Hiruk-pikuk tentang peringatan hari kemerdekaan yang jatuh kemarin, seperti biasa membuai masyarakat kita. Beritanya ada di mana-mana, dari layar kaca hingga sosial media. Semua orang merayakannya. Dari si miskin hingga si kaya. Di tengah kegaduhan ini, masih ada sebagian pihak yang mengurusi drama antara Fahri Hamzah dan Tsamara Amany. Melupakan bahwa rakyat sampai hari ini masih dirundung nestapa, atau DPR yang meminta gedung baru nan mewah.

Orang-orang mengunggah ucapan selamat Hari Kemerdekaan di akun media sosial mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mendaki gunung dan mengibarkan Sang Saka, ada yang merayakannya dengan mengadakan lomba-lomba, dan ada yang sekadar upacara. Ada juga yang memberikan kata-kata berlagak bijak tentang kemerdekaan yang padahal, tak tentu lagi maknanya. Tak ada yang salah karena kita anak bangsa yang sudah sepatutnya memberi perhatian pada negara tercinta. Tapi, di balik kegaduhan ini, apakah kita sudah berkaca pada realitas yang ada?

Setelah 72 tahun kemerdekaan, apa yang telah kita capai sebagai negara, selain kemiskinan yang kian dewasa? Apa yang telah kita bangun, selain gedung mewah yang menggusur rumah-rumah rakyat jelata? Apa yang telah kita hasilkan untuk dunia, selain sumber daya alam yang terus menerus diperkosa? Tak ada! Puluhan tahun lalu kita merdeka tapi sampai hari ini, nelangsa masih menjadi sahabat setia kita.

Negara masih didominasi kelas berkuasa. Menyingkirkan yang lemah dan menguntungkan para pengusaha. Apa yang terkandung dalam alinea ke-4 UUD 1945 hanyalah gincu belaka. Bagaimana bisa mewujudkan kecerdasan bangsa jika Indonesia dalam tingkat minat baca hanya berkisar di angka 0,001% menurut data UNESCO? Memang, sulit membangkitkan orang-orang yang sudah ratusan tahun berjongkok dan ditindas yang akhirnya melahirkan bangsa bermental jongos dan hamba. Jika dengan tingkat minat baca yang begitu, pantas saja jika kita hanya bisa menyumbangkan kepada dunia tenaga kerja rendahan yang mengurusi rumah tangga. Maafkan saya tuan dan nyonya, sebab tak ada maksud dari saya untuk mengucilkan suatu jenis pekerjaan. Saya hanya menegaskan kodrat bangsa ini pada realitas yang sebenarnya. Lain tidak.

***

Sebagian dari kita tentu masih bercadang pada sepenggal kalimat dari pidato Bung Karno dalam peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1964. Di situ Bung Besar mengatakan bahwa “Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation!”

Dari kalimat di atas, kita dapat melihat jelas bagaimana Indonesia yang diimpikan oleh Bung Karno. Tapi lagi-lagi, ia hanyalah manusia biasa. Dan pada 1965 ia harus mengubur dalam-dalam khayalannya untuk membangun negeri yang telah lama ia perjuangkan. Adalah sebuah ironi ketika melihat seseorang yang berjuang demi negaranya, merasakan derita penjara, sunyinya pembuangan dan percobaan pembunuhan atas dirinya, berakhir dengan menjadi tahanan rumah di usia senjanya. Bung Karno hilang dengan segala ihwal tetek bengeknya. Dikenang hanya sekadar sang proklamator. Gelar yang diberikan Harto dengan upaya untuk menutupi jasa-jasa Soekarno yang lain. Titel yang juga membuat ia hanya dikenang ketika Hari Kemerdekaan. Mengenaskan.

Bahkan, kata sosialisme yang sering ia ucapkan itu, di masa orba dilarang untuk dipelajari. Mungkin saja karena dasar ketakutan akan menetasnya Soekarno-Soekarno muda yang akan membahayakan kekuasaan. Begitulah kekuasaan, tuan dan nyonya: penguasa-penguasa menciptakan momok-momok yang sebenarnya tak ada dan kemudian mereka takuti seolah-olah ia ada. Persoalan yang berakhir dengan ditandainya penghancuran buku-buku dan segala bentuk pengembangan apapun pada paham Marxisme-Leninisme yang ditegaskan dalam TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. Jika buku-buku yang menggaungkan tentang perlawanan pada kelas dominan dilarang beredar dan dipelajari, kita hanya berharap semoga Tere Liye dan Bernard Batubara berkenan mengajarkan kita tentang taktik perang gerilya. Mungkin inilah salah satu ekses kenapa tingkat minat baca Indonesia berada di urutan terakhir kedua dari 61 negara.

