esai ini diterbitkan pertama kali di SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua (Desember 2015)

Oleh: Purwanto*

Istilah ketahanan pangan pertama kali digunakan pada tahun 1971 oleh PBB untuk membebaskan dunia terutama negara-negara berkembang dari krisis produksi dan suplai makanan pokok (Reutlinger, 1982 dalam Maxwell dan Frankenberger, 1992).[1] Pengertian dari ketahanan pangan adalah tersedianya pangan yang memenuhi kebutuhan setiap orang baik dalam jumlah dan mutu pada setiap saat untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Sudah saatnya Indonesia membuat tata kelola pangan untuk menuju tercapainya kedaulatan pangan. Tidak ada salahnya jika kita menengok tata kelola pangan dari masyarakat Baduy yang dikenal sangat konsisten dan menjaga kedaulatan pangannya.

Masyarakat Baduy sebagai salah satu suku di Indonesia yang mengasingkan diri merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk dikaji dalam sistem ketahanan pangan. Betapa tidak, ketika Indonesia mengalami krisis pangan justru masyarakat Baduy tidak terkena dampaknya. Hal ini dikarenakan masyarakat Baduy konsisten mempertahankan adat istiadatnya sehingga dapat tetap menjaga keharmonisan alam sekitarnya. Sehingga alam itu sendirilah yang memberikan manfaatnya yang melimpah ruah kepada masyarakat Baduy.

Determenisme Kebudayaan

Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan istilah Cultural Determinism atau determenisme budaya sebagai segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu[2]. Selanjutnya Herskovit memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super organic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus[3].

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, suku Baduy mempunyai tradisi pikukuh atau buyut. Pikukuh adalah suatu pedoman, aturan hidup, adat dan kepercayaan yang harus dipatuhi oleh semua masyarakat Baduy. Didalam aturan pikukuh ada aturan yang menyebutkan “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung)” yang mempunyai filosofi bahwa dalam kebidupan ini tidak boleh ditambah atau dikurangi agar tidak merubah kehidupan. Pikukuh mempunyai fungsi kontrol sosial dan kehidupan sebagai pedoman hidup masyarakat Baduy.

Pikukuh mempunyai tiga bagian, yakni; tabu perlindungan sukma atau manusia, tabu perlindungan mandala atau lingkungan dan tabu perlindungan tradisi atau adat[4]. Manusia terlahir dalam keadaan fitrah, maka dari itu sukma harus dijaga dalam keadaan suci dan bersih. Orang Baduy harus menghormati wilahnya dan harus menjaga kelestarian alamnya. Apabila terjadi prilaku yang tidak sesuai dengan pikukuh maka diangap sebagai pelanggaran. Maka dari itu, Orang Baduy mempunyai hubungan yang baik dengan manusia dan alam melalui Pikukuh.

Dalam hal ini, pedoman hidup suku Baduy sangat ditentukan oleh kebudayaan (determenisme kebudayaan) yang disebut pikukuh atau buyut. Kebudayaan mempengaruhi segala aspek, dari aspek ekonomi hingga aspek agama. Hal ini persis dengan apa yang diungkapkan oleh E.B Taylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat[5].

Sistem Perladangan Masyarakat Baduy

Pekerjaan masyarakat Baduy yang utama untuk menunjang perekonomiannya adalah dengan cara berhuma (ladang). Mereka berhuma dengan cara menggunakan sistem perladangan sesuai dengan cara meyakini adat-istiadat yang turun temurun, yaitu dengan tidak membuat perubahan secara besar-besaran pada alam. Mereka menanam padi sesuai dengan kontur tanah yang miring (lereng). sistem pengaiarannya hanya mengharapkan pada hujan yang ada dan tidak menggunakan irigasi.

