapkan Trump sebagai pilihan.

Pada titik inilah terma populisme hadir di tengah-tengah perpolitikkan global dan lokal. Mengenyampingkan perdebatan epistemologisnya, populisme – serta pemimpin bercorak populis – menjadi laku karena ia memiliki potensi dalam mengundang partisipasi massa. Partisipasi tersebut minimal terjadi di peristiwa-peristiwa politik elektoral maupun di perdebatan-perdebatan mengenai kebijakan negara. Populisme adalah alasan mengapa sosok seperti Jokowi, Obama, atau Justin Trudeau di Kanada sukses memenangi pilpres di negara masing-masing. Populisme adalah istilah yang abu-abu. Ia bukan kiri, bukan kanan. Seperti yang diurai Michael Kazin di New York Times, orang yang ‘sosialis abis’ seperti Sanders turut pula digolongkan sebagai populis sebagaimana Trump. Lebih lanjut Kazin menulis,

“Like Trump and Sanders today, ’60s “populists” chose to blame elites for what ailed the nation. For Nader, it was greedy corporations and enabling politicians. For Wallace and Ronald Reagan, it was the federal state. These habits live on today. From the Tea Party to the fight for a $15-an-hour minimum wage, Americans keep turning their ire against institutions that appear to betray the promise of fair and equitable treatment of ordinary workers, homeowners or taxpayers. Sometimes, it seems, “populism” is just a synonym for widespread unhappiness with the status quo.”

Maka barangsiapa yang mampu mengetahui, memrediksi, serta menentukan opini publik akan menjadi pemenang dalam momen politik elektoral. Kesadaran kolektif bersandingan dengan populisme karena aspirasi, afiliasi, serta sikap politik seseorang berjejalin dengan serangkaian norma, nilai, dan kode yang dialami setiap individu. Durkheim juga menetapkan kesadaran kolektif sebagai sistem determinan yang berdiri sendiri, yang mana sistem tersebut merupakan ketotalan kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen umum yang melingkupi setiap anggota masyarakat. Di samping itu, pilihan politik terkadang bukan sesuatu yang politik-politik amat. Populisme dan pemimpin populis menjadi lekat dengan terma politik pencitraan yang sayangnya lebih sering muncul di ruang-ruang publik (baca: media massa).

Di artikel yang saya kutip sebelumnya, Taibbi menerangkan bagaimana populisme ala Trump bekerja sehingga melahirkan Trumpism,Trump’s election was a true rebellion, directed at anyone perceived to be part of “the establishment.” The target group included political leaders, bankers, industrialists, academics, Hollywood actors, and, of course, the media. And we all closed our eyes to what we didn’t want to see.

Menimbang peristiwa-peristiwa yang terpapar di atas, daulat rakyat yang digambarkan Andi Achdian tempo hari sepertinya masih sulit terwujud dalam waktu dekat. Krisis atau gejolak sosial kini semakin parsial. Tidak hanya secara geografis, namun juga terkait kedekatan identitas. Saya juga teringat komentarnya di suatu diskusi tertutup, yang mengatakan bahwa ilmuwan-ilmuwan sosial lebih banyak memandang persoalan sebagaimana pelaut yang memandang kondisi pulau perawan dari geladak kapal semata. Tak heran, kosakata yang disampaikan terasa asing bagi kelompok-kelompok yang ingin diberdayakan. Sementara hal-hal terkait identitas yang mudah menyentuh kesadaran kolektif dapat diusung lewat propaganda-propaganda yang jauh dari kata njelimet. Dus, usaha-usaha yang dilakukan akademisi atau LSM bagaikan menggantang asap mengukir langit.

Populisme yang Progresif

Sejumlah gerakan sosial di AS telah menyita perhatian dunia. Gerakan-gerakan tersebut adalah Occupy Wall Street (OWS) dan Black Lives Matter (BLM). Roda gerak sejarah telah menceritakan pada kita bahwa sejumlah revolusi yang terjadi menjelang dekade 80-an menjadi pondasi fundamental untuk apa yang kini kita saksikan di abad 21. Peristiwa lapangan Tiananmen di Cina dan Revolusi Iran adalah contoh. Di tengah antagonisme-antagonisme yang melekat pada kedirian seseorang dan kolektif, apa masih perlu revolusi berdarah mengoyak hati? Benarkah ideologi benar-benar tak ampuh menjadi penggerak rakyat – sekaligus mengamini pendapat Bourdieu dan Gramsci – sehingga ideologi semata menjadi alat penguasa?

Saya kira baik di AS maupun di Indonesia, permasalahannya sama saja. Sanders telah menggemakan lagi terma-terma progresif seperti ‘sosialisme’ ataupun ‘kenaikan upah minimum’. Tapi toh di sistem dwi-partai – apalagi di dalam partai yang tidak progresif-progresif amat – momentum Sanders kandas dan nampaknya belum ada usaha untuk mencapai titik terang. Saya meyakini bahwa di tengah status populisnya, Trump akan menjelma menjadi oligark sebagaimana yang lain. Apa yang bisa Anda harapkan dari seseorang yang begitu plin-plan dalam mengutarakan pendapat, menyatakan akan menyerang keluarga tersangka terorisme, seraya berkata akan menerapkan lebih dari sekadar waterboarding sebagai metode penginterogasian tersangka?