Sebelum berlanjut, saya ingin menegaskan bahwa kemerdekaan yang saya maksudkan di sini berbeda dengan pengertian seenak jidat yang digambarkan Anies Baswedan di debat calon gubernur kemarin. Di situ Anies mengatakan bahwa kemerdekaan adalah fakta dan fakta itu diterima (given), bukan diperjuangkan. Mendengar hal ini, saya mengharapkan jikalau Tan Malaka atau Bung Karno bangkit dari kubur mereka dan menempeleng mulut sembrononya itu. Bagaimana tidak, jutaan mil Tan Malaka berjalan hanya untuk mencari dukungan atas kemerdekaan. Ribuan hari Bung Karno habiskan dengan mendekam di pengasingan untuk memperoleh kemerdekaan, dan hari ini Anies menyatakan bahwa kemerdekaan tak perlu diperjuangkan. Orang dengan gelar profesor di negara ini saja, bisa berkata tanpa berpikir. Apalagi orang yang tak memiliki pendidikan secara formal atau nonformal?

Membahas Bung Karno, saya ingat betul tentang seorang sahabat saya, Jevandy, yang kelewat mengagumi sosok beliau. Maksud saya, benar-benar cinta mati. Kekaguman yang berbuntut saat kita harus berseberangan ideologi organisasi. Dalam setiap omongannya, tak jarang ia menukil suatu adagium dari orang yang mendapuk dirinya sendiri sebagai pemimpin besar revolusi Indonesia ini. Di lain kesempatan, Jevandy mendapuk dirinya secara terang-terangan bahwa ia adalah anak ideologis Soekarno sejati. Awalnya saya merasa tak ada yang istimewa, sebab kita mempunyai patron masing-masing yang kita puja laksana saya mengagumi sosok Pram. Namun, lama-kelamaan saya merasa terpanggil untuk mencari tahu mengapa ia begitu mencintai sosok ini. Akibat penasaran, saya lantas membaca Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965) yang menjadi otobiografi paling integral dari Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adams.

Di penghabisan halaman 235, saya tersentak di paragraf terakhir atas pernyataan yang begitu dikara dari Bung Karno sekaligus menyesakkan hati jika lagi-lagi, mengingat bagaimana ia diperlakukan nanti oleh para mahkluk biadab di masa-masa tuanya. Beginilah kalimat itu:

Dengan setiap rambut ditubuhku, aku hanya memikirkan tanah airku. Dan tidak ada perlunya bagiku melepaskan beban dari dalam hatiku kepada setiap pemuda yang datang kemari. Aku telah mengorbankan hidupku untuk tanah ini. Tidak jadi soal kalau ada yang menyebutku kolaborator (baca: Jepang), karena aku tidak perlu membuktikan kepada mereka atau kepada dunia apa yang telah kulakukan. Halaman-halaman dari Revolusi Indonesia akan ditulis dengan darah Soekarno. Sejarahlah yang akan membersihkan namaku.”

Bajingan kalimat ini, pikir saya.

Kemudian, petualangan saya bersama Bung Karno berlanjut ke Dibawah Bendera Revolusi (1959) dan menutupnya dengan pledoinya, Indonesia Menggugat (1930). Dari ketiga buku itulah pandangan saya akhirnya berubah terhadapnya, dan juga mengerti kenapa sahabat saya begitu mencintainya sekalipun saya tak bisa membebaskan kesangsian saya terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang kerap memicu perdebatan antara saya dengan Jevandy. Tapi, kembali lagi, Bung Karno, sebagaimana kita, hanya manusia biasa yang kerap kali tak selamat dari keliru.

***

Di paragraf awal, saya sempat menyinggung drama antara Fahri dan Tsamara. Saya menaruh perhatian lebih kepada drama ini bukan hanya sekadar sebab persinggungan di antara keduanya yang ramai dibicarakan wargamaya. Saat Tsamara tiba-tiba muncul dengan videonya yang membela KPK dan menantang debat si Fahri, ia langsung menjadi sosok yang dielu-elukan wargamaya. Terlebih, ia disokong oleh paras cantik dengan gaya trendi, plus kepiawaiannya dalam berbicara. Berkat hal itu, namanya kini telah dikenal khalayak dan telah menjadi bintang tamu di beberapa stasiun TV yang mengundangnya menjadi pembicara. Saat seorang mahasiswi cantik hadir di acara yang dibawakan Karni Ilyas dan berhadapan dengan para politisi, pengacara dan segelintir elite, tentu bukan peristiwa biasa.