Ada tujuh tahapan dalam proses mengerjakan huma, yaitu (1) nyacar atau menebas semak belukar dan pepohonan besar tidak ditebang, (2) nukuh, menumpukan ranting dan daun-daun pephonan, ganggan, mengeringkan ranting dan dedaunan oleh teriknya matahari, (3) ngadruk, membakar ranting dan hasil nukuh, (4) ngahuru, membakar sisa-sisa yang masih tertingal waktu ngadruk, setelah itu barulah (5) ngaseuk, menanam butiran padi oleh wanita hasil muuhan (membuat lobang) dengan aseuk oleh pria. Pada masa pertumbuhan padi tidaklah dibiarkan begitu saja, tetapi pada tiga bulan pertama harus diurus dengan baik, melalui (6) ngored, membersihkan rumput dengan alat kored (semcam arit) yang dilakukan berkali-kali. (7) Selain itu padi diubaran atau diobati campuran debu dapur dengan berbagai ramuan umbi sebagai pencegah hama. Waktu tanam atau ngaseuk yang berlainan untuk berbagai jenis huma dan pemukiman penduduk Baduy adalah salah satu cara dalam menghindarkan hama padi[6].

Adapun larangan-larangan dalam berhuma bagi masyarakat Baduy sebagai berikut; (1) dilarang menggunakan cangkul saat mengolah tanah, (2) dilarang menggunakan bahan kimia untuk pemumpukan tanaman dan memberantas hama, (3) dilarang membuka ladang di Leuweng (hutan tutupan). (4) dilarang menanam pohon karet, cengkeh dan kopi didalam kawasan Desa Kanekes (perkampungan Baduy).

Dalam masyarakat Baduy dikenal lima macam tradisi huma berdasarkan fungsinya dan satu yang berada diluar Desa Kanekes. Kelima huma tersebut yakni:[7]

  • Huma serang, yaitu huma adat milik bersama, hanya terdapat di kawasan Baduy Dalam (Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik). Huma ini digarap secara bersama-sama oleh warga Kanekes, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dipimpin oleh Puun. Huma ini dikerjakan paling awal mendahului pekerjaan ladang lainnya. Biasanya hasil padi diperuntukan bagi upacara kapuunan.
  • Huma Puun, yaitu huma milik Puun (ketua adat), untuk keperluan Puun beserta keluarganya selama ia menduduki jabatan puun tersebut. Pengerjaannya dibantu warga meski tidak sebanyak pengerjaan huma serang. Lokasi huma Puun di kawasan Baduy Dalam. Menurut Permana (1999) huma Puun adalah ’huma dinas’, yang hanya berhak digarap atau dimiliki Puun selama menjabat sebagai Puun. Lokasi huma puun berada tidak jauh dari rumah Puun dan biasanya tidak berupa lahan berpindah. Untuk menjaga kesuburan tanah, diberlakukan pola penanaman padi pada petak yang berbeda pada setiap musim tanam. Luas lahan yang 2-3 kali lebih luas dari huma tangtu (huma warga) memungkin dilakukannya penggiliran petak penanaman
  • Huma tangtu berlokasi di kawasan Baduy Dalam, diperuntukkan bagi keperluan warga kampung Tangtu (Baduy Dalam). Luas huma tangtu sekitar 0,75- 1,5 ha, berjarak sekitar 0,5-2 km dari kampung (Permana, 2006). Perpindahan letak huma yang terjadi setiap masa tanam masih di sekitar lahan huma sesuai pembagian di atas.
  • Huma tuladan adalah huma yang berada di kawasan kampung Panamping untuk keperluan upacara warga Baduy Luar dan berlokasi di kawasan Panamping.
  • Huma panamping untuk keperluan penduduk Baduy Luar. Huma ini berada di wilayah Baduy Luar.
  • Huma urang Baduy, yaitu ladang di luar wilayah desa Kanekes yang dikerjakan orang Baduy luar dan hasilnya diambil untuk kepentingan keluarga masing-masing. Dewasa ini lahan huma di kawasan desa Kanekes terutama kawasan Panamping (Baduy Luar) sudah berkurang karena pertambahan penduduk yang berpengaruh pada pertambahan kampung. Warga Baduy Luar mulai menggarap huma di luar kawasan desa Kanekes dengan cara menyewa pada penduduk setempat. Sistem sewa-menyewa tersebut ada yang dengan cara bagi hasil atau dengan cara menyewa dengan uang.

