Menonton film adalah salah satu aktivitas menghabiskan waktu luang yang sering saya lakukan semasa mahasiswa. Pengalaman menonton film bagi saya bukan hanya menikmati alur cerita, rangkaian teknik shot, atau menenggelamkan diri dalam dramatisasi dan fantasi. Menonton film adalah bagian dari memahami pikiran-pikiran (bahkan ideologi) yang berkelindan antara pembuat film, fenomena kehidupan sosial yang riil, dan penonton. Salah satu film yang menarik untuk ditelaah bagaimana sengkarut pikiran itu terejawantahkan melalui media gambar yang bergerak adalah Film Don Jon (2013).

Don Jon menceritakan tentang seorang pria dewasa yang mengalami ketergantungan (kecanduan) terhadap film porno. Di film tersebut, diceritakan bahwa Don Jon — Jon Martillo (diperankan Joseph-Gordon Levitt) — memiliki kebiasaan menonton film porno beberapa kali dalam sehari, yang diakhiri dengan bermasturbasi. Ketergantungan Don dengan film porno ini akhirnya membuat ia selalu bergonta-ganti pasangan untuk memuaskan hasrat seksualnya. Namun, Don Jon tidak pernah puas dengan apa yang dilakukannya di atas ranjang bersama pasangannya. Hal ini karena ia tidak mendapatkan pengalaman riil seperti yang ia saksikan di film porno.

Narasi tersebut membuat saya teringat konsep simulasi, simulakra, dan hiperrealitas dari Jean Baudrillard. Sosok Don Jon yang terbentuk sebab kebiasaannya menonton film porno membuat Jon Martillo terjebak dalam sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak tanpa referensi relasional yang jelas.

Dalam dunia simulasi tidak dapat lagi dikenali mana yang asli dan riil, atau mana yang palsu dan semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani oleh Don Jon — dan bahkan menurut Baudrillard merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri.

Dengan menganalisis masyarakat dan kebudayaan Amerika, Baudrillard menyatakan bahwa dalam wacana simulasi realitas yang sesungguhnya (fakta) tidak hanya bercampur dengan realitas semu (citra), namun bahkan telah dikalahkan oleh citra. Lebih jauh, citra lebih dipercaya daripada fakta. Inilah era hiperrealitas, di mana realitas asli dikalahkan oleh realitas buatan.

Dalam dunia hiperrealitas tidak ada cara mendapatkan sesuatu dari sumbernya, mendapatkan realitas yang asli. Contoh: pornografi. Baudrillard memandang pornografi “lebih seksual daripada seks”. Lebih tepat dan ekstremnya: “hari ini realitas itu sendiri adalah hiper-realitas”, artinya tidak ada lagi yang disebut dengan realitas dan semua yang kita alami adalah hiperrealitas. Hiperrealitas menghapuskan perbedaan antara yang nyata (riil) dan yang imajiner. Hiperrealitas menjadi sebuah kondisi di mana khayalan menggantikan realitas nyata itu sendiri dan menurut Baudrillard inilah potret hidup manusia pada masa posmodern.

Don Jon adalah potret yang tepat sebagai seseorang yang terjebak dalam dunia simulasi — ketika ia menikmati film-film porno dan selalu merasa tidak puas ketika berhubungan seksual yang nyata — sehingga tidak mampu membedakan antara yang riil dan yang semu. Film porno telah menjadi sebuah hiperrealitas bagi kehidupan seksual Jon Martillo sehingga membuatnya kesulitan untuk menerima kehidupan seksual yang riil.

Hasrat

Menonton film ini membuat saya teringat pula tentang ocehan Sartre tentang hasrat. Sosok Don Jon yang mengalami kehampaan ketika melakukan hubungan seksual dan lambat laun merasa resah dengan kebiasaannya menonton porno memperlihatkan sebuah pertentangan psikologis subjek. Don Jon awalnya mulai mencari kemungkinan untuk meninggalkan kebiasaan bergonta-ganti pasangan ketika bertemu Barbara (Scarlett Johansson), namun tetap tidak meninggalkan kebiasaannya menikmati pornografi. Walaupun ia mencoba menemukan seseorang untuk menjadi pasangan setianya, ia tetap memerlukan sesuatu hal untuk memuaskan hasrat seksualnya. Inilah ciri khas manusia modern yang menganggap hasrat sebagai pemenuhan kenikmatan maksimal.

Padahal menurut Sartre, hasrat bukanlah hasrat terhadap objek. Hasrat adalah penanda eksistensi manusia. Dalam hubungan seksual, kita tidak menghasrati orang lain atau sesuatu bagian tubuh sebagai objek seksual, melainkan hasrat akan keberadaan orang lain dan keutuhan tubuh yang hadir ditengah keberadaan aku. Kembali mengutip Sartre, hasrat adalah dorongan untuk ‘ada-bagi-yang lain’ (being for the other) — sebuah kondisi ketika aku menemukan diriku dalam dirimu, dan dirimu menemukan dirimu dalam diriku.

Cinta

Akhir dari film ini menampakkan sebuah ironi. Di kesimpulan akhir, di mana Jon bertemu dengan Eshter (Julianne Moore) dan lalu merasa telah menemukan cinta, film ini seolah menyimpulkan bahwa perjalanan untuk mencari kepuasan seksual yang maksimal adalah dengan menemukan cinta yang ideal. Sebagaimana film romansa pada umumnya, akhir dari semua problem kehidupan adalah menemukan pasangan dan cinta yang ideal. Ironisnya, gagasan seperti ini adalah sebuah jebakan lain menuju hiperrealitas — ketika keberadaan cinta ideal telah menjadi mitos yang terus menerus direproduksi.

Erich Fromm mengkritik hal ini dalam bukunya, The Art of Loving (1956). Menurutnya cinta merupakan sebuah seni (art: keterampilan) bukan sesuatu ideal yang kita cari atau harus ditemukan. Idealisasi Cinta adalah tema umum yang telah ada sebagai bumbu romansa dalam novel dan roman-roman barat sejak abad 16. Namun, idealisasi cinta malah mengaburkan makna cinta itu sendiri yang oleh Fromm disebut sebagai sebuah jawaban atas masalah eksistensi manusia. Untuk memahami cinta, ia tidak dicari atau ditemukan, tetapi dipelajari dan dipraktikkan dalam kehidupan yang nyata.

Pada akhirnya film Don Jon bukan sekedar representasi dari subjek posmodern dengan segala problem psikologisnya, melainkan menjadi sebuah simulakra lain yang menjebak kita dalam hiperrealitas hasrat dan cinta. ♦

Keterangan

Don Jon | 2013 | Durasi: 90 menit | Sutradara: Joseph-Gordon Levitt | Penulis Naskah: Joseph Gordon Levitt | Produksi: Voltage Pictures, hitRECord, hitRECord films, Ram Bergman Productions | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Joseph-Gordon Levitt, Scarlett Johansson, Julianne Moore, Tony Danza, Glenne Headly, Brie Larson

About the author

Guru Sejarah dan Penulis di Blog gerakanaksara.blogspot.co.id

Related Posts