Tsamara mungkin bisa saja dikatakan mujur atas pencapaiannya saat ini. Kita lihat sosok Tsamara sebelum ia menantang Fahri: seorang mahasiswi yang tak pernah menapaki organisasi pergerakan, beken karena Twitter, yang kebetulan pandai berbicara plus didukung kecantikan. Popularitasnya — terutama sebagai pembela Ahok garda terdepan — bahkan membuatnya dipercaya menjadi ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selain itu? Tak ada. Ia layaknya generasi kiwari yang hidup serba instan dan banal, yang gampang menoleh pada jumlah like atau follower. Semoga saya salah. Tetapi politisi muda perempuan bukan hanya Tsamara. Menyematkan kata ‘harapan’ di pundaknya adalah sesuatu yang berlebihan.

Selanjutnya, di tengah-tengah suka cita hari kemerdekaan, bangsa ini harus kembali lagi bergelut dengan cinta sejatinya: korupsi. Kasus E-KTP yang menyeret nama-nama seperti Ganjar Pranowo (gubernur Jawa Tengah), Gamawan Fauzi (mantan Mendagri), Setya Novanto (ketua DPR-RI), Anas Urbaningrum (mantan Ketua Fraksi Demokrat di DPR yang kini mendekam di balik jeruji atas kasus Hambalang), dan masih banyak lagi nama-nama yang terlibat dalam mega korupsi yang membuat kerugian negara mencapai 2,3 triliun tesebut.

Alih-alih menemukan titik terangnya, kasus ini justru berjalan alot. Kematian Johannes Marliem, saksi kunci kasus E-KTP yang “diduga” bunuh diri di Amerika Serikat, memaksa jaksa harus bekerja lebih keras dalam pengusutan kasus ini. Hingga kini, kematiannya masih menjadi misteri: benarkah ia tewas bunuh diri? Ataukah ada rekayasa di balik kematiannya? Kita hanya bisa menerka-nerka. Sebelumnya, juga ada kasus Novel Baswedan, si penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban penyiraman air keras, juga sering dikaitkan dengan mega korupsi ini. Bahkan dalam pengakuannya, Novel mengatakan bahwa sebelum terjadinya insiden penyiraman itu, dirinya telah lama diteror yang dilakukan lewat SMS dan lain-lain.

Belum lagi dengan angket DPR terhadap KPK yang selalu digaungkan oleh dua serigala, Fahri dan Fadli, di tengah carut-marut dinamika politik nasional hari ini. Tak tanggung-tanggung, demi mencari dukungan masyarakat dan mahasiswa, DPR mengadakan seminar di mana-mana untuk menyudutkan KPK. Berharap menerima sokongan masyarakat, yang terjadi justru sebaliknya; cacian dan umpatan.

Kita tentu bertanya-tanya tentang bagaimana dan kapan kasus ini akan tuntas? Siapa yang akan menjadi tersangka atas dirampasnya hak-hak rakyat di tangan berlumur dosa? Kapan negara ini akan bangkit dan mengaung ganas seperti julukannya dulu, Macan Asia? Entahlah.

Dan untuk Tsamara, sebaiknya berpikir lagi tentang lebel Soekarnois yang kau pakai. Ajaran Bung Besar tak sebercanda dramamu saat ini. Percayalah; jika saya menjadi anda, pastinya saya malu dengan orang-orang seperti Jevandy yang begitu memegang teguh kaidah-kaidah Bung Karno yang terpatri di dinding-dinding nasionalisme yang retak. Kau takkan sangup memikul cap “kiri” yang dilekatkan untuk anak Bung Karno. Berbahagialah dengan Fahri, Sarinah!

Selamat ulang tahun, negeriku tercinta, Indonesia. Tak terasa, kita sudah merdeka 72 tahun silam.

Tuan dan nyonya, sudahkah kita berkaca pada realitas yang ada, bangun dari selebrasi-selebrasi yang semata-mata ilusi? ♦

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69