Kehidupan masyarakat Baduy tidak lepas dari pekerjaan di Ladang mereka. Pada hari-hari tertentu, terdapat masa istirahat dari pekerjaan huma; yang disebut masa-masa puasa Kawalu. Kegiatan rutin berhuma ini umumnya digunakan oleh para anggota keluarga untuk berkumpul bersama di rumah mereka. Puasa Kawalu ini selama 3 hari dalam masa 3 bulanan mereka. Akhir dari bulan-bulan Kawalu ini dirayakan sebagai upacara syukuran Ngalaksa dengan makan bersama seluruh penghuni kampong dengan pemimpin Puun. Upacara ini diberi nama Ngalaksa karena pada hari itulah makanan laksa dibuat. Nasi tumpeng akan dibagikan oleh seorang petugas upacara yang disebut Palawari ke setiap rumah Baduy Dalam. Upacara ini tak lain adalah waktu syukuran terhadap hasil panen yang diperoleh dari huma serang. Kebersamaan dalam menikmati hasil panen ditandai oleh suatu peristiwa yang dirayakan bersama[8].

Kearifan Lokal dan Ketahanan Pangan Suku Baduy

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang tediri dari subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Sehingga tidak ada lagi orang yang kelaparan dikarenakan kekurangan pangan.

Masyarakat Baduy telah menjalankan ketahanan pangan sedari dulu, yaitu dengan menjalankan pikukuh. Salah satu kewajiban Orang Baduy dalam melaksanakan pikukuh yaitu bertani padi, sehingga padi memiliki nilai tinggi dengan adanya perlakuan khusus[9]. Hal ini tidak lepas dari mitologi Sunda Tradisional, yaitu dengan adanya penokohan Nyi Pohaci Sanghyan Asri. Dalam masyarakat tradisional dengan pola bercocok tanam padi, mitos ini merupakan bagian dari religi masyarakat yang mewujud ke dalam ritual atau upacara yang dihubungkan dengan proses pengolahan padi sebagai makanan pokok. Berbagai upacara adat masyarakat Kanekes terpusat pada penghormatan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri[10].

Dengan fokus penanaman padi diladang sekali musim tiap tahun, mata pencahrian orang Baduy merupakan salah satu bentuk subsistem yang tua. Padi tidak boleh dijual, ketentuan ini berlaku bagi seluruh orang Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain membantu mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Berkurangnya produksi padi sejak sekitar empat tahun lalu mendorong warga Baduy untuk membeli beras dari luar Baduy. Pembelian beras ini dilakukan untuk mencegah kekurangan stok beras mereka. Untuk hasil-hasil hutan, buah-buahan dan jenis tanaman ladang lainnya boleh dijual.

Bagi orang Baduy, beras merupakan kebutuhan yang sangat vital. Mereka memiliki prinsip bahwa beras harus selalu tersedia di lumbung, dan jumlahnya tidak boleh sedikit. Karena itu, orang Baduy menanam padi dalam jumlah yang cukup banyak namun senantiasa terjaga kualitasnya.

Keberhasilan menanam padi dibuktikan dengan jumlah leuit (lumbung padi) yang dimiliki, yang merupakan lambang status sosial dan juga sebagai bukti keuletan dalam bertani, terutama untuk Baduy Dalam. Selain itu, leuit memiliki nilai strategis, antara lain: (1) penempatan leuit, (2) cadangan dihari tua, (3), bantuan tolong menolong, dan (4) cadangan hidup sehari-hari[11]. Leuit adalah salah satu bentuk nyata dari kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Baduy. Bahkan leuit mampu menyimpan padi hingga puluhan tahu.