Begitu pula di negara kita. Alih-alih mengorganisir massa untuk menyerang proyek-proyek penggusuran dan keberpihakan kepada investornya Ahok, sebagian dari kita begitu pongah mensyukuri aksi sejuta umat yang dihelat beberapa saat lalu. Sekali lagi, isu identitas yang menyasar kesadaran kolektif begitu ampuh merangsang suatu kelompok untuk bertindak spontan tanpa menyasar permasalahan yang lebih substansial serta menyentuh kemaslahatan rakyat pada umumnya – bukan demi satu golongan.

Saya jadi teringat komentar Heru Joni Putra, pembicara diskusi narazine pada 15 Desember silam, bahwa dalam usaha merebut wacana sastra nasional, sudah selayaknya produksi-produksi sastra kiri (atau progresif) meninggalkan warna-warna sloganistik sehingga sanggup merayap dan menyerap ke berbagai kalangan. Ini juga sejalan dengan pandangan Gramsci yang menetapkan bahwa intelektual organik memainkan peranan penting dalam membongkar kuasa hegemoni. Saat terjadi aksi bela Islam kedua, beredar sebuah meme yang mengubah spanduk yang dibawa massa sehingga bertuliskan “rebut alat produksi”. Di tengah represifitas negara dan buramnya pengetahuan rakyat akan ideologi, baik yang dilakukan oleh aparatur ideologis maupun aparatur represif, produk-produk seperti meme tadi bisa menjadi langkah awal untuk ‘merebut’ kesadaran seseorang. Selanjutnya adalah memikirkan bagaimana menggoyahkan dan, syukur-syukur, merebut wacana dominan dengan serangkaian agenda sosialisasi dan pengorganisasian kolektif. Gerakan BLM atau Bali Tolak Reklamasi mungkin awalnya terkait dengan identitas, namun akan menggejala seperti Trumpism bila gerakan-gerakan serupa juga dilakukan di tempat lain dan dinarasikan dengan ‘bahasa penentangan’ yang sama: bahwa ada yang tidak beres dengan apa yang sedang dijalankan rezim saat ini. Dengan ini, kesadaran kolektif (moral, nilai, dan kode) yang progresif dapat diproduksi dan bereproduksi. ♦

Daftar Pustaka

Buku:

Durkheim, Emile. (2013 [1902]). Division of Labour in Society. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Laclau, Ernesto & Chantal Mouffe. (2008). Hegemoni dan Strategi Sosialis: Postmarxisme dan Gerakan Sosial Baru. Yogyakarta: Resist Book.

Macleod, Jay. (2009). Ain’t No Makin’ It: Aspirations and Attainment in a Low-Income Neighborhood (third edition). Colorado: Westview Press.

Portes, Alejandro. (2010). Economic Sociology: A Systematic Inquiry. New Jersey: Princeton University Press.

Tonkiss, Fran. (2006). Contemporary Economic Sociology: Globalisation, production, inequality. Oxon: Routledge.

Internet:

Anugrah, Dea. “Jagoan Hollywood Memilih Donald Trump”. Tirto.id. 20 November 2016. 22 Desember 2016. <https://tirto.id/jagoan-hollywood-memilih-donald-trump-b5j6>.

Ehrenfreund, Max & Jeff Guo. “A massive new study debunks a widespread theory for Donald Trump’s success”. Washingtonpost.com. 12 Agustus 2016. 22 Desember 2016. <https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2016/08/12/a-massive-new-study-debunks-a-widespread-theory-for-donald-trumps-success>.

Fadhlurrakhman, Rifqi. “Trump dan Populis Lainnya Mengerti Apa yang Harus Dilakukan”. Indoprogress.com. 21 November 2016. 22 Desember 2016. <http://indoprogress.com/2016/11/trump-dan-populis-lainnya-mengerti-apa-yang-harus-dilakukan>.

Jusuf, Windu W. “Mengapa Orang Marah Perlu Diorganisir?”. Indoprogress.com. 13 Maret 2016. 22 Desember 2016. <http://indoprogress.com/2016/03/mengapa-orang-marah-perlu-diorganisir>.

Kazin, Michael. “How Can Donald Trump and Bernie Sanders Both be ‘Populist’?”. Nytimes.com. 5 April 2016. 22 Desember 2016. <http://www.nytimes.com/2016/03/27/magazine/how-can-donald-trump-and-bernie-sanders-both-be-populist.html?_r=1>.

Taibbi, Matt. “President Trump: How America Got It So Wrong”. Rollingstone.com. 10 November 2016. 22 Desember 2016. < http://www.rollingstone.com/politics/features/president-trump-how-america-got-it-so-wrong-w449783>.

Zengerle, Jason. “Bernie Sanders on Donald Trump’s Victory, Identity Politics, and the Failures of the Democratic Party”. Gq.com. 22 November 2016. 22 Desember 2016. <http://www.gq.com/story/bernie-sanders-donald-trump-victory-interview-moty>.

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.