Penutup

Sistem ketahanan pangan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy tak lepas dari peran kebudayaan secara turun temurun yang disebut pikukuh atau buyut. Pikukuh bukan hanya acuan pedoman hidup mereka tetapi juga sekaligus kontrol sosial terhadap prilaku mereka. Penanaman pikukuh sudah dilakukan sedari kecil. Orang tua wajib memberitahukan Buyut pada anaknya sejak ia mengenal lingkungan agar tidak disalahkan Kokolot. Menurut pandangan mereka, jika anak melanggar pikukuh maka orang tuanyalah yang bersalah karena dianggap tidak dapat mendidiknya sesuai dengan pikukuh.

Pikukuh yang dijalankan secara turun temurun (Adat-istiadat) telah mengatur kelestarian alam sebagai penopang kehidupan dan mampu mewujudkan kekakraban manusia dengan alam secara hidup berdampingan dan berkesinambungan. Sehingga alam lingkungannya memberikan kesuburan yang melimpah ruah. Masyarakat Baduy sampai saat ini tetap konsisten dengan memproduksi pangan tanpa merusak lingkungan. Karena, jika lingkungannya sampai rusak itu sama sajan membawa malapetaka bagi masyarakat Baduy. Masyarakat Baduy dari dulu hinga kini selalu menaati adat, termasuk menjaga kearifan lokal yang masih dipertahankan di zaman yang serba modernitas. Tidak ada salahnya jika kita mau memetik pelajaran dari masyarakat Baduy dari keraifan lokal dan ketahanan pangannya.

Salah satu peranan Budaya dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat Baduy adalah dengan cara menjaga lingkungan alam melalui pikukuh. Leuit sebagai tempat menyimpanan padi, bukti nyata  kearifan lokal sekaligus ketahanan pangan yang dimiliki masyarakat Baduy. Leuit diwajibkan harus dimiliki oleh tiap keluarga orang Baduy untuk mempertahankan pangan. Leuit juga sebagai penanda kesejahteraan dan kemakmuran anggota kelarga. Selama ini, masyarakat Baduy dalam menata produksi pangan sudah dipraktekan dengan tidak merusak lingkungan alamnya.

sumber gambar

*Penulis lepas yang tidak bernaung di instansi mana pun. Menggemari kopi hitam, rokok dan film. Pernah berorganisasi di Himasos Unas dengan menjabat Kadiv. Litbang (2008). Bisa dihubungi di ID Line: ipungurakan.

[1] Karen Windsel Dinly Pieris, Ketahanan dan Krisis Pangan dalam Perspektif Malthus, Depedensi dan Gender (Women in Development), Jurnal Hubungan Internasional Univ Airlangga Tahun VII, No 1 : Surabaya, 2012, hal: 2.

[2] Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bungai Sosiologi, UI: Depok, 1964, hal: 115

[3] Ibid.

[4] Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda, Kehidupan Masyarakat Kanekes, Sundanologi, Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI: Bandung, 1986, hal: 93.

[5] Ferry Effendi dan Makhfudli, Keperawatan Kesehatan Komunitas, Salemba Medika: Jakarta, 2009, Hal: 13

[6] Judistira K Garna, Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Konsep-Posisi, Pusat Kajian dan Pengembangan Sosial Budaya Program Pascasarjana Univ Padjadjaran: Bandung, 1996, hal: 63

[7] Saleh Danasasmita & Anis Djatisunda, Opcit.

[8] A Wiryomartono dan Bagoes P, Baduy dalam Tantangan Modernitas, PRISMA NO 6 LP3ES: Jawa Barat, 1993

[9] R Gurniwan Kamil Pasya, Strategi Hidup Komunitas Baduy di Kabupaten Lebak – Banten, HISTORIA: Journal of Historical, VIII, 2: Jakarta, 2007, hal: 5

[10] Jamaludin, Makna Simbolik Huma (Ladang) di Masyarakat Baduy, Mozaik, Journal Humanism Vol. 11: Surabaya, 2012, hal: 1.

[11] R Gurniwan Kamil Pasya, Opcit